Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pindah Kamar
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Naya beranjak dari tempat tidur besar itu.
Sebentar lagi waktu sholat magrib akan tiba.
Dia harus segera kembali ke kamar nya. Lagipula kenapa sih, pria itu suka sekali membawa dirinya
ke kamar ini. Naya merasa kamar ini terlalu besar,
dia selalu merasa sedikit takut saat berada di dalamnya.
"Nona mau kemana.?"
Rani bengong saat berpapasan dengan Naya
yang baru saja keluar dari kamar Aham. Naya menautkan alisnya bingung.
"Tentu saja ke kamarku Ran, memang nya mau
kemana lagi.? "
"Loh Nona.. sekarang ini kamar Nona ya di sini."
"Hahaa Rani..itu kan tadi, sekarang aku sudah
merasa baikan, jadi aku akan kembali ke kamar
ku.! sebelum orang itu datang.."
Bisik Naya dengan mengedarkan pandangan
ke arah tangga. Rani tampak kebingungan.
"Tapi Nona..Tuan Muda bilang mulai sekarang
Nona akan tinggal di kamar ini."
"Dan kamu percaya ucapannya ? haa..sudah ahh
Ran, sebentar lagi adzan magrib, aku harus segera
bersiap. Kamu tahu kan kalau dia itu..sedikit aneh..!"
"Nona..sungguh, sekarang Nona tidak boleh lagi
tinggal di sana, ini lihat..! saya sudah membawa
semua barang-barang Nona."
"Apa ?? tapi kenapa Ran ?"
Naya tampak terkejut melihat Rani membawa
koper miliknya.
"Maaf Nona, saya hanya melaksanakan perintah
Tuan Muda."
"Tapi aku lebih suka tinggal di kamar itu Ran.
Aku sudah kerasan di sana."
"Oohh..jadi kamu lebih suka tinggal di kamar sempitmu itu daripada di kamar ku..?"
Naya terperanjat lalu menoleh dengan cepat.
Mukanya langsung meringis saat melihat pria
yang tadi di bicarakan nya sudah berdiri di
belakang nya dengan tatapan tajam menghunus.
"Eumm..bukan begitu Tuan. Tapi saya merasa
lebih baik tidur di kamar sendiri daripada
numpang di kamar orang."
"Orang ? maksudmu aku orang lain.?"
Tatapan Aham semakin tajam. Naya salah tingkah.
Rani segera masuk ke dalam kamar Tuan nya
dengan membawa koper kecil milik Naya saat
melihat suasana semakin memanas.
"Bu-bukan..itu maksudku.? hai Rani..kenapa
barangku di bawa masuk ?"
Naya mencoba mengalihkan pembicaraan saat
melihat Rani membawa masuk koper nya ke
dalam kamar Aham.
"Kau pindah ke kamar ini mulai sekarang !"
"A-apa ? pindah ke sini.?"
Naya terkejut, wajahnya langsung berubah
bingung. Dan terlihat tidak suka. Aham
mengernyit. Haiss..wanita ini ! sebenarnya
apa yang ada di pikirannya.? Kenapa reaksinya
seperti itu ? Seharusnya dia suka kan ?!
Bukankah ini yang di harapkan nya selama ini, pengakuan dari dirinya bahwa dia adalah istrinya ? Tapi kok, Aham jadi kesal sendiri.
"Kenapa ? apa kau tidak suka ?"
Aham maju mendekat membuat Naya reflek
memundurkan badannya. Tatapan Aham semakin
tajam hingga melemaskan sendi-sendi kaki Naya.
Pria itu terus merangsek maju sambil memasukan
kedua tangannya ke saku celana.
"Bukan begitu, aku hanya sudah terbiasa di sana.
Lagiapula kenapa mendadak seperti ini.?"
"Ini yang kamu inginkan bukan ? tidur satu kamar
denganku?"
"Tidak sama sekali !!"
Aham berhenti, rahang nya tampak mengeras.
Tatapannya semakin tajam seolah menguliti
seluruh diri Naya yang kini semakin terpojok.
"Bukankah kamarmu seharusnya memang di
sini dari awal kamu datang kesini.?"
"Tidak !! Aku lebih suka kamarku yang sekarang."
Aham kembali mengernyitkan alis nya. Dia
semakin dibuat geram sekaligus geregetan
oleh wanita polos ini.
"Aku tidak pernah menyuruhmu tinggal di kamar
kecil itu.! lalu kenapa kau lebih suka tinggal di
sana hehh ?"
