Halsey Diana, itu namaku sebenarnya aku cukup dini untuk menikah karena aku baru saja beranjak usia 17 tahun dan aku juga masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester akhir. Bukan, bukan aku bukan hamil duluan seperti kebanyakan dari pernikahan dini.
Aku menikah dengan seorang pria 15 tahun lebih tua dariku, aku ingatkan kembali aku menikah bukan karena hamil atau jadi simpanan om-om namun ini karena perjodohan orang tuaku.
Tapi, mampuhkan aku bertahan didalam pernikahan dengan pria 32 tahun itu. Aku atau dia yang akan gagal mempertahankan pernikahan ini atau pernikahan ini akan berhasil sampai aku menua dengannya.
Ayo lanjutkan membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safira a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Hari ini aku dan mas Irwan balik ke Jakarta setelah 3 hari menginap di Bandung. Sedangkan Anka anak itu masih tinggal disini permintaan ibu mertuaku begitupun anak itu yang masih ingin mengenang sang Oma tercinta.
"Anka disini baik-baik yah, nanti setelah urusan sekolah kakak selesai kakak akan segera kembali" ucapku sambil menciumi wajah anak itu. Mas Irwan yang juga berada di sisiku dia mengusap pelan kepala anak itu entah itu sandiwara atau bener-benar tulus dari pria itu. "Oh iya ingat yah jangan nyusahin nenek, jadi anak baik seperti biasanya" ucapku sekali lagi sambil mengusap kepala anak itu, Anka tersenyum walau dimatanya masih ada kesedihan yang mendalam, saat aku akan berdiri dari setengah jongkok ku anak itu mencium pipiku.
"Kakak juga jangan sering nangis yah, jaga kesehatan Anka bakalan nunggu kakak" Anka sempat berbisik di awal kalimat sebelum dia mengucapkan dengan lantang. Semua keluarga menatap ku kaget karena kedekatan ku dengan Anka.
"Ayah, mah kami pamit" ucap mas Irwan berpamitan dengan orang tuanya dan anggota keluarga yang lainnya.
"Hati-hati di jalan" kami hanya mengangguk menimpali ucapan semua keluarga.
****
Selama perjalanan pulang hanya di temani oleh suara radio yang menjadi pemecah keheningan didalam mobil ini. "Terkadang mengerti pasangan itu paling sulit, iya nggak bro ?" Suara penyiar radio itu membuatku tertarik dan mendengarkannya.
"Kadang nih, pacar gue itu misterius nya minta ampun. Kadang baik, kadang marah-marah mulu kerjaannya kadang-kadang juga sok pura-pura lupa sama gue. Kan pusing gua" saut dari teman penyiarnya.
"Tapi, walau begitu mereka itu jadi orang paling perduli untuk kita. Kaya sering ngabarin dah berbagai hal" terdiam. "Kaya dari pasangan ini yang lagi bertengkar dia minta di riques in lagi 'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja" dari sepucuk lavender Vee. Oh ada kata-katanya 'selagi bisa dibicarakan kenapa harus memutuskan sebuah hubungan ? Jika ada masalah bukan berarti gagal ini namanya rintangan yang membuatnya gagal itu ketika kamu malah ingin menyerah sebelum mencoba lebih baik' wih dalem banget nih buat mba lavender nya semangat yah" mas Irwan menatapku begitupun aku yang menatapnya, seakan kami saling terhubung dengan saling tatap.
Aku membuang muka, aku masih kesal dengan ucapan pria itu tempo hari yang mengajak untuk mengakhiri rumah tangga yang sudah kami bangun setengah tahun ini. Yah seperti yang tadi di bilang ini ini sebuah rintangan dalam sebuah hubungan akan adanya pertengkaran jika dengan mudah mengajak mengakhiri maka tidak akan pernah mencapai sebuah finis.
Bentar tadi dari sepucuk lavender Vee ? Vernatta dia yang menggunakan nama itu sebagai penulis sepertinya dia sedang dalam keadaan galau juga takdir sempit juga yah selalu membuat orang-orang merasakan hal sama dalam sewaktu.
*****
Setidaknya aku sudah sampai di rumah sejak 30 menit yang lalu dan yah aku dan mas Irwan tidak langsung ke kamar kami duduk di ruang tengah saling berhadapan sejak tadi namun, tak ada yang memecahkan keheningan di ruangan ini.
