NovelToon NovelToon
First Love First Fall

First Love First Fall

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lana Ra

Serenada Senja, seorang gadis di penghujung 30. Dia ingin melarikan diri dari situasi kantor yang membuatnya stress sekaligus menghindari satu orang yang selalu mengejarnya. Juga desakan orang tuanya untuk segera menikah.

Nada mendapatkan keinginannya itu aetelah beasiswa S2-nya disetujui. Namun, pelariannya kali ini malah membuat Nada bertemu masalah baru.

Narendra, teman dekat yang sekaligus naksir Nada, membuat situasi semakin sulit untuk gadis itu. Dia pun harus berhadapan dengan Agam Alfiansyah, dosennya yang killer.

Situasi itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendekati Nada. Walau gadis itu terang-terangan menolak. Sampai akhirnya satu kejadian mengubah seluruh persepsi Nada. Bahwa takdir itu yang menentukan sisa cerita.

***


Season 2

Setelah Serenada mau membuka hatinya untuk Agam Alfiansyah, apakah akhirnya di bisa mendapat gelar sebagai Nyonya Agam?

***
Season 3

Setelah menikah, kesibukan Agam dan Nada makin bertambah. Apalagi mereka terpisah jarak. Akankah mereka segera menimang buah hati? Atau malah tersibukkan oleh aktivitas masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Truth

Jika bukan karena terpaksa, aku tidak akan berurusan dengan Neva. Sialnya si Mario yang ember itu bergerak lebih cepat. Ia menghubungi Neva dan menceritakan semua masalahku dengan Rendra. Memang maksudnya baik, tapi ada kecanggungan harus serumah dengan fans berat Beruang madu itu.

Setelah pusing berputar-putar dan putus asa karena tidak ada yang cocok, takdir membawaku ke rumah kontrakan Neva. Kebetulan lokasinya cukup dekat dengan kampus dan teman serumahnya sudah pindah sebulan yang lalu karena lulus.

“Nad, dengerin aku! Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman,” ujar Mbak Milla kala itu. Iya sih, Rendra tidak akan mungkin mengira aku serumah dengan Neva. Kecuali gadis centil itu membocorkannya.

Namun Neva yang juga kaget mendengar cerita Mario tentang kami, rupanya benar-benar ikut tertampar dengan kelakuan pujaannya itu. Bahkan ia menyesal dan mengakui sempat terpengaruh Rendra yang menuduhku bermain “nilai” dengan Pak Agam.

Setidaknya, setelah renggang sekian lama kami bisa kembali akrab seperti awal kuliah dulu. Mulai minggu lalu, aku jadi teman serumah Neva. Mbak Milla membantuku pindahan hari itu juga.

Untunglah beban kuliah semester ini tinggal dua mata kuliah pilihan dan proposal skripsi. Jadi aku tidak perlu sering-sering ke kampus, dan bisa menghindari Rendra tentunya. Berangkat kuliah bersama Mario dan Neva cukup membuatku nyaman. Paling tidak mereka ada di pihakku dan tidak akan memberitahukan tempat persembunyianku.

Setelah dua minggu liburan dan menghindari Rendra, tapi hari ini harus kuhadapi juga. Yang penting usai kuliah nanti, aku harus buru-buru meninggalkan kelas begitu bel berbunyi. Namun rencanaku berantakan, kuliah hari ini kosong karena dosennya berhalangan.

“Nad, bisa ngomong sebentar?” Rendra mencegatku di pintu, bahkan mengusir Mario dan Neva yang terlihat ingin turut campur.

Aku masih diam, tidak ingin sedikit pun ingin bicara dengannya tentang apa pun. Namun jika aku pergi sekarang, dia pasti akan terus mengejar. Jadi sebaiknya kuberikan saja waktu untuknya, lalu setelah itu good bye forever.

“Tunggu aku di bawah, Yo,” pesanku pada Mario dengan penuh arti. Ia mengangguk dan menyeret Neva keluar kelas.

“Kamu mau apa?” tanyaku tegas.

Aku duduk kembali di deretan kursi paling depan. Rendra mengambil kursi di sebelahku dan menghadapkannya padaku. Ia duduk. Kubuang pandangan ke jendela, sama sekali tidak ingin melihatnya.

“Maafkan aku, Nad,” ia menghela napas.

