Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Perempuan
Lan Peijun khawatir ayahnya menuduhnya melakukan hal vulgar di luar sana, seperti Hong Maxing yang terkenal sebagai pemetik bunga. Karena itu, ia buru-buru membela diri dengan nada tak kalah keras.
"Ayah, apa maksud perkataanmu? Aku sama sekali tidak mengerti! Aku bersumpah demi Dewa Binatang, aku tidak diam-diam kawin di luar sana atau melahirkan binatang liar!"
Lan Homian, pria paruh baya yang memiliki wajah hampir sama dengan Lan Peijun, langsung berwajah gelap setelah mendengar perkataan putranya. Di bawah cahaya lentera, wajahnya tampak tenang namun suram. Garis-garis halus di sudut matanya membuat wibawanya jauh lebih kuat dibandingkan putranya.
Lan Peijun sempat mengira ayahnya sudah tenang dan mengembuskan napas lega. Namun, siapa sangka pria itu tiba-tiba mencengkeram leher meraknya yang panjang.
"Jangan berbohong! Kamu sudah lama tahu, bukan?" tanyanya tenang, tetapi nadanya sama sekali tidak bersahabat.
Di bawah tekanan aura spiritual ayahnya yang nyaris meledak, merak biru tua jelmaan Lan Peijun langsung gemetar.
"Demi Dewa, Pangeran Lan yang agung, Adipati Lan yang perkasa di Wilayah Timur~, raja ini bersumpah tidak tahu maksud perkataan Anda~," jawabnya sopan namun tetap nakal, penuh permohonan ampun. Ia benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud ayahnya. Sungguh!
"...."
Melihat putranya memang tidak tahu apa-apa, Lan Homian mengembuskan napas lega. Namun, napasnya kembali terasa berat saat mengingat masa lalu. Sebagai seorang ayah, bagaimana mungkin ia tidak tahu seperti apa pergaulan putranya?
Lan Peijun kembali ke wujud manusia, menjauh dari ayahnya, lalu merapikan kerah bajunya sambil mengusap leher yang tadi dicekik.
"Ayah, mengapa malam ini kamu sangat aneh? Apa yang membuatmu begitu cemas?" tanyanya penasaran.
"Ayah merindukan ibumu," jawab Lan Homian.
"... Oh, aku juga merindukannya. Tapi, Ayah, ibu sudah meninggal. Dia tidak mungkin bangkit dari kubur."
"Ayah juga merindukan adik perempuanmu," imbuh Lan Homian dengan suara yang lebih berat. "Dia pasti sudah banyak menderita di luar sana."
"Adik perempuan pasti baik-baik saj—" Lan Peijun mendadak membelalakkan mata. "Apa katamu, Ayah?!! Aku punya adik perempuan?!" teriaknya melengking. Burung-burung malam yang bertengger di atap istana hampir terpeleset sebelum buru-buru terbang ketakutan.
Lan Homian mengerutkan kening lalu menggampar kepala putranya dengan sedikit tenaga. "Kecilkan suaramu! Dinding memiliki telinga."
"... Tapi kita sedang di halaman terbuka. Di mana ada dinding yang memiliki telinga?" pikir Lan Peijun dengan lambat.
"Bodoh! Itu hanya peribahasa."
"Oh, kukira memang ada dinding yang benar-benar memiliki telinga."
"...."
Aku benar-benar memiliki putra yang bodoh, batin pria paruh baya itu.
"Tapi, Ayah, apa aku benar-benar punya adik perempuan? Lalu bagaimana denganku? Aku ini anak kandungmu, anak liar, atau jangan-jangan anak pungut?"
Lan Homian kembali menggampar kepalanya, kali ini sedikit lebih keras. "Di mana ada anak pungut yang wajahnya mirip denganku? Kemiripanmu denganku justru menunjukkan bahwa kamu anak liar," candanya.
"Tidak mungkin! Aku pasti anak kandungmu. Kalau tidak, keluarga Lan tidak mungkin menyayangiku sejak kecil."
"Sudah tahu, mengapa masih bertanya!" Lan Homian memutar bola matanya.
"...."
Lan Peijun sama sekali tidak menyangka ayahnya masih sempat bercanda.
"Ayo bicarakan di dalam," kata Lan Homian seraya memasuki ruang utama kediaman putranya.
Lan Peijun mengikuti dari belakang, menutup pintu, lalu kembali membahas adik perempuannya. "Ayah, katakan padaku dengan serius. Apa aku benar-benar memiliki adik perempuan?"
Lan Homian duduk lalu mendesah panjang. "Ya. Sudah ratusan tahun sejak adikmu lahir dan dibawa pergi. Saat itu dia bahkan masih bayi merah. Ayah tidak menyangka kamu akan menemukannya secara kebetulan."
"Apa maksud Ayah?"
"Itu artinya adikmu sudah kembali ke dunia ini. Sudah waktunya bagi kita membawanya pulang."
Lan Peijun teringat sesuatu. "Bukankah Ayah bilang ibu meninggal tak lama setelah meninggalkan suku merak karena diburu musuh?"
Kalau begitu, bagaimana mungkin ia tiba-tiba memiliki adik perempuan jika ibunya tidak pernah kembali? Sungguh tidak masuk akal.
"Ibumu mungkin belum meninggal ... Dia pergi setelah diam-diam melahirkan adikmu. Ayah berkata begitu karena khawatir kamu mengira ayahmu tidak berguna hingga membuat ibumu pergi."
Lan Peijun membeku sesaat. "Sungguh? Tapi ... siapa adik perempuanku?" tanyanya.
"Bukankah kamu sudah bertemu dengannya? Mengapa masih bertanya pada Ayah? Memangnya ada berapa gadis yang kamu temui hari ini?" Lan Homian menatapnya heran.
