PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aniversary (REVISI)
Jessica dengan Camila dan Bianca pergi menuju makam Riana yang baru saja ada kemarin malam itu.
Mereka datang tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan sebuket bunga dan kue yang sudah mereka pesan sesuai dengan keinginan mereka.
Mereka duduk dipinggir kuburan yang dialasi dengan koran agar tidak kotor dan membuka kue untuk dihias bersama.
Mereka menghias kue nya dengan lilin warna warni kemudian menyalakan lilinnya.
"Ayo nyanyi bareng-bareng!" seru Jessica. Camila dan Bianca pun mengangguk semangat.
"Happy ani...versary, happy ani.. versary, happy aaaaniv, happy aaaniiv, happy aaani..versay!" seru semua bernyanyi sambil bertepuk tangan.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya bersama-sama, sekarang juuuugaa, sekarang... juuugaaaaa!"
Camila, Jessica, dan Bianca pun meniup lilinnya bersama-sama diatas kuburan Riana yang masih basah.
"Yeay!"
Semua saling tersenyum sambil menatap kue yang bertulisan 'Happy Aniv kita ber4!' Itu.
"Rin, kita bawa kue kesukaan lo nih, choco and chesee. Kuenya juga beli di tempat langganan lo dan mereka juga kasih diskon ke kita karena tahu kue ini buat kita berempat!" seru Camila.
"Iya Rin. Mereka juga ngasih lo doa berlipat-lipat biar lo bisa lebih bahagia disana dibanding kita," sambung Jessica.
Bianca tersenyum.
"Kak Farel juga nitip salam khusus buat lo juga ucapan selamat buat kita Rin. Dia bilang, walau kamu nggak ada sama kita tapi kita harus yakin kalau kamu bakal selalu memikirkan kita, benerkan Rin?" tanya Bianca.
"Iya, kakak kakak yang lain juga nitipin salam ke gue buat lo," sambung Camila.
"Hm... kakak yang lain atau kak Muhtaz!" seru Bianca.
"Ih apaan si Bi!" ketus Camila.
"Alah, udah deh lo ngaku aja sekarang! Lo pasti suka kann sama kak Muhtaz!" goda Bianca yang membuat muka Camila langsung memerah.
"Ih nggak apaan sih! Najis banget!" ketus Camila.
"Kok Camila sama kak Muhtaz? Bukannya sama Shawn ya?" tanya Jessica.
"Ih Jessi lo belom tau ya? Camila tuh putus sama Shawn gara-gara ketahuan lagi selingkuh sama kak Muhtaz!" seru Bianca.
"HAH! LO SALINGKUH LA?" teriak Jessica.
"Eh jangan berisik Jessi! Lo mau dihantuin sama semua yang dikubur disini?" sentak Camila.
"Eh iya astagfirulloh. Maaf ya ahlil kubur." Ucap Jessica sambil merapatkan kedua tangannya.
Camila dan Bianca memutar matanya malas.
"Eh cepetan cerita! Kenapa lo bisa selingkuh La!" seru Jessica.
"Ih siapa yang selingkuh! Gue nggak selingkuh!" balas Camila tak terima.
"Lah terus ngapain waktu itu jalan-jalan sama kak Muhtaz sambil gandengan?" tanya Bianca dengan menunjuk-nunjuk Camila.
"Ih gue tuh nggak jalan sama si Muhtaz! Dia nyeret-nyeret gue pas gue lagi shooping sendiri di mall!" serunya.
Jawaban dari Camila sangat ditolak oleh Jessica dan Bianca. Mereka sudah pasti tak percaya karena dengan ucapa Camila bahwa dia pergi sendiri untuk berbelanja karena selama hidupnya Camila sama sekali tidak pernah berbelanja kecuali teman atau ibunya yang mengajak.
"Iya ih! Percaya sama gue!" bela Camila.
"Kenapa lo bisa shooping sendiri? Kan lo nggak suka shooping!" seru Bianca.
Camila mendengus kesal.
"Gue tuh kan mau coba jadi wanita seutuhnya, jadi wanita yang kayak kaliann! Suka make up, skincarean, belanja, jalan-jalan, gitu aja. Karena Jessica udah nggak bareng lagi sama kita, gue memutuskan untuk mencocokkan diri jadi kayak Bianca dan Riana, gitu aja." Jawab Camila.
