SEASON 1
Tentang Azzahra yang memiliki kehidupan rumit dan dicintai banyak laki-laki sampai hampir kehilangan nyawa.
SEASON 2
Tentang kehidupan Azzahra setelah menikah dan kehidupan kakaknya yang telah mendapatkan jodohnya masing-masing. Juga cerita laki-laki yang mendapat cinta tulus dari wanita lain setelah patah hati karena Azzahra.
SEASON 3
Tentang perjuangan cinta Azam dan Aisha dengan anak-anak dari sahabat orangtua mereka.
Penuh suka duka, juga perjuangan yang kuat dan tangguh dari mereka.
***
Ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
🎻🎻 Please tap jempol kalian sebelum membaca...
🔥🔥🔥 Happy Reading all..
Azzahra keluar dari ruang UGD dan melihat kakaknya masih duduk di kursi tunggu. Azzahra mengajak kakaknya untuk masuk ke ruangan pribadinya.
Mereka duduk di sofa yang berada di ruangan itu.Hening di antara keduanya karena tidak ada yang mau memulai bicara.
Akhirnya Azzahra memecahkan keheningan di antara mereka dengan cara berlutut di depan kakaknya.
Kak Arvie yang melihat itu di buat bingung dengan perbuatan adiknya. Dia langsung menyuruh Azzahra berdiri.
"Apa yang kamu lakukan De, cepat berdiri jangan berlutut di depan kakak." Perintah Kak Arvie sambil memegang kedua sisi bahu Azzahra untuk membantunya berdiri tapi Azzahra tidak mau.
Azzahra malah menunduk sambil meminta maaf kepada kakanya.
"Kak Arvie maafin Azzahra, Azzahra nggak bisa bersikap dewasa, Azzahra ceroboh, Azzahra bodoh karena tidak bisa menguasai emosi Azzahra." Azzahra berhenti sebentar kemudian melanjutkan ucapannya."Kak Azzahra udah bikin Faza kecelakaan Azzahra telah berdosa karena durhaka kepada Kakak, maafin Azzahra Kak, dan tolong hukum Azzahra, Azzahra menyesal Kak karena Azzahra berbuat tanpa pikir panjang." Air mata mengalir dari netra indahnya.
"Apa yang kamu katakan memang benar De, kamu ceroboh kamu bodoh dan kamu masih anak kecil." ucap Kak Arvie sambil menatap lekat adiknya yang menunduk itu.
Azzahra hanya diam, dia akan mendengarkan kakaknya.
"De, tapi kakak lebih bodoh dari kamu, kakak yang lebih tua seharusnya bisa mendidik kamu, bisa memberi contoh yang baik kepadamu, tapi karena kakak egois dan menutupi masa lalumu, kamu jadi seperti ini, kalau seandainya kakak dan juga Abi, Umi tidak membohongimu mungkin kehidupanmu akan lebih baik dari dulu." ucap Kak Arvie lagi.
Kak Arvie berjongkok di depan Azzahra, mengangkat dagu Azzahra agar menatap matanya. Azzahra memejamkan matanya dia tidak mau kalau harus melihat mata Kak Arvie karena dia tau kalau dia menatap mata kakaknya yang dia lihat di sana hanya tatapan penuh kasih sayang dan perlindungan.
"Buka mata kamu sayang!" perintah Kak Arvie dengan lembut.
Azzahra menggelengkan kepalanya, dia tidak sanggup untuk melihat wajah kakanya.Air mata masih mengalir deras di pipi Azzahra. Kak Arvie mengusapnya dengan ibu jari tangannya.
"Sayang ayo buka matamu dan lihat kakak!" ucap Kak Arvie lagi.
Azzahra menolak tapi tubuhnya tidak, matanya perlahan terbuka, dilihatnya wajah tampan sang kakak, Azzahra menatap lekat mata kakaknya.
Azzahra langsung menghambur ke dalam pelukan kakaknya, dia memeluknya sangat erat kemudian membenamkan wajahnya di dada sang kakak.
Isak Azzahra semakin keras, bahkan kini tubuhnya sedikit terguncang, rasa kecewanya menguap begitu saja, dia tidak bisa jika harus berlama-lama kecewa dengan kakaknya, rasa sayangnya lebih besar dari rasa yang lain.
"Sayang, kakak berjanji akan menceritakan semua masa lalumu, tapi kakak mohon jadilah Azzahra yang lebih baik lagi, yang pandai menutupi semua perasaanya yang sudah di tebak orang lain. Kakak ingin melihat kamu yang kuat dan dingin seperti biasa, kakak tidak ingin kamu lemah."
Azzahra menganggukan kepalanya yang masih bersandar di dada kakaknya.
