"Tolong! Tolong!"
Jeritan dari seorang wanita membuat Khasafa yang sedang membidik suatu gambar di atas batu besar, di tengah-tengah sungai mendadak diam. Hingga ia melihat seorang gadis terjatuh tepat di depan mata.
Byurr
"Astaghfirullah... Mati apa hidup itu orang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Ini undangan dari siapa, Fa?" tanya Mamah Kaira yang baru saja pulang entah dari mana. Tak lama dari Shafa meletakkan undangan pertunangan itu, deru mobil kedua orang tuanya terdengar.
Shafa pun kembali menikmati makan seolah tak terjadi apa-apa. Terlihat santai padahal hatinya ada rasa was-was juga karena dia berpikir Salsabila jadi melanjutkan pernikahan dengan Gilang.
"Nggak tau, Mah. Aku lihat tadi dari Salsabila. Jadi menikah mungkin dengan jodoh yang tertunda."
"Benarkah?" Mamah Kaira menoleh ke sang suami yang begitu santai duduk di sebelah beliau, lalu membuka undangan yang dikirim untuk Shafa.
"Salsabila?" gumam Mamah Kaira kembali menoleh ke arah sang suami. Namun Papah Regan hanya mengedikkan kedua pundaknya.
"Seperti yang Mamah baca. Ya sudah aku ingin bersiap, Mah." Kashafa beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamar.
"Kamu mau kemana?"
"Nyari cewek, Mah. Masa' iya aku datang sendirian. Nanti dikira aku nggak laku lagi. Lumayan juga, Mah. Siapa tau jodoh aku beneran. Bisa nyusul tahun ini," jawab Shafa santai lalu melangkah menaiki tangga.
"Jangan aneh-aneh, Shafa! Kamu berulang kali gagal. Mencarinya jalur langit saja. Jangan membuat masalah, Nak!" seru Mamah Kaira yang kini berubah menjadi sangat khawatir saat mendengar jawaban dari Shafa.
"Siap Ibu Peri," sahut Shafa dan bergaya hormat pada sang Mamah. Sementara kedua orang tuanya menggelengkan kepala melihat itu.
Nyatanya yang Saka katakan tadi tak sesuai dengan apa yang ia kerjakan saat ini. Dia terdampar di pantai dengan deburan ombak yang membasahi kedua kakinya. Di dada ada kamera yang ia kalungkan berniat untuk mengambil gambar. Kamera yang sudah lama ia simpan setelah kejadian Salsabila terluka.
Saka pun mulai mengambil gambar. Dia mencoba memotret pemandangan. Menyalurkan hobinya dan pekerjaannya dulu sebelum menjadi seorang CEO. Kashafa kembali menunjukkan keahliannya. Membidik gambar hingga terlihat nyata. Sampai dimana dia melihat seorang gadis tengah berdiri dan merentangkan kedua tangan. Kedua mata terpejam dan rambut berantakan karena angin yang menyapu wajah ayunya.
Berulang kali Shafa mengambil foto gadis itu. Sampai dimana dia yakin siapa gerangan orang yang semakin melangkah mendekati ombak.
"Gila ini orang, mau nyari mati. Dikata temannya cumi sama gurita kali." Shafa pun melepas kameranya dan meletakkan di atas pasir pantai. Dia bergegas lari mendekati gadis itu lalu menarik tubuhnya hingga keduanya jatuh dan basah.
"Jangan gila, Bila! Kalau mau bunuh diri jangan didepan gue! Nggak bakal berhasil tau nggak? Loe kata ikan duyung bisa sewaktu-waktu masuk ke laut. Nggak usah ngarang!" oceh Shafa dengan nafas tersengal. Sebentar lagi ombak akan datang, menggeret dan menggulung gadis itu.
Ya, gadis yang ia tolong adalah Salsabila. Entah ingat atau tidak tetapi saat ini Salsabila tengah menatapnya dalam diam. Tak ada suara yang keluar dari bibir gadis itu. Hingga Shafa kembali menoleh untuk memastikan jika benar orang yang ia selamatkan adalah Salsabila.
"Bila..." Kembali Shafa memanggil Salsabila tetapi gadis itu hanya diam. Kedua matanya basah dan segara beranjak setelah tangan Shafa menyentuh air matanya yang lolos dari ekor matanya.
Shafa pun beranjak dari sana. Dia mencoba mengejar Salsabila tetapi gadis itu seakan terus menghindar.