Berapa kali lagi kamu harus kumaafkan?

“Mungkin kamu sudah mendengar semuanya dari Agam sialan itu tentangku. Tapi tolong, mengertilah, aku benar-benar sayang sama kamu, Nad. Kamu bikin aku gila. Telepon nggak diangkat, WA nggak dibales.

Bahkan kusamperin ke rumahmu hampir tiap hari, tapi selalu terkunci. Senin kemarin aku ke sana lagi, kata satpam, kamu sudah pindah. Sekarang ketemu di kampus pun, kamu kayak nggak kenal. Aku merana, Nad.”

Masih saja aku enggan menatapnya. Mau mengeluarkan jurus memelas apa lagi dia?

Maaf Ndra, sudah nggak mempan! batinku.

Rendra mengela napas dan menghembuskannya perlahan. “Oke, kuakui, aku dan Mirna memang bertunangan. Tapi ia sudah kuputuskan setelah pertemuan kita itu, Nad. Sueerr!” Ia memegang tanganku. Buru-buru kutepis.

“Maaf, kalau aku harus bohong kemarin. Sebenarnya sudah akan kubatalkan pertunangan itu dari dulu, tapi Mama melarang. Bahkan ia mengancam akan menyakitimu, setelah tahu hubungan kita. Aku ingin sama kamu, Nad. Tapi aku butuh kamu untuk ikut berjuang denganku.” Suaranya bergetar, menyayat hatiku.

Tanpa sadar aku menatapnya. Rendra yang ada di hadapanku ini terlihat sangat berbeda, sangat berantakan. Matanya merah, pipinya yang chubby menjadi agak tirus, dan cambang hitam tak terawat tumbuh menutupi dagunya. Juga rambutnya acak-acakan. Benar-benar tidak seperti Rendra yang kukenal.

Semenderita itukah kamu, Ndra? tanyaku dalam hati.

Matanya nanar menatapku, berkaca-kaca.

“Setelah acara pernikahan kemarin, aku memutuskan Mirna. Ia marah dan mengadu pada Mama,” Rendra tertawa sinis, “Mama juga marah besar, heh, tapi aku tidak peduli,” lanjutnya.

“Stop Ndra! Sudah cukup. Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi,” potongku cepat.

Rendra meraih tanganku dalam genggamannya lagi, kali ini kubiarkan.

“Plis, jangan tinggalin aku seperti Milla, Nad. Aku bisa gila. Aku tahu aku nggak pantas dapetin kamu, tapi aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Nad,” rengeknya.

“Maaf, Ndra. Aku nggak bisa. Aku bukan Milla, dan aku sudah cukup capek dengan masalahku sendiri. Aku ...”

“Pasti gara-gara Agam sialan itu, ya!” bentaknya. “Berengsek!” Rendra melepaskan genggaman tangannya, lalu meninju meja.

“Dengerin aku baik-baik, Nada,” suaranya melembut,” Agam itu bukan orang baik-baik. Dia pernah meninggalkan calon istrinya demi karir, bahkan membatalkan perkawinan seminggu sebelum acara,” lanjutnya.

“Dari mana kamu tahu cerita itu Ndra?” tanyaku heran.

“Hahahahha. Itu sudah rahasia umum. Semua juga tahu kalau Agam itu banyak dikejar-kejar mahasiswi. Beberapa malah mau diajak bermalam demi nilai. Makanya waktu dia memanggilmu gara-gara resume sialan itu, aku sudah khawatir.”

Aku terbeliak mendengarnya. “Sudahlah, Ndra. Kamu jangan keterlaluan memfitnah orang. Mas Alfian tidak seperti itu,” potongku.

“Siapa kamu bilang? Mas Alfian?” tanya Rendra sambil melotot. Aku sampai tidak sadar menyebut Pak Agam dengan panggilan di luar kampus.

“Oh, bukan. Aku salah sebut,” elakku.

“Jadi, kalian sudah punya panggilan sayang sekarang, Hah!” bentaknya.

Tiba-tiba aku menyadari hanya ada kami berdua di kelas, dan juga di lantai lima ini.

“Sudah cukup, Ndra. Aku mau pulang.” Segera aku berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun belum sampai di sana, Rendra mendekapku dari belakang.

