NovelToon NovelToon
Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa

Status: tamat
Genre:Petualangan / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Kerinduan

Brrrrm ...Si Denok garang menerobos kemacetan Jalan Solo.

Melaju sigap ke arah bandara Adisucipto menjelang sore.

Seti yang ada di atasnya sepertinya tak sabar bertemu seseorang yang akan dijemputnya.

Pengobat rindunya itu mengabarkan akan singgah di Jogja dulu lewat telegram yang diterima Seti tiga hari lalu.

Lebih satu tahun tak bertatap muka membuatnya ingin memamerkan semua cerita dalam isi surat menyurat mereka.

Mulai dari kampusnya, lapak Malioboro, kost Samirono dengan mbah Jum, dan tentu saja tentang Asri ingin dipamerkannya segera.

Tak mau berlama hanya sekedar gambaran dalam cerita tulisan tangan yang tersekat jarak dan waktu.

Berharap sosok yang akan segera ditemuinya itu membenarkan isi surat-surat yang rutin diceritakan tentang segala kisahnya selama di Jogja.

The road is long

With many a winding turn

That leads us to who knows where

Who knows where

But I'm strong

Strong enough to carry him

He ain't heavy, he's my brother ...

Masuk pelataran parkir motor bandara, mulut riang Seti menyanyikan He ain't heavy, he is my brother-nya The Hollies. Memastikan si Denok terkunci dengan aman, Seti bergegas menuju ke arah pintu kedatangan bandara.

Langkah bergegasnya berganti langkah santai setelah melirik arloji di tangannya.

Sepertinya masih banyak waktu untuk menunggu pesawat yang ditunggunya tiba sambil ngopi dulu di kedai kopi yang terlihat berderet tak jauh dari lorong pintu kedatangan bandara.

...***...

Gelas kopi panas yang tersaji di depan duduknya sepertinya belum menggugah minat Seti untuk menyentuhnya.

Membiarkan dulu gelas panas itu berlama-lama. Seperti rasa rindunya kepada Seto kakaknya yang sedang ditunggunya.

Kopi kental dan kerinduan sepertinya dua filosofi yang mirip tentang rasa.

Semakin dibiarkan akan semakin menjerat penikmatnya untuk berusaha berlama-lama meresapi sekali bersentuhan dengannya.

Rasa rindu itu tidak perlu selalu dilepaskan secara langsung.

Jika untaian kata tertulis dapat melepaskan rasa rindu itu secara tak langsung, maka jarak hanyalah sebuah rintangan.

Hanya ego seseorang saja yang menjadikan jarak sebagai rintangan alasan pelepas rindu.

Betapa Seto kakaknya telah menempuh ribuan kilometer hanya untuk menemuinya, membuat Seti tak mau terbebani rintangan kerinduan.

Tak hanya kepada Seto, semua ego dirinya akan dikesampingkan jika orang terdekatnya yang terpasung jarak tiba-tiba saja muncul dalam ruang rindu hatinya.

Lalu entah kenapa wajah cantik itu menggangu lamunannya ....

Jika untaian tulisan lewat surat menyuratnya dengan Seto bisa mengobati rasa rindu itu, lain lagi kepada Asri yang ikut menyapa rindu dendamnya.

Ruang rindu itu dilepaskannya dengan meneleponnya. Mendengarkan suara Asri dirasa mampu menghilangkan jarak penyekat rindu dengan rasa yang menyenangkan hati masing-masing.

Semalam hampir satu jam Seti meluangkan waktu menelepon Asri dari wartel ke rumah Sokaraja sepulang dari lapak Malioboro. Perbincangan tentang rutinitas masing-masing, perkembangan kesehatan Joko, dan tentu saja rencana kedatangan Seto bergantian mengisi perbincangan semalam.

"Salam dari Hening," Asri sempat menyinggung Hening di sela perbincangan.

"Eh ... Dia masih di Purwokerto ?" Tak menyangka Asri menyinggung nama itu, sedikit tergagap Seti tersadar ada seseorang yang dilupakannya setelah kelegaan dan kegembiraan di rumah Wirobrajan dulu.

"Sudah balik ke Jakarta bareng Yuni dua hari lalu," Asri menjawab pertanyaan canggung Seti dengan nada menggoda.

Menyadari sedikit kekakuan nada bicara Seti.

Nada riang Asri menceritakan tentang kedekatannya dengan Hening dan Yuni selama di rumah jengki meluluhkan kerisauan hati Seti . 

Tak ada lagi kekuatiran tentang sebab hubungan perkasihan-nya menjauhkan persahabatan Asri dan Hening.

Apalagi Asri juga mengatakan bahwa Hening baik-baik saja setelah keterus terangan Asri tentang hubungan itu.

Masih membayangkan perbincangan semalam, suara pemberitahuan pesawat yang ditunggu Seti yang akan segera mendarat membuyarkan ingatan ruang rindu lain terhadap kehangatan Asri dan Hening.

Menghabiskan gelas kopi yang masih terasa hangat isinya, Seti bergegas berdiri menuju pintu kedatangan menjemput Seto. Bersiap mengisi satu ruang rindunya yang terobati.

...***...

Sosok yang dirindu Seti terlihat semakin gagah dan segar ketika membalas lambaian-nya.

Seto memeluk erat Seti setelah saling memandang di pintu kedatangan.

Tak mau berlama-lama lagi berbagi cerita, keduanya bergegas meninggalkan bandara ke arah parkiran sepeda motor tanpa banyak kata.

