Warning!!! di larang boom like mohon pengertiannya.
Kisah seorang perempuan yang memiliki kelebihan. Mata tembus pandang atau yang di sebut indigo, membuatnya harus melihat berbagai hal mahluk tak kasat mata! akan kah perempuan yang bernama Denise bisa melewati semua itu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. UNGKAPAN PERASAAN ARDY
Akhirnya Denise pun pulang di antar oleh Ardy. Sedari tadi mereka berdua hanya dian tanpa ada percakapan yang akan memecah keheningan.
Dan ardy lah yang harus membuka percakapan itu lagi karena merasa dirinya, sedang membonceng patung.
"Nes, kamu dari tadi diam terus. Apa kamu marah padaku soal aku yang mengatakan bahwa kamu adalah kekasihku." Ardy pun tahu bahwa sesungguhnya Denise sedang marah padanya. Hanya saja dirinya berusaha untuk menyembunyikan akan hal itu.
"Jika kau pun tahu mengapa harus bertanya aku marah atau tidak! Yang pasti aku marah denganmu," ucap Denise dengan wajah yang sulit di artikan.
"Maaf." Hanya itu kalimat yang di keluarkan oleh Ardy.
"Kenapa kamu berbohong dan mengatakan kalau aku ini adalah kekasih kamu?" tanya Denise dengan karena saking penasarannya.
Saat Denise berkata seperti itu. Motor pun berhenti, entah apa yang membuat Ardy parkir di sembarang tempat.
"Kenapa kamu malah berhenti dan turun?" tanya Denis lagi dengan perasaan was-was.
Ardy tidak berbicara untuk detik ini, namun drinya langsung turun sedang Denise masih di atas motor, dengan pikiran yang tidak karuan.
"Denise, dari awal saya sudah jatuh hati denganmu, meski ada banyak wanita yang ingin bersanding denganku. Namun, itu semua tidak membuatku luluh."
"Saya jatuh cinta pada sosok wanita yang unik dan bisa membuat hatiku bergetar. Jadi, maukah kamu menjadi pacarku untuk saat ini."
"Tidak perlu langsung di jawab. Karena saya akan memberikan kamu waktu untuk berpikir." Banyak kata-kata yang terucap dari bibir Ardy, lelaki yang sudah tiga bulan ia kenal.
"Aku butuh waktu." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Denise.
"Aku akan setia menunggu jawaban kamu," tukas Ardy.
"Apa kamu tidak berpikir ulang untuk menjadi kekasihku. Karena aku adalah perempuan aneh menurut mereka," ujar Denise dengan tatapan sendu.
Sudah tidak ada lagi yang ingin di sampaikan oleh Ardi. Kini, dirinya naik ke atas motor dan segera mengantar Denise untuk segera kembali ke kos nya.
Mungkin sekitar setengah jam. Mereka Berdua sampai di depan gerbang kos.
"Makasih sudah bersedia ikut denganku," ujar Ardy.
"Sama-sama. Sekarang aku ingin masuk dan segera tidur, jadi pulanglah." Setelah berbicara Denise pun masuk ke dalam.
Ternyata saat dirinya masuk ke dalam terlihat Putri yang sedang duduk di depan kamar. Seperti seseorang yang sedang menunggu.
Denise pun menghampiri dan meminta maaf karena sudah pulang telat.
Namun, belum sempat dirinya berucap sudah didahului oleh Putri.
"Kenapa bisa sampai jam segini?" tanya Putri pada Denise.
"Maaf, tadi diajak oleh Ardy ke rumahnya untuk mengantar uang anak-anak kos." Jawab Denise dengan jujur, namun untuk Ardy yang menyatakan cinta padanya belum bisa, ia ceritakan pada Putri.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Karena aku sudah kuatir akan terjadi hal-hal yang tidak ingin aku tahu," kata Putri sambil melebarkan senyuman.
"Terimakasih sudah mengkuatirkan aku," ujar Denise dengan membalas senyuman.
"Ya sudah aku mau mandi dulu karena sudah teramat gerah," pamit Denise dengan Putri.
Selama dalam perjalanan Denise tidak bisa berhenti untuk memikirkan akan foto perempuan tersebut.
"Sorot matanya yang memancarkan kebahagiaan terlihat jelas dari wajahnya. Namun, ada sedikit kejanggalan yang didalam pikiran Denise saat ini.
Seperti mengenal namun ia lupa.
Seperti pernah bersama tapi di mana?
Semua itu membuat Denise bertanya-tanya.
Lelah memikirkan akan semuanya. Denise mencoba melupakan kejadian itu sejenak. Karena ingin menyegarkan otak dan tubuhnya agar bisa lebih jernih dan dapat, bisa berpikir kembali.
Saat Denise masuk, semua kejadian berputar ulang bak kaset rusak! Ia teringat di mana dirinya yang terus menerus di teror oleh mahkluk tak kasat mata. Hingga membuat dirinya beberapa kali terjebak di dunia mereka.
Mata tembus pandangnya membuat dirinya bak orang gila karena kerap melihat mendengan dan tentunya. Ia juga terkadang harus ikut campur tangan akal semua para mahluk yang meminta, pertolongannya.
Denise duduk sesaat untuk mengenang sahabatnya, Kunti. Meski dia bukan dari bangsanya.