(Mulai revisi, dan fublis Judul baru)
Hai semuanya. aku baru buat novel perdana aku mudah-mudahan kalian suka ya.
Ini cerita tentang perempuan bernama
Nana Amalia yang kehidupanya penuh dengan penderitaan. bagaimana tidak, di sepanjang hidupnya dia harus menderita karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia ketika umurnya menginjak 10tahun. dan sekarang Nana sudah beusia 19tahun hidupnya masih sama saja ,tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan dan butuh uang untuk berobat.
Di sinilah ia yang tengah memetik Teh di Perkebunan teh di Desa tempatnya bekerja sebagai buruh, dengan upah yang tidak terlalu besar hanya cukup untuk makan saja dia sudah senang.
Sampai pada suatu ketika, Nana harus rela di pinang oleh lelaki Kaya Raya.
Siapakah dia.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINDAH
Nana yang mendengar ucapan dari Suami nya seketika kaget dan tidak percaya, sebegitu teganya Ari melontarkan Kalimat yang sangat menyakitkan untuk di dengar.
Tapi Nana hanya mampu tersenyum kecut.
"Betul Tuan,saya ini benar-benar miskin.Tuan Ari Tahu sendiri bukan ketika Tuan Datang ke gubuk saya tempo hari,untuk menjemput saya."
Ari hanya mengangguk, tangan kanannya menggaruk dagu yang tidak terlihat berbulu.
"Saya dan mendiang Nenek saya sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan Tuan, saya dan Nenek saya harus bekerja Ekstra untuk mendapatkan Sesuap Nasi." Jelas Nana.
Ari diam mendengarkan penjelasan dari Istrinya tanpa berniat untuk menyela.
"Emmm...Apa kamu tidak punya teman, kamu bilang dulu pernah bersekolah." tanya Ari.
"Tidak Tuan, saya tidak punya teman. dulu waktu sekolah saya tidak mempunyai seorang teman, mereka seperti malu dan jijik jika berdekatan dengan saya. bahkan saya hanya duduk sendiri tanpa ada teman. dari kecil teman saya adalah Nenek saya,lagian siapa yang mau berteman dengan Gadis miskin seperti saya." Jawab Nana dengan Air mata yang keluar tanpa permisi.
Apa yang sudah aku lakukan, sekarang dia menangis karena aku. Seharusnya aku diam saja.
Nana dulu bisa bersekolah karna bantuan Pemerintah Setempat, karna Nana termasuk Golongan kurang mampu.
Nana termasuk Anak yang mempunyai kepintaran yang mumpuni. dan bisa Mengenyam Pendidikan nya di Sekolah yang lumayan Bagus, tapi bantuan itu hanya sampai Kelas 3 Smp saja.
Di sekolah tempat nya mengenyam Ilmu, kebanyakan dari murid nya adalah kalangan golongan Kaya. karna itu lah, tidak ada yang mau berteman dengan Nana.
Walau pun Nana mempunyai Paras yang cantik, tapi itu bukan jaminan untuk nya bisa mempunyai seorang teman.
"Kenapa kamu menangis, oh saya tau. Agar saya memeluk mu untuk menenangkan mu begitu."
Nana menggeleng cepat. "Tidak Tuan, Maaf."
Nana segera mengusap pipinya yang basah.
"Jangan harap, saya tidak akan melakukan hal yang tidak penting seperti itu."
"Ya Tuan." sahut Nana singkat.
Siap yang mau di peluk olehnya, dia kan tadi yang bertanya.
Tak lama Ari pun beranjak dari duduk nya, dan melangkah meninggal kan Nana yang diam dalam duduk nya.
Ketika Ari akan melangkah, Ari pun berucap.
"Mendengar Cerita mu yang menyedihkan itu, membuat Perut ku sakit."ucapnya dan berlalu Masuk ke dalam Kamar mandi.
Nana tidak bisa menjawab Ucapan Suami nya itu, Karna Ari berlalu dengan cepat.
Hanya mendengar Cerita ku saja perut nya sakit, Apa itu Benar.? Heran Nana.
Di dalam kamar mandi Ari memandang bayangan nya di cermin, dengan Mata yang setajam mata elang yang sedang mengintai Mangsanya.
