Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Full Moon
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Sedikit rumit untuk menjelaskannya" kilahnya bermaksud tak ingin menjawab pertanyaan pemuda tersebut.
John hanya tersenyum menimpali jawaban gadis itu.
"Maaf kurasa kurang sopan jika aku memanggil mu tanpa nama, boleh tau siapa nama mu? ucap nya ingin mengetaui siapa gadis tersebut.
Lumina tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Aku, Lumina."
"Ahh... aku John, John Argent" jawabnya dengan menerima jabatan tangan dari gadis di depannya. sedikit terdiam ia merasakan halus nya kulit serta senyuman sendu yang sangat memikat.
Lumina segera melerai tangan nya dan bertanya pada pemuda itu.
"Ada yang bisa ku bantu?"
"Ehmm.. aku ingin mengambil makanan" jawabnya dengan nada kikuk dan rasa canggung.
"Akan aku ambilkan, tunggulah disini."
"Tentu."
"Ohh.. apa kau memakan semua jenis makanan? maksud ku kau tidak pilih-pilih dalam hal makan. Sebab malam ini hanya ada sup tomat serta roti gandum."
"Aku memakan semua makanan Lumina. Bahkan ranting yang tidak beracun pun aku memakannya" ucapnya di sertai lelucon kecil.
Lumina tersenyum jenaka "Baiklah, aku akan mengambil nya untukmu."
Lumina datang membawa 1 mangkok penuh sup tomat serta 2 potong roti gandum. Ia sedikit menambah porsi daging di mangkuk tersebut melihat John yang tak ikut makan saat siang tadi.
"Makanlah... selagi hangat."
"Terimakasih."
Lumina tersenyum. Dia duduk termenung di sebelah pemuda itu dan sesekali memperhatikannya saat makan. John dengan cepat menandas kan semua makanannya, ia makan dengan sangat lahap hingga sedikit lupa akan keberadaan gadis di sebelah nya.
"Kau makan sangat lahap, apa ingin menambah porsi?"
"Tidak. aku sudah cukup kenyang, sup ini terasa lebih nikmat dari biasanya" sanggah nya sambil menyeka peluh yang menetes dari keningnya.
"Dimana yang lain? kenapa kau sendirian di sini?"
"Mereka sudah kembali ke kamar nya masing-masing. Aku baru saja selsai memasak sup itu untuk makan nanti, aku hanya sedikit bosan jika langsung kembali ke kamar. Gelap nya langit malam serta keadaan yang sunyi lebih menarik perhatiannku dari pada harus meringkuk di atas ranjang" ujar nya di sertai tawa.
John terpana melihat gadis itu, ia merasa Lumina gadis yang menarik. Selain rupanya yang terlewat indah kepribadiannya juga membuat seseorang tertarik.
Tiba saja dari rimbun nya pohon arah hutan, muncul seorang pria tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Sir William Bannet tengah berjalan seorang diri dengan mengapit putung rokok nya.
Seketika mereka berdiri dan menunduk sopan kepadanya.
"Tuan."
"Tidak baik jika seorang pemuda dan gadis belia tengah terdiam di gelapnya malam. Kabut turun lebih cepat udara juga berhembus lebih dingin dari biasanya. Sebaiknya kalian kembali ke kamar kalian masing-masing" ucapnya segera berlalu.
Sedang Lumina yang di lewati langsung oleh william seketika menajamkan penciuman nya. Bau besi tua yang begitu pekat seketika membuatnya terdiam. Ia ingat betul akan aroma yang pernah ia temui di kamar tuannya serta tempat sarah meregang nyawa. Tidak salah lagi itu adalah aroma darah yang sama saat bersama dengan Louis.
Lamunannya seketika buyar saat John dengan sengaja menepuk pelan sisi pundaknya.
"Hei... apa yang kau pikirkan?" tanya nya sedikit heran akan keterdiaman gadis tersebut.
"Ahh.. tidak. Aku hanya sedikit merasa lapar. Kurasa suhu yang dingin menyebabkan ku kurang fokus. Aku akan mengambil makanan dan membawanya ke kamar, sebaik nya kau segera kembali" timpalnya dengan sedikit tawa untuk menutupi kecurigaan tersebut.
John hanya tersenyum serta mengangguk pelan menimpali perkataan gadis tersebut. Ia segera pergi dan kembali ke kamarnya.
