"Jika memang darahku bisa melepaskanmu dari belenggu kutukan menuju keabadian, maka aku rela".
Pertarungan dua klan vampir yang berawal dari satu keluarga kini berubah menjadi musuh bebuyutan. Keduanya berusaha memperebutkan kedudukan menjadi penguasa vampir no. 1.
Di saat yang sama keadaan dilema tengah menimpanya, pilih cinta atau klannya? Siapakah yang menjadi penguasa akhir?
Simak kisah mereka💋
DILARANG KERAS PLAGIAT🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Sang Penguasa Vampir
"Serang!" pekik Aldric yang masih berada di dalam Smith Castle.
"Bumm..."
"Duar..."
"Duar..."
Jeritan menggelegar terjadi di luar Smith Castle sebab saat Vincent Luther tengah bersombong ria menantang Aldric dan klan Smith, maka Aldric langsung menyerang tanpa basa basi.
Sebagai seorang pemimpin klan Smith, dirinya sudah memikirkan dengan matang taktik penyerangan. Sekali dia berkomando serang, maka pasukannya sudah siap melakukan aksinya di setiap lini yang telah ia rancang dengan rapi.
Klan Luther dan Dandelion kini telah dikelilingi oleh api suci namun panasnya melebihi tiga ratus enam puluh derajat Celcius dari api pada umumnya. Tidak ada makhluk yang bisa memadamkan api tersebut kecuali air liur dari Aldric sendiri.
"Brengsek Aldric!" geram Vincent dengan gemertak giginya dan tangan yang mengepal serta rahangnya mengeras.
Dirinya banyak melihat pasukan Luther dan Dandelion yang berada di tepi telah tumbang secara massal dalam sekali serangan dari Aldric.
"Sialan Aldric! Kita tidak bisa menganggap remeh dia!" gerutu sebal Bernard.
"Kalian serang langsung Aldric dan sekutunya biar mampus mereka!" bentak Soraya gemas dengan pongahnya mantan anak tirinya itu padahal yang pongah adalah dirinya sendiri bersama putra kandungnya.
"Serang kembali dari segala penjuru!" teriak Aldric pada pasukan Smith.
"Aaaa..."
"Duar..."
"Duar..."
"Boom..."
Sisi barat diserang dengan timah panas. Sisi timur diserang batu hitam panas dengan kobaran api pada tiap batu tersebut. Sisi utara diserang dengan panah api dan sisi selatan diserang dengan Vampire Finch.
Burung yang menjadi pasukan klan Smith bernama Vampire Finch ini bertugas memukul mundur dan membunuh pasukan Luther dan Dandelion dengan cara mencabik-cabik tubuh mangsanya dan menghisap darahnya hingga habis tak bersisa.
Melihat klan Luther dan Dandelion yang hampir setengahnya telah berguguran walaupun beberapa pasukan klan Smith lainnya juga ikut berguguran. Aldric langsung mengambil tindakan cepat guna menyelesaikan semuanya agar klannya tidak banyak yang tumbang terlebih Frank dan Alden juga kewalahan memimpin penyerangan di sisi barat dan timur melawan musuh bebuyutan mereka.
Dominic asisten Vincent juga tak bisa dianggap remeh dalam memimpin pasukan Luther menyerang Smith Castle. Dia seorang asisten yang cukup cerdas seperti Frank.
Aldric melihat kondisi peperangan sudah semakin pelik maka ia akan mengeluarkan kekuatan terakhirnya dari darah keabadian Rose yang ia telah hisap dan bercampur dalam tubuhnya.
"Aaaaa..."
"Aaaaa..."
"Aaaaa..."
Jeritan Aldric menggelegar di puncak singgasana medan perang Smith Castle. Jeritan yang sungguh memekikkan telinga pendengarnya. Namun hal itu tak pengaruh pada klan Smith yang tampak biasa saja.
Akan tetapi pada pasukan klan Luther dan Dandelion mereka mendadak lemah, lunglai tak berdaya seakan tak memiliki tulang belulang pada tubuhnya.
Bahkan hidung, telinga dan mata mereka mengeluarkan darah yang sangat banyak hingga darah tersebut menutupi penglihatan dan pernafasan mereka yang otomatis nyawa mereka melayang seketika.
Aldric berjalan maju keluar istananya menuju tiga orang yang ia anggap racun dalam kehidupan manisnya dengan Rose. Ketiganya adalah penghancur pernikahan bahagianya bersama Rose. Maka tidak ada kata maaf bagi ketiganya.
Soraya Luther tengah tergelepak dengan wajah bersimbah darah namun masih bernafas walaupun tersengal-sengal. Sebab ilmu dalam sihir vampir yang Soraya miliki hanya pada taraf biasa tak sehebat putranya Vincent maupun Bernard.
Sehingga diantara ketiganya maka Soraya yang lebih banyak terluka. Vincent juga mengalami luka namun tak begitu parah. Bernard pun juga sama seperti Vincent kondisinya.
Akan tetapi Bernard yang sejujurnya memiliki dendam dan ambisi tak seberapa dengan Aldric, merasa dirinya akan lebih baik menyerah saja pada Aldric daripada harus mati sia-sia. Sebab ia masih memiliki keluarga.
Akan tetapi Aldric tak mengenal yang namanya belas kasihan jika sudah berperang. Ia akan membumihanguskan seluruh musuh bebuyutan yang berusaha menyerangnya.
Terlebih kini istrinya pergi karena mereka bertiga. Maka tak ada kata ampun bagi ketiganya. Vincent yang melihat aura menakutkan pada wajah Aldric berusaha tidak takut namun tetap wajah cemasnya tak bisa ditutupi olehnya.
"Hei Aldric, menyerahlah! Serahkan Rose dan tahta klan Smith padaku. Maka aku akan menjadikan Rose sebagai Ratu Luther satu-satunya dan akan aku bahagiakan dirinya. Bukankah Rose sudah memberimu anak yang akhirnya kamu lepas dari kutukan impoten itu. Daripada anakmu jadi korban keganasanku lebih baik serahkan Rose dan tahta itu padaku secara baik-baik," ucap Vincent seraya terkekeh sengaja meledek Aldric.
"Anak sialan lakukan apa yang Vincent suruh sebelum kesabaran kami habis padamu, brengsek!" umpat Soraya dengan kesal.
"Dasar bajingan akan aku lenyapkan kalian semua hingga dalam ingatan pun kalian hanya akan ingat satu nama yaitu Aldric Sang Penguasa Vampir. Ingat itu sebelum kalian mati!" pekik Aldric dengan suara menggema seantero negeri vampir yang bahkan hewan pemangsa di hutan belantara begitu ketakutan mendengar lengkingan Aldric tersebut.
Deg...
🍁🍁🍁