Aham semakin memojokan Naya ke dinding
kamar dekat pintu masuk. Dia memerangkap
tubuh Naya dengan kedua tangan kekarnya.
Tubuh Naya menegang sedikit gemetar. Mata
mereka kembali bertemu saling bertaut dalam.
"A-aku sudah terbiasa dengan kamar sempit.."
Ucap Naya pelan sambil menyilangkan tangan
di depan dada karena kini Aham mulai maju
merapatkan tubuhnya. Dada Naya naik turun
saat napas segar Aham kini menerpa lembut
kulit wajahnya. Wajah Aham semakin maju
membuat Naya sontak memejamkan matanya.
Aham terdiam, dia menikmati semburat merah
yang kini muncul di pipi putih mulus Naya. Dia
benar-benar menyukai pemandangan ini.
"Dasar wanita aneh ! "
Bisik Aham di telinga Naya. Kemudian dia
melepaskan kungkungan nya bersamaan
dengan kumandang adzan magrib yang
terdengar dari kejauhan. Naya membuka
matanya dengan warna merah di wajahnya
semakin maksimal.
Memalukan ! kenapa pikirannya selalu saja di
penuhi hal kotor saat berdekatan dengan pria ini ! Naya mengutuk dirinya sendiri karena tidak tahan dengan rasa malunya.
"Ayo masuk.! Jangan coba-coba membantah
kalau tidak mau aku hukum.!"
Aham berlalu masuk kedalam kamar bersamaan
dengan Rani yang baru saja keluar.
"Rani..apa yang terjadi ?"
Naya menatap Rani yang tampak bingung.
"Nona tanyakan saja pada Tuan.."
"Tapi Ran.."
"Sudah Nona..semuanya sudah terjadi, saya
permisi dulu."
Memang apa yang sudah terjadi.? Dengan ragu
akhirnya Naya masuk kedalam kamar.
Tiba di dalam kamar Naya terdiam. Tiba-tiba saja
rasa canggung membatasi geraknya. Apa ini ?
Benarkah sekarang dia harus tinggal di kamar
ini ? tapi kenapa? apa yang terjadi sebenarnya?
Naya berdiri mematung di tengah ruang kamar.
Tidak, ini tidak benar, dia tidak mungkin tinggal
satu kamar dengan Aham kan ? apa alasannya !
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana ?"
Naya tersentak. Dia melihat Aham muncul dari
arah balkon kamar. Naya menunduk, perlahan
dia melangkah. Aham menghadang langkah
nya. Keduanya saling pandang kuat.
"Maafkan aku, tapi.. sepertinya aku tidak bisa
tidur di kamar ini."
"Bukan hanya tidur, kau akan menghuni kamar
ini untuk ke depannya..!"
Naya bengong. Ini benar-benar ada yang aneh.!
Dia menggelengkan kepala. Aham mendekat.
"Cepat selesai kan urusan mu, setelah itu aku
tunggu kamu di bawah.!"
Aham melangkah pergi dari hadapan Naya
dengan seringai kecil di bibirnya. Naya menatap
kepergian laki-laki itu dengan bingung. Namun
tidak lama dia cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus segera menjalankan kewajibannya. Bodo amat dengan semua yang terjadi. Apalagi dengan laki-laki aneh itu !
----- -----
Seusai sholat isya, Naya tampak sibuk merapikan
semua peralatan sholat nya. Sejak tadi Aham
tidak lagi terlihat di dalam kamar.
Naya mengedarkan pandangan, kamar ini begitu
besar, bagaimana bisa satu orang menghuni
kamar sebesar ini. Naya kembali mengenakan
kerudung nya dan melihat pantulan dirinya di
cermin besar dari meja rias.
Pintu kamar berbunyi menandakan ada
seseorang yang sedang menunggu di depan
pintu. Dengan ragu Naya segera berjalan kearah
pintu kamar kemudian membukanya. Seorang
pelayan di bagian ruang makan tampak sedang
berdiri, dia langsung membungkuk hormat begitu Naya muncul di ambang pintu. Naya terkejut
sekaligus bingung.
"Permisi Nona Muda..Tuan memanggil anda
untuk makan malam bersama.."
Naya menautkan alisnya. Haha..lelucon apa ini.?
Pelayan ini memanggil nya Nona Muda ?
"Kenapa kau memanggilku seperti itu ? panggil
saja namaku."
"Maaf Nona..saya tidak berani.!"
Naya menggelengkan kepala pusing.