Spontan aku memberontak. Kuinjak kaki kirinya lanjut menyikut perutnya. Kupegang tangan kirinya lalu dengan satu gerakan kupuntir ke atas. Setelah pegangannya terlepas, aku beringsut kebelakang punggungya serta memuntir tangannya seperti sikap istirahat.

“Cukup, Ndra. Jangan main-main denganku. Kamu lupa, sama sabuk hitam karateku?”

“I-iya, iya, Nad. Maafin aku.Percaya sama aku, Nad. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara dia. Aku sayang banget sama kamu.” Rendra meringis sambil berjongkok begitu kuncian tangannya kulepas. Sikapnya yang garang menghilang seketika.

Baru saja aku melangkah melewati pintu, kudengar isakan tangisnya. Spontan aku berbalik.

“Pergi saja, Nad. Pergi kamu! Pergi seperti Mila! Aku tahu aku ini tidak berharga. Makanya kamu ninggalin aku, Mila ninggalin aku, bahkan Mama juga ninggalin aku. Kalian semua sama. Cewek berengsek!

Kamu tahu? Aku mati-matian melakukan yang terbaik untuk kalian, tapi itu nggak pernah cukup. Mama nggak pernah puas dengan semua prestasiku, dia minta lebih dan lebih. Mila! Hanya karena aku belum mapan, dia tidak mau menunggu. Dia lebih memilih menerima lamaran pria berengsek pilihan papanya!” Rendra meneriakkan semua itu tanpa jeda. Kini tersengal-sengal napasnya.

“Tenang Ndra, istighfar,” bujukku. Melihatnya terpuruk seperti ini membuatku trenyuh.

“Kamu ... kamu tahu Nadaa? Kamu beda. Sejak mengenalmu, aku sudah berhenti mabuk. Aku berhenti main perempuan. Aku berhenti nge-drug,” ia tersengal-sengal lagi, berkata layaknya anak kecil. Perlahan ia menggulung lengan kaus sebelah kanan.

Oh, god. Ada banyak sayatan di lengannya. Jadi ini sebabnya ia tidak pernah memakai baju lengan pendek. Kalau pun pakai kaus, selalu saja memakai jaket.

”Aku ... aku sudah berusaha jadi orang baik, Nad. Demi ... demi kamu. Aku bahkan tidak berani menyentuhmu,” Rendra terduduk.

“Dua minggu lalu, aku tidak bisa menahan diri. Aku frustrasi melihatmu bersama Agam. Aku tahu, aku akan kalah bersaing dengannya. Akhirnya kuikuti semua mau Mama. Acara ulang tahun si berengsek itu. Bahkan, aku tidur dengan Mirna ... tapi ... sehari setelahnya, aku menyesal. Aku mulai pakai lagi Ren ....” Rendra menghentikan bicara lalu menunjukkan lengan kirinya.

Mataku membulat melihat sayatan berpola, membentuk namaku: SERENADA.

Rendra tertawa, lalu menangis. “Aku manusia kotor, Ren. Aku sadar, tidak pantas untuk kamu. Maafkan aku, Nada ... seandainya saja ... seand—.”

“Cukup Ndra. Kamu butuh pertolongan. Kamu nggak boleh kayak gini.” Kini aku ikut duduk di sampingnya.

Ia menggeleng, “Aku cuma butuh kamu, Nad. Kamu saja sudah cukup.”

Ya Allah, kenapa semua jadi begini? Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Setengah hatiku iba dan ingin bersama Rendra, memberi yang ia inginkan. Namun setengah lagi ketakutan dan ingin melarikan diri dari Rendra.

Akhirnya kuambil hape, dan menelepon Mario. Untunglah ia segera menjawab.

“Kamu di mana?” tanyaku pada Mario.

Rendra menoleh. “Kamu panggil siapa!” bentaknya. Emosinya cepat sekali berubah.

“Aku di lantai empat. Kamu nggak apa-apa kan?” jawab Mario dari seberang.

“Naik ke sini, cepet!” jawabku tidak mengindahkan pertanyaan Rendra.

“Ka-mu! Pang-gil si-apa! Jawab!” teriak Rendra makin kencang.

Aku spontan berdiri dan memasang kuda-kuda. Bagaimana pun Narendra laki-laki, jelas kekuatannya melebihiku. Dalam keadaan emosi, biasanya seseorang memiliki kekuatan lebih. Aku menyadari hal itu dapat mengancam keselamatanku sendiri. Seharusnya aku pergi saja tadi saat ada kesempatan.

