Mendadak menikah dengan duda beranak 3 adalah sebuah malapetaka bagi gadis bernama Vania Clarisa. Kebahagiaannya seperti di rampas, kebebasannya di renggut. Dia yang merupakan gadis bebas yang senang berpetualang mendadak harus mengurus suami dengan 3 putranya yang masih berusia remaja. Apakah dia akan menjelma menjadi ibu tiri yang kejam seperti di film-film jaman dulu?
Seperti apa kisah Vania? Kenapa dia harus menikahi duda beranak 3 secara tiba-tiba? Ikuti kisahnya, "Mendadak Nikah".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laki-laki Yang Tepat
Vania seketika mengerutkan kening. Kenapa ayahnya ini tiba-tiba saja memintanya untuk tinggal di rumah itu? Meskipun hanya untuk beberapa hari saja, tapi rasanya sangat aneh. Apa mungkin sang ayah begitu merindukan dia, mengingat memang sudah beberapa bulan ini mereka tidak saling bertemu?
"Tentu saja boleh, ayah mertua. Vania putri ayah, sebelum dia menikah dengan ayah, dia adalah satu-satunya putri yang ayah miliki. Vania bebas tinggal di sini sampai kapan pun dia mau, tentu saja saya juga akan menemani dia sini," ucap Arion secara tiba-tiba membuat Vania seketika menoleh lalu menatap wajah suaminya.
"Mas Arion? Mas serius mengizinkan aku tinggal beberapa hari di sini?" tanya Vania kemudian.
"Tentu saja boleh, honey. Mana mungkin Mas tidak mengizinkan kamu untuk menemani ayah di sini? Beliau lagi sakit, jika bukan kamu siapa lagi yang akan menemani beliau."
Vania tersenyum sumringah. Dia pikir Arion akan membatasi dirinya dalam mengurus orang tua satu-satunya yang masih dia miliki, setelah sang ibu tiada. Dia pun menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu penuh rasa cinta.
"Terima kasih, Mas. Aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti Mas," ucap Vania tersenyum penuh rasa haru.
"Kalau Mommy tinggal di sini, maka kami juga akan menemani Mommy di sini, lagi pula di rumah bakalan sepi kalau gak ada Mommy. Kek, apa boleh kami tinggal di sini sama Mommy?" tanya Dion tersenyum ramah menatap wajah Nugraha sang kakek.
"Tentu saja boleh, kakek akan sangat senang jika kalian semua mau menginap di sini. Rumah ini akan lebih ramai jika kalian berada di sini, kakek senang sekali, tapi apa tidak apa-apa kalian tinggal di rumah sederhana seperti ini? Rumah ini juga berantakan sekali."
"Kalau itu ayah gak usah khawatir. Saya akan membawa salah satu asisten rumah tangga saya ke sini, urusan rumah berantakan serahkan saja sama mereka," timpal Arion.
"Astaga, tidak usah sampai seperti itu, Arion. Pekerjaan rumah biar Vania saja yang melakukannya."
"Jangan, Yah. Kasihan kalau istri saya yang cantik ini di suruh melakukan pekerjaan rumah. Kalau dia sampai kecapean gimana?"
"Gak apa-apa, Mas. Aku udah biasa ko melakukan pekerjaan rumah. Lagian, sebelum kita menikah, semua pekerjaan di rumah ini aku yang mengerjakan," tutur Vania.
"Itu 'kan dulu, sekarang berbeda honey. Kamu istri Arion Delana, kamu gak boleh kecapean, kamu harus jaga kondisi badan kamu biar gak sakit. Kamu fokus saja dalam mengurus ayah yang lagi sakit, urusan pekerjaan rumah biar nanti di urus sama asisten rumah tangga."
"Apa di sana, di rumah kamu putri ayah ini tidak pernah melakukan pekerjaan rumah?" tanya Nugraha merasa penasaran.
"Tentu saja tidak ayah mertua. Saya menikahi Vania bukan untuk dijadikan pembantu, tapi untuk di jadikan ratu. Tugas dia cuma satu."
"Hah?" Nugraha seketika mengerutkan kening.
"Tugas Vania hanya melayani saya di atas ranjang," bisik Arion membuat ayah mertuanya itu tertawa lepas merasa lucu.
"Hahahaha! Kamu bisa saja, Arion. Walau bagaimana pun terima kasih karena kamu telah memperlakukan putri ayah ini dengan sangat baik. Tidak salah ayah meminta dia untuk menikahi kamu, meskipun--"
"Hus, yang itu gak usah di bahas. Yang terpenting sekarang, kami saling mencintai." Sela Arion tersenyum kecil.
Nugraha menatap wajah menantunya. Betapa dia sangat kagum dengan cara Arion memperlakukan Vania sang putri. Laki-laki paruh baya itu seketika merasa lega. Dia pun akan rela jika dirinya meninggalkan dunia ini sekarang juga, karena putri satu-satunya sudah hidup bahagia dan menikahi laki-laki yang tepat.
"Ayah? Kenapa ayah melamun?" tanya Vania.
"Hmm ... Ayah hanya merasa senang karena kamu menikahi laki-laki yang tepat. Rumah tangga kamu juga sepertinya bahagia. Putra sambung kamu juga baik-baik. Ayah benar-benar merasa lega sekarang. Ayah rela jika nyawa ayah di cabut sekarang juga, karena ayah tidak perlu mengkhawatirkan kamu lagi, sayang."
"Hus! Ayah gak boleh bilang kayak gitu. Ayah harus berumur panjang. Apa ayah tidak ingin menimang seorang bayi, cucu ayah sendiri?" lirih Vania dengan bola mata memerah.
"Betul sekali, yah. Ayah harus panjang, apa ayah tahu kami sedang dalam program hamil? Setelah saya perhatian, Vania juga sepertinya sudah lama tidak datang bulan. Betul 'kan honey?"
"Hah? Dari mana kamu tahu kalau aku belum datang bulan, Mas?" tanya Vania mengerutkan kening.
"Tentu saja Mas tahu, honey. Mas bahkan tahu ukuran pakaian dalam kamu. Ukuran sandal, sepatu bahkan semua yang kamu suka pun Mas tahu."
Vania seketika merasa tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa suaminya itu tahu secara mendetail tentang dirinya? Sedalam itukah rasa cinta Arion kepada istrinya? Diam-diam, Vania begitu mengagumi sosok Arion Delana. Laki-laki yang dia nikahi beberapa bulan yang lalu.
'I love you, Mas Arion. Kamu adalah anugerah yang dikirimkan oleh Tuhan untukku. Terima kasih karena telah menjadi suami yang baik dan mencintai aku dengan tulus selama ini,' (batin Vania).
BERSAMBUNG
...****************...