"Gadis itu sudah sangat menderita, dan aku sudah membuka ingatan nya kembali akan penderitaan nya itu." Ucap Ari dengan tangan yang membasuh Wajah nya dengan sedikit agak kasar.
Mulai detik ini, tidak akan aku biar kan Orang-orang di luar sana menyakiti dirinya. hanya aku yang berhak memberi nya kebahagian, dan penderitaan.Hanya Aku.Gumam Ari dengan pandangan Mata yang melihat bayangan dirinya di cermin itu.
Tak lama,Ari pun keluar dari Kamar Mandi dan melangkah menghampiri Istri nya yang masih dalam posisi duduk nya itu.
Nana seketika beranjak berdiri ketika melihat suami nya keluar dari Kamar Mandi.
"Bagaimana Tuan, perutnya sudah tidak sakit lagi." Tanya Nana, wajahnya menampakan ke khawatiran.
"Sudah mendingan." Jawab Ari bohong.
"Sukurlah, saya Minta Maaf Karna cerita saya Tuan Jadi Sakit Perut."
"Sudahlah lupakan saja, jangan kamu ulangi lagi. kamu jangan mengingat lagi masa lalu mu yang menyedihkan itu." ucap Ari tegas.
"Baik Tuan,saya tidak akan mengingat nya lagi."Jawab Nana.
"Sudah, jangan buang waktu ku lagi. kita pergi sekarang."
"Baik Tuan."
Nana pun beranjak pergi, dan sebelum itu Nana tidak lupa akan Hp baru nya yang belum dia sentuh sebelum nya.
Dengan Menunggangi Mobil Sport nya yang Berwarna Hitam pekat, Ari Membawa Mobil nya dengan kecepatan Sedang memecah keramaian Kota besar A yang terlihat ramai di siang hari itu.
Di dalam Mobil itu tidak ada yang berbicara satu sama lain, Ari dan Nana hanya diam dengan pikiran yang tidak bisa di tebak
Aku aja ga tau apa yang mereka pikirkan.
Nana yang ada di sebelah Suami nya yang sedang mengendarai Mobil Mewah nya itu hanya diam, dengan pandangan mata yang melihat ke luar kaca pintu Mobil dengan pikiran yang Melayang-layang.
Begitu pun Dengan Ari, dia hanya Fokus akan jalan yang Ada di depan matanya.
Sesekali Ari mencuri Pandangan ke Arah Istri nya yang diam seperti Patung.
Tidak biasanya dia diam, dia bahkan tidak terlihat mengagumi Mobil sport ku.
Beberapa saat kemudian Mobil Sport itu sudah sampai di Parkiran Apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
"Turun."
Nana seketika itu hanya mengangguk, dan membuka Pintu Mobil Suami nya.
Nana yang sudah beranjak Keluar Dari Mobil itu di buat takjub, Akan bangunan yang menjulang tinggi.
"Tuan Ari Kenapa kita ke Mall, bukan nya tadi Tuan bilang kita akan ke rumah baru?" Tanya Nana heran dengan mata mendangah ke arah Atas bangunan yang dia yakini sebuah Mall.
Ari yang baru saja menutup pintu mobil di buat tersenyum geli akan kepolosan Istrinya.
"Ini bukan Mall, gadis ini, ini namanya Apartemen tempat tinggal Kamu dan aku." Jawab Ari pelan tapi percayalah wajahnya seakan menghina Nana.
Nana di buat neran akan jawaban Ari.
"Rumah kita Tinggi sekali." ucap Nana Polos.
Jadi yang ada di pikiran Nana Apartemen yang lebih Dari 100 Unit Itu adalah rumah barunya. Padahal kenyataan nya hanya satu unit saja.
"Ini bahkan lebih besar Dari Mansion Tuan." Tambah Nana lagi.
Ari yang mendengar ucapan Nana seketika tertawa Renyah.
" Hey Gadis Desa, Mansion bukan Masion."
"Ya itu maksud saya Tuan." Ucap Nana dengan Senyum yang terukir jelas di wajah.
Tak lama, sebuah Ide melintas di pikiran nya dan Ari pun berniat untuk Menjahili istri itu.
"Nanti kamu yang akan membersihkan Semua Area Apartemen Ini."ucap Ari.
