Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Dia pun memutuskan untuk membersihkan diri, setengah jam kemudian dia keluar dari kamar mandi dan Eunbie tetap tidak ada. Ayana langsung mengambil ponselnya, dan ternyata mati. Dia pun menunggu ponselnya itu menyala setelah beberapa saat di cas, sambil menunggu Ayana masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil pakaian tidurnya.
“ Lho, baju sama barang-barang Eunbie kok nggak ada..?” Dia juga membuka lemari satunya dan koper pink milik gadis itu juga tidak ada.
Ayana langsung berlari mengambil ponselnya dan melihat ada satu chat masuk dari nomor Eunbie. Ayana mencoba menghubungi nomor tersebut namun tidak aktif.
“ Ya Tuhan.. Eunbie kenapa..?”
Ayana terdiam di atas tempat tidur sambil membaca lagi chat dari sahabatnya itu. Gadis itu langsung mencari kontak Zayan, namun belum juga dia menekan nomor cowok itu, Zayan sudah menghubungi dia.
“ Sayangggggg…!!” teriak Ayana setelah menekan tombol hijau.
“ Astaghfirullah Ay.. kamu kenapa teriak..?” Cowok itu mendumel sambil menjauhkan ponselnya.
“ Eunbie pergi…”
“ Hah? Maksudnya pergi gimana?” tanya Zayan bingung.
“ Eunbie nggak ada di kamar nya dan semua pakaian beserta barang-barang nggak ada di dalam lemari.”
“ Eh, bentar sayang..” Zayan merespon seseorang.
“ Yan.. Zayan..” panggil Ayana karena tidak ada sahutan dari cowok itu.
“ Aku ke tempat kamu sekarang…”
Telepon pun di matikan, Ayana masuk lagi ke dalam walk in closet karena dia masih mengenakan bathrobe. Selama menunggu Zayan datang dia coba memperhatikan kamar mereka, lalu dia melihat di meja rias ada surat berwarna putih.
Surat itu ada dua, untuknya dan Nasha satu lagi untuk Fattan. Dering ponsel mengalihkan perhatian Ayana. Zayan ternyata sudah datang, dia pun bergegas turun ke bawah.
“ Sayang, coba jelasin maksud omongan kamu tadi..” tanya Zayan setelah mereka duduk di ruang tamu.
“ Tadi pas aku masuk kamar, Eunbie nggak ada di kamar, aku panggil nggak nyaut juga.. Aku pikir dia lagi di bawah atau di dapur tapi sampai aku selesai mandi dia tetap nggak ada terus aku liat lemari pakaian dan barang-barang dia udah nggak ada.”
“ Apa terjadi sesuatu waktu kalian pulang tadi..?” selidik Ayana sambil menatap wajah Fattan.
“ Ay.. nggak usah natap cowok lain kaya gitu.” dumel Zayan.
“ Ish, cemburu nggak tau tempat..” ucap Ayana.
“ Jawab Fattan, gue nanya lo nih.” cecar Ayana.
Fattan menghembuskan nafasnya, “ Iya, kami sempat ribut..”
“ Ini ada surat buat lo dari Eunbie..” ucap Ayana memberikan surat berwarna putih itu.
Fattan membuka surat itu lalu membacanya, dia membaca perlahan tiap kata yang di tulis oleh gadis itu. Terlihat jelas perubahan raut wajah Fattan, wajah keterkejutan dan rasa bersalah. Cowok itu menutup surat di tangannya lalu menghembuskan nafas yang saat ini terasa sesak.
“ Lo bisa kasih tau Dave itu siapa..?” tanya Fattan pada Ayana.
“ Kenapa lo pengen tau Dave? Apa kalian ribut gara-gara Dave..?” Fattan pun mengangguk.
