NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: tamat
Genre:Contest / Cintapertama / Badboy / Chicklit / Tamat
Popularitas:971.2k
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Annisa tidak pernah menyangka akan hidup sebatang kara di usianya yang masih remaja. Ia menjalani kehidupan baru bersama keluarga Adisurya. Sebuah keluarga kaya yang memiliki dua anak bernama Rayhan dan Raydita.
Suatu hari ada yang mengenali Annisa sebagai Nyonya Adisurya di masa remaja. Satu pernyataan yang mulai mengungkap cerita masa lalu yang ditutupi keluarga itu.


Siapa sebenarnya Annisa?

Simak kisah selengkapnya ya...
Selamat membaca.

-----------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengenang masa lalu (1)

Happy reading ....

Adisurya tertegun untuk sesaat. Raut wajah Rianti terlihat gusar menunggu jawabannya.

Pria itu menjatuhkan tasnya sembarang, lalu melangkah mendekat pada istrinya. Dipeluknya Rianti yang menatapnya dengan manik bergetar.

"Mas .... siapa Nisa, Mas?" Rianti mengulangi pertanyaannya.

"Annisa ... dia putri kita, Rianti," ujar Adisurya pelan.

"A-apa? Mas, kamu jangan mengada-ada." Rianti mendorong tubuh suaminya yang masih memeluknya.

Adisurya tidak melepaskan pelukannya. Ia tidak ingin Rianti menolak kebenaran yang ada saat ini.

"Dengarkan Mas, Rianti."

"Tidak. Tidak mau, Mas. Lepaskan! Putri kita itu Dita." Ucapnya sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Adisurya, kemudian membelakangi suaminya hendak melangkah ke luar kamar.

"Dia bayi cacat yang kamu lahirkan hari itu." Kalimat Adisurya seketika menghentikan langkah Rianti.

Adisurya menatap punggung istrinya yang mematung. Pria itu pun kembali memeluk istrinya. Rianti memaksa melepas tautan tangan Adisurya yang melingkar di pinggangnya.

"Dia putri kita, Rianti. Annisa putri kita." Rianti terdiam, merasakan tubuh suaminya bergetar dan terisak di punggungnya.

Cukup lama Adisurya menangis, seakan tangis itu selama ini ia tahan. Tangis pilu karena menyesali sesuatu. Tanpa sadar, Rianti juga meneteskan air mata. Melihat Adisurya yang selalu kuat, kini rapuh dan tersedu.

"Mas, sudah jangan menangis," ucap Rianti sambil mengusap air matanya sendiri.

"Aku malu, Rianti. Aku malu pada diriku sendiri. Aku sudah gagal menjadi ayah untuk Nisa."

Untuk kesekian kalinya, Rianti mengusap air matanya. Ia tidak bisa melihat Adisurya seperti itu.

Rianti membalikkan tubuhnya, mengusap air mata di wajah suaminya. Adisurya menatap wajah Rianti. Berharap Rianti mau mendengarkan kisah pilu putri mereka.

Flashback on

15 tahun yang lalu ....

Adisurya menunggu dengan perasaan berdebar di luar ruang bersalin. Di dalam, istrinya sedang berjuang melahirkan anak keduanya secara normal.

Tak lama Rika menghampirinya dan bertanya, "Apa Rianti sudah melahirkan?"

"Belum, Rika. Ini sudah hampir satu jam, apa sebaiknya aku meminta dokter melakukan operasi caesar?"

"Dokter pasti mengetahui yang terbaik untuk Rianti. Maaf Adi, aku tidak bisa lama. Aku harus menemani adikku yang juga melahirkan hari ini." Ujarnya.

"Adikmu? Siapa? Tidak mungkin Rida," tanya Adisurya. Karena setahunya, Rida belum lama keluar SMA dan Rika tidak punya adik lain selain dia.

Rika tertunduk, menyembunyikan rasa malu. Dengan suara lirih, ia pun menjawab, "Iya, Rida."

Belum sempat Adisurya bertanya lebih jauh, dokter kandungan yang menangani persalinan Rianti keluar. Adisurya segera menghampiri dan merasa aneh melihat ekspresi dokter itu yang sendu.

"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"

"Pak Adi, bisa kita bicara di ruangan saya sebentar?"

