"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok yang Runtuh
Keheningan di dalam ruangan kerja Leo terasa begitu mencekam. Vanya berdiri mematung di depan meja kerja jati yang besar, sementara Leo duduk di kursinya, menatap jendela besar yang menampilkan panorama kemacetan Jakarta.
"Bapak keterlaluan," suara Vanya pecah. "Bapak mempermalukan Yudi, menantang Ibu saya, dan sekarang Bapak menarik saya ke sini seolah saya adalah barang milik Bapak. Kenapa Bapak tidak bisa mengerti? Perbedaan kita itu bukan cuma soal status, tapi soal Tuhan!"
Leo memutar kursinya perlahan. Wajahnya yang merupakan perpaduan Arab, Korea, dan Jerman itu tampak sangat tenang—ketenangan yang justru membuat Vanya merasa terancam.
"Tuhan, ya?" Leo berdiri, melangkah mendekati Vanya hingga gadis itu terpojok ke arah rak buku. "Kamu pikir saya tidak tahu apa yang membuatmu terus menjauh? Kamu pikir saya hanya pria kaya yang ingin bermain-main?"
"Bukan begitu, tapi—"
"Ibu saya adalah seorang muslimah, Lavanya," potong Leo dengan suara rendah yang menggetarkan.
Vanya terbelalak. "Apa?"
"Ayah saya memang seorang pangeran bisnis dari Jerman dengan latar belakang Kristen yang kuat. Tapi Ibu saya... dia wanita dari garis keturunan Arab yang taat. Saya tumbuh di antara dua dunia itu," Leo menumpukan tangannya di dinding, tepat di samping kepala Vanya. "Selama ini saya berdiri di tengah-tengah, tidak memihak. Tapi melihatmu, melihat bagaimana kamu menjaga dirimu demi prinsipmu, itu membuat saya sadar."
Vanya menahan napas. Jarak mereka sangat dekat hingga ia bisa merasakan panas tubuh Leo.
"Saya sudah bicara dengan Ibu saya di Dubai semalam. Saya memilih untuk kembali ke akarnya. Saya akan masuk Islam, Vanya. Bukan hanya karena kamu, tapi karena saya lelah hidup di ruang hampa tanpa arah yang pasti."
🦁🦁🦁
Berita tentang Leo yang menjadi mualaf meledak seperti bom atom di Limocom dan kalangan elit bisnis Jakarta. Leo tidak melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Ia mengundang seorang syekh terkemuka ke kantornya, bersyahadat di hadapan beberapa saksi, termasuk Vanya yang diminta hadir sebagai saksi bisu atas keruntuhan tembok terakhir di antara mereka.
Vanya merasa dunianya terbalik. Pria yang ia kira mustahil untuk digapai, kini telah melompati jurang pemisah itu dengan satu lompatan besar yang nekat.
"Sekarang, apa lagi alasanmu?" tanya Leo saat mereka berada di dalam lift, hanya berdua.
Vanya menunduk, wajahnya merona merah. "Itu... itu hal yang sangat besar, Pak. Saya tidak tahu harus bicara apa."
"Saya sudah pernah bilang, jangan panggil aku 'Pak' jika kita sedang berdua," bisik Leo, ia meraih tangan Vanya dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Sekarang, tembok itu sudah runtuh. Dan aku akan menepati janjiku untuk membawamu ke tahap berikutnya"
🦁🦁🦁
Hari pernikahan Vani dan Farel tiba. Gedung pertemuan mewah itu dipenuhi oleh keluarga besar Minang mereka. Vani tampak cantik dengan suntiang emas di kepalanya, namun wajahnya berubah masam saat melihat tamu-tamu mulai berbisik-bisik ke arah pintu masuk.
Lavanya datang. Ia mengenakan kebaya modern berwarna champagne yang sangat mewah, namun tetap santun. Dan di sampingnya, menggandeng tangannya dengan posesif, adalah Leo Arraya Lee.
Leo tampil memukau dengan setelan jas custom-made dan aura seorang bangsawan. Kehadirannya membuat seluruh ruangan seolah kehilangan cahaya.
"Vanya! Kamu... kamu benar-benar bawa dia?" Ibu Lavanya menghampiri dengan wajah sumringah yang tidak bisa disembunyikan. Kekesalan Ibunya sirna seketika melihat Leo yang kini sudah seiman dan tampak begitu memuja anaknya.
Tanpa diberi taupun sang Ibu sudah melihat dari berita di media sosial yang disiarkan secara live, bagaimana pengusaha muda itu bersyahadat.
Vani yang sedang duduk di pelaminan bersama Farel mendadak gelisah. Farel sendiri tidak bisa melepaskan pandangannya dari Vanya—ada rasa sesal yang amat dalam di matanya. Ia melihat bagaimana Vanya kini tampak begitu bercahaya, jauh lebih bahagia daripada dua bulan yang lalu.
"Selamat, Vani. Selamat, Bang Farel," ucap Vanya saat sampai di pelaminan. Suaranya tenang dan berwibawa.
"Makasih ya, Kak. Nggak nyangka ya, bos besar mau datang ke acara orang biasa kayak kami," sindir Vani, mencoba menutupi rasa irinya.
Leo tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ancaman. "Saya tidak menganggap keluarga Vanya sebagai orang biasa. Karena sebentar lagi, keluarga ini akan menjadi keluarga saya juga."
Leo mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya di depan semua orang—di depan Vani yang licik, di depan Farel yang pengecut, dan di depan seluruh keluarga besar yang selama ini meremehkan Lavanya.
Ia berlutut di depan Lavanya dengan cicin berlian yang sangat indah. "Lavanya, aku sudah meruntuhkan tembok itu. Aku sudah menyerahkan hatiku padamu. Maukah kamu membangun istana yang baru bersamaku, di mana hanya ada aku, kamu, dan anak-anak kita nanti?"
Seluruh ruangan hening. Lavanya merasakan air mata haru jatuh di pipinya. Leo mendongak menatapnya dengan cinta yang begitu dalam dan mencengkram.
"Ya," bisik Vanya.
Di tengah pesta pernikahan yang seharusnya menjadi panggung Vani, Lavanya justru menjadi pusat semesta. Leo segera berdiri dan memeluk pinggang Lavanya, memberikan kecupan di keningnya yang berlangsung lama.
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....