"Bila! Hachi! Salsabila! Neng nggak ingat sama Abang?" teriak Shafa tetapi tak membuat langkah kaki Salsabila terhenti. Ada air mata ada juga senyum yang mengembang. Entah apa yang Salsabila rasakan. Namun sukses membuat Shafa bingung dan pasrah.
"Terserah, Neng. Nggak inget Abang ya udah. Nanti pas acara pernikahan atau lamaran gue nggak ngerti. Abang bawain coklat satu dus sama jajanan yang banyak biar bisa buka warung sekalian."
Shafa mengusap kasar wajahnya. Dia kembali membalikkan tubuhnya saat Salsabila sudah tak terlihat. Shafa melangkah mendekati kamera. Dia kembali melihat hasil jepretan Salsabila yang menarik baginya.
"Bener manusia, ini foto nyata. Kenapa gue sentuh dia malah kabur ya? Lagian mau ngapain itu bocah nyampe sini? Emang boleh sama nyokapnya? Apa datang sama ajudan? Sabodolah... Udah kayak presenter cerdas cermat gue. Nanya melulu."
Shafa pun memutuskan untuk pergi dari sana. Hari sudah petang dan dia memutuskan untuk pulang. Besok sudah harus kembali bekerja. Dia tak ingin tenaganya terkuras sedangkan besok tak hanya tenaga, otaknya pun harus jalan cepat.
Sampai di rumah, Shafa menyimpan kembali kameranya. Untuk foto Salsabila sudah tak Shafa pikirkan untuk di cetak. Pikirannya sebentar lagi Salsabila milik orang. Tak pantas jika dia masih memajang foto milik orang lain.
"Gue beresin aja." Shafa menurunkan foto-foto Salsabila dulu. Dia menyimpannya dekat dengan kamera. Mungkin kamera ini akan dimuseumkan lagi olehnya. Barang itu keluar hanya disaat hati dan pikirannya butuh hiburan.
Pagi ini Shafa sudah kembali dengan kegiatannya. Dia bangun pagi dan bersiap berangkat ke kantor. Namun saat turun menuju meja makan. Mamah Kaira melangkah dari luar dan mendekatinya untuk memberikan sebuah paper bag.
"Ini untuk acara pernikahan Salsabila. Batik, nanti seragaman sama Mamah dan Papah."
Dahi Shafa mengkerut lalu menerima paper bag itu. "Sebenarnya acara tunangan atau nikahan sich, Mah?"
"Makanya kalau baca itu jangan setengah-setengah. Itu acara pernikahan. Maka dari itu Papah dan Mamah benar-benar menyiapkan seragam untuk kita datang nanti."
"Harus banget datang? Aku nggak ngamplop. Udah kaya, aku nyumbang tenaga saja. Aku akan bekerja keras untuk menyelesaikan proyek bersama Pak Wiratama."
"Terserah kamu, tapi ya jangan pelit-pelitlah!" sahut Mamah.
"Itu lebih dari amplop yang Mamah dan Papah kasih. Pak Wiratama akan sangat berterimakasih. Bisa jadi melebihi dari rasa terimakasih pada Mamah dan Papah."
"Suka-suka kamu sajalah." Mamah Kaira tak lagi membahas tentang Salsabila. Dia melangkah mendekati suaminya lalu melayani makan.
"Eh iya Mah, besok malam aku harus datang ke acara pertunangan Ratu. Pakai batik ini aja kali ya. Nanti pas hari H Salsabila. Aku pakai lagi."
"Ratu lamaran?" tanya Mamah Kaira dengan kedua mata terbelalak. Sungguh ini kabar yang mengejutkan. Setelah membuat Salsabila celaka karena cemburu. Dalam waktu beberapa bulan sudah mau tunangan. Sepertinya move on level jet pribadi yang Ratu gunakan.
"Iya, Mah."
"Patah hatinya anak Mamah Doble kill dong?"
"Mana ada?"
"Ya ada, pantas saja kusut wajahnya. Sabar ya, Nak! Yang penting nanti ketemu jodohnya. Lagian nggak mau jalur langit sich. Pah kasih ilmunya!" ucap Mamah yang kini meminta sang suami untuk menurunkan ilmu pada putranya, karena dulu mereka pun tak pancaran tau-tau lamaran.
"Sudah hatam, Mah. Nggak perlu diajarkan oleh Papah. Hanya saja belum ketemu. Mungkin yang di sana masih bingung karena aku terlalu tampan?"