Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 – Amanat Sang Guru (1)
Setelah merasa telah menurunkan seluruh ilmunya pada Surodipo, Kyai Suryo Alam menyuruh Surodipo untuk melakukan tirakat selama empat puluh hari, empat puluh malam di sebuah goa di puncak gunung Sindoro. Selama bertirakat tersebut, Surodipo hanya boleh menyantap satu buah pisang batu dan seteguk air setiap harinya. Setelah proses tirakat itu selesai, Kyai Suryo pun melihat bahwa Surodipo telah berhasil mendapatkan pulung atau wahyu Kasatrian, yang akan menjadikan diri Surodipo sebagai kesatria besar yang harum nananya dan menggoncang Bumi Jawa oleh kebesaran namanya. Wahyu Kasatrian itulah pertanda bahwa sudah saatnya ia melepas Surodipo untuk turun gunung.
Pada suatu subuh menjelang matahari terbit, di sebuah gubug yang merupakan satu-satunya bangunan yang terdapat di Gunung Sindoro, Surodipo duduk menghadap gurunya. Kyai Suryo Alam yang sedari tadi bertafakur membuka matanya, aura angker yang biasanya nampak dari si Kakek tua ini kini berubah, rasanya sejuk sekali bagi Surodipo, tapi ia tidak tahu apa artinya. “Surodipo kau ingat sudah berapa lama berada di Gunung Sindoro ini?” tanyanya.
Surodipo terdiam sebentar seolah sedang menghitung, “Kalau tidak salah saya sudah berada disini selama lima tahun, hari ini tepat lima tahun semenjak guru membawa saya yang terluka parah dari Desa Banyu Urip.” jawab Surodipo.
Kyai Suryo Alam mengelus-elus janggut panjangnya yang berwarna putih, dia lalu menatap kearah timur. “Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari lima tahun yang silam. Puncak Gunung Sindoro ini juga masih seperti dulu juga. Hanya umur kita yang bertambah, yang tua tambah tua! Hanya dunia luar yang banyak berubahnya!"
Kemudian terdengar kembali suara sang kakek, "Lima tahun, waktu yang cukup untukmu tinggal bersamaku. Belajar agama, belajar ilmu kanuragan, belajar ilmu kedigjayaan, belajar segala kawisesaan. Tapi kau jangan lupa! Harus ingat! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan padamu semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Surodipo?"
Surodipo mengangguk, “Iya Guru…”
Sang Kyai mengelus-elus janggutnya, matanya menyipit memperhatikan muridnya itu. “Surodipo aku telah menurunkan semua ilmuku padamu, dengan seluruh ilmu yang kau miliki dariku ditambah yang telah kau miliki sebelumnya dari Almarhum Kakek dan Ayahmu, bekalmu telah cukup untuk melanglang di jagat ciptaan Gusti allah ini, untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan, untuk kebenaran berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist, untuk
berdakwah sekaligus menegakan Amr Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi, begitu seterusnya sampai tidak ada yang melebihi kekuasaan Gusti Allah, selain itu kau juga harus menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan tekebur! Kau ingat itu, Surodipo?"
Surodipo mengangguk lagi, “Ingat Guru…”
“Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya, tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!" lanjut Kyai Suryo.
“Satu lagi tanamkanlah dalam hatimu bahwa tidak ada satu mahlukpun yang sempurna, tidak ada manusia yang sempurna, bahkan seorang nabi pun pernah melakukan suatu kesalahan… Begitu juga aku, aku pun tak luput dari berbuat kesalahan!”
Kyai Suryo lalu menghela nafas, matanya menerawang jauh seolah menembus kejadian beberapa puluh tahun silam. “Surodipo, meskipun telah mempelajari ajian Rajah Penyangga Langit yang dulu pernah digunakan si Topeng Setan yang hampir mengakhiri riwayatmu dan barangkali kau sudah bisa menduga pertanyaanmu dulu… Tetapi sesuai janjiku dulu aku akan menjawab pertanyaanmu lima tahun yang lalu ketika kau bertanya mengapa aku bisa
tahu tentang si Topeng Setan yang memiliki Ajian Rajah Penyangga Langit…
Sekitar empat puluh tahun yang lalu…. Ketika itu aku masih menjadi seorang pengembara, aku terus berjalan melanglang buana menapaki seluruh pulau ini untuk mengamalkan seluruh ilmu yang telah aku dapatkan dari almarhum guruku. Pada suatu ketika sampailah aku di suatu desa di kaki gunung Arjuno yang sedang dibegal oleh sekawanan perampok berilmu tinggi. Mereka menjarah seluruh hasil panen desa itu dan membantai hampir seluruh penduduknya.
Saat aku memutuskan untuk turun tangan membasmi para perampok keji tersebut, mereka sedang membantai keluarga Demang desa itu dan membakar seluruh rumahnya, pemimpin perampok itu menganiaya seorang anak kecil dan hendak memperkosa ibunya yang merupakan istri Ki Demang.