Dengan perasaan cemas, Adisurya mengikuti langkah dokter itu. Ia juga menyempatkan untuk menoleh pada Rika yang memberinya tatapan bingung.

"Silahkan duduk, Pak Adi."

"Terima kasih, Dok. Bagaimana dengan kondisi istri saya?" Adi yang mulai merasa cemas ingin segera mengetahui apa yang terjadi.

"Maaf sebelumnya, apa dokter yang rutin memeriksa kandungan Bu Rianti pernah mengatakan sesuatu?"

"Seingat saya tidak. Karena saya sendiri yang selalu menemani istri saya memeriksakan kandungannya, Dok. Memangnya ada apa?" Adisurya semakin cemas. Dokter yang rutin mereka kunjungi sedang cuti dan persalinan Rianti juga satu minggu lebih cepat dari perkiraan.

"Pak Adi, bayi anda ... terlahir dengan kondisi bibir sumbing."

"Apa?" Seketika Adisurya merasa langit-langit di atasnya runtuh menimpanya. Lemas, hatinya benar-benar lemas. Sampai-sampai penjelasan dokter pun seakan tak mampu lagi ia dengar.

Dengan langkah gontai, Adisurya kembali ke ruang bersalin. Namun menurut seorang perawat, Rianti sudah dipindahkan ke ruangannya.

Adi bergegas menyusul. Langkahnya terhenti di depan pintu saat Rianti memekik histeris.

Cepat-cepat Adisurya membuka pintu dan menghampiri. Rianti setengah berlari menghambur dan memeluknya. Istrinya itu seakan tidak perduli dengan kondisinya sendiri.

"Mas, anak kita mana? Mengapa mereka mengatakan itu anak kita? Rianti takut, Mas. Dia bukan anak kita kan?"

Adisurya menatap nanar wajah pucat sekaligus bingung istrinya. Air mata Rianti berderai tanpa ia bisa mengusapnya.

"Sayang ...."

"Tidak, Mas. Itu bukan anakku. Tidak, jauhkan dia dariku, Mas! Pergi kalian, pergi!" Pekiknya.

Para perawat itu saling menatap satu dengan yang lainnya. Mereka bingung karena bayi mungil itu seharusnya menyusu.

Kondisi bayinya membuat kesulitan menyusu dari botol susu. Itu sebabnya, perawat itu meminta Adisurya membujuk Rianti untuk mau menyusui. Walaupun tidak mudah untuk si bayi, setidaknya ASI akan lebih baik walau hanya sedikit yang akan masuk ke dalam mulutnya.

Adisurya dihadapkan pada pilihan sulit. Di ranjang bayi, bayi mungil itu mulai merengek karena lapar. Sementara itu di ranjang Rianti, wanita itu menutup telinganya dengan ekspresi wajah yang ketakutan.

Adisurya mendekati Rianti yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya yang sembap membuat Adisurya merasa tak tega untuk meminta.

"Sayang, coba dulu ya." Ucapnya lembut.

Rianti lagi-lagi hiateris. Jarum imfusan itu dipaksa lepas dan dilemparkannya. Dokter dan beberapa perawat pun masuk, mencoba menenangkannya.

Dengan terpaksa, dokter memberinya obat penenang. Menurut dokter, kondisi Rianti bukan lagi baby blues pada umumnya, melainkan sudah gejala depresi.

Rianti sangat bahagia saat mengetahui janin dalam kandungannya berjenis kelamin perempuan. Tidak hanya menyiapkan perlengkapan bayi perempuan yang serba mahal, bahkan Rianti sudah menyiapkan nama untuk bayinya.

Rianti sudah tak sabar ingin segera melihat wajah mungil bayinya yang lucu. Dan saat ini, saat Rianti melihat kondisi bayinya yang tidak sempurna, ia sangat kecewa.

Di depan ruangan, Adisurya berkali-kali mengusap kasar wajahnya. Suara langkah seseorang memaksanya menoleh dan membuang pelan nafasnya.

"Adi, bagaimana keadaan Rianti?"

"Kamu lihat saja sendiri, Rika. Aku bingung harus berbuat apa."

Rika melihat ke dalam. Rianti masih dalam pengaruh obat penenang.

"Aku turut prihatin dengan kondisi putrimu. Rianti pasti sangat terpukul."

"Begitulah. Bagaimana dengan Rida?"

