Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 28
Ada yang kangen sama cerita ini?
Up nih... Selamat membaca..
❤️❤️❤️
Part Windi
Wanita yang tengah mengandung itu tertawa puas mendengar berita hancurnya rumah tangga Raka dan Rissa.
Usahanya selama ini tidak sia-sia. Bahkan dia tidak menyesal menyewa orang untuk mengikuti kemanapun Raka pergi.
Termasuk mengikuti Raka yang akan menginap di hotel Nirwana beberapa waktu lalu.
Dirinya masih mencintai Raka dan mengharapkan Raka akan kembali bersamanya. Itu yang Windi rasakan.
Dia memang berselingkuh dan berbuat terlampau jauh. Tapi dia menyesal telah melakukan hal itu di belakang Raka.
Dia ingin Raka kembali bersamanya. Dan Windi bertekad akan melakukan apapun agar Raka bisa kembali dia miliki. Termasuk dengan menjebak Raka.
Windi kembali mengingat pertengkaran Raka dan Rissa di hotel beberapa waktu yang lalu saat Rissa memergoki Raka dan dirinya tengah berada di bawah selimut yang sama.
Dia kembali tertawa puas mengingat ekspresi wajah Rissa yang begitu murka melihat suaminya tidur dengan wanita lain.
"Kenapa kamu sering tertawa sendiri akhir-akhir ini? Kamu sehat, kan?" Tanya seseorang yang baru saja duduk di samping Windi.
"Kamu pikir aku gila?" Windi tak terima.
"Bukannya memang iya? Kamu gila karena Raka, kan?"
Windi bungkam. Dirinya memang sudah tergila-gila pada Raka. Dia sangat-sangat menyesal telah mengkhianati Raka dan membuat Raka pergi meninggalkannya.
Puncak kegilaannya saat mendengar kabar pernikahan Raka.
Orang itu bukannya tidak tahu dengan apa yang telah Windi lakukan. Namun dia tetap diam. Dia akan melihat sejauh apa dan sampai mana Windi akan berusaha menghancurkan keluarga Raka.
Ponsel Windi berdering dan menampakkan nama Raka pada layarnya.
Windi tertawa pelan dan tak ingin mengangkatnya. Dia tahu bahwa Raka tidak akan berhenti mengajaknya bertemu.
Kalau Raka ingin bertemu karena dia ingin kembali pada Windi, dengan senang hati Windi akan menemuinya.
Tapi Raka mengajaknya bertemu hanya untuk meminta dirinya mengakui bahwa anak yang dia kandung bukanlah anak Raka. Karena itu Windi tak ingin bertemu dengan Raka meskipun sebenarnya dia rindu pada lelaki yang pernah mengisi harinya selama bertahun-tahun.
"Dari Raka, Win. Angkat! Kasian dia. Rumah tangganya hancur hanya karena keegoisan kamu."
"Diam kamu, Len! Aku nggak butuh ceramah kamu."
Leni menghela napas panjang. Entah bagaimana lagi untuk membuat Windi menyadari bahwa apa yang dia lakukan itu salah.
Tunggu. Mungkin Windi tahu bahwa hal itu memang salah. Tapi dia tak peduli akan hal itu.
Meskipun begitu, Leni tak ingin meninggalkan Windi. Dia akan tetap berada di dekat Windi dan tetap berusaha menyadarkan Windi.
Sebagai sahabat, Leni tak ingin Windi menyesal di kemudian hari karena perbuatannya.
Leni tak bisa tinggal diam. Dia harus menemui Raka dan membantu Raka bertemu dengan Windi.
Namun sepertinya Leni harus mengurungkan niatnya untuk menemui Raka karena saat ini, Raka tengah berdiri di depan rumah Windi.
"Raka?" Semula Windi begitu terkejut. Namun wajahnya berubah menjadi antusias setelahnya.
"Kamu datang?" Windi ingin segera memeluk Raka namun Raka menolaknya dengan kasar.
"Wanita tidak tahu malu!" Ucap Raka geram. Tangannya menepis tangan Windi dengan kasar.
"Kamu kasar banget, Raka. Padahal aku lagi hamil anak kamu." Windi merajuk manja. Membuat Raka merasa mual mendengarnya.
Sedangkan Leni menggelengkan kepalanya. Windi pandai bersandiwara.
"Aku tahu dia bukan anak aku. Ngaku kamu, Win!" Teriak Raka penuh emosi dengan menunjuk wajah Windi.
"Ada, ya, bapak nggak ngakuin anaknya?" Windi masih percaya diri menyebutkan bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Raka.
"Kamu pikir aku nggak tahu anak siapa yang kamu kandung, Win?"
Windi gelagapan mendengar ucapan Raka. Dia berpikir darimana Raka tahu akan hal yang sudah rapat-rapat dia tutupi.
Dia lupa, bahwa serapat apapun bangkai di sembunyikan, pasti bau busuknya akan menyebar kemana-mana.