Lumina yang tengah sampai di lorong kamar nya sesekali bergumam dan berfikir keras akan hal yang baru saja ia dapati. Sampai di dalam kamar ia sedikit bernafas lega, di letakkannya makanan itu di atas nakas. Ia tersenyum senang saat mendapati kamarnya masih sama saat terakhir kali ia tinggalkan.
Sampai sekelebat ingatan akan William barusan kembali muncul lagi. Ia termangu akan pikirannya sendiri, Lumina seketika begidik ngeri membayangkan jika Tuannya William adalah sosok yang sama seperti Louis.
Ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur merentangkan tangannya merasakan nyaman nya ranjang yang lama ia tinggalkan.
"Ohh.. Tuhan. Entah mahluk apa yang ada di sekitarku. Ohh bapa jagalah aku dengan kuasa darahmu dan jauhkan aku dari ruh jahat yang mengincar ku."
Lumina tertidur diatas ranjangnya. Ia terlelap bengitu nyenyak hingga melupakan makanannya di atas nakas.
Kabut pekat yang melingkupi area istana sedikit terkikis akan terang nya cahaya bulan purnama. Tak ada angin berhembus hanya kabut yang tetap berada di tempatnya, hingga suara lirih binatang melata sama sekali tak terdengar barang sebentar.
Keadaan lebih sunyi dan mencekam dari biasanya. Waktu yang menunjukkan lewat tengah malam membuktikan para pelayan tengah bergumul dengan alam mimpi nya sendiri.
Di tengah gelapnya hutan tepat di sisi jurang, 2 orang pria dan 1 sosok wanita tengah mengerubungi seorang gadis belia yang tertunduk ketakutan akan wujud di sekitarnya.
Lucille menatap tajam akan gadis di bawahnya. Matanya berubah hitam pekat serta taring yang mencuat di sisi gigi nya. Ia mendorong gadis itu dan menancapkan taringnya tepat di sudut lehernya. Sedang 2 pria di sebelahnya segera menyusul menyesap beberapa bagian.
Sayup-sayup terdengar rintihan dari sang gadis. Lucille segera berdiri, mata nya berkilat merasakan darah dari gadis belia tersebut. Ia menatap tubuh pucat hampir kebiruan dengan mata terbuka lebar teronggok di atas tanah.
"Aku butuh satu lagi" ucap nya pada dua pria di sebelahnya. Sedang mereka tengah membersihkan bekas darah di bibir mereka.
"Sudah ku bilang jangan mencolok" timpal Louis.
"Aku hanya mengambil dua gadis, apa salahnya? sergahnya tak ingin kalah.
"Mereka akan ketakutan mengetaui temannya hilang dengan tiba-tiba tanpa ada kabar. Kau bisa mengambil seorang gadis di desa sebelah."
"Itu terlalu memakan waktu Louis, berikan lagi satu gadis untukku, maka aku akan diam. Lagi pula kalian pasti belum merasa cukup bukan?"
"Kubilang jangan lakukan itu! Lumina sudah mengetahui keberadaan kita, dia pernah memergoki ku saat membunuh seorang gadis."
"Benarkah?" sergah Lucille dan William secara bersamaan.
"Lalu apa yang kau lakukan? kenapa kau tidak langsung membunuhnya, Louis?" tanya Lucille dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Dia tidak takut kepadaku. Lumina malah menantang ku dengan sifat nya yang keras kepala. Dia nekat mencari tau siapa diriku yang sebenarnya" ucap nya dengan nada sendu.
Lucille terbahak mendengar ucapan Louis.
"Kau bodoh Louis, seharusnya kau membunuhnya sejak awal. Perlukah aku membunuhnya langsung?"
Louis menatap tajam dan memperingatkan Lucille.
"Jangan menyentuhnya! dia milikku. Aku yang akan membunuhnya langsung. Bersihkan sampah ini! jangan ada yang menemukan jejaknya di sini."
Louis berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Lucille dan William tetap berada di tempat tersebut.
"Kau melihatnya bukan, dia bertingkah aneh jika menyangkut gadis itu."
William diam, ia membenarkan perkataan saudarinya. Ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Louis memagut mesra gadis itu. Rasa tertariknya semakin besar pada Lumina. Secepatnya ia akan membawa gadis itu pergi.
Lucille tanpa belas kasih menarik kaki mayat gadis itu dan melemparkannyake dalam jurang.