Setelah terpeleset kulit pisang, Nadia pindah memasuki dunia sebuah novel. Ia menempati tubuh kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Kakak tiri ini tokoh jahat yang tergila-gila pada Pemeran utama pria. Memaksa pemeran utama pria menjadi tunangannya, Mengatur kegiatan, membuntuti, mempermalukan, dan melabrak semua teman wanita yang mendekati tunangannya. Perilakunya membuat semua orang termasuk keluarganya membencinya.
Pemeran utama pria muak padanya dan diam-diam jatuh hati pada pemeran utama wanita yang lembut. Mengetahui hubungan mereka, Kakak jahat merencanakan kecelakaan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Tapi rencananya terbongkar. Tak hanya diusir dari keluarga, wanita jahat itu dijebloskan ke penjara selama 10 tahun, lalu mati dan mayatnya dimakan anjing.
Nadia bertekad untuk merubah nasibnya. Memutuskan pertunangan lebih awal dan ingin membalas dendam pada mereka yang menyakitinya.
Tapi paman pemeran utama pria mulai mengganggunya.
"Gadis, ayo kita menikah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismasama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KULIAH
Tak terasa hari masuk kuliahpun tiba. Karena Nadia cuti dua tahun, ia otomatis akan sekelas dengan adik-adik angkatannya yang sialnya, akan sekelas dengan pemeran utama wanita, Clara.
Sebagian besar dari mereka dekat dengan gadis protagonis itu karena kecantikan dan wataknya yang menyenangkan. Dalam novel ketika Nadia kembali melanjutkan kuliahnya, teman-teman di kelasnya secara terang-terangan tak menyukai dan menyulitkannya sehingga membuat Nadia kian membenci adik tirinya dan membuat banyak skema bodoh untuk Clara. Perilakunya itu membuat semua orang mulai menjauhi dan mengabaikannya hingga Nadia muak dan akhirnya berhenti dari kuliahnya. Lalu hanya fokus menempel di samping tunangannya sampai lelaki itu kian membencinya.
Namun Nadia saat ini tentu saja tak akan mengalami hal menyedihkan itu. Ia bermaksud membalikan keadaan dan membuat pemeran utama berhenti dari kuliahnya. Nadia tau bahwa perilaku teman-teman kelas sebelumnya dalam merundungnya disebabkan oleh Clara. Gadis yang selalu tampak baik di depan tapi perilakunya menggiring semua orang semakin membenci dan menyulitkan Nadia.
Hal pertama yang harus Nadia lakukan adalah membuat teman-teman di kelas menyukainya. Ia tak bisa melakukan pembalasan apabila mereka berkeliling di sekitar Clara dan melindunginya. Terlalu merepotkan. Nadia memiliki kesempatan besar untuk untuk menarik hati mereka karena Clara akan sibuk dengan jadwal syutingnya sehingga ia akan jarang memasuki kelas.
Saat Nadia memasuki kelas, gerombolan mahasiswa sedang mengelilingi sesosok gadis yang tampak bercahaya. Mereka berfoto dan meminta tanda tangan gadis itu. Banyak juga yang mengucapkan selamat atas hubungannya dengan pangeran kampus dan cucu konglomerat.
Ketika sesosok gadis tak dikenal muncul di pintu, mereka berpaling bermaksud untuk hanya meliriknya. Tapi pandangan mereka tertahan dan membeku. Begitu cantik.
Hari itu Nadia mengenakan gaun motif bunga yang dipadukan dengan sweater rajut polos. Rambutnya dikepang dengan ikatan pita di ujungnya. Ia begitu anggun.
Nadia memperhatikan pandangan yang mengarah padanya.
"Halo semua." ia tersenyum dan mengangguk. Lalu dengan tenang melangkah ke kursi barisan paling belakang untuk duduk. Setiap gerakannya tampak anggun dan natural. Membuat semua yang memandangnya merasakan hormat seolah melihat orang dari level yang berbeda.
Clara diam-diam melihat penampilan Nadia dengan benci. Baru-baru ini penampilan dan karakter Nadia membuatnya merasa terancam dan muak. Ia harus segera membongkar kedok kakaknya dan mengembalikan wajah aslinya. Sosok yang bodoh dan mudah diprovokasi dengan penampilannya yang murahan.
"Kakak." tiba-tiba Clara berdiri dari kursinya menembus kerumunan dan berjalan ke kursi Nadia. Memegang tangannya.