"Tuan menunggu anda di bawah Nona.."
Naya memandang pelayan itu yang tampaknya
sangat serius dalam bersikap. Ini bukan main-
main. Baiklah ! kita lihat apa yang terjadi
sebenarnya.! Gumam Naya dalam hati.
"Baiklah..saya akan turun sebentar lagi.."
"Baik Nona..saya permisi."
Naya mengangguk. Pelayan tadi kembali
membungkuk, setelah itu berlalu pergi dari
hadapan Naya yang masih mencoba mencerna
semua yang terjadi. Dia masuk kembali kedalam kamar nya.
Naya membuka lemari besar yang sudah berisi
dengan berbagai model pakaian dan ukuran yang
biasa di pakainya. Dia mengambil satu gamis
rumahan yang cukup santai namun tetap terlihat elegan. Dia ingin melihat, sebenarnya apa yang
telah terjadi. Kenapa Aham memanggil nya untuk makan malam bersama ? Ini kedengaran sangat janggal !
Setelah memastikan dirinya rapi, Naya memakai
sedikit pemoles bibir natural. Yups..walau cuma
begini saja, tapi pesona kecantikannya langsung
terpancar bak bulan purnama.
Naya menarik napas panjang, kenapa dadanya tiba-tiba berdebar hebat begini sih? hanya makan malam di rumah saja kok. Bersama keluarga juga. Tapi, tunggu dulu, makan malam bareng ? Itu
artinya dia akan duduk satu meja makan dengan mereka kan?
Noah dan Meline sudah duduk di kursi masing-
masing. Tidak lama Nyonya Elen muncul dengan
muka yang tampak tidak bersemangat. Dia duduk
dengan malas dan muka tertekuk.
"Kenapa sih Mam ? muka di tekuk gitu ?"
Nyonya Elen melirik kesal kearah Meline yang
sedang memandangnya jengah.
"Kalau bukan karena Aham, males banget Mami
harus satu meja dengan wanita itu..!"
"Mam..! She is your son in low..!"
Noah menatap tajam kearah Nyonya Elen yang
mendengus sebal.
"No Noah ! Mami tidak bisa menerima nya ! dia
bukan menantu idaman Mami..!"
"Whatever..! dia tetaplah menantu mu ! baik itu
Mami suka atau tidak !"
Noah menekankan kata-katanya. Nyonya Elen
kembali mendengus. Dia mulai menyantap makan
malamnya dengan cepat, karena sebisa mungkin
dirinya tidak ingin terlalu lama berada satu meja dengan menantu yang dianggap nya rendahan itu.
Sementara itu Naya baru saja menuruni tangga.
Tiba di lantai bawah, matanya langsung bertemu
dengan mata Aham yang kini berdiri di ujung
tangga, sedang menunggunya, dengan tatapan
yang begitu lekat dan sorot mata sulit terbaca.
Keduanya berdiri saling berhadapan dengan pandangan yang masih saling mengunci.
Sial ! kenapa dia semakin terlihat cantik saja !
Aham menggaruk tengkuknya perlahan untuk
menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba
berkejaran seperti bermarathon saat melihat
penampilan Naya, padahal wanita itu hanyalah
memakai gamis rumahan saja, tidak berlebihan.
Tapi tetap saja dia terlihat begitu cantik dan
menarik di mata Aham, hingga mampu
mengeringkan tenggorokannya saat ini.
Perlahan Aham menggengam tangan Naya,
gadis itu menegang. Keduanya kembali saling pandang. Tubuh Naya panas dingin saat Aham
mulai melangkah menggandeng dirinya
masuk ke dalam ruang makan.
Semua orang yang ada di meja makan tampak
menatap kedatangan Aham dan Naya. Noah
menatap tak berkedip kearah Naya yang kini
menundukkan wajahnya.
Semua pelayan di bagian dapur menunduk.
Mereka semua benar-benar tidak menyangka
Naya telah mempertaruhkan harga dirinya di
hadapan semua orang dengan berani menerima penghinaan dan perlakuan tidak mengenakkan
dari ibu mertua dan adik iparnya.
Aham duduk di kursi utama. Naya masih berdiri
di samping nya. Aham membiarkan Naya melayani
dirinya. Dia memang tidak akan mengubah hal ini,
karena kebiasaan ini menjadi satu hal yang di
sukainya sekarang.
"Welcome dear.."
Noah tersenyum cerah kearah Naya yang sedang
menuangkan makanan ke piring Aham.