Ayana mendengus, “ Denger gue ki sanak.. Dave itu teman kita di Jepang, kita udah temenan dari SMA, dia itu emang playboy ulung yang suka ngerayu cewek termasuk ke kita bertiga tapi karena kita udah kenal dia kaya gimana jadi nggak pernah di tanggapin, paling kalau lagi ikutan konyol kaya dia kita suka ngerespon candaan dia tapin nanti akhirnya kita ketawa ngakak.”
“ Gue nuduh dia punya hubungan sama Dave karena gue udah dua kali denger pembicaraan mereka di telepon walaupun gue dengernya dari pihak dia doang.”
" Lo nggak tanya langsung sama Eunbie..?” ucap Zayan.
“ Kagak, gue ambil kesimpulan sendiri.” ucap Fattan jujur, dia langsung dapat timpukan bantal sofa dari Ayana.
“ Sayang, temen kamu dodol banget ampun dah..” gemes Ayana.
“ Terus gimana gue minta maaf kalau dia udah pergi kaya gini…?”
“ Gue nggak mau nakutin lo ya Tan, Eunbie pasti maafin lo tapi gue nggak bisa jamin dia bakal sama lagi sikapnya ke lo.. Dia tipikal orang yang akan diam kalau udah kecewa banget dan dia itu orangnya pendendam yang akan selalu ingat kesalahan orang lain.”
Fattan menelan saliva dengan susah payah seakan di tenggorokannya ada benda yang mengganjal.
“ Udah sekarang kalian pulang sana, gue mau tidur..” usir Ayana.
“ Jahat banget pacar sendiri di usir..” cibir Zayan.
“ Nggak usah drama Yan.. langsung pulang ya, awas kalau ngayap lagi.”
Fattan dan Zayan pasrah mengikuti kemauan Ayana, dia juga bingung harus bagaimana. Mau nyusul ke bandara juga tidak mungkin, tidak ada yang bisa di lakukan. Fattan akan menunggu kabar gadis itu dari kedua sahabatnya.
Keesokkan harinya Zayan sudah tiba di depan pagar rumah Nasha, cowok itu akan menemani Ayana ke rumah sakit.
“ Kalau kita kasih tau Nasha kira-kira gimana?” ucap Ayana setelah duduk di samping kemudi.
“ Kita liat kondisi Nasha dulu aja, tapi kalau nggak di kasih tau Nasha pasti tanyain Eunbie.”
“ Temen kamu yang dodol kemana..? Dia datang ke rumah sakit juga..?”
“ Kamu ngapain nanyain Fattan…?” sinis Zayan.
“ Astaga Yan.. udah cepet jalan..” omel Ayana.
Ceklek..
“ Pagi Ibu hamil…” ucap Ayana.
“ Hai Ay, kalian cuma berdua..? Eunbie mana?” tanya Nasha.
Ayana dan Zayan saling tatap, benar kan dugaan mereka kalau Nasha akan menanyakan Eunbie.
“ Gimana kondisi lo Sha..? kapan udah boleh pulang..?” Ayana mencoba mengalihkan.
“ kalau cairan intravena udah abis, hari ini gue udah di bolehin pulang.” jawab Nasha.
“ Sha, ada yang mau gue bilangin soal Eunbie..” ucap Ayana.
“ Iya, Eunbie kenapa?”
“ Eunbie udah pulang ke Jepang semalam, ini ada surat dari Eunbie buat kita..” Ayana memberikan surat yang sama seperti milik Fattan.
“ Maksud gimana..? Kok pulang duluan..? Kenapa nggak pamit sama gue..?” cerocos Nasha.
“ Sayang sabar.. Coba kamu baca dulu surat dari Eunbie.” ucap Arfan sambil membelai punggung istrinya.
Nasha pun membuka surat itu, dan mulai membacanya. Dia mengernyit lalu menatap Ayana lalu meneruskan membaca sampai akhir.
“ Lo bisa jelasin maksud surat ini Ay..?” tanya Nasha.
“ Eunbie mutusin buat pulang ke Jepang semalam setelah ribut sama Fattan, cowok dodol itu nuduh Eunbie punya hubungan sama Dave tanpa konfirmasi langsung ke Eunbie.”