Perlahan Rendra berdiri. Tatapan matanya berubah beringas. Posisiku tidak menguntungkan. Aku terjebak dalam kelas, karena Rendra berdiri tepat di pintu masuk.

“Mario!” teriakku melihatnya di belakang Rendra. Ternyata dia tidak sendiri, Pak Agam ikut juga.

“Rendra, stop! Kamu jangan bertindak bodoh,” kata Mario memperingatkan. Namun Rendra tetap melangkah maju mendekatiku.

Aku mundur, dan langkahku terhenti tepat di pojok dinding.

“Bodoh, kamu Nada,” rutukku dalam hati. Seharusnya aku menghindar ke arah meja kuliah, sekarang aku terperangkap.

Akibat terlalu banyak berpikir, tidak kusadari Rendra melompat dan mendekapku. Tangan kanannya menahan leherku dan tangan kirinya merengkuh tubuhku.

Tangan kiriku yang bebas, Reflek mencengkeram lengannya seraya meronta berusaha melepaskan diri. Dengan sisa tenaga kuangkat lutut untuk menyerang daerah pribadinya, tapi tidak berhasil. Rendra buru-buru menahan kakiku dengan kedua lututnya.

“Dasar cewek berengsek!” Rendra mengatakan itu di dekat telingaku sembari mendorong kepalaku dengan keras. Rasa nyeri mulai menjalar dari titik yang terkena hantaman di belakang kepala. Pandanganku mulai kabur. Semua jurus yang kupelajari hilang seketika.

Sedetik kemudian cekikan Rendra di leherku terasa mengendur lalu lepas. Aku terbatuk-batuk, rakus menghirup udara. Dengan pandangan berbayang kulihat Pak Agam tengah mengunci leher Rendra dan menariknya hingga jatuh terjengkang.

Bagai gerakan slow motion, Pak Agam menonjok Rendra tepat di hidungnya. Tak kuat berdiri, aku yang masih bersandar pada dinding merosot sampai terduduk.

“Kamu nggak apa-apa, Ren?” tanya Mario yang segera menghampiri, aku menggeleng. Sakit kepalaku makin berdenyut. Ia membantu berdiri dan memapahku berjalan menuju pintu.

Di sana Neva mematung berdiri di tengah pintu sembari menutup mulut dengan kedua tangannya. Belum sampai menggapainya, nyeri itu datang lagi. Di saaat bersamaan rasanya ada yang meredupkan lampu. Semakin lama semakin redup, lalu semuanya gelap.

*

“... shock ringan ... benturan kepala belakang ... .”

Nyeri itu sudah pergi, hanya rasa tidak nyaman yang tertinggal. Lamat-lamat mendengar aktivitas di sekitar, pandangan mataku pun masih berbayang. Aliran udara dingin terasa menusuk hidung, sangat nyaman dan membuat napasku lega.

Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, terlihat jelas sebuah benda menutup hidungku, masker oksigen. Ruangan ini terlalu terang dan menyilaukan. Lalu terlihat gantungan infus yang selangnya tertambat di tangan kiriku.

Entah berapa lama aku berada di sini. Ingatan tentang kejadian di kelas, kembali.

Bagaimana nasib Rendra sekarang? Siapa yang membawaku kemari? Ingin rasanya aku bertanya tentang semua kejadian tadi.

Namun tanganku masih berat untuk bergerak, bibirku masih susah membuka. Tubuhku lunglai menempel di matras. Mendadak rasa nyeri menyengat, aku berjengit.

“Dia sadar!” ucap seseorang.

Beberapa saat kemudian datang seseorang membuka maskerku dan bertanya.

“Namamu?”

“Na-nada,” jawabku lemah. Tiba-tiba punggungku terasa seperti naik. Kini aku setengah duduk bersandar.

“Bagus!” ucapnya sambil menyenteri mataku. Spontan aku menutup mata, silau.

“Tanda-tanda vital, baik. Berapa?” lanjutnya.

Seorang lainnya memeriksa tekanan darah dengan alat tensi digital. “Sembilan puluh per enam puluh,” jawab suster itu.

