Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di keluarga Alexander III
Dengan perasaan bimbang dan sedikit khawatir, Ruby menduduki sebuah sofa empuk yang tersedia di ruangan keluarga di kediaman Alexander yang mewah.
Tapi kenyamanan sofa itu tak serta merta membuat suasana hatinya menjadi tentram. Karena di dalam ruangan besar itu sudah berkumpul beberapa orang dengan tampang yang sangat serius.
Vicky, suaminya itu duduk bersebelahan dengannya meski ada jarak beberapa centi darinya.
Di seberang meja besar dengan berbagai hidangan dan beberapa berkas yang belum Ruby pahami, duduk sepasang tetua dari keluarga Alexander. Siapa lagi kalau buka Abraham Alexander dan istrinya, Suzy Alexander yang sudah lama juga menjadi mertua Ruby.
Dan di sekitaran meja itu juga duduk Felix, dan seorang pria yang pernah Ruby kenal adalah pengacara keluarga Alexander.
Meski dengan perasaan gelisah, kali ini Ruby duduk tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Kau darimana saja, menantu?" tanya Suzy memulai obrolan.
"Hanya mengunjungi papaku saja dirumah. Apa tidak boleh?" tanya Ruby sedikit ragu
"Oh, tentu saja boleh. Tapi dengan kau mengunjungi orang tua itu, malah membuat kami kehilangan banyak waktu kami yang sangat berharga" ujar Suzy lagi.
Ruby sedikit mencebik, dia sangat tidak suka dengan sikap Suzy yang berubah drastis setelah dia menjadi mertuanya. Padahal dulu Suzy sangat menyukainya.
"Sudahlah, waktuku tidak banyak. Aku hanya ingin kau membaca ini" ucap Vicky sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ke pangkuan Ruby.
"Apa ini?" tanya Ruby yang melihat ada logo sebuah rumah sakit ternama di amplop itu.
"Baca saja" kata Vicky sementara yang lainnya terlihat tengah memandangi Ruby dengan tajam.
Sedikit kikuk saat membukanya, tapi Ruby berhasil mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah tertulis dari dalam amplop itu.
Ruby membacanya dengan hati-hati dan sedikit curiga.
"Hasil tes DNA" gumam Ruby saat membaca kop dari surat itu.
Hatinya sudah mulai tak tenang, mungkinkan apa yang selama ini dia tutupi dengan rapat sudah mulai terkuak?
Perasaan penasaran itu mendorong Ruby untuk terus membaca isi dari surat itu dengan tidak sabar hingga dia hanya membaca inti dari suratnya yang mengatakan dengan jelas jika hasil tes DNA yang dilakukan antara Vicky Darius Alexander dengan Johan Darius Alexander sama sekali tidak memiliki kecocokan.
Dan bisa dipastikan jika saudara Vicky Darius Alexander bukanlah ayah biologis dari Johan Darius Alexander.
Seketika mata Ruby membola saat membaca potongan paragraf inti di dalam surat itu.
"Bohong! Ini semua bohong. Mana mungkin Johan bukan anakmu, Vik. Sudah jelas-jelas kalau dia itu adalah anak kandungmu. Kenapa kau baru mencaritahunya sekarang?" geram Ruby yang merasa jika ini adalah hari terburuk baginya.
"Oh, aku tahu. Semua ini kau lakukan karena Viviane yang hadir lagi ke dalam hidupmu dan berusaha merebutmu dariku dan dari Johan. Iya kan? Kau sudah mengkhianati pernikahan kita, Vik" kata Ruby dengan penuh amarah.
Biarlah dia menuntaskan semua emosinya disini. Kepada orang-orang yang selama ini tak pernah menganggapnya ada.
"Jujurlah pada kami semua kalau kau memang sedang berselingkuh dengan Viviane. Dan jangan katakan kalau anak perempuan yang menjadi teman Johan adalah hasil dari perselingkuhanmu dengannya, Vik" teriak Ruby seolah kesetanan.
Vicky sudah menyadari jika reaksi seperti inilah yang akan Ruby berikan. Dan tentunya, Vicky sudah mempersiapkan bukti lain untuk membungkam mulut Ruby.
"Kau jangan banyak bicara dan memutar fakta, Ruby. Selama ini aku diam dan mematuhi semua perintah papaku karena aku menghormati kalian. Dan sekarang, setelah aku memiliki bukti yang cukup, aku tidak akan bisa lagi kau kelabuhi" ucap Vicky dengan entengnya.
Lagi, dia menyerahkan sebuah map ke hadapan Ruby.
"Kau bisa buka bukti itu. Kau boleh saja bermain rapi dengan memecah sejumlah uang ke banyak rekening untuk mengelabuhi kami. Tapi aku bukan orang yang bodoh, Ruby" geram Vicky sambil membuka map miliknya sendiri dan duduk dengan tenangnya.
"Jelaskan pada kami, Fel" perintah Vicky.
"Baiklah, tolong dengarkan penjelasan saya dengan baik" ucap Felix sebelum memulai presentasi intern keluarga Alexander.
"Telah diketahui jika Nyonya Ruby telah dua kali meminta dana yang cukup besar kepada tuan Vicky dengan alasan untuk keperluan butiknya" kata Felix memulai penjelasannya.