Aku langsung turun tangan dan berhasil membasmi semua anggota perampok tersebut, namun rupanya aku terlambat… Ki Demang telah tewas dengan mengenaskan, istrinya tewas bunuh diri demi menjaga kehormatannya, sementara anak mereka yang masih bocah… Terluka sangat parah, mereka melukai wajah bocah itu sampai wajahnya menjadi rusak… Rupanya pemimpin rampok itu menaruh dendam pada Ki Demang karena ia mencintai istri Ki Demang dan si bocah itu wajahnya sangat mirip Ki Demang, sampai mereka menyiksanya dengan merusak wajah bocah itu.
Aku pun langsung menyelamatkan nyawa bocah itu, aku berhasil menyembuhkan semua luka-lukanya kecuali luka di wajahnya yang akhirnya menjadi cacat bagi si bocah. Karena kasihan akhirnya aku mengangkat bocah yang bernama Rono Tikusilo itu menjadi murid sekaligus anak angkatku. Karena kemanapun kami melangkah orang-orang selalu menghina dan mengejek wajah muridku, maka aku pun membawanya untuk menyepi di Gunung Sindoro ini, selain agar dia bisa menjadi lebih fokus untuk mendalami semua ilmu yang akan aku turunkan.
Namun ternyata aku luput pada satu hal tentang muridku, semua rasa kasih sayangku padanya membuatku alpha bahwa ternyata dia masih menaruh kebencian dan bara api dendam yang begitu membara di dasar hatinya. Dia benci pada wajahnya sendiri yang cacat, dia dendam kepada semua orang yang selalu mengejek cacat di wajahnya, dia dendam kepada takdir dan nasibnya, dia dendam kepada Sang Maha Pemberi Hidup, karena mentakdirkan hidupnya amat menderita dengan wajah cacat sampai ia tidak bisa membalaskan dendamnya karena pembunuh keluarganya sudah tewas semua di tanganku.
Dia berhasil menutupi semuanya dengan berlagak seolah menjadi murid yang berbakti dan paham agama, dia juga bertindak amat baik kepadaku layaknya kepada orang tua kandungnya sendiri. Ternyata itu semua dia lakukan agar aku memberikannya dua senjata pusakaku yang merupakan warisan turun temurun dari leluhurku…”
Kyai Suryo berhenti sejenak, kemudian dia mengambil sebuah peti lalu membukanya dan memperlihatkan isinya kepada Surodipo. “Dia sangat menginginkan Keris Pusaka Kyai Guntur Geni ini dan Mutiara Setan…” Sang Kyai kemudian melolos Keris pusaka tersebut dan memperlihatkan wilahnya pada Surodipo.
Sekonyong-konyong di luar terdengar suara angin deras berseoran yang teramat panas sehingga seolah menimbulkan suara raungan setan. Keris berluk tujuh berdapur Sempono Bungkem dengan pamor ceprit ini memang sangat luar biasa, meskipun tidak dihiasi kinatah emas, dan bentuknya tidak terlalu istimewa atau gagah, malah bahkan sangat sederhana. Tetapi auranya sangat wingit luar biasa sehingga menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.
Keris dengan bilah besi hitam kebiruan itu menghamparkan hawa yang sangat panas. Surodipo terkejut dibuatnya, sekonyong-konyong nafasnya menjadi terasa sesak, tengkuknya terasa dingin dan berat, sekujur tubuhnya keluarkan keringat dingin, dan bulu kuduknya langsung berdiri menegang. Ia pun merinding ketakutan melihat aura atau taksu yang sangat luar biasa wingit dari keris yang teramat sakti tersebut.
Sang Kyai kemudian kembali menyarungkan keris pusaka tersebut ke dalam warangkanya yang berupa warangka gayaman dari kayu Cendana Wangi. Sekonyong-konyong angin deras yang menimbulkan suara bak setan meraung yang terasa panas itu pun berhenti bertiup, keadaan menjadi normal seperti sedia kala.
"Keris Kyai Guntur Geni ini adalah salah satu Keris ciptaan Empu Supo Mandrangi pada masa Majapahit. Konon pada saat menempa wilah keris ini, Empu Supo banyak mendapat gangguan berupa hujan badai yang amat deras. Saat itulah tiba-tiba meledaklah petir-petir dahsyar yang saling bersahutan dan menyambar banyak pohon di sekitar besalen hingga pohon-pohon itu hangus terbakar oleh karena sambaran petir-petir tersebut. Maka Empu Supo memberinya nama Kanjeng Kyau Guntur Geni.
Keris ini mempunyai daya tuah yang nyaris mirip dengan tuah Keris Kyai Setan Kober karena pada saat penempaannya, Empu Supo banyak mendapat cobaan sehingga keris ini bersifat panas. Bedanya, karena saat menempa keris ini, ilmu kawisesaan Empu Supo sudah lebih mantap berkat gemblengan Kanjeng Sunan Kalijogo, maka bathin Empu Supo sudah lebih tenang dan mantap, beliau tidak rerfanggu oleh segala godaan yang menghampirinya.
Sehingga keris ini masih bisa dikendalikan oleh orang yang hatinya bersih, berpikiran jernih, serta giat bertirakat dengan gentur mendekat pada Yang Maha Kuasa. Maka keris ini tidak boleh dipakai sembarangan apalagi jatuh ke tangan orang yang mempunyai sifat pemarah dan hati jahat yang dipenuhi dendam dan kebencian seperti Ki Rono Tikusilo." Tutur Sang Kyai.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
pantasnya ngadep laja nelaka😄
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