Ketika cucu kesayangan pewaris konglomerat terlibat skandal besar yang mengancam masa depannya dan perusahaan!
Skandal yang mengharuskan dia untuk menikah dengan orang yang dipersiapkan kakeknya demi mengubur skandal tersebut.
Pernikahan mereka menjadi rumit karena jaksa terus mengincar perusahaan istrinya untuk membongkar skandalnya, kisah masa lalu dan jaksa yang menyembunyikan kekasih dalam pernikahannya.
Akankah pernikahan mereka runtuh karena skandal tersebut? Atau jaksa yang menyerah karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvina Stephanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan Situasi
“Aku harus tahu. Karena ini menyangkut hidup putriku. Noah Specter, jawab pertanyaanku. Kamu akan menceraikan putriku sebentar lagi?”
“Tidak. Noah tidak akan menceraikan aku. Aku yang akan menceraikan dia,” jawab Victoria.
Mereka bertiga langsung terdiam setelah mendengar jawaban Victoria. Terutama Immanuel.
“Makanannya… sangat enak. Bolehkah aku menambah nasi?” ucap Victoria memecah keheningan.
“Oh? Iya boleh, boleh. Sebentar mama ambilkan,” ucap Isabella.
“Kamu menambah nasi saat membahas perceraian?” tanya Immanuel heran.
“Makanannya sangat enak…” jawab Victoria.
“Memang enak. Tapi kamu selalu menolak makan di sini,” sahut Isabella.
DI KAMAR VICTORIA.
Noah dan Victoria tampak canggung saat keduanya berada di kamar Victoria.
“Jadi, ini kamarmu…” ucap Noah.
“Iya. Sangat hening. Haruskah kita menyalakan televisi?”
“Bukankah kamu suka dengan keheningan?”
“Benar juga. Bagaimana kalau kita tidur saja? Tapi ranjangnya…” Victoria bingung karena ranjang di kamarnya hanya 1, sedangkan Victoria dan Noah selama ini tidur di ranjang yang terpisah.
“Aku akan tidur di sofa itu,” ucap Noah.
“Iya, begitu saja,” balas Victoria.
Victoria dan Noah bersiap tidur. Lampu kamar sudah dimatikan. Kamar itu menjadi gelap. Sementara mereka belum bisa tidur.
“Maafkan aku…” ucap Noah dari posisinya yang sudah terbaring di sofa.
“Untuk apa? Tidak ada yang salah dalam kejadian ini,” balas Victoria.
“Hanya saja… aku merasa sudah menempatkanmu di posisi yang sulit,” ucap Noah.
“Posisi ini memang sulit sejak awal. Aku sudah mengetahuinya,” balas Victoria.
“Kenapa kamu ingin menikah denganku?” tanya Noah.
“Sudah berapa kali kamu menanyakan itu. Aku sudah bosan mendengarnya,” jawab Victoria.
“Kenapa kamu ingin menikah denganku?” Merasa belum terjawab, Noah mengulangi pertanyaannya.
Victoria melihat wajah Noah. “Sudah berapa kali aku menjawab. Karena kamu Noah Specter. Lagipula bukannya tujuan kita menikah sama? Untuk Cander Project?”
“Karena aku Noah Specter? Karena aku Noah Specter yang pernah mengalahkan kamu di lomba debat? Begitu maksudmu?”
Tidak ada jawaban dari Victoria. Karena tidak ada suara, Noah bangun dari posisi tidurnya dan mendapati mata Victoria yang sudah menutup.
“Kamu sudah tidur?” tanya Noah.
“Cepat sekali. Biasanya jam segini kamu bahkan belum pulang,” ucap Noah kemudian.
Pagi harinya, Noah dan Victoria turun dan bergabung sarapan. Keduanya sudah tampak rapi dan siap untuk bekerja.
“Onty!”
Jacob langsung berlari menghampiri Victoria. Dia tampak girang ketika melihat Victoria. Rupanya kakak Victoria dan keluarga kecilnya juga sarapan di rumah orang tua mereka.
“Jac! Kamu numpang mau sarapan di sini juga, ya?” Victoria segera menggendong keponakannya itu.
“Anak kakak mulu yang digendong. Anakmu sendiri kapan?” sahut David.
“Ini siapa?” Jacob bertanya mengenai Noah yang berada di samping Victoria.
“Ini uncle Noah,” jawab Victoria.
“Halo, aku Noah. Nama kamu siapa?” ucap Noah.
“Aku Jacob. Cicit kelima dan keponakan satu-satunya Pemimpin Xander Group,” balas Jacob.
Semua yang ada di sana pun tertawa saat Jacob menyombongkan diri memiliki bibi seorang pemimpin Xander Group seperti Victoria.
“Kurasa aku belum memperkenalkan diri secara resmi. Aku David, kakaknya Victoria, dan ini istriku, Mandy,” ucap David.
“Aku Noah. Senang bertemu dengan kakak,” balas Noah.
“Bagaimana kalau kita mulai sarapannya? Nanti kalian semua terlambat kerja,” ucap Isabella.
“Aku mau duduk di samping onty!” seru Jacob.