"Trus gimana caranya lo bisa ketemu dan diseret-seret sama kak Muhtaz?" tanya Jessica.
"Si Muhtaz tuh tiba-tiba dateng dihadapan gue yang buat gue kaget. Karena gue nggak mau deket-deket sama dia, dia malah ngejailin gue dengan ngedeket-deketin gue. Eh pas si Muhtaz megang tangan gue ada Shawn yang juga lagi di mall itu ngeliatin gue. Dan lebih keterlaluannya lagi, si Muhtaz bilang kalau gue cewek nya! Kan ogeb!" Jelas Camila dengan penuh emosi.
"Dah tuh jangan benci sama kak Muhtaz, ntar malah jatuh cinta." Goda Bianca.
"Lo juga! Jangan nggak suka sama kak Jeri ntar suka!" balas Camila.
"Ih gue emang nggak suka ya sama dia!"
"Masaa iya lo nggak suka! Kan lo tiap hari digoda terus sama dia!"
"Ih dia itu emang playboy! Ke semua cewek juga kayak gitu!"
"Tapi kok kayaknya ke lo lebih spesial deh,"
"Spesial apanya! Emang gue martabak!"
Jessica menghembuskan nafasnya sambil menutup mata.
Keknya gue ketinggalan banyak informasi deh.
♡♡♡
Seperti yang Arinda katakan kemarin, dia akan kembali ke rumah keluarga suaminya hari ini.
Namun karena Putri menginginkan waktu dulu bersama dengan Arinda, mau tak mau Arinda pergi setelah selesai bermain bersama Putri hingga waktu sore.
"Kak Arinda jangan lupa sama janjinya! Kesini lagi harus bawa oleh-oleh yang banyak!" seru Jessica.
"Iya Jessi! Kakak juga pengen kamu berjanji, pas kakak udah kesini lagi, perut kamu harus buncit sama kayak perut kakak sekarang!" Balas Arinda.
Pipi Jessica langsung berubah menjadi merah tomat.
"Iya kak Jessi, kalau perut kak Jessi sama buncitnya kayak kak Arinda, aku bisa terus usap-usap kayak tadi ke kak Arinda!" seru Putri.
"Haha, iya Putri, kak Jessi pasti bakal ngabulin permintaan kamu nggak lama waktu ini!" ucap Arinda.
Putri tersenyum dengan senang mendengar hal itu. Dia langsung memeluk Arinda dan mengusap perut Arinda untuk terakhir kalinya.
"Kakak hati-hati dijalan." Ucap Putra.
"Iya Putra," jawab Arinda.
"Jaga kesehatan kamu Arinda, semoga bayi kamu lahir dengan sehat ya." Ucap Melati.
"Iya bibi, bibi juga jaga kesehatan ya," jawab Arinda kembali.
"Kakak jangan lup--"
"Iya Jessi, kakak nggak bakal lupa! Dadah!" seru Arinda yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Semua langsung melambai ke arah mobil yang perlahan melaju menuju keluar gerbang.
Setelah mobil sudah keluar sepenuhnya, mereka pun langsung masuk kembali ke dalam rumah.
Namun Melati langsung menghentikan langkah Putra dan membiarkan Jessica dengan Putri masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Putra yang ditahan oleh ibunya langsung membalikkan badannya ke arah sang ibunda dan bertanya alasannya.
"Kenapa?" tanya Putra.
"Putra anakku," panggil Melati.
Putra terdiam.
"Mama nggak mau kamu hidup dengan tidak bahagia seperti ini," ucap Melati sambil membelai rambut Putra.
"Mama akan mencarikan kebahagiaanmu dalam waktu beberapa bulan,"
Putra bingung dengan semua perkataan Melati.
"Jika itu mungkin tak datang juga padamu dengan sendirinya, maka.." Melati sengaja menggantungkan kalimat nya agar Putra penasaran dengan hal yang sedang ia bicarakan sekarang itu.
Putra mengangkat kepalanya seolah memberi suruhan kepada ibunda untuk melanjutkan kata-kata yang digantung itu. Karena digantung itu sakit men!
"Mama akan mencarikannya untuk mu."
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.