PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Menghabiskan Malam Bersama 1
“Kenapa Tasya ditinggal, Mas?” Dewi bertanya sesudah mereka keluar dari resto.
“Jadi maumu, aku sebaiknya membiarkan pacarku jalan sendiri?”
Pacar?
Meski dia tahu Kris mengatakan itu gak ada maksud apa-apa. Kenapa dia bahagia sekali ya dengarnya?
Kris memperhatikan pipi ranum di sampingnya. Ah, sudah lama sekali dia nggak lihat hal ini. Dia jadi menghentikan langkahnya demi melihat secara seksama. Yang dilihatnya otomatis jadi berhenti, lalu memalingkan kepalanya.
“Kenapa, Mas?”
Kris sedikit memajukan kepalanya. Reflek, yang didekatin jadi memundurkan kepalanya dibarengin kebingungan. Juga, salah tingkah pastinya.
“Jadi menurutmu, sebaiknya aku menemani Tasya saja?”
Demi melihat pipi itu makin memerah, pria itu sengaja buat kata menggoda. Tentu pria itu nggak buta, sikap Dewi selama ini mudah terukur. Wanita di sampingnya ini masih berharap banyak padanya.
Seketika Dewi mengerlipkan mata. Baru sadar pipinya meranum gara-gara ucapan Kris barusan. Malah makin memerah dipandangin begini.
“Ya, ya, y-a, terserah Mas saja. Ke, k-enapa minta persetujuan dariku?” Dewi tergagap-gagap, sesegera mungkin membuang muka demi memberinya ruang menormalkan lagi pipinya.
“Bisa kamu ulangi lagi, Dewi?”
Hm? Ulangi? Maksudnya? Oo... Jadi Kris bukan menggodanya, tetapi sedang baik-baikinnya. Ya! Biar nanti di markas dia bisa menutupi kelakuan Kris. Andai-andai ada orang markas yang melihat mereka berdua di sini. Sedangkan orang itu melihat dia jalan sendiri. Jika wanita lain, lain cerita. Kris dapat mencari alasan dengan tenang, kenapa membiarkannya jalan sendiri. Tapi ini Tasya, jelas-jelas mantan Kris. Orang-orang markas kan tahu. Tentu bakal ramai sekali, dan secepat kilat langsung terdengar ayahnya. Giliran begini, meminta ijin, sekaligus meminta bantuan lagi. Ugh!
Dewi menoleh, bersama mimik keki. "Maksudnya?"
“Bisa kamu ulangi lagi?”
Ish, masih minta ulangi?
Karena kesal, Dewi jadi mengulanginya dengan menaikkan nada.
“YA TER...”
Memotong. "Bukan..."
Tercekat. “Ha?”
“Bisa kamu ulangi memanggil aku, Mas?”
Rupanya nggak sesuai pikirannya. Namun tentu itu mampu membuatnya jadi kembali berdebar-debar.
“Ma, M-as,” gugup Dewi.
Tersenyum. “Boleh aku memintamu sekali lagi dengan memakai namaku?”
“Ma, M-as Kris."
Kini pria itu tersenyum puas. Lalu melanjutkan langkahnya lagi diiringi Dewi.
“Kupikir, nyaman-nyaman saja ketika kamu memanggilku nama. Ternyata, jauh lebih menyenangkan jika kamu memanggilku bukan hanya sekedar nama. Aku senang sekali. Apa lagi, kalau kamu mengatakan di depanku hanya kita berdua."
Apa? Dia nggak salah dengar, 'kan? Tunggu, tunggu, serius ini? Berarti kalau ada orang lain, Kris tidak merasa spesial? Dan itu kan artinya, Kris sekarang sedang membuka hatinya untuknya, bukan? Dengan ini juga, berarti mematahkan dugaannya tentang keberadaan Kris dan Tasya di sini, bukan? Entahlah... Mereka berdua bertemu dalam rangka apa.
Untuk memastikan, Dewi melirik tipis demi melihat ekspresi pria di sebelahnya sekali lagi. Iya, Kris terlihat senang sekali, tersenyum-senyum sendiri begitu. Aish... Coba dari dulu dia memanggil Kris, Mas ya.
“Kamu ada keperluan apa di sini?” Kris melirik.
Karena lagi memperhatikan, sebelum menjawab, otomatis Dewi jadi tersentak kecil.
"Oh! Aku mau beli kado. Sabtu nanti, Dokter Ajeng akan merayakan acara syukuran untuk anaknya yang baru lulus wisuda. Sms yang kukirim ke Hp Mas isinya tentang ini. Mas, benar Hp-nya tertinggal?”
Aduhh... hampir-hampir ketahuan
“Oo... Isinya itu."
Tunggu! Kris berhenti melangkah lagi. Kenapa nada bicara Dewi terakhir seperti tak percaya? Dewi pun turut berhenti lagi. Kris memiringkan kepalanya.