"Terimakasih Kak Noah.."
"Sama-sama dear.."
"Mulai sekarang, panggil dia kakak ipar.!"
Naya menghentikan gerakan tangannya. Noah
juga ikut terdiam. Naya mengernyitkan alis. Dia
menatap orang yang ada di meja makan satu
per satu. Nyonya Elen tampak acuh. Meline
hanya menatap datar kearah nya. Lalu Noah ,
dia terlihat nyengir kuda seraya mengangkat
bahunya.
"Aku sudah terbiasa memanggil nya dengan
sebutan itu. Tidak bisa di rubah !"
"Maka dari itu biasakan mulai sekarang !"
"Seperti nya itu cukup sulit bagiku."
Elak Noah acuh. Rahang Aham mengeras, dia menatap tajam wajah Noah penuh dengan aura
intimidasi. Tapi sayang nya hal itu tidak mempan
pada Noah. Dia tetap santai menikmati makan
malamnya.
Naya masih terdiam dalam kebingungan. Dia
kembali menuangkan makanan ke piring Aham.
"Duduklah.."
Naya melihat kursi di samping Aham yang tadi
sudah di tunjuk dengan dagu nya.
"Kau mau aku mengulangi ucapanku.?"
Dengan ragu Naya segera duduk di kursi tadi.
Seorang pelayan bergegas mendekat dan mulai
melayani Naya.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri."
Tolak Naya sambil menahan tangan pelayan itu.
Aham menatap tajam. Naya tersenyum kecut.
"Aku bisa sendiri..kenapa harus meminta orang
lain melakukan nya."
Ucapnya lembut membuat hati Aham melunak.
Dia membiarkan Naya melakukan apapun yang
di inginkan nya. Kemudian dia lanjut makan lagi.
Akhir nya Naya memulai acara makan malam
bersama untuk pertama kalinya.
Selama makan malam berlangsung Noah hanya
bisa mencuri pandang pada Naya yang terlihat
beberapa kali mengambilkan makanan dan
minuman untuk Aham. Ada hawa panas yang
kini merayap ke dalam hatinya melihat Naya
begitu telaten melayani Aham. Sudah sangat
terlihat dia berperan sebagai istrinya Aham.
Sementara Nyonya Elen terlihat menekuk wajah
nya sepanjang makan malam dengan sesekali
menatap Naya penuh dengan kekesalan. Lain
lagi dengan Meline, kali ini dia terlihat antusias
melihat semua yang di lakukan Naya untuk Aham.
"Kalau kamu terus-terusan melayaniku, kapan
makanan itu masuk kedalam perutmu.?"
"Baiklah Tuan..aku makan sekarang."
"Aku bukan Tuan mu lagi ! Sekarang ini aku
suamimu !"
Bisik Aham sambil mendekatkan wajahnya
ke dekat telinga Naya yang langsung membuat
Naya terdiam melongo. Suami ? Woww..
ini bukan mimpi kan ?
"Jangan memanggilku Tuan lagi.. panggil aku
dengan sebutan lain."
Naya melirik dan menatap Aham masih diliputi selubung tanda tanya besar dalam hatinya.
"Kau mengerti ucapanku kan.?"
Aham menatap Naya yang langsung tersenyum
lembut dan menunduk tersipu. Aham tertegun
saat melihat senyum Naya barusan yang kali ini benar-benar di berikan untuknya.
Detak jantung nya kembali berkejaran.
Gila ! manis banget senyum nya !
Aham menggeleng pelan sambil terus menatap
Naya yang kini terlihat mulai menikmati makan malamnya dengan tenang. Anggun dan berkelas. Tidak ada jejak kalau dia seorang wanita panti.
Mata Aham mengerjap melihat itu semua.
Wanita ini penuh dengan kejutan !
"Bagaimana keadaan mu sekarang.?"
Meline akhirnya buka suara. Naya melirik cepat.
Adik iparnya berbicara pada dirinya?
"Alhamdulillah aku sudah lebih baik Mel."
Sambut Naya dengan senyum lembutnya.
"Panggil dia kakak ipar.!"
Aham menatap Meline penuh ancaman.
"Iya iyaa..kakak ipaaaarrr.."
Meline mengerucutkan bibirnya. Naya dan Noah
menahan senyum. Hanya Nyonya Elen yang
seperti nya sedang dalam mode bete maksimal.
Mereka kembali melanjutkan makan malamnya
dalam suasana tenang dan damai..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung.....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