Windi tinggal menunggu bom waktu yang akan segera meledak.
"Bagus sekali tingkah laku kamu, Win."
Tubuh Windi menegang mendengar suara dari orang yang baru saja datang.
"Itu anakku. Kenapa kamu bilang dia anak Raka? Buat apa? Apa rencana kamu?"
Windi tak bisa berkata-kata lagi. Dia terdiam saat Krisna, laki-laki selingkuhannya dulu yang telah menikahinya empat bulan yang lalu itu berjalan mendekatinya.
"Kenapa rendahan sekali perbuatan kamu, Win? Kamu ini wanita bersuami. Anak yang kamu kandung itu anaknya suami kamu. Bisa-bisanya kamu katakan kalau itu anak Raka. Biar apa? Biar rumah tangga Raka hancur dan kamu kembali sama dia?"
Kedua tangan Windi terkepal erat mendengar Krisna merendahkan dirinya. Matanya menatap tajam Krisna yang kini berdiri dihadapannya.
"Kalau iya memangnya kenapa? Mau apa kamu? Kalau aku masih mengharapkan Raka kamu mau apa?"
"Mimpi!" Ucap Raka sarkasme. Membuat Windi menoleh kearah Raka.
"Dengar, ya, Windi! Aku kasih kamu waktu satu kali dua puluh empat jam untuk menjelaskan semua ini pada Rissa secara langsung. Kalau sampai dalam waktu tersebut kamu tidak melakukannya, aku pastikan nama kamu di blacklist dari seluruh perusahaan di Indonesia."
Raka tak main-main dengan ucapannya. Dia akan tetap membuat perhitungan dengan orang yang berani mengusik kehidupan rumah tangganya bersama Rissa.
"Jangan lakukan itu, Raka, aku mohon." Windi memohon dengan memelas.
"Lakukan apa yang aku minta kalau kamu tak ingin hal itu terjadi!"
🌹🌹🌹
Beberapa saat sebelumnya...
Raka duduk termenung di salah kursi dekat jendela yang menampakkan pemandangan jalanan kota Semarang di cafe yang sudah cukup ramai siang ini.
Cara satu-satunya untuk membuat Rissa percaya dengannya hanya dengan menemui Windi dan memaksa Windi untuk mengakui bahwa malam itu memang tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Kalau bukan demi rumah tangganya dengan Rissa, Raka tak akan sudi menemui wanita itu.
"Raka?"
Merasa namanya di panggil, Raka memutar kepalanya menghadap sumber suara.
Raka begitu terkejut mendapati laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya. Laki-laki yang tidak ingin dia temui dengan alasan apapun.
"Kenapa?" Suara Raka terdengar enggan untuk mendapati.
"Kenapa disini?"
"Memangnya kenapa, ada masalah?" Tanya Raka cuek. Tak peduli dengan laki-laki tersebut yang sudah duduk di kursi seberangnya.
"Santai, bro! Kamu masih saja benci sama aku."
Sebenarnya Raka tak lagi merasa benci pada laki-laki yang duduk dihadapannya saat ini. Hanya saja, mengingat kelakuannya yang menjijikkan itu membuat Raka enggan untuk berbaik hati.
Bagaimanapun, lelaki itu dulu merusak wanita yang pernah dia sayangi. Wanita yang selalu dia jaga kehormatannya, di rusak oleh lelaki itu. Krisna. Ya,dia adalah Krisna. Laki-laki yang sedang berada di hadapannya adalah Krisna.
"Aku dengar kamu sudah menikah. Selamat, ya?" Ucapan itu terdengar basa-basi saja bagi Raka. Dia malas menanggapinya.
"Terimakasih," jawab Raka singkat.
Suasana kembali hening. Tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.
Raka berpikir, mungkin tak ada salahnya dia menanyakan keberadaan Windi kepada Krisna.
"Ekhem!" Raka berdehem. "Kamu tahu dimana Windi?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Krisna mengernyitkan keningnya. "Kenapa mencari Windi?" Tanyanya heran. Untuk apa Raka menanyakan keberadaan Windi padahal dia sendiri sudah menikah.
"Aku ada masalah dengan wanita itu. Rumah tanggaku yang jadi pertaruhannya."
"Masalah apa?"
Dengan singkat, padat dan jelas, Raka menceritakan kronologi kejadian bagaimana Windi menjebak dirinya dan juga mengatakan kebohongan yang membuatnya hampir saja bercerai dengan Rissa seandainya Rissa tak memberinya kesempatan.
Kedua tangan Krisna terkepal erat mendengar cerita Raka mengenai Windi. Bagaimana bisa Windi melakukan hal serendah itu.
"Jadi kamu tahu dimana keberadaannya sekarang? Aku sempat menghubungi teman kosnya dulu, dia bilang Windi tidak lagi tinggal di tempat kos yang lama."