Sedangkan Ruby yang terlalu syok hanya bisa diam sambil mendengarkan ocehan tak penting dari mulut Felix.
"Dana tersebut di pecah dalam nominal yang lebih kecil dan dikirimkan ke beberapa nomor rekening yang ternyata setelah kami telusuri lebih lanjut, dana yang terkirim itu akan dilanjutkan ke rekening dari seseorang yang bernama Robi yang merupakan seorang warga negara asing yang berasal dari Swiss" ujar Felix lagi.
"Dari hasil pengamatan kami, diketahui jika Robi ini dalam beberapa bulan kemarin terlihat selalu bersama dengan nyonya Ruby di berbagai kesempatan. Dan bahkan, anak buah kami pernah mengetahui jika Robi terlihat sangat akrab dengan Johan" lanjutnya.
"Keraguan tuan Vicky mendorongnya untuk melakukan tes yang sama terhadap saudara Robi. Tapi sayangnya, hasil tes DNA antara saudara Robi dan Johan akan keluar beberapa hari ke depan. Jadi, kami hanya bisa memastikan jika Tuan Vicky bukanlah ayah kandung Johan dan kebersamaan anda dengan tuan Robi bukan hanya sebatas teman atau rekan kerja karena banyaknya bukti yang kami terima memberikan kesimpulan jika kalian sering melakukan hubungan layaknya suami istri" kesimpulan yang Felix berikan membuat Ruby seketika bungkam dan membatu.
Ingin rasanya dia menjadi kecil dan masuk ke dalam sarang semut saja agar keluarga Alexander tak bisa menemukannya.
Tapi sayangnya dia tidak bisa, tentu saja Ruby merasa sangat syok karena tadi siang semuanya masih baik-baik saja. Hingga saat malam menjelang, rasanya hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Dimana papanya yang mendesak untuk meminta uang pada Vicky, dan ternyata di kediaman Vicky malah terjadi hal yang membuatnya semakin merasa terpuruk.
Ruby tak bisa lagi memikirkan bagaimana nasibnya esok hari.
Untuk tak diteruskan ke meja hijau saja sudah membuatnya seperti dihujani keajaiban. Ketakutannya kali ini bukan hanya di masa depan dia akan kehilangan status sebagai nyonya Alexander, tapi bagaimana jika nantinya statusnya akan menjadi tahanan?
Memikirkan itu membuat Ruby merasa ketakukan hingga diapun pingsan sebelum acara perbincangan keluarga itu selesai.
"Mama" teriak Johan dari balik guci besar saat melihat mamanya jatuh tersungkur.
Pria kecil itu tak kuasa menahan air matanya saat melihat mamanya seperti sedang dimusuhi oleh semua orang.
"Johan! Sejak kapan kau berdiri disana?" tanya Vicky sedikit khawatir.
Dia takut kalau Johan mendengar semua pembicaraan yang telah mereka lakukan.
Anak itu tentu bukanlah anak yang bodoh untuk memahami isi dari pembicaraan mereka.
Vicky khawatir jika semua ini akan mempengaruhi kondisi psikis dari bocah kecil ini.
"Jo, jawab papa. Sejak kapan kau ada disana?" desak Vicky yang melihat Johan sibuk menolong mamanya.
"Itu tidak penting, papa. Sekarang yang terpenting adalah segera menolong mama. Tolonglah mamaku, kumohon" ucap Johan sambil menangkupkan tangannya dengan air mata yang berlinang.
Melihat itu tentu membuat semua orang menjadi tak tega.
Vicky pun menyuruh beberapa orang ART nya untuk membawa Ruby je dalam kamarnya. Sementara dia sendiri berusaha menghubungi dokter keluarga.
Pria itu tak ingin semuanya berlarut-larut hingga membuat masalah ini tak kunjung usai.
Melihat mamanya dibawa, Johan mengikutinya sampai ke dalam kamar mamanya. Begitupun Abraham dan Suzy yang juga ikut melihat kondisi Ruby.
Ada rasa tak tega dalam hati mereka karena bagaimanapun Ruby adalah anak dari sahabatnya. Tapi mengetahui bagaimana jahatnya Ruby dengan memanfaatkan kepercayaan mereka membuat rasa sayang yang sebelumnya tersemat di hati menjadi rasa benci karena dikhianati.
Mereka hanya ingin memastikan jika Ruby masih berada di kondisi kesehatan yang baik untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
"Mama bangun, ma" isak tangis Johan membuat hati Suzy bergetar. Dia sangat kasihan melihatnya.
Tapi tak ada seorangpun yang mau mendekat apalagi berusaha menolong Ruby selain ART yang disuruh untuk berusaha membangunkan wanita itu.
"Selamat malam" sapa Dokter yang datang sebelum Ruby sadar.
"Malam dok" jawab Kakek Abra sambil menyalami dokternya.
"Boleh tahu apa yang terjadi?" tanga dokter yang melihat Ruby tergeletak di atas ranjang dengan Johan yang menangis disampingnya.
"Tolong periksa keadaan wanita itu. Dia pingsan" ucap Kakek Abra mewakili Vicky yang tak mau mengikuti Ruby ke kamarnya.
"Baiklah, tolong beri jarak dari pasien agar dia merasa lebih lega" tutur sang dokter sambil berjalan mendekati Ruby dan mulai memeriksa keadaannya.
.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?