Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintai Aku Dengan Caramu
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Namun Jessica masih tetap terjaga. Berkali-kali ia mencoba untuk menutup matanya tapi hasilnya selalu nihil. Dan pada akhirnya, karena bosan, ia pun berjalan menuju balkon kamar.
Jessica melihat salju tengah turun. Gadis itu mengulurkan tangannya dan membiarkan salju itu mendarat diatas telapak tangannya. Jessica tersenyum tipis. Entah sejak kapan Jessica menjadi begitu menyukai salju, padahal dulu dia sangat membencinya.
Malam ini langit terlihat lebih gelap dibandingkan malam-malam sebelumnya. Hawa dingin yang berhembus menyentuh kulit wajah sampai menusuk ketulang. 'Padahal musim dingin belum sampai puncaknya tapi kenapa malam ini begitu dingin.' Batin Jessica karena suhu udara yang terus menurut ketika malam tiba.
"Kenapa belum tidur?!"
"Omo!! Siapa itu?" Jessica terlonjak kaget karena teguran seseorang. Sontak ia menyapukan pandangannya dan tidak melihat keberadaan siapa pun.
"Apa aku hanya berhalusinasi? Aku yakin jika aku mendengar suara, Ken. Yaaa, pasti itu karena aku masih sangat merindukannya. Jadi aku terus mendengar suaranya." Ujar Jessica dengan mimik wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
Dan hal itu membuat sosok pemuda yang sedari tadi berdiri di ambang pintu penghubung antara kamar dan balkon mendengus geli. Ken beranjak dari posisinya lalu berjalan menghampiri Jessica.
"Dasar bodoh, tentu saja kau tidak sedang berhalusinasi. Aku memang ada di sini." Ucap Ken sambil menyandarkan dagunya pada bahu kanan Jessica.
Jessica tersenyum. "Jadi aku tidak sedang berhalusinasi?"
"Tentu saja tidak, karena aku memang nyata, Sayang." Ken melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Jessica, posisinya dan Jessica kini saling berhadapan. Ken tersenyum tipis."Lihatlah betapa cantiknya dirimu, Jess. Pantas saja jika aku begitu tergila-gila padamu." Ujar Ken sambil membelai pipi Jessica dengan jari-jari besarnya.
Jessica tersipu. Gadis itu membuang muka ke arah lain. Kemana saja asalkan jangan mata Ken. "Berhentilah menggombal, Ken Zhang. Kau membuatku malu saja." Ucapnya tersenyum.
Ken menyentuh dagu Jessica, memaksa gadis itu menatap padanya. Kedua mata berbeda warna mereka saling bersirobok dan saling mengunci. "Aku mengatakan yang sebenarnya, Jess. Dan aku hampir gila karena merindukanmu. Dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu jauh lagi dariku." Tuturnya.
Jessica tersenyum. Gadis itu maju dua langkah dan kemudian memeluk Ken. "Kalau begitu jangan pernah lepaskan aku apapun yang terjadi. Karena aku juga tidak ingin jauh lagi darimu." Ujarnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ken.
"Tidak akan, untuk itu menikahlah denganku." Pinta Ken.
Ken melonggarkan pelukannya. Matanya kembali mengunci mata Jessica. Gadis itu tampak berkaca-kaca. "Bagaimana jika aku sampai menolak?"
"Maka aku akan memaksamu." Jawab Ken kemudian mengecup singkat bibir tipis Jessica.
"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku sampai kabur dan melarikan diri?" Jessica memainkan jari-jarinya di atas benda hitam yang menutup mata kiri Ken.
"Maka aku akan mencari dan menemukanmu." Jawab Ken. "Ayo kita menikah, Jess. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dan jauh lagi darimu."
Jessica tersenyum miris. "Astaga, sebenarnya kau ini ingin mengajakku menikah atau bermain monopoli sih? Masa iya tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Setidaknya bawakan aku bunga jika ingin melamarku."
Ken merogoh saku celananya dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya lalu menyematkan pada jari manis Jessica. Dan sebuah cincin berlian bertengger cantik di jari manis gadis itu.
"Ken," seru Jessica dengan mata berkaca-kaca.
"Aku serius dengan perkataanku, Jess. Dan aku sungguh-sungguh ingin menikahimu." Ucap Ken sambil mengunci sepasang mutiara hazel milik Jessica.