“Tertinggal Dewi... Kalau tidak, Tasya pasti tadi telah menginterupsi ucapanku ketika menjawab pertanyaanmu. Tak lama sesudah itu kan, kamu dan Tasya lihat aku pegang Hp. Tasya dari awal tahu Hp aku tertinggal.”
“O,o,o..." Dewi jadi gelagapan.
Haishh... Kenapa juga dia menanyakan hal ini sih! Mereka lagi baik-baik begini. Ish, ada aja memang dia ini. Tapi iya juga ya, Tasya pasti tahu Kris punya dua Hp mereka kan pernah dekat. Ah, teman juga bisa tahu. Tapi, kenapa Tasya bisa tahu Hp Kris tertinggal? Oh iya ya, mereka kan datang bersama. Kalau begitu, berarti...
Astaga! Bisa-bisanya dia balik ke pikiran aneh. Terlalu banyak pikiran negatif deh! Dewi segera fokus memperbaiki situasi.
“Maaf Mas, aku kan hanya nanya." Kembali ke topik undangan. "Mas, bisa datang?”
“Bisa. Acaranya jam berapa?”
“Jam 1 sampai selesai.”
“Ya sudah, Sabtu nanti sepulang kerja aku jemput kamu di rumah sakit.”
“Tidak perlu, Mas.”
"Kenapa?”
“Kita nggak bisa datang bareng. Soalnya, aku mau ada urusan dulu. Nanti kita ketemu di sana saja. Aku juga ada bilang hal ini di sms." Dewi bicara sesuai rencananya.
“Oo... Begitu. Ya udah.”
Kris lanjut berjalan diiringi Dewi lagi.
“Mas benar, mau menemani aku? Apa, nggak apa-apa ninggalin Tasya sendiri?”
Ops! Lagi...? Ish... otakku memang selalu nggak beres. Selalu saja diselimutin pikiran nggak-nggak.
“Kenapa aku harus temani, Tasya? Aku ke sini sendiri. Tadi, aku sehabis ketemu orang di situ. Setelah orang yang aku temui pergi, kulihat dia ada di situ.”
Hah? Masa? Ya ampun... Dia sudah salah paham. Ini sudah kedua kalinya dia begini. Pertama sewaktu Kris 2 hari berturut-turut jalan dengan Rena di Medan. Kalau begitu, berarti Tasya tahu Hp Kris tertinggal. Apa ada obrolan diantara Tasya dan Kris ya sebelum dia datang? Pas Kris menghampiri Tasya duduk di situ, Tasya bilang ada sms Kris, terus Kris bilang, Hp Kris tertinggal? Apa kira-kira begitu? Tetapi juga, apa benar-benar ini dia gak salah paham lagi? Karena bisa saja, Tasya tahu Hp Kris tertinggal karena mereka datang bersama.
Tuh kan, tuh kan, lagi deh... Sudahlah Dewi.. Banyak sekali ini-itu diotakmu. Yang penting Kris memilih jalan denganmu. Mau itu Kris menyelamatkan hubungan kalian kek, atau apalah. Sudahlah...
“Oo... Begitu,” senang Dewi.
“Kamu mau beli apa?”
“Entahlah... Aku juga bingung."
“Anaknya perempuan? Apa laki?”
“Perempuan.”
“Oo... Begitu."
"Tapi rasanya aku ingin beli tas deh. Kan anaknya baru lulus wisuda tuh. Kan pas nanti untuk dipakainya kerja."
Tidak jauh mereka berdiri. Tepatnya, di seberang toko pernak-pernik ada toko tas perempuan.
"Oh! Itu ada toko tas cewek.” Tunjuk Kris. “Ayo, kita ke sana?”
Menoleh. "Ayo."
Namun sebelum ke sana, pria itu meminta barang yang ada di tangan wanita itu.
“Sini, barangmu biar aku bawa.”
“Nggak apa-apa Mas, biar aku saja.”
“Sudah... Sini...”
Kris merampas lembut, wanita itu pun pasrah. Karena barang itu seperti hal biasa yang sering dilakukan Dewi ketika dulu mereka jalan bersama di mall, Kris menebak.
“Jangan bilang ini peralatan dapur.”
Mendelik. "Kok Mas tahu?”
“Apa yang aku nggak tahu tentang kamu Dewi." Kris berjalan.
Dewi melongo tidak lekas beranjak. Kok Kris tahu ya? Oo, iya, ya. Dulu dia suka beli peralatan dapur. Tapi, kenapa Kris bisa tahu? Barang itu kan tertutup kardus. Apa karena keseringan itu ya? Tapi juga, kenapa Kris bisa bilang tahu segala tentangnya? Memang, selama 2 bulan lebih dulu mereka bersama. Kris secepat itu bisa tahu segalanya? Tapi, kalau misalkan iya, apa-apa saja yang Kris tahu? Dan tahu dari mana?