Mereka berdua menjauh sambil mendiskusikan sesuatu yang tidak aku mengerti. Lalu tanpa kusadari ada seseorang lagi mendekat.

Pak Agam memegang tanganku seraya tersenyum. Aku terpaku memandangnya. Aliran hangat dari genggaman itu menjalar ke seluruh tubuh. Entah kenapa melihatnya membuatku ingin menangis.

“Mas Alfiaaaan,” panggilku seperti anak kecil dengan air mata berderai. Rasa takut, marah, sakit, capek, dan segala emosi bercampur jadi satu.

“Ssstt, aku disini,” ucapnya menenangkan. Ia mendekat dan mengelus-elus kepalaku. Rasanya ingin menangis. Mas Alfian mendekapku, erat.

Aku menangis sejadi-jadinya.

***

1
Shiren Gibrani. the way
Luar biasa
Chu Shoyanie
Kehilangan banget....
jadinya menggantung ...
Chu Shoyanie
Ah Ridwan....aku padamu😘😭
Chu Shoyanie
Kenapa kamu jadi sebijak ini Ridwan....😭😘
Chu Shoyanie
mas Dian itu gk manja tapi......qute(baca:kiyut),so sweet&smart....👍👍😍
Chu Shoyanie: mas Fian maksudnya ya....🙏🤭
total 1 replies
Chu Shoyanie
sudah sepatutnya Nada mulai mencintai sangat sm Mas Fian....apalagi ketika sedih krn kehilangan orang terkasih lagi...
Aku aja yg cm reader suka bgt sm mas Fian mu Nada....😍🤭
Chu Shoyanie
penasaran Mr.Rizky dibilang pengkhianat...🤔👍
Chu Shoyanie
srmoga Nada hamil
Chu Shoyanie
Lebih cintai suamimu Nada...di dunia nyata belum tentu ada suami seperfect Mas Fian...entahlah...🤗
Chu Shoyanie
nah ini yg bikin sebelku ke Nada:gk jjur ma suami,apapn resikonya,jujurlah!
Chu Shoyanie
sblnya Nada:otaknya S2 tp perasaannya SMA...;masa gk tau gelagat orang yg naksir sm dia,apalagi ada pengalaman jalan brg ma alm.rendra,trs dl prnh dikejar2 pak Rudi,apalagi skrg dpt suami dosen,baik,sopan,cinta bgt,eu cm ditanggapi:akan berusaha mencintai,bkn berusaha lg tp tegaskan bhw skrg mas Fian itu suami dunia akhiratmu Nada....
masa sm cwo mentah model ridwan aja gk keukur Nad😔
Chu Shoyanie
Gak tau sebel aja kl ada adegan\dialog\monolog Nada yg kurang menghargai rasa cinta yg dimiliki Mas Fian...makin +umur tuh makin bijak dong Nada....hadeuhhhhh🤔🤐
Chu Shoyanie
sebel sm Nada,gk bisa bilang nunggu suami jgn pakai seseorang?!itu pemicu ridwan makin "berani"!,jgn gt dong Nada...msh pgn klhtn gadis ya....
Chu Shoyanie
part ini bikin aku nangis...😭teringat masa lalu...cinta yg sgt kuat perlahan melemah krn LDR&hadirnya WIL...membuat kami (aku&anakku)terhempas dr sisinya... dia lbh nemilih yg haram(dg sgl rupa teror WIL itu pdku) drpd mmpertahankan yg sdh jls halal....
Qadarullaah....membuatku lbh kuat,lbh shabar&lbh ikhlash menjalani kehidupan....
Chu Shoyanie
Seabdainya di dunia nyata ada laki2 yg seperri Agam melamarku,aku akan langsung bersedia menjadi teman sehidup sesurganya ....,Aamiin🤲🤲🤲
Chu Shoyanie
emg beneran ada di dunia nyata org kyk firman???ngeri ih!!!
Chu Shoyanie
kalau aku malah senang ada canpuran bahasa aaingnya,jd aku bisa sambil belajar,makasih thor atas berbagi ilmunya🙏
Chu Shoyanie
ada kisah mistisnya juga ya thor....hebat kamu thor👍👍👍
Chu Shoyanie
aku selalu menantikan komunikasi Agam&Nada....
Chu Shoyanie
di dunia nyata ada ya karakter firman?namanya tak sebagus akhlaknya....syg bgt!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!