"Huaaa" aku pura-pura nguap sambil ngentangin otot-otot aku mas Irwan liatin aku dia diem terus ngusap wajahnya kasar. "Ya sudah sekarang kamu tidur saja" dia terdengar aga kesal sih, aku menggeleng kepalaku.
"Aku nggak bisa tidur mas, kalau belum denger penjelasan dari mas" mas Irwan natap aku lama banget sampe aku salah tingkah sendiri. "Kamu mau dengerin penjelasan saya ?" Tanyanya tanpa pikir lama aku mengangguk. Dia tersenyum kecil "aku mau dengerin penjelasan mas sekarang tapi tolong, jangan bilang kaya kemarin" jujur aja aku sedih kalau inget ucapannya kemarin 'demi kebahagiaan kamu' asal dia tau aja semenjak dia ada di hidupku kebahagiaan ku pindah kepadanya.
"Kemarin yang mana ?" Tanyanya sok tidak tau, ck kalau bisa aku maki aja tapi sayang dia suamiku yang terlanjur membuatku jatuh cinta sama dia.
"Yang ngajakin pisah" ucapku kesal sambil memalingkan wajahku. "Memang kenapa ? Jika itu bisa buat kamu lebih bahagia...." Sebelum mas Irwan menyelesaikan ucapannya aku menatap pria itu tajam "MAS !" Bentak ku, aku bener-bener dibuat panas sama ucapannya nggak enak aja kalau di denger.
Mas Irwan kayanya kaget banget pas aku bentak dia. "Mas bisa nggak sih jangan bahas itu, aku nggak mau denger kaya gitu" entah kenapa mas Irwan malah berbinar-binar dan tersenyum. "Kenapa memang ?" Tanyanya lagi "aku nggak mau pisah sama mas ! Tau nggak sih aku tuh udah jatuh cinta sama mas, jatuh sedalam-dalamnya" aku menarik napas ku dalam-dalam setelahnya aku hembuskan aku baru ngeh sama ucapanku tadi, jadi secara nggak langsung aku udah nyatain cintaku sama dia. Malu-maluin banget sih disaat seperti ini aku malah keceplosan.
Mas Irwan tersenyum lebar banget dan ini pertama kalinya aku liat senyum mas Irwan yang selebar itu. Aku nunduk nggak kuat liatnya malu juga toh aku. Saat aku lagi mainin tanganku di atas pahaku tiba-tiba tangan lebih besar dari tangan aku menggapainya pas aku liat mas Irwan lagi berlutut di bahwa ku.
"Biar saya jelasin sekarang, tapi saya minta kamu jangan kabur lagi yah kaya pas itu" aku mengangguk mengiyakan, sepanjang mas Irwan menjelaskan aku hanya mengangguk. Jadi yang di ucap oleh abay itu benar aku hanya salah paham. Mas Irwan juga menjelaskan siapa ayahnya Anka Dia tau siapa ayah anak itu, tapi dia juga tidak ingin Anka dibawa oleh ayahnya katanya anak baik nggak boleh hidup dilingkungan kejam.
Tapi dia nggak tau kalau perlakuan dia juga pada Anka sedikit kejam.
"Jadi kamu mau maafin saya ?" Tanya pria itu sambil menghapus air mataku yang berjatuhan ke pipiku, yah sepanjang dia cerita aku menangis karena kisah mas Irwan itu sedikit menyedihkan dan menyebalkan. "Maafin saya yah ? Selalu gagal buat kamu tersenyum selama menikah dengan saya kamu banyak nangisnya, maafin saya juga yang nggak bisa jadi pria terbaik seperti dimasa lalu kamu" seketika aku menatap mata mas Irwan bertanya-tanya.
Aku ingin tau apa yang mas Irwan ketahui tentang masa lalu ku, dan bagaimana dia akan menjelaskan padaku tentang dia mencari tau semua itu.
___________________________________________
[Senin, 27 Desember 2021]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
Author : Hai semuanya apa kabar ? Semoga sehat selalu dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa aamiin. Saya cuman mau kasih tahu jika sudah tersedia cerita dari sahabat halsey yaitu Vernatta, bagi yang berminat bisa cari di pencarian dengan kata kunci 'Me and Mr, Akuntansi' jika tidak bisa cari 'Safira A' selaku penulis. tolong kasih review tentang part ini bagaimana agar saya semangat nulisnya.
Terima kasih telah membaca