“ Papa, teman kamu dodol bener kata Ayana..” omel Nasha.
“ Nah, kan udah dua orang ngatain lo dodol Tan..” gumam Zayan.
“ Lo udah coba telepon nomor ponselnya, dia pasti udah nyampe sekarang.” tanya Nasha.
“ Semalam gue langsung telepon setelah liat lemari dia kosong, tapi nggak aktif.. Kalau sekarang gue belum coba lagi.”
“ Papa, siniin ponsel aku..” Nasha langsung mencari kontak Eunbie, sama seperti semalam nomor itu masih nggak aktif.
“ Nggak aktif.. Terus gimana sekarang?”
“ Hari ini gue mutusin buat pulang, gue makin khawatir kalau dia nggak ada kabar kaya gini.” ucap Ayana membuat Zayan menoleh pada gadis itu.
“ Kamu nggak bilang kalau mau pulang hari ini..” ucap Zayan.
“ Ini aku ngomong, kamu udah denger kan..?” jawab Ayana polos.
Zayan hanya bisa menggeleng, untung gue sabar.. Untung gue sayang.
Ayana dan Zayan akhirnya tetap di rumah sakit sampai Nasha di izinkan pulang oleh dokter. Gadis bar-bar itu semangat menebak jenis kelamin anak Nasha karena sampai hari ini Nasha dan Arfan belum mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Fattan akhirnya datang setelah sebelumnya Zayan menghubungi cowok itu atas permintaan Nasha. Cowok itu terlihat masih mengantuk dengan mata panda yang nampak di wajah tampan itu.
“ Ini nih tersangka kita datang juga.. Kalau endingnya kaya gini, dari awal aja nggak gue izinin lo deketin sahabat gue.” dumel Nasha.
“ Sayang, tenang… kita pesen makanan yuk, kamu mau apa? Es krim, banana roll cake atau burger cheese sama kentang goreng?” ucap Arfan mengalihkan emosi istrinya itu.
“ Pesenin semua di tambah waffle sama sop buah..” ucap Nasha, dia masih menatap tajam Fattan.
“ Sha, jangan lupa bilang amit-amit.” ucap Ayana.
“ Coba lo jelasin ke gue kejadian lo ribut sama Eunbie.. Nggak usah pake bohong.” cecar Nasha.
Fattan pun akhirnya menceritakan keributan di mobil sewaktu mengantar Eunbie pulang kemarin. Eunbie yang sadar dengan perubahan sikapnya sampai saat dia menolak penjelasan dari gadis itu.
Nasha reflek melempar bontal boneka ke arah Fattan. “ Lo harus tau Tan, Eunbie selalu cerita kalau dia senang dengan kedekatan kalian.. Dia juga senang karena ada yang kasih perhatian selain dari gue dan Ayana. Dia udah merasakan rasa sakit dari kecil semenjak perpisahan kedua orang tuanya, dan dia berubah menjadi gadis yang susah untuk terbuka jika bukan dengan teman dekat dan lo orang pertama yang bisa bikin dia dengan mudah membagi kebahagiaannya ke orang lain.”
Perasaan bersalah yang di rasakan Fattan semakin menjadi setelah mendengar ucapan Nasha.
“ Jujur sama gue, apa rasa sayang sudah ada di hati lo selama kalian dekat..?” ucap Nasha.
“ Gue nggak tau Sha.. selama kita dekat gue nyaman sama dia. Dia bisa menjadi pendengar dan merespon cerita gue dengan baik, entah rasa kagum atau emang sayang, gue belum bisa bedain tapi setelah gue baca surat yang dia kasih semalam, gue ngerasa kehilangan.”
Nasha menghembuskan nafasnya sedangkan Ayana memutar bola matanya.
“ Itu sayang namanya dodol…” ucap Ayana.
Sedangkan Arfan dan Zayan saling tatap lalu menggelengkan kepalanya. “ emang bener dodol..” geram Zayan.
TBC…!!
penasaran aku