Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Mayang pada saat ia menerima lamaran Erwin, mantan teman sekolahnya. Mayang tidak mengira setelah sekian tahun tidak bertemu tiba-tiba Erwin melamarnya.
Erwin bukan pria yang suka bermain mata dengan perempuan tetapi dengan jelas ia menegaskan bahwa ia menginginkan Mayang sebagai istrinya.
Mayang tidak pernah mengira bahwa Erwin akan melamarnya dan menjanjikan pernikahan yang sesunguhnya setelah Mayang mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya bahwa dirinya layak untuk dicintai.
Siapa dia dan mengapa Erwin melamarnya adalah pertanyaan besar yang ada di kepalanya hingga dia tahu alasan sebenarnya.
Erwin memerlukan seorang istri agar posisinya aman sebagai penerus keluarga Hadinata karena kakeknya mengancam akan mengambil kedudukannya bila dia tidak segera menikah sementara kekasihnya sendiri lebih memilih tinggal di luar negeri.
Atas desakan dan juga keadaan yang membuat Mayang tidak bisa menolah, akhirnya mereka menikah. Tetapi ada yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan besar
Mata Mayang terus memperhatikan dan mengawasi gerakan Erwin yang tidak berhenti bekerja di dapur sementara dia bicara. Suatu kejutan yang tidak akan dia percaya bila tidak melihatnya secara langsung. Sebenarnya seberapa banyak yang dimasak oleh Erwin sementara pasta dan roti sudah ada di atas meja.
Seorang pengusaha masih bersedia berada di dapur adalah keajaiban yang jarang ditemukan.
“Kenapa 3 bulan? Apakah waktu itu kau belum menerima desakan menikah dari keluargamu?” tanya Mayang sambil melangkah menuju kulkas dan mengambil minuman.
“Tiga bulan yang lalu keluargaku belum mendesak agar diriku segera menikah,” jawab Erwin dengan mata memperhatikan Mayang yang membuka rak lemari tempat dia menyimpan gelas.
Erwin mengernyit melihat kelakuan Mayang yang dilakukan secara alami. Darimana dia tahu letak gelas di simpan? Dan bagaimana juga dia tahu kalau di dalam kulkasnya menyimpan juz jeruk.
Mata Erwin terus mengawasi setiap gerakan Mayang sementara tangannya juga masih sibuk dengan olahannya yang sudah mendekati matang.
"Lalu...bagaimana kalau keluargamu bertanya tentang keluargaku?"
"Kau lakukan dan katakan yang terbaik menurutmu. Aku tidak melarangmu mengatakan informasi yang tidak benar, tetapi lebih baik bicara apa adanya tentang keluarga kita daripada nanti ada informasi yang muncul secara tiba-tiba."
"Aku mengerti."
"Bagus, kalau begitu sekarang waktunya kita sarapan. Aku lihat kau sudah mengambil minuman sendiri jadi kita bisa menikmati makanan ini dengan lebih santai,” kata Erwin dengan senyum di bibirnya.
Dengan tangan memegang gagang fan anti panas, Erwin menyiram pasta matang yang sudah berada di atas piring. Sikap Mayang yang mulai menerima keadaan membuatnya yakin bahwa Mayang adalah pribadi yang kuat dan dia bisa bertahan sekalipun ada goncangan di dalam rumah tangga mereka nantinya.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau kau pintar memasak,” kata Mayang dengan mata yang tidak lepas dari gerakan tangan Erwin yang sedang memberikan keju di atas saosnya yang sangat menggoda selera.
“Aku mulai belajar masak karena keharusan. Harus bisa melakukannya karena tidak selamanya aku harus membeli makanan jadi,” jawab Erwin tertawa.
Sebuah jawaban yang membuat Mayang ikut tertawa. Seorang lelaki seperti Erwin yang memiliki jumlah kekayaan memasak sendiri dan takut tidak bisa membeli makanan siap jadi adalah informasi yang baru diketahui oleh Mayang.
Erwin berulang-ulang memperhatikan Mayang yang menikmati sarapannya dalam diam. Tidak terpikir olehnya bahwa Mayang baru pertama kali merasakan masakan orang lain yang dimasak untuk mereka berdua.
Selama ini dia lah yang selalu memasak setiap hari sementara Meli hanya menikmati, mengeluh dan mencela setiap masakan yang dia buat. Terakhir kali malah Meli justru membuang masakannya.
“Terima kasih,” katanya Lirih begitu ia memergoki pandangan Erwin.
“Untuk apa?”
“Untuk sarapan ini. Aku tidak mengira kalau pada hari pertama kepergianku dari rumah justru
menjadi hari pertama aku dimanja oleh orang yang bukan keluargaku,” senyum Mayang membuatnya terlihat wajahnya begitu tulus.
“Ini hanya sarapan sederhana di tengah keterbatasan stok makanan yang ada di rumahku,” jawab Erwin tertawa.
“Bagiku tetap saja berbeda. Sekali lagi terima kasih.”
Erwin tidak menjawab melainkan hanya tersenyum. Selanjutnya mereka menikmati sarapan dalam diam hingga isi piring keduanya bersih tidak ada lagi makanan di atas piring tersebut.
Hari itu Mayang mengenakan gaun terusan sepanjang mata kaki dengan bagian pinggang ke bawah berbentuk payung sehingga saat Mayang melangkah dia seperti melayang sementara bagian atasnya? Erwin tidak tahu apakah dia harus mengutuk Mayang atau bersyukur dengan pilihannya.