Krisna menghela napas panjang. Dia sendiri pun sebenarnya sudah mulai jengah dengan kelakuan Windi.
"Dia sudah menjadi istriku, Ka."
Tentu saja perkataan Krisna membuat Raka membelalakkan matanya. Dia terkejut bukan main. Dia tak tahu kalau ternyata Windi sudah menikah dengan Krisna.
"Dan dia memang sedang hamil. Tentu saja hamil anakku."
"Sial!" Raka mengumpat. Matanya menatap Krisna penuh amarah. "Apa kamu tidak bisa membimbing istrimu sampai dia berbuat serendah itu?" Raka berteriak marah. Tak peduli beberapa pengunjung cafe menatap keduanya.
"Tunggu, Ka. Tahan emosi kamu! Aku sendiri juga sudah mulai jengah dengan kelakuannya. Dia hamil sebelum kami menikah. Tapi dia selalu mengatakan kalau dia masih mencintai kamu dan akan melakukan apapun demi mendapatkan kamu lagi, Ka. Aku sendiri sudah lelah. Aku tidak dihargai sebagai suaminya. Aku sakit hati tahu istriku masih mencintai laki-laki lain."
Raka tertawa meremehkan. "Itu karena kamu mendapatkannya dengan cara yang nggak bener."
Benar. Krisna membenarkan hal itu. Salahnya memang. Salahnya sudah memaksa Windi untuk bersamanya walaupun pada akhirnya Windi pasrah saja saat Krisna mengajaknya bermain di belakang Raka.
"Sekarang terserah kamu akan kamu apakan Windi, Ka. Siapa tahu dengan begini dia bisa sadar akan kesalahannya."
"Maksud kamu?" Raka tak mengerti dengan ucapan Krisna.
"Lakukan apapun yang akan kamu lakukan. Aku antar kamu menemui Windi sekarang."
Krisna beranjak dan memberi isyarat agar Raka mengikutinya. Mau tak mau, Raka pun mengikuti Krisna.
Krisna mengemudikan mobilnya menuju satu komplek perumahan yang selama dua bulan ini dia tinggali bersama Windi.
❤️❤️❤️
"Krisna, bantu aku. Bagaimana nanti kalau Raka benar-benar membuat namaku di black list dari semua perusahaan?"
Windi mengacak rambutnya penuh frustasi. Di satu sisi, dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Rissa. Dia tidak mau melihat Raka menjadi milik orang lain. Tapi disisi lain, Windi tidak ingin namanya di black list dari seluruh perusahaan karena skandal yang telah dia perbuat.
Gila! Windi benar-benar sudah gila.
"Masalah ini yang buat kamu sendiri, Win. Selesaikan sendiri! Aku sendiri sudah lelah menghadapi kamu."
Krisna dengan santainya memasukkan keripik tempe ke dalam mulutnya sambil melihat tantangan televisi. Tak peduli dengan tatapan Windi yang terlihat begitu marah kepadanya.
"Apa lihat-lihat?" Tanya Krisna sengit.
"Kamu nggak kasihan sama aku? Nggak sayang lagi sama aku?"
"Memangnya kamu sayang sama aku sampai aku juga harus sayang sama kamu?"
Skakmat! Windi tak bisa berkata-kata lagi.
"Cukup, Win. Aku udah nggak tahu lagi harus gimana ngadepin kamu. Kamu selalu seenaknya sendiri. Aku lelah. Urus sendiri kekacauan yang sudah kamu buat."
Windi menatap Krisna tak percaya. Laki-laki yang pernah mengaku mencintainya setengah mati kini berkata seperti itu.
"Kamu sadar enggak, kalau kamu juga yang udah buat hubungan aku dengan Raka berakhir? Kamu yang udah rusak aku, Kris. Sekarang kamu bisa ya, berkata seperti itu?"
"Jangan pura-pura lupa, Win! Kamu dulu bahkan mengatakan kalau hubungan kamu dengan Raka terasa hambar karena Raka mencium bibirmu saja tidak pernah. Hanya sebatas pegangan tangan dan cium kening. Kamu, kan, yang haus belaian?"
Windi hendak membalas ucapan Krisna namun dengan cepat Krisna memberi isyarat agar Windi diam.
"Waktu kamu nggak banyak untuk membereskan semua ini. Tanggungjawab dengan apa yang sudah kamu lakukan!"
Krisna segera meninggalkan Windi yang masih menyimpan sekarung kekesalannya pada Krisna.
Tidak ada pilihan lain. Dia memang harus mengakui kekalahannya di depan Rissa.
❤️
Harusnya sudah di up sejak semalam. tapi karena WiFi error jadi harus pagi-pagi begini biar sinyal stabil
owh iya .. boleh dong ya follow Ig baru aku biar tahu kapan info updatenya. @pena.dhee
terimakasih. love you gaes. 😘😘
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.