"Hanya satu ...."
Lan Peijun langsung teringat Li Yunru. Matanya terbelalak. "Jangan-jangan dia ...?" gumamnya, mulai meragukan dirinya sendiri.
Jantungnya berdebar kencang. Jika Li Yunru benar-benar adik perempuannya, berarti semua dugaannya tentang sepupu tadi salah total. Lebih buruk lagi, ia bahkan sempat berpikir menjadi selir gadis itu!
"Siapa?" tanya Lan Homian cepat.
"... Gadis yang kucium di hut—"
Belum sempat Lan Peijun menyelesaikan kalimatnya, Lan Homian sudah bangkit dan mengeluarkan cambuk perak dari cincin ruang penyimpanannya. Tanpa ragu, cambuk itu langsung diayunkan.
Wuush!
Lan Peijun buru-buru menghindar sambil menjelaskan dengan tergesa-gesa. "Ayah! Ayah! Dengarkan aku dulu!"
"Dengarkan ekormu!"
"Sungguh, ini salah paham!! Tidak seperti itu! Aku bersumpah demi Dewa Binatang!"
"Sumpahmu palsu!" Lan Homian sama sekali tidak percaya.
Sambil terus menghindari cambuk, Lan Peijun menjelaskan secepat mungkin. "Ini benar-benar salah paham! Aku hanya mencium pipinya, tidak lebih! Itu karena dia mencium kepala merakku. Ini pertukaran yang adil!"
"Pertukaran kentut! Kamu mulai berani menjadi pemetik bunga. Dasar anak durjana!"
Lan Peijun tidak bisa mengikuti jalan pikiran ayahnya. "... Bukankah seharusnya aku anak durhaka?"
Mendengar perkataan putranya yang semakin bodoh, Lan Homian benar-benar murka. "Bagus! Bagus sekali! Berani membantahku. Kau durhaka padaku dan durjana pada adik perempuanmu! Lengkap! Rasakan ini!"
Cambuk kembali melayang tanpa belas kasihan.
Wuush!
Sebuah kursi kayu yang tidak bersalah langsung hancur berkeping-keping.
"...."
Tanpa tempat bersembunyi, Lan Peijun hanya bisa meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar. Sungguh, ia tidak tahu Li Yunru adalah adik kandungnya. Pantas saja gadis itu selalu terasa tidak asing. Bukan karena mirip wanita tua bermarga Li, melainkan karena Li Yunru memang adiknya sendiri.
Aku punya adik perempuan! Ha ha ha ...! pikirnya dengan hati berbunga-bunga. Sesaat kemudian, Lan Peijun bahkan lupa ayahnya masih berdiri di depannya sambil mengarahkan cambuk ke arahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya di Istana Shing, Hong Maxing datang menjalankan baktinya sebagai budak Li Yunru. Begitu tiba setelah makan siang, gadis itu langsung meminta ekor rubahnya. Selama ini ia memang tidak suka menyembunyikan sembilan ekornya yang besar dan berbulu halus. Sejak pertama kali bertemu, rupanya Li Yunru sudah tergoda untuk memilikinya.
"Apakah kamu ingat saat pertama kali kita bertemu? Kamu berutang padaku karena merayu dan mencoba membunuhku. Jadi, kamu harus menyerahkan satu ekormu padaku," kata Li Yunru tanpa sedikit pun berniat mundur.
Hong Maxing jelas tidak rela. Kesembilan ekornya langsung bergerak melindungi diri seolah sedang menghadapi musuh besar. "Bukankah aku sudah meminta maaf dan menjadi budakmu? Kenapa masih mengincar ekorku?"
Li Yunru memutar bola matanya. "Membayar utang dan menunjukkan kesetiaan adalah dua hal yang berbeda. Jangan mencampuradukkan keduanya."
"...."
"Apa? Tidak mau? Budak, kamu harus menurut padaku. Berikan salah satu ekormu. Apa kehilangan satu ekor akan menurunkan pangkatmu?"
"Tidak ada hubungannya dengan itu," sangkal Hong Maxing yang tidak bisa berbohong.
Ia melirik Bai Muzhi yang duduk santai sambil minum teh, lalu menggertakkan gigi. Sial! Mengapa mulutnya sendiri sampai bersumpah menjadi budak Li Yunru hari itu? Ia benar-benar sedang memakan buah pahit akibat ulahnya sendiri saat mencoba membalas dendam kepada Xu Jiangyue.
"Baiklah, satu ekor saja. Akan kuberikan padamu dengan sangat enggan. Bersyukurlah karena raja ini menghadiahimu ekor rubah merah yang paling indah!"
Hong Maxing segera membelakangi Li Yunru dan memamerkan kesembilan ekornya. Bulu merah yang tampak menyala itu selembut awan dan semakin berkilau diterpa sinar matahari dari jendela.
"Pegang saja ekor yang kamu suka lalu cabut sekuat tenaga. Ingat, hanya satu saja," imbuhnya sambil menekankan kata satu.
"Apakah itu akan sakit?"
"... Sedikit. Tapi bukan masalah."
Li Yunru memandangi sembilan ekor itu. Semuanya terlihat sama. Ia pun memegang dua ekor sekaligus sambil menimbang mana yang akan dicabut.
Melihat itu, Bai Muzhi yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bangkit dan mengeluarkan pedangnya. Ia tersenyum penuh arti kepada Hong Maxing.
"Tidak perlu dicabut. Biarkan raja ini membantumu memotongnya. Lebih cepat dan lebih rapi."
"....??!!"
Melihat Pedang Pencabut Jiwa di tangan Bai Muzhi, Hong Maxing langsung menegang. Ini hanya soal mencabut ekor.
Mengapa tiba-tiba berubah menjadi adegan mencabut nyawa?
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