Dua laki-laki muda itu menarik beberapa perempuan yang berpapasan untuk meliriknya. Kedewasaan Seto yang lebih matang dan Seti yang tumbuh menjadi laki-laki dengan daya tarik dan ketampanan masing-masing menyenangkan lawan jenisnya untuk menatapnya sejenak ....

...***...

Baru kali ini Seto berduaan saja dengan Seti di luar kota. Kesempatan berbicara banyak tentang masalah laki-laki dewasa dengannya sudah ada dalam benak Seto.

Tentu saja bukan kengawuran seperti masa lalunya.

Seto tak ingin adiknya terperangkap bayangan masa lalu itu seperti dirinya.

Suka tidak suka, bayangan masa lalu tentang Bening tak mudah dihilangkannya begitu saja. Mengetahui Bening dan Joko dalam masalah serius dari isi surat Seti, dia memutuskan untuk tidak ada keraguan lagi kali ini.

Semakin besar hasratnya untuk menemui Bening dan Joko sebagai laki-laki yang sebenarnya.

Bukan tentang roman masa lalu yang ingin dirajutnya lagi.

Tetapi paling tidak, dirinya ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa berguna bagi Bening dan Joko.

Dari cerita Seti tentang kondisi keuangan Bening dan Joko yang terganggu setelah Joko sakit, Seto sudah memikirkan membantu keduanya dengan cara yang patut. Bening yang akhirnya mengijinkannya untuk menengok Joko memantapkan keputusannya untuk mencari tahu lebih jauh apa yang bisa dilakukannya kelak tanpa berbagai persangkaan ....

...***...

Seperempat jam menerobos keramaian jalan dari bandara ke arah Samirono. Akhirnya si Denok sampai juga di depan warung makan sederhana yang terlihat sepi.

Seto mengikuti Seti masuk ke dalam warung itu.

Di perjalanan tadi Seti sempat menyinggung kost Samirono dan warung makan mbah Jum.

"Nuwun .... Selamat sore mbah !"

Seti menyapa yang punya warung, lalu masuk ke arah dapur mencari mbah Jum yang tak terlihat di depan warung.

Seto membiarkan adiknya. Berjalan mendekati kendi cuci tangan dan membasuh wajahnya.

Guyuran air segar melepaskan penat setelah perjalanannya. Mengelap tangan dan wajahnya dengan tisu, dia duduk bersandar di bale-bale bambu yang ada di sudut warung dekat meja saji yang dipenuhi sayur dan lauk pauk dagangan.

"Eh ada tamu." Suara teguran mengalihkan perhatian Seto ke arah sosok mirip Nenek yang terlihat keluar dari pintu dapur.

"Selamat sore mbah .... Saya Seto kakak Seti." Seto berdiri dari bale-bale menyambut uluran tangan mbah Jum yang menyalaminya.

"Oooh ini to mas-e Seti yang pelaut." Mbah Jum mulai bertutur ramah seperti kebiasaannya kepada siapa saja yang singgah di warungnya.

Seti mengambil tas besar Seto dan bermaksud membawanya ke kamar di tengah perbincangan itu.

"Aku siapkan kamar dulu mas. Mau mandi sekarang atau nanti ?" tanya Seti ke arah Seto sebelum beranjak meninggalkannya.

"Nanti sajalah setelah ngopi dan ngrokok dulu di sini," jawab Seto.

Perbincangan berlanjut, ... dan semakin akrab setelah Seti meninggalkan warung.

Seperti adiknya, Seto juga pandai membawa diri.

Mbah Jum terlihat senang ketika Seto menanggapinya setelah mendengar ceritanya tentang kesuksesan penghuni kost Samirono .... Juga tentang kedekatannya dengan Seti dan Asri yang sudah dianggap bagian dari keluarganya.

...***...

1
Dhatu Lukita
🌹🌹🫰🫰
Dhatu Lukita
🌹
Dhatu Lukita
gara2 kulino dilarani aku wis ra percoyo karo sing jenenge 'tresno'🤭
Wawan: Ahahaha .... what is the name
total 1 replies
Nawadipta
baru tau🙃
Nawadipta
mitos efektif melindungi pohon 🤣 manusia generasi baru memang gak ada takut-takutnya... 😂
Dhatu Lukita
🌹🫰🫰🫰🫣
Dhatu Lukita
di pikiranku malah tergambar "mengonsumsi kecubung" bukan jamur😄,
koyoe podo halusinasi ne 😄
Wawan: Yups ... bedanya kecubung gak dijual... tinggal petik karena gak perlu diolah 🤭✍️
total 1 replies
Nawadipta
makin kecil porsi makin mewah loh 😂 ta kira karena banyak kucing liar buat di elus. pecinta kucing kecewa 😽
Wawan: Lets go angkringan... miyong rice 🤣🤭
total 1 replies
Nawadipta
mitos populer nih, cukup di bantu tongkat (buta kan) bisa tuh. kalau gak indra arah hilang sama gampang jatoh, bukan di ganggu makhluk halus ya 🤣🤣
Wawan: Setan kok... bener loh 🤭🤣
total 1 replies
Nawadipta
rindu nilai rupiah dulu 🤣
Wawan: Pokoknya wesel sebulan empatpuluh ribu tuh dah kayak sultan 🤭
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹buatmu
Dhatu Lukita
nihh 🌹🫰
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Dhatu Lukita
mawar untukmu biar semangat💪💪💪
Dhatu Lukita
juga mengingatkanku 2010 lalu🤭. haiisshhhh
Wawan: Apa tuh ... 🤭🤭🤭
total 1 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Keren deh💪👍
SANG
Semangat👍💪
SANG
Di rumah👍💪
SANG: Oke bro💪👍
total 2 replies
SANG
Kanjut👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!