Nana yang mendengar Ucapan Suaminya seketika Membulat kan ke dua Matanya itu, seolah tidak percaya Akan apa yang suami nya itu ucap kan.
"Tapi Tuan, Rumah ini tinggi Sekali. Dan sangat besar,akan sangat lama untuk membersihkan nya."Jawab Nana lemas.
Ari yang mendengar Jawaban, dan Wajah lemas istri nya seketika membuat nya terhibur.
Gadis Ini Benar-benar Bodoh. Gumam Ari.
"Sudah, tidak Ada penolakan lagi."ucap Ari dengan langkah yang pasti meninggal kan istri nya yang masih berdiri.
Ya tuhan Dia kejam sekali, bagai Mana mungkin Aku bisa membersihkan Rumah tinggi ini.Lirih Nana dengan langkah kecil nya, dan mengikuti Suami nya yang sudah jauh di depan Mata nya.
Info:Apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Ari dan Nana,adalah salah satu Properti milik Ayah Ari.Yaitu, Tuan Surya Atmaja Wijaya.
Kini Nana dan Ari sudah Ada di dalam apartemen yang nampak mewah lagi megah.
Beberapa Orang yang Bekerja di Apartemen itu Membungkuk Memberi Hormat kepada Ari dan Nana.
Ari dan Nana sedang ada di dalam Lift, dan setelah itu Ari Menekan Tombol yang bertuliskan angka 30, sudah di pasti kan lantai itu yang akan menjadi Tempat tinggal mereka.
Nana hanya diam, dan memperhatikan Apa yang Suami nya lakukan.
Aku akan mengingat ini.Ucap Hati Nana.
Beberapa saat kemudian.
Ting...bunyi Lift terbuka.
Ari pun keluar dengan Nana yang mengekor dari belakang suami nya.
Rumah ini Benar-benar besar, sama seperti Hotel yang tadi tapi Ini lebih besar lagi.Gumam Nana.
Tapi tadi di bawah banyak orang, berarti aku tidak akan terlalu cape untuk membersihkan nya.tambah Nana dengan senyum kecut nya itu.
Kini Ari sedang menekan Tombol yang ada di sisi Pintu Apartemen Milik nya itu, untuk memasukan Kode Rahasia.
Nana hanya memperhatikan dalam diam.
Klik, terdengar suara bunyi dari tombol itu tanda Kode Rahasia itu berhasil.
Ari pun membuka Pintu yang tadi ter tutup rapat.
"Masuk."perintah Ari.
"Baik Tuan."
Nana pun melangkah kan Kaki nya,dan masuk dengan perlahan ke dalam Rumah Baru nya itu.
Nana sangat takjub Akan isi dari Rumah nya itu,terlihat sangat luas, dan bersih.
Info:Apartemen itu hanya satu lantai. terdiri dari Satu Ruang Tamu, Ruang Keluarga dan Dapur menyatu, satu Toilet untuk Tamu,Dua ruang Tidur,dan Ruang Kerja Ari. Apartemen yang berwarna Abu-abu yang di Aplikasikan dengan warna putih itu terlihat sangat Mewah.
"Apa kamu suka.?"Tanya Ari
"Suka Tuan, tapi ini sangat Besar."
"Kalau kamu mau tempat tinggal yang berukuran Kecil,Akan aku bawakan Kandang kucing untuk mu. kamu mau.!!"
"Tidak mungkin saya muat di dalam sana Tuan, akan sangat sesak kalau saya tidur di dalam kandang kucing itu."Jawab Nana dengan polos nya.
Ari yang mendengar Jawaban dari istri nya hanya menggelengkan Kepala, tanda dia tidak percaya akan semua ucapan Yang selalu Ari lontarkan Akan di anggap Benar oleh istri nya itu.
"Dasar Gadis Bodoh."
"Maaf Tuan Ari."
"Sudah jangan bertanya yang Aneh lagi, sekarang bereskan Baju-baju mu dan Baju-baju ku.
"Baik Tuan."
Ketika Nana akan beranjak pergi, Nana pun kembali bertanya.
"Tuan Ari, Kamar saya yang Mana.?"
Ari menyeringai mendapati pertanyaan itu
"Kamar yang sama yang akan saya tiduri."
SELAMAT MEMBACA