Biar begitu, ucapan itu berhasil membuat pipi Dewi kembali memerah. Karena rupanya Kris masih ingat hal-hal tentangnya.
Sesaat mereka sudah berada di dalam toko. Dewi memilih-milih tas disalah satu rak dibagian tas berbahan kulit. Kris hanya berdiri di sampingnya. Tentu, pria itu nggak mau ikutan urusan cewek. Namun tak luput juga dia berkata...
“Kalau begitu, tolong sekalian pilihin tas satu untukku. Untuk kado anaknya Dokter Ajeng.”
Melirik. “Mas, mau ikutan juga?”
Mengangguk. “Iya. Nanti tasnya aku titip ke kamu ya, tolong kamu bawain ya."
“Mas malu ya bawa tas cewek?” ledek Dewi.
“Yah... Masa, aku di suruh bawa tas cewek.”
“Hihi...”
Kris terbeliak melihat wanita di sebelahnya cekikikan begitu. Ah, ini juga sudah lama dia tak lihat hal ini. Pria itu jadi menatap dalam. Ditatap menusuk seperti itu, Dewi jadi berhenti tertawa.
“Ma, M-as kenapa menatapku begitu?”
Tersadar. “Ah!” Mendesah. “Haaa..." Menggeleng. "Nggak apa-apa. Ya sudah, aku tunggu di kasir saja ya."
Dewi mengamati punggung pria pujaannya yang berjalan pergi meninggalkannya. Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran Kris? Apa tawanya memiliki arti? Apa Kris merindukan hal itu? Seperti dirinya juga merindukan hal itu? Moment-momen dimana dulu mereka tertawa lepas?
Kadang dia merasa kayak layangan ditarik ulur. Mengapa sikap Kris kadang membuat hatinya berdebar? Kadang tidak? Ataukah sebenarnya masih ada sebongkah perasaan di hati Kris, yang membuat Kris pun bingung bagaimana harus menyikapi ke dirinya?
Ya ampun... lelaki ini memang penuh teka teki. Selalu saja buat aku mati penasaran.
Kris membayarkan untuk semua barang yang telah di bawa Dewi ke kasir.
“Gak usah, Mas." Mencegah menahan tangan. "Barang punyaku itu patungan dengan anak-anak. Nanti mereka bingung lagi bayarnya ke aku," lanjut Dewi.
Menepis pelan tangan yang menahannya. "Nggak apa-apa. Nanti ambil saja uang mereka untuk kamu jajan.”
Dewi jadi tersenyum kecil. Kayak anak kecil saja buatnya jajan.
Ketika kasir dan Kris terlibat transaksi, ada dua orang pelayan toko membicarakan pasangan yang telah bubar itu. Yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Ugh, gila. Cowoknya ganteng banget...”
“Itu benar ceweknya? Kok ceweknya biasa-biasa gitu sih! Nggak banget deh!”
Dewi segera menoleh ke kedua orang usil itu. Pasti ada aja deh orang model beginian.
Kedua orang itu langsung kabur saat tahu wanita yang dibicarakan mereka memberi tatapan sengit. Kemudian Dewi kembali ke Kris.
Apa Kris nggak dengar? Kasir saja, sampai berhenti sejenak melakukan aktivitasnya demi melototin teman-temannya. Apa Kris pura-pura tak dengar? Ini pun pernah beberapa kali terjadi sewaktu mereka dulu pacaran. Omongan orang-orang usil itu kadang suaranya bukanlah kecil, dan Kris diam saja.
Memang tadi selain dapat tatapan menusuk dari Dewi. Dua orang usil itu juga dapat tatapan angker dari kasir.
Kemudian Dewi menghela nafas kecil. Baiklah, mungkin omongan nenek itu benar, dan Teguh juga pernah bilang itu padanya bahwa dia cantik. Sejujurnya masih banyak lagi orang berkata begitu padanya. Tapi jika dia di samping Kris, apakah wajahnya terlihat? Tidak! Karena Kris terlalu tampan ketika berdiri di sampingnya. Sedangkan dia hanyalah wanita berpenampilan sederhana dengan polosan di mukanya.
Bagi sebagian wanita, wanita tanpa make up itu tidak cantik biasa saja. Dulu semasa sekolah, teman-temannya meledekin sesuai batas usia mereka. Tahunya asal ngomong gemuk dan jelek saja. Menginjak dewasa, semua yang ada didirinya dinilai.
“Dewi,” panggil Kris.
Terjaga dari lamunan. “Ha?”
“Kenapa melamun?”
“Ah, enggak.”
“Ayo, kita pergi dari sini.”
Mengangguk. “Ah, iya.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
NOTE !
KALAU KALIAN SUKA NOVEL INI, KASIH BINTANG 5, LIKE, KOMEN, TINGGALKAN JEJAKMU YA GUYS...
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku