Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 28 (Amnesia)
"Tidaaaak,!!"
Retta sontak menjerit ketika melihat siapa yang tergeletak dihadapannya. Satrio lekas mendekati Didi yang tergeletak.
"Ta, kita harus bawa Didi kerumah sakit." ucap Satrio.
"Iya, Mas." jawab Retta singkat.
"Maaf, Pak. Ini teman kita. Biar yang bawa kerumah sakit kita saja." ucap Satrio pada salah satu orang yang berada ditempat kejadian.
"Baiklah Mas, biar nanti kita yang bilang ke polisi jika nanti polisinya datang." jawab orang itu.
Retta dan Satrio langsung membawa Didi kerumah sakit terdekat. Satrio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat agar lekas sampai dirumah sakit.
Setelah sampai dirumah sakit, Didi langsung ditangani di UGD. Retta masih gemetar dan bingung dengan kejadian ini. Satrio mencoba menenangkan Retta.
"Ta, apa kamu sudah mengubungi Mamanya Didi?" tanya Satrio.
"Sudah, Mas. Barusan aku telpon Bu Utari. Dia menuju kesini?" jawab Retta.
"Ya sudah kalau gitu. Kita berdoa saja sambil menunggu Didi." ucap Satrio pelan.
Setelah menunggu selama kurang lebih sejam, akhirnya Dokter keluar. "Maaf, keluarga pasien?" tanya Dokter itu.
"Iya, saya temannya." jawab Satrio.
"Maaf, Mas. Pasien butuh darah banyak sekali. Kebetulan golongan darah pasien, persediaan dirumah sakit saat ini lagi kosong." ucap Dokter itu.
"Maaf, kalau boleh saya tahu apa golongan darah teman saya, Dok?" tanya Satrio.
"Golongan darahnya A." jawab Dokter.
"Saya kebetulan golongan darahnya A, Dok. Ambil darah saya saja." jawab Satrio.
"Baiklah, Mas. Sekarang Anda ikut saya buat dites dulu." jawab Dokter.
"Retta, tunggu disini, ya. Aku akan masuk dulu." ucap Satrio.
"Iya, Mas. Makasih ya?" jawab Retta.
Satrio tersenyum sambil menepuk pundak Retta. "Iya, sama-sama, Ta."
Satrio melangkah masuk mengikuti Dokter itu. Kini Retta sendiri berdiri menunggu diluar. Dia panik dan masih belum tenang dengan apa yang menimpa kekasihnya saat ini.
Tak lama kemudian, datanglah Pak Hendra dan Bu Utari. Kemudian mereka menghampiri Retta yang kini berdiri sendiri sambil menangis.
"Retta,!" seru Bu Utari sambil berlari kearah Retta dan memeluknya.
"Bu, Didi sekarang didalam." ucap Retta sambil menangis terisak.
"Iya, Nak. Ibu tahu ini pasti berat buat kamu. Ibu juga begitu, sangat berat buat kami semua." ucap Bu Utari sambil menangis.
"Nak Retta. Ini tadi kejadiannya gimana. Apa saat kecelakaan Didi bersama kamu?" kini giliran Pak Hendra yang bertanya.
"Tidak, Pak. Saya nggak bersama Didi. Tadi Didi itu kecelakaan dipertigaan saat hendak memasuki komplek perumahaan saya. Mungkin dia mau ke rumah Retta, Pak. Saat itu kebetulan saya dan teman saya habis makan diwarung nasi uduk dekat pertigaan tersebut. Saya tidak tahu jelas seperti apa kejadiannya, yang saya tahu ada suara keras lalu saya liat mobil sudah menabrak pohon besar dekat trotoar. Lalu saya dan teman saya melihat, ternyata Didi yang menjadi korban. Langsung saja saya dan teman saya bawa Didi kesini, Pak." jawab Retta sambil menangis sesenggukan.
"Sudah, kamu yang sabar. Tapi, sekarang teman kamu dimana?" tanya Pak Hendra.
"Kebetulan, darah Didi dan teman saya sama. Tadi Dokter bilang kalau lagi butuh darah tersebut. Langsung teman saya menawarkan untuk membantu mendonorkan darahnya buat Didi." jawab Retta.
"Alhamdulilah, teman kamu baik banget." jawab Pak Hendra.
Retta mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Bu Utari masih memegang pundak Retta dengan matanya yang masih memerah karena habis menangis. Tak lama kemudian Polisi datang ke rumah sakit dan mendekati mereka.
"Selamat pagi, dengan keluarga korban." tanya salah satu Polisi.
"Iya, Pak. Saya Ayahnya.!"
"Begini, Pak. Setelah kami menyelidiki ditempat kejadian. Ada kejanggalan dalam kecelakaan yang anak Bapak alami. Ada yang menyabotase rem mobil anak Bapak. Kami menemukan rem mobil anak Bapak itu blong karena putus." jelas Polisi itu.
"Apa,!" teriak Pak Hendra.
"Iya, Pak. Apakah anak Bapak ada musuh?" tanya Polisi itu.
"Saya rasa nggak ada, Pak. Tapi, memang akhir-akhir ini keluarga saya sering mendapatkan teror. Pertama kedua anak saya pernah diikuti orang yang tak dikenal, lalu tempat praktek anak saya ini juga diserang orang tak dikenal. Jadi mengakibatkan kerusakan parah." jawab Pak Hendra.
"Tapi apa sudah lapor ke Polisi?" tanya Polisi lagi.
"Sudah Pak. Anak saya langsung lapor ke Polisi saat itu juga. Dan sekarang masih dalam masa penyelidikan." jawab Pak Hendra.
"Oh iya, Pak. Tadi pagi saya juga mengalami teror. Ada dua orang laki-laki tak dikenal mengancam saya." ucap Retta.
"Diancam gimana, Mbak?" tanya Polisi.
"Saya diancam, untuk menjauhi keluarga Pak Hendra dinata. Kalau saya nggak mengikuti kemauannya, mereka akan mencelakai kekasih saya." jawab Retta.
"Apa,!" seru Pak Hendra.
"Maaf, siapa kekasih Anda, Mbak?" tanya Polisi itu.
"Kekasih saya adalah yang sekarang menjadi korban kecelakaan tadi, Pak." jawab Retta.
"Iya, Pak. Wanita ini kekasih anak saya." sahut Pak Hendra.
"Berarti sekarang kita sedikit menemukan titik terangnya. Masalah ini pasti ada hubungannya dengan soal asmara. Tapi, tenang saja. Kami akan berusaha mengungkap kasus ini. Dan nanti kalau korban sudah siuman, kami akan memintai keterangan buat laporan. Dan sekarang kami permisi dulu, Pak." ucap Polisi itu.
"Iya, Pak. Makasih atas bantuannya." ucap Pak Hendra.
"Sama-sama, Pak. Itu memang sudah menjadi kewajiban kami. Jika ada informasi baru, langsung laporkan kepada kami." ucap Polisi tersebut.
"Baik Pak." jawab Pak Hendra.
Kemudian kedua Polisi itu meninggalkan rumah sakit. Kini Pak Hendra beserta istri dan Retta masih menunggu kabar dari dalam UGD. Tak lama kemudian Keluarlah Dokter yang tadi menangani Didi.
"Maaf, keluarga pasien, ya?" tanya Dokter itu tiba-tiba.
"Iya, Dok. Saya Ayahnya." jawab Pak Hendra.
"Begini, Pak. Tadi kan anak Bapak kehilangan banyak darah. Dan setelah mendapat donor darah dari saudara Satrio, kini keadaan anak Bapak sedikit terbantu dengan itu. Tapi, sekarang anak Bapak masih belum sadar. Jadi kita tunggu saja perkembangannya." jelas Dokter itu.
"Syukurlah kalau begitu, Dok. Tapi, anak saya tidak kenapa-napa, kan?" tanya Pak Hendra.
"Saya rasa tidak, Pak. Kita berdoa saja." jawab Dokter itu.
"Makasih, Dok." ucap Pak Hendra.
Akhirnya Dokter meninggalkan tempat itu. Kini tinggal mereka bertiga lagi. Retta masih tegang karena dia masih belum puas kalau belum melihat keadaan Didi secara langsung.
"Maaf, Pak. Pasien sudah siuman. Silahkan kalau mau melihat!" ucap Perawat tiba-tiba.
"Makasih, Sus." jawab Pak Hendra.
Mereka bertiga akhirnya masuk untuk melihat Didi. Retta semakin nggak sabar untuk melihat kekasihnya itu. Ketika sudah didalam, mereka mendapati Didi yang masih terbaring diatas tempat tidur.
"Sayang, kamu sudah nggak apa-apa, kan?" tanya Retta sambil memegang pipi Didi.
"Maaf, siapa kamu.!" ucap Didi tiba-tiba.
----------Bersambung----------
.retta
.