"Kakak aku sangat merindukanmu. Mengapa kau tak pulang ke rumah?" tanyanya sambil tersenyum.
'Kakak?' Semua orang di kelas melongo.
Bukankah Kakak Clara terkenal dengan penampilan glamournya dan kesombongannya? Apakah ia orang yang sama dengan gadis anggun di depan mereka?
"Kakak... Kenapa kau tak menjawab. Apakah kamu marah karena hubunganku dengan Kevin?" Clara tampak terluka.
Nadia masih diam mengabaikannya. Wanita itu hanya membuka buku dan mulai membacanya dengan serius.
"Kakak... Kalau bisa aku ingin mengembalikan Kevin padamu. Tapi... Tapi dia mencintaiku. Orang yang dia sukai bukan kakak. Kami saling menyukai. Kakak dapatkah kamu memahamiku? Aku tak ingin kamu marah padaku. Aku ingin kita dekat selamanya. Kakak, bisakah?" Mata Clara berkaca-kaca. Tubuh kecilnya sedikit meringkuk mengundang simpati dari setiap orang.
Semua orang mulai memandang Nadia dengan tak suka. Ya. Meskipun penampilannya berubah tapi sikapnya tetaplah busuk. Lihatlah wajah lurusnya meski adiknya sudah memohon dan menangis.
Nadia akhirnya tergerak dan menutup bukunya. Memandang 'badut di depannya dengan tanya.
"Adikku. Semua orang tau bahwa sebelumnya aku sangat menyukai Kevin. Bahkan kamu pun tau dengan baik bagaimana begitu terobesinya aku padanya. Sekarang lelaki itu menjadi kekasihmu. Aku tak peduli apakah kalian saling mencintai. Intinya kau merebut kekasih kakakmu sendiri."
"Sekarang kamu sudah bersamanya. Dapatkah kau bayangkan seberapa hancur hati kakakmu begitu tau tunangannya direbut oleh adiknya sendiri? Apakah kau pernah memikirkan perasaanku?" Nadia menggelang. "Sekarang kau datang padaku seolah tak terjadi apa-apa dan memintaku untuk tetap dekat denganmu. Clara, bukankah kamu terlalu egois? Apa menurutmu aku harus dengan murah hati memberikan restu dan melupakan semuanya seolah hidupku hanya lelucon? Clara, bahkan orang baik pun tak akan melakukan hal itu."
Nadia mengangkat bahunya dengan tak berdaya "Lihatlah. Bahkan sekarang kamu sedang bertindak menyedihkan seolah aku yang menganiayamu. Aku tidak melakukan apapun. Kamu yang menghampiriku dan menggangguku. Mengapa aku yang seolah salah sekarang?"
Suara Nadia cukup tinggi. Jadi semua orang bisa mendengarnya.
Rata-rata mahasiswa di kelas ini pintar. Jadi mereka memahami dengan jelas maksud gadis itu. Wajah sebagian siswa perlahan berubah.
Terlepas dari sikap jahat Nadia dan perasaan Kevin, fakta bahwa Clara kini bersamanya dan mengambil tunangan kakaknya adalah sebuah fakta. Siapapun, sebaik apapun tak akan merasa nyaman bila saudaranya merebut dan bersama dengan orang yang disukainya. Siapapun akan merasa terluka dan menjauh. Tindakan Clara barusan yang meminta Nadia untuk bersikap biasa sungguhlah kejam dan sangat egois. Awalnya mereka tak memperhatikan tapi kini setelah memikirkannya, mereka mulai heran mengapa Clara melakukan tindakan sembrono itu.
Apakah dia sebodoh itu hingga tak menyadari situasinya? Atau...
Beberapa mulai merasa perilakunya itu mencurigakan. Banyak dari mereka mulai membuat catatan di hati dan mulai mengamati perilaku gadis itu.
Clara mengepalkan tangannya. Merasakan tatapan beberapa orang padanya mulai berubah. Air matanya mengalir kian deras.
"Kakak... Aku tak bermaksud seperti itu. Aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya ingin..."
"Pergilah." Nadia memberinya tatapan dingin. Membuat gadis itu membeku.