Gadis itu sungguh tidak kuasa menahan air matanya. Tanpa mengatakan apapun, Jessica berhambur ke dalam pelukan Ken, dia terlalu bahagia, saking bahagianya sampai-sampai Jessica tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ken mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jessica. "Apa itu artinya kau menerima lamaranku yang tidak romantis ini?" Ken melonggarkan pelukannya dan menatap gadis dalam pelukannya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Jessica mengangguk. "Tentu saja aku menerimanya." Jessica menakup wajah Ken dan mengunci manik kanannya. "Kau tidak perlu menjadi orang lain untuk mencintaiku. Cintai aku dengan caramu, bukankah kebih baik menjadi diri sendiri." Jessica tersenyum tipis. Kembali Ken membawa Jessica ke dalam pelukannya.
-
Sang surya mulai menampakkan wujudnya. Udara pagi masih terasa sejuk. Embun-embun masih timbul di dedaunan. Biasanya, orang-orang masih terlelap dengan tidurnya. Tapi tidak dengan gadis cantik satu ini. Jessica sudah bangun dan berdiri di ambang jendela kamar nya.
Semilir angin musim dingin menyapanya dengan lembut. Daun-daun kering yang berguguran di tanah ikut terbang terbawa angin, menghiasi kanvas biru yang ada diatas sana sambil ditemani oleh cahaya mentari yang begitu hangat.
Udara pagi ini tidak sedingin pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena sang mentari bersinar lebih terang dari biasanya. Di tambah lagi dengan suasana hati Jessica yang sangat baik membuat lagi ini terasa berbeda.
Tokk... Tokk... Tokk...
Ketukan pada pintu kamar sedikit menyita perhatiannya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pelayan datang menghampirinya.
"Nona, tuan muda ingin supaya Anda segera bersiap. Beliau sudah menunggu Anda di bawah. Dan beliau berpesan, supaya Anda memakai pakaian yang telah beliau persiapkan." Ujar pelayan itu.
Jessica mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi." Pelayan itu membungkuk kemudian melenggang meninggalkan kamar yang di tempati oleh Jessica sejak semalam.
Jessica membuka kotak merah yang ada di atas tempat tidur. Sebuah gaun cantik berbahan brukat dan berhias Tiara terlipat rapi di dalam sana. Jessica mengeluarkan gaun tersebut lalu menempelkan pada tubuhnya. Gaun itu begitu indah dan sesuai dengan seleranya.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Jessica segera meninggalkan kamar. Dari arah tangga dia melihat seluruh keluarga Zhang dan keluarga Kim tengah berkumpul di meja makan termasuk Ken.
Pemuda itu terlihat tampan dengan pakaian formalnya. Kemeja putih yang di bungkus Vest hitam, dia tetap terlihat tampan meskipun tanpa jasnya.
Jessica mengambil nafas panjang dan menghelanya. Ia mencoba menekan kegugupannya dengan bersikap setenang mungkin. Dan setelah di rasa mulai tenang. Jessica menghampiri kedua keluarga itu dan bergabung bersama mereka untuk menyantap sarapannya.
.
.
Usai sarapan. Ken langsung mengajak Jessica pergi ke suatu tempat. Ken sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini dan menyerahkan pekerjaannya pada asisten pribadinya.
Jessica menyernyitkan keningnya saat Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah Boutique yang hanya menyediakan gaun dan setelan jas pernikahan. Dengan ragu, Jessica menerima uluran tangan Ken setelah laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Ken, untuk apa kita datang ke sini?" tanyanya bingung. Jessica menatap Ken dengan sejuta pertanyaan yang terpancar dari sorot matanya yang teduh.
"Menemukan gaun pernikahan untukmu!" jawab Ken santai.
"Apa?" dan membuat Jessica kaget, garis itu membelalakan matanya. "Ja-ja-di maksudmu kita---?"
"Aku akan menikahimu hari ini juga, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Jess. Dan satu-satunya cara agar kita bisa selalu bersama adalah dengan menikah!" tutur Ken menjelaskan.
Jessica membekap mulutnya dan menatap Ken dengan mata berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jessica tau jika Ken memang akan menikahinya. Tapi Jessica tidak tau jika Ken akan menikahinya secepat ini.
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt