Di bawah cahaya gemerlap Negara Korea, terlahir kembali seorang Dokter Genius Mafia yang menyembunyikan bakatnya. Saat takdir mengaitkannya dengan seorang anak keluarga Mafia, persaingan dan konflik memuncak dalam kerumitan yang tak terelakkan. Tetapi, ada perawat cantik yang misterius, memikat perhatiannya. Dalam perang antara dendam dan cinta, jam tangan kuno yang menjadi sistem pintar AI memberikan dimensi baru.
Dalam atmosfer misteri dan tarikan cinta, mampukah sang Dokter Genius menemukan kekuatan baru? Saksikan perjalanan yang menggetarkan ini, di mana masa lalu, kejutan, dan teknologi kuno menyatu dalam kisah yang takkan terlupakan. Dan di tengah segala pilihan, akankah misteri di balik perawat akan terbongkar?
*
*
Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.
Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Kedatangan Orang Tuanya ke Apartemen
Kedatangan orang tuanya ke apartemen membuat Alan terkejut. Dia tidak mengharapkan kedatangan mereka, terutama karena dia sedang sibuk dengan misinya dan belum sempat memberi tahu mereka tentang segala petualangannya. Saat pintu apartemennya terbuka, Alan melihat wajah penuh kejutan dan senyuman dari kedua orangtuanya yang dia cintai.
"Ibu, Ayah! Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Alan dengan campuran kejutan dan senang.
Orang tua Alan tersenyum lembut, "Kami ingin melihatmu, nak. Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Alan merasa hangat oleh kehadiran mereka, tetapi dia juga merasa cemas. Dia tahu bahwa dia belum memberi tahu mereka tentang misinya yang penuh risiko dan rahasia. Bagaimana dia bisa menjelaskan semua ini kepada mereka?
Ketika mereka duduk bersama di ruang tamu, suasana menjadi canggung. Alan mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya.
Setelah orang tuanya tiba di apartemennya, Alan berusaha berbicara dengan mereka secara bijaksana. Dia ingin berbicara tentang misinya, tetapi dia juga diingatkan oleh suara Luke dalam jam tangan kuno untuk menjaga rahasia tentang Luke dan misinya sendiri.
Saat mereka duduk bersama, Alan memutuskan untuk memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ibu, Ayah, aku senang kalian datang berkunjung. Maafkan aku karena aku belum banyak memberitahumu tentang hidupku akhir-akhir ini. Aku memiliki tanggung jawab besar di rumah sakit dengan banyak pasien yang perlu diurus, jadi waktu untuk berkumpul bersama sedikit terbatas."
Orang tua Alan tersenyum dan mengangguk memahami. "Kami tahu kamu sibuk, Nak. Tetapi penting juga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga."
Sementara mereka berbicara, Alan memikirkan nasihat Luke. Dia tahu bahwa mengungkapkan terlalu banyak detail tentang misinya dan tentang Luke bisa membahayakan mereka semua.
"Aku ingin berbicara tentang sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini," kata Alan dengan hati-hati. "Ada sesuatu yang perlu aku selesaikan, dan itu melibatkan beberapa aspek pribadi yang harus aku tangani sendiri."
Orang tua Alan mengangguk, menunjukkan bahwa mereka siap mendengar lebih lanjut.
"Namun, aku ingin memastikan bahwa aku akan tetap menjaga kalian tetap aman. Ada beberapa hal yang aku belum bisa berbicara terbuka tentangnya karena alasan keamanan," kata Alan dengan tegas.
Ibunya memegang tangan Alan dengan lembut, "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Kami menghargai bahwa kamu menjaga kami tetap aman."
Saat mereka berbicara, Alan merasa lega karena bisa menjaga rahasia dan tetap melibatkan orang tuanya dalam cara yang aman. Meskipun dia ingin berbicara lebih jauh, dia mengingat peringatan Luke dan tahu bahwa dia harus tetap berhati-hati.
Setelah waktu yang menyenangkan dengan orang tuanya, Alan merasakan campuran perasaan. Dia merasa beruntung memiliki dukungan keluarga yang kuat, tetapi dia juga merasa tekanan dari rahasia yang dia simpan.
***
Selama waktu yang menyenangkan dengan orang tuanya, mereka punya percakapan yang seru dan penuh tawa. Orang tua Alan dengan hangat bertanya tentang pekerjaannya di rumah sakit, ingin tahu apakah dia merasa terganggu oleh sesuatu atau seseorang di tempat kerjanya. Mereka juga tak luput dari memberikan sedikit sindiran santai, bertanya apakah ada wanita di rumah sakit yang mungkin menarik perhatiannya.
Saat mereka duduk bersama di ruang tamu apartemen, suasana penuh keakraban terasa di antara Alan dan orang tuanya. Orang tua Alan, Ibu Maria dan Bapak David, tersenyum hangat sambil menatap anak mereka dengan penuh cinta.