Dan jadilah mereka semua sarapan bersama dengan Jacob yang duduk di samping Victoria.
“Victoria, apa yang ingin kamu lakukan kalau tidak menjadi pemimpin Xander Group?” tanya Immanuel.
“Aku?” Victoria melihat manusia di sekelilingnya.
“Mendirikan perusahaan sebesar Xander Group,” jawab Victoria.
“Kamu ‘kan baru menjalankan Xander Motors. Bagaimana kalau kamu fokus ke Xander Motors saja?” tanya David.
“Aku tidak akan mundur dari kepemimpinanku di Xander Group kalau kakek tidak menyuruhku. Jadi, percuma saja kalau kalian membujukku. Ya, ‘kan, Jacob?” ucap Victoria seraya menyuapi Jacob.
“Menyuapi Jacob mulu, anakmu sendiri kapan?” sahut David.
“Aku berangkat ke kantor dulu. Raphael sudah menunggu lama di depan. Sampai jumpa semuanya. Sampai jumpa, Jacob manis,” ucap Victoria.
“Kalau begitu aku juga pamit dulu, ya, pa, ma, kak,” ucap Noah.
“Uncle! Nanti kesini lagi ya sama onty,” kata Jacob.
“Siap!”
Noah berjalan keluar menyusuli istrinya.
Terlihat Raphael sudah membukakan pintu mobil dan Victoria hampir masuk ke dalamnya. Namun panggilan mama Isabella membuat Victoria, Noah, dan Raphael menoleh.
“Victoria! Noah! Tunggu!”
“Ini. bawa ini. Ini untuk Noah, ini untuk Victoria,” Mama Isabella memberikan kotak bekal masing-masing 1 untuk mereka.
“Ma,” Victoria seakan ingin menolak pemberian bekal.
“Kamu harus makan yang banyak. Menjadi pemimpin Xander Group harus kuat. Banyak yang berusaha mendorongmu terjatuh,” ucap Isabella.
“Terima kasih untuk bekalnya, ya, ma. Aku akan mengembalikan kotaknya begitu sudah habis,” sahut Noah.
“Sama-sama. Habiskan ya, Victoria. Raphael, awasi dia terus, ya,” ucap Isabella.
“Baik, bu,”
Raphael, Noah, dan Victoria kini berada di dalam mobil yang sama. Mobil yang sedang dikendarai Raphael saat ini menuju ke kantor Noah terlebih dahulu. Di dalam mobil, Victoria fokus melihat layar tabletnya dengan seksama. Dan yang berhasil mencuri perhatian dia tidak lain adalah berbagai artikel mengenai Xander Group setelah insiden yang terjadi semalam.
“Xander Group tidak terlalu merasakan dampaknya atas insiden semalam. Apalagi setelah media mendapat informasi mengenai kehamilan dan bayi yang dikandungnya bukan darah daging Pak Noah. Publik langsung berfokus kepada depresi, tindakan bunuh diri, dan pemerk*saan,” ucap Raphael.
Noah ikut mendengar apa yang dikatakan Raphael. Kemudian otaknya langsung menyambungkan kalimat Raphael dengan kalimat Victoria semalam di tempat yang sama, yaitu berada di dalam mobil.
“Bu, saya sudah memastikan kalau mendiang Dena memang sedang hamil. Dan bayi yang di dalam kandungannya tidak cocok dengan DNA Pak Noah,” ucap Raphael.
“Berikan itu pada media. Katakan juga Noah Specter sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mendiang. Ucapkan juga belasungkawa dari Xander Group pada keluarga yang ditinggalkan,” ucap Victoria memberikan titah.
Noah menatap wajah istrinya yang berada tepat di sampingnya.
Victoria memang tahu cara menyelesaikan masalah. Dia tidak banyak bicara seperti keluarga Xander yang lain. Sekarang aku tahu kenapa Kakek Thomas memilihnya… batin Noah.
“Harga saham Xander Group juga tidak terkena dampak yang signifikan. Sempat mengalami penurunan sebesar 2% saat insiden terjadi, namun kembali meningkat dalam 1 jam,” ucap Raphael.
“Anda berhasil mengatasinya, bu. Selamat,” tambah Raphael.
“Tidak. Kita belum selesai. Siapkan anggaran 300 miliar dan pekerjakan vendor perusahaan iklan terbaik di negara ini untuk membuat iklan layanan masyarakat. Dalam iklan itu masukkan kalimat bahwa Xander Group dan seluruh anak perusahaan selalu siap mendampingi korban pemerk*saan dan depresi. Pasangkan iklan di seluruh negeri dalam 2 hari,” ucap Victoria.
Dia juga tahu cara mengambil keuntungan dengan memanfaatkan situasi… batin Noah.
“Baik, bu,”
“Aku akan menemui ibu Dena di rumah sakit, mau datang bersama?” tanya Noah.
Victoria diam sejenak untuk berpikir.
“Hari ini?” tanya Victoria.
“Aku mengikuti waktumu,” jawab Noah.
“Lusa saja. Kita akan datang bersama,” ucap Victoria kemudian.
Bersambung...