🍁🍁🍁
Di ruang VIP tempat Faza, Dokter dan perawat yang memindahkan Faza telah pergi dan kini di dalam ruangan itu hanya ada Kak Arta dan Faza.
Kak Arta duduk di kursi tepat di samping adiknya, Kak Arta menggenggan tangan sebelah kanan Faza yang tidak ada selang infusnya.
"Faza bangunlah, jangan membuat kakak khawatir, jika kamu tidak bangun kakak akan mengatakan kepada papa dan mama."
Kak Arta meneteskan air matanya, dia sangat sedih ketika melihat adiknya yang selalu kurang ajar dengannya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Faza membuka satu matanya, dan tersenyum tipis saat melihat kakaknya menangis kemudian Faza kembali menutup matanya.
"Mana Faza yang kurang ajar sama kakak, katanya jago tapi kok nggak sadar-sadar juga."ucap Kak Arta sedih.
Sebenarnya Faza belum puas mengerjai kakaknya,tapi karena merasa kasihan akhirnya perlahan Faza membuka matanya, dia sebenarnya sudah sadar dari tadi tapi dia bermaksud untuk mengerjai kakaknya, ternyata kakaknya perhatian juga hehe.
"Apa Kak Arta tetap akan mengadukan kepada papa dan mama?"ucap Faza sambil tersenyum.
"Kamu sudah sadar, kenapa tidak bilang kalau kamu mau sadar." ucap Kak Arta langsung menghapus air matanya.
"Kakak jangan bodoh, bagaimana mungkin aku bilang jika akan sadar, apa aku harus bilang seperti ini 'Kak, aku mau sadar' kan itu sangat aneh." ucap Faza menang kakaknya yang sudah kembali ke sikapnya.
"Jangan ulangi lagi, aku tidak menyukainya." ucap Kak Arta menatap tajam adiknya.
"Kak, tidak akan ada yang tau jika aku akan mengalami kecelakaan." ucap Faza.
"Ini semua salah Azzahra, jika dia tidak kabur dari rumah pasti kamu tidak akan kecelakaan." ucap Kak Arta.
"Kenapa Kakak jadi menyalahkan dia, dia tidak terlibat sama sekali dalam kecelakaan yang terjadi padaku."
"Tapi ini memang salahnya."
"Kak, ini sudah di atur oleh Tuhan, jangan menyalahkan orang yang tidak bersalah."
"Kenapa kamu membela dia Faza, dia sudah membuat kamu terluka seperti ini, apa kamu menyukainya?" bentak Kak Arta.
"Kenapa Kakak berpikir kalau aku menyukai Azzahra, bahkan aku sendiri tidak pernah berpikir untuk menyukainya, jika selama ini aku selalu posesif dengannya, itu karena aku menggap dia sebagai adikku, tidak lebih." balas Faza.
"Tcih... aku tidak akan termakan penjelasanmu."
"Kakak, aku tidak menyangka jika ternyata kamu orangnya saat egois." ucap Faza.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau kakak egois, lihatlah Faza! Azzahra pergi dari rumah dan merepotkan kita, kalau kamu tidak mencarinya semua ini tidak akan terjadi." maki Kak Arta.
"Tapi dia pergi karena dia sedang emosi Kak, dia hanya ingin menenangkan hatinya, aku sangat mengenalinya Kak. Kenapa Kakak masih saja terus menyalahkannya, padahal dia juga tidak meminta kita mencarinya, itu semua kemauan kita sendiri, jadi jika terjadi sesuatu kepada kita, itu bukan salah dia." Faza masih terus tidak terima jika kakaknya menyalahkan orang lain.
"Terserah kau saja, aku akan pergi." Kak Arta berjalan keluar dari ruangan Faza.
Faza hanya melihat kakaknya yang sudah pergi dari ruangannya.
🍁🍁🍁
Saat keluar dari ruangan Faza, Kak Arta berpapasan dengan Kak Arvie dan juga Azzahra.
Azzahra tersenyum kepada Kak Arta namun Kak Arta tidak membalas senyuman itu dan malah melirik Azzahra sinis.
"Kak Arta pasti marah banget sama aku." batin Azzahra.
"Faza udah sadar belum bro?" tanya Kak Arvie mengalihkan perhatian Kak Arta.
"Udah." jawab Kak Arta singkat.
"Lo mau ke mana?"
"Mau pulang, males gue ngurusin adik gue yang keras kepala." ujar Kak Arta kemudian langsung berlalu meninggalkan mereka.
"Kenapa sih tu anak, nggak biasanya sikapnya kaya gitu." gumam Kak Arvie kemudian menarik tangan Azzahra agar ikut masuk menemui Faza.