Gaun yang dipakai Mayang sangat pas badan dibagian atas dengan kerah berbentuk V sehingga harapan seorang lelaki sangat terwakilkan.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
Suara Mayang yang pelan mengalihkan perhatian Erwin yang sedang memanfaatkan rezeky yang diberikan oleh Tuhan padanya.
“Silahkan,” kata Erwin mengambi gelas yang berisi air putih miliknya.
“Kau sudah tahu kalau aku hanya mempunya 1 saudara perempuan dengan orang tua yang tinggal di luar kota, lalu bagaimana denganmu?”
“Orang tuaku tinggal di kota yang sama denganku. Dan aku mempunyai 2 orang saudara perempuan. Yang pertama bernama Danisa, dia adalah seorang dokter kecantikan, jadi kalau ada yang mau memperbaiki bentuk wajahnya, bisa menghubunginya sementara yang kedua bernama Riezka. Dia seorang ahli keuangan dan dipercaya untuk mengatur keuangan perusahaan keluarga.”
“Bagaimana dengan keluargamu yang lainnya?” tanya Mayang lagi.
“Ibuku bernama Charissa dia adalah anak tunggal sementara ayahku mempunyai 2 orang saudara. Salah satunya memiiki seorang putra yang hanya tahu bersenang-senang tanpa tahu darima asal uangnya tersebut.”
“Tapi?” tanya Mayang pelan.
Entah mengapa Mayang yakin masih ada keterangan yang menyertai penjelasan Erwin tentang sepupunya tersebut.
“Namanya Herdyan. Dia yang pada awalnya tidak peduli dengan perusahaan secara tiba-tiba sangat giat bekerja dan mulai merecoki perusahaan. Aku tidak tahu alasan yang sebenarnya sampai aku mendengar dari Danisa kalau kakek hanya akan menyerahkan perusahaan pada cucunya yang sudah menikah,” jawab Erwin.
Dari suara yang terdengar pada setiap kalimat yang diucapkan Erwin sangat jelas kalau dia begitu kecewa dengan keputusan yang diberikan oleh Kakeknya. Dia, yang selama ini sudah bekerja keras terpaksa harus mengalah karena status dirinya yang masih bujangan.
“Bukankah kau juga memiliki perusahaan sendiri?” tanya Mayang kembali.
“Benar. Perusahaanku tidak akan tersentuh oleh siapa pun, tetapi menjadi pimpinan Yestestvennaya Krasota cosmetics adalah kebanggaan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun juga,” jawab Erwin.
“Dan alasanmu melamarku karena perusahaan tersebut?”
“Benar dan aku tidak akan mencari alasan lain karena semuanya bermuara ke perusahaan dan keputusan kakek-ku.”
Mayang terdiam dan dia seoleh sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia melihat Erwin meletakkan sendok garupunya sebagai tanda kalau dia sudah selesai sarapan.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Erwin begitu menyadari kalau Mayang diam.
“Apa yang akan kau katakana kalau aku bertanya seberapa kaya-nya dirimu dan sampai seberapa besar harapanmu untuk menjadikan diriku sebagai istrimu?”
Antara percaya atau tidak dan antara harus bersikap sinis atau mengejek, Erwin menatap Mayang dengan berbagai tanda tanya bermain di matanya.
Dan Mayang sangat menyadari kalau Erwin sudah mulai membaca dirinya meskipun hanya melalui kalimat yang dia ucapkan.
“Kalau kau mengikuti permintaanku, aku akan memberikan semua yang kau inginkan selama aku mampu dan tidak melanggar hukum dan merugikan orang lain,” jawab Erwin.
Senyum di bibir Mayang begitu jelas saat dia memahami ucapan Erwin. Erwin akan memberikan semua yang diinginkan oleh Mayang dan khusus menyangkut keuangan, Erwin akan memberikan sebatas dia tidak ikut campur dalam perusahaannya karena dia harus tanggung jawab pada karyawan yang jumlahnya tidak sedikit.
“Tidak perlu khawatir, aku akan sangat waras saat mengharapkan imbalan darimu dan juga tidak akan membuatmu bangkrut,” jawab Mayang.
Isi piring Mayang sudah bersih saat dia menatap Erwin kembali.
“Bagaimana, kau jadi mengirim orangmu ke rumahku yang kau beli?” tanya Mayang ketika ia mengangkat piring yang mereka pakai ke tempat cuci piring.
“Jadi. Semalam aku sudah suruh orang untuk datang dengan membawa mobil truk. Aku rasa kau bisa memberikan alamat rumahmu yang baru padaku, jadi mereka tidak perlu menunggu orangmu datang.”
“Kau benar juga walaupun sebenarnya orangku sudah tiba di sana sejak sejam yang lalu, setelah cuci piring aku akan berikan alamatnya. Kebetulan aku juga tidak begitu hafal,” sahut Mayang.
Siluet tubuh Mayang yang sedang mencuci piring menarik perhatian Erwin. Dia yang selama ini hanya mengharapkan seorang wanita di dalam hidupnya dan tidak pernah memiliki keinginan untuk bersama dengan wanita lain begitu terpesona melihat Mayang yang tidak menyadari dirinya diperhatikan oleh Erwin.