Ibu berkata dengan nada lembut, "Nak, bagaimana kabar di rumah sakit? Apakah pekerjaanmu semakin sibuk?"
Alan menjawab dengan wajah ceria, "Iya, Bu. Pekerjaan di rumah sakit memang cukup padat, terutama belakangan ini. Tapi saya senang bisa membantu pasien dan memberikan perawatan terbaik untuk mereka."
Ayah ikut angkat bicara, "Bagaimana dengan rekannya di rumah sakit? Adakah yang menarik perhatianmu?"
Dengan wajah yang sedikit merona, Alan menjawab, "Tidak ada yang spesial, Ayah. Saya benar-benar fokus pada pekerjaan dan berusaha memberikan yang terbaik."
Tiba-tiba, Ibu dengan senyum yang penuh kejebakan bertanya, "Bukankah momen seperti ini biasanya adalah saat anak menceritakan tentang seseorang yang istimewa di kehidupannya?"
Alan tersenyum malu, mengetahui bahwa ibunya merasa ada yang disembunyikan. "Tenang saja, Bu. Saya masih lebih fokus pada pasien dan pekerjaan saya. Tidak ada yang istimewa saat ini."
Ibu dan Ayah tertawa gembira mendengar jawaban Alan. Mereka merasa senang melihat anak mereka berkembang dengan baik dan juga tak bisa menahan diri untuk menggoda.
Ayah menyambung, "Nak, bagaimana dengan teman-temanmu di sana? Pasti ada yang membuatmu tertawa di tengah kesibukan."
Alan mengangguk, "Iya, Ayah. Teman-teman saya di sana sangat baik. Kami sering berbagi cerita lucu dan menghibur satu sama lain. Itu membuat suasana di rumah sakit menjadi lebih ringan."
Orang tua Alan saling pandang dengan senyum penuh kebanggaan. Mereka merasa bahagia melihat putra mereka menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam pekerjaan yang dia cintai.
Setelah beberapa cerita dan tawa bersama, atmosfer semakin hangat. Momen seperti ini membuat Alan merasa dekat dengan keluarganya, melupakan sejenak tekanan rahasia yang dia simpan. Meskipun masih ada hal-hal yang perlu dihadapi, momen bersama orang tua memberikan dukungan emosional yang sangat berarti bagi Alan.
Setelah beberapa jam berlalu dalam percakapan dan tawa, akhirnya waktunya untuk beristirahat. Alan menyiapkan tempat tidur untuk orang tuanya di kamar tamu, memberikan mereka kenyamanan selama menginap semalam.
Ibu berkata dengan senyum hangat, "Terima kasih, Nak. Kamu selalu menjaga kami dengan baik."
Alan tersenyum balik, "Tidak perlu terima kasih, Bu. Ini rumahmu juga, kok."
Ayah mengangguk setuju, "Kami bangga memiliki anak seperti kamu."
Saat malam semakin larut, Alan berharap bahwa mereka bisa bermalam dengan nyaman. Namun, pikiran tentang misi dan rahasia yang dihadapinya masih membayangi fikirannya. Dia tahu bahwa perjalanan mencari kebenaran belum berakhir, dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Setelah memastikan orang tuanya nyaman, Alan kembali ke kamarnya dengan campuran perasaan hangat dari kunjungan orang tua dan kewaspadaan tentang misi yang sedang dia hadapi. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang keluar jendela, dan merenung.
Suarakan Luke tiba-tiba terdengar dari jam tangan kuno di meja sebelahnya, "Tuan, waktunya untuk istirahat. Besok adalah hari yang penting."
Alan mengangguk, "Kamu benar, Luke. Besok adalah hari yang penting."
Luke menambahkan dengan suara lembut, "Ingatlah, Tuan, rahasia yang kamu simpan adalah beban besar. Tapi kamu tidak sendiri dalam perjalanan ini."
Luke menambahkan dengan suara lembut, "Ingatlah, Tuan, rahasia yang kamu simpan adalah beban besar. Tapi kamu tidak sendiri dalam perjalanan ini."
Alan tersenyum, "Terima kasih, Luke. Saya menghargai dukunganmu."
Saat dia bersiap-siap untuk tidur, Alan merenung tentang perjalanan yang telah dia lalui, tantangan yang telah dia hadapi, dan tekad yang masih berkobar di dalam dirinya. Meskipun tekanan ada, dia tahu bahwa dia tidak sendiri. Dengan dukungan keluarga dan bimbingan dari "system Luke," dia merasa semakin siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang, terutama dalam mengungkap misteri yang semakin mendalam.
yuk saling dukung #kuambil apa yang menjadi milikku #Sweet love level 999