Beberapa teman Clara muncul dan menariknya pergi. "Ayo Clara. Jangan pedulikan gadis sombong itu. Ia hanya iri padamu. Tak usah bersusah-susah mendekatinya. Dia hanya makin sombong dan tak tau berterima kasih!" mereka melotot pada Nadia dan menarik Clara kembali ke kursinya. Clara dengan berat hati pergi. Berbalik sesekali dan menatap Nadia dengan menyedihkan.
Nadia mengabaikannya. Untung saja dosen muncul dan membuat semua orang melupakan kejadian itu dan kembali fokus pada pelajaran. Di akhir tugas ia meminta mahasiswa untuk membuat kelompok lima orang untuk mengerjakan tugas kelompok.
"Aku.. Aku akan sekelompok dengan kakaku."ujar Clara kepada teman-temannya.
"Clara apakah kamu bodoh? Dia menyakitimu tapi kamu terus menolongnya. Diamlah di sini kita akan satu kelompok." ujar teman-temannya. Dengan Nadia, kelompok mereka sudah terisi lengkap.
"Tapi... Tapi kakakku tidak mengenal siapapun di sini. Atau.. Ayo masukan kakakku ke kelompok kita."
Tasya merasa frustasi. "Clara, kelompok kita sudah lima orang. Kalau kakakmu masuk ke sini, salah satu dari kami harus keluar? Apakah kau ingin temanmu pergi dan lebih memilih kakakmu yang sombong itu?"
Clara tampak bimbang.
Tasya. "Clara, jangan terlalu baik menjadi orang. Bahkan kakakmu mengabaikanmu. Abaikan saja dia."
Teman-temannya yang lain meyakinkan. Akhirnya dengan sedih Clara pun mengangguk.
Jumlah mahasiswa di kelas ini kebetulan ganjil. Enam puluh satu orang. Sebagai pendatang baru tentu saja Nadia tak mengenal siapapun dan tak ada yang mengajaknya. Tapi Nadia dari awal tak peduli. Tugas yang diberikan dosen sangat mudah hanya membuat rencana bisnis saja. Di kehidupan aslinya ia sudah melakukan hal itu ribuan kali. Nadia berenca tak bergabung dengan kelompok manapun dan mengerjakannya sendirian.
Daftar kelompok diserahkan kepada dosen dan ia memeriksanya. Ketika melihat kelompok terakhir hanya terisi satu nama dosen itu mengeryit.
"Siapa yang bernama Nadia?"
Seorang gadis di ujung ruangan mengangkat tangannya.
"Kamu bisa masuk ke kelompok lain. Karena jumlah mahasiswa di sini ganjil, tidak apa-apa untuk bergabung dengan yang lain."
Beberapa mahasiswa mulai mengeluarkan suara protes. Karena ini tugas kelompok, otomatis nilai yang akan didapat nanti akan dibagi diantara kelompok. Bila kelompok mereka bertambah satu lagi, maka nilai yang mereka dapat akan berkurang. Mereka mulai berharap Nadia tak masuk ke kelompoknya.
Tapi sebelum dosen memasukan Nadia ke dalam kelompok lain gadis itu bersuara.
"Tidak apa-apa bu. Aku akan melakukannya sendiri."
Semua orang menatapnya heran.
Dosen mengeryit. Tugas yang dia berikan tidaklah mudah dan membutuhkan banyak orang untuk mengerjakannya.
"Apakah kamu yakin?" tanya dosen.
Nadia mengangguk mantap.
Dosen itu hanya mengeryit. Merasa bahwa gadis itu hanya bertindak sombong dan meremehkan pelajaran.
"Siswa, apa kau tau seberapa sulit tugas ini? Apa kau sedang bermain-main sekarang?"
"Tidak bu. Aku tau pelajaran yang kau berikan sangatlah baik. Aku hanya tak ingin merepotkan mahasiswa lain karena memasuki kelompok mereka. Aku berjanji akan mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkannya tepat waktu." ucap Nadia rendah hati.
Dosen itu mendengus. Bersiap untuk pergi. "Baiklah. Kalau kamu berbohong aku akan memberikanmu nilai -C dalam mata kuliahku."
Nadia mengangguk dengan ringan.
Dosen itu melirik Nadia meremahkan. Menantu kelasnya minggu depan ingin memberikan pelajaran pada gadis sombong itu. "Kelas selesai." ucapnya lalu pergi.
Lanjut dong kk🙏🙏
dalangnxa...🙄🙄
lumyn buat nmbh model usaha..😁😁