"Rida ada di ruangannya. Dia melahirkan anak perempuan yang sangat lucu. Namun sepertinya, aku akan menitipkan ke panti asuhan. Aku tidak bisa membuat ibuku kecewa, Adi. Kau tahu kan, ibu punya riwayat sakit jantung? Selama ini, aku menutupi Rida dengan alasan kuliah di luar kota. Namun belakangan ini, ibu meminta Rida berkumpul bersama kami. Tidak mungkin untuk membesarkan bayi itu dengan Rida yang tidak bersuami." Titurnya pelan.

Adisurya lalu melangkah ke ruang NICU (neonatal intensive care unit). Dari luar ia menatap bayinya yang menggerak-gerakkan kelapa seperti sedang mencari p*ting susu.

Ingin rasanya ia menangis. Bayi mungilnya yang masih merah itu merasa lapar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perawat juga mengatakan, jika bayinya sering tersedak karena kondisi tersebut.

Adisurya mendekati bayinya. Bola matanya bulat, dengan bulu mata yang lentik. Bayinya pastilah sangat cantik jika terlahir sempurna.

Adisurya teringat pada ucapan Rika perihal putri Rida. Entah mengapa bayangan Rianti yang menunjukkan gejala depresi, membuatnya mulai memikirkan jalan keluarnya. Adisurya ingin memastikan wanita yang dicintainya itu baik-baik saja.

_bersambung_

🌿

🙏mohon untuk tidak menyudutkan sikap Rianti dalam episode ini. Karena apa? karena saya mengambil kisah nyata untuk bagian ini.

Terima kasih.

1
machiato
bagusssssss
Dwi Handayani
amit², kaynya si Dita emang sekeluarga orangnya begitu semua ya, gak tau diri. si Rikok juga ngapain pake natap Annisa jengah, tlol banget, udh bagus Annisa bisa nerima si ditot itu.
Dwi Handayani
15 tahun Annisa emang hdup dlm kesulitan ekonomi, tapi dia berlimpah kasih sayang dan didikan yg tepat. kesuliatn slm 15 tahun tuh gak ada apa²nya rianti, dibanding dengan perlakuan burukmu yg hanya bbrapa hari itu.
Dwi Handayani
beraaaakkkk
Dwi Handayani
di bab berapa gitu, penulis bilang ini kisah nyata, bjir, ternyta beneran ada ya ibu segila ini. pantes gak punya ikatan batin, orang gak punya hati ternyata.
Dwi Handayani
owalah, jdi Nisa belum tau ya, dia cuma dengar bagian "anak Adisurya" aja. pantesannnn. mataku keblinger gini bacanya 🤭
Dwi Handayani
walahhh trnyta Adisurya juga g*blok
Dwi Handayani
anak polos, yg kurang kasih sayang, emang pasti akan snang saat tau ortunya masih hidup. jdi dia gak ada dendam²an
Dwi Handayani
seri ceritanya, kasian banget Nisa, dia dperlakukan scara gak adil sama ortunya. bahkan mnertku, Adisurya juga beneran ayah yg brngsek. dia tidak bisa menjamin ketenangan dn kenyamanan ank kandungnya sndiri.
Rahmaniar
suka banget ceritanya,ada sedih,gembira,perjuangan dan ada hikmah di setiap kejadian nya, terima kasih thor atas karya yang bagus ini,semangat selalu untuk berkarya.
Shan
udah dibaca berulang🤭, ini sdh ke tiga kali. makasih kak semua novel kakak bagus, enak dibaca 😍
Shan
suka sekali😍
Shan
kak,come back
akhirnya ceritanya tamat jga,,sya nungguin sampe gak berani buka cerita ini takut kecewa akhirnya happyending jga. makasih kak
Endang Sulistia
betul Raka..gercep juga si raka
Endang Sulistia
gak usah pacaran pacaran ya nis...
Endang Sulistia
sukurin
Rezqhi Amalia: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Dipaksa Menikahi Suami Sahabatku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 1 replies
Sri Ariyanti
terima kasih kak el upnya. ceritanya bagus. ditunggu karyamu selanjutnya. sukses selalu
Sri Ariyanti
tq kak el upnya
Sri Ariyanti
up nya jangan kelamaan ya kak el. biar gak lupa jln ceritanya dan juga biar dapet feel nya. sukses dan selalu semangat
Sri Ariyanti
tq thor atas karyamu. suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!