Laura seorang gadis yang berkeinginan menjadi model internasional. Laura seorang gadis yang suka berpakaian sexy karena memang bentuk tubuhnya yang aduhai.
Namun pertemuannya dengan Zakia membuat dia tiba-tiba berubah haluan. Laura merubah 100% penampilannya.
Laura yang tidak pernah berpacaran harus menerima perjodohan sebagai syarat untuk menjadi seorang Model oleh Orang Tuanya. Sampailah dia dipertemukan dengan seorang CEO yang terkenal dengan keganasan nya dan gila akan kebersihan.
Akankah Laura bisa menaklukan kerasnya hati sang CEO?
Akankah Laura bisa bersatu?
Yuk ikutin kisahnya..🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Pergi
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏
Matahari mulai menyingsing menyapa bunga-bunga yang indah bermekaran. Jason tampak mengerjapkan matanya ketika merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Disana terlihat Bi Lastri berdiri menatap heran kearah dirinya yang sedang berbaring disebuah sofa panjang.
"Who are you?" tanya Bi Lastri.
Jason tidak menjawab pertanyaan Bi Lastri, namun dirinya langsung duduk dan mengusap wajahnya karena masih mengantuk. Jason sampai lupa bahwa saat ini dia tidak memakai maskernya.
"El, teman Laura. Bibi tolong jaga Laura karena aku ada urusan hari ini. Laura kemarin mengalami kecelakaan, kakinya keseleo dan bengkak." Jawab Jason.
"Baiklah," ujar Bi Lastri.
Bi Lastri tidak menanyai Jason panjang lebar, karena lebih baik melihat keadaan Laura dengan mata kepalanya sendiri. Jason beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Apartement Laura. Bi Lastri masuk kekamar Laura untuk melihat keadaan gadis itu.
Laura tampak masih meringkuk dibawah selimut. Bi Lastri melihat kaki Laura yang masih terlihat kemerahan akibat kakinya yang membengkak. Bi Lastri tidak langsung membangunkan Laura, dia bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan pagi.
"Non, bangunlah! mari kita bersihkan dirimu, setelah itu kita sarapan," ujar Bi Lastri.
Bi Lastri membangunkan Laura setelah berkutat didapur hampir 1 jam lamanya. Laura mengerjapkan matanya, untuk sesaat dia melupakan tentang keberadaan Jason.
"A-apa ada seorang pria yang Bibi temui diluar?" tanya Laura.
Laura menatap Bi Lastri setelah mengingat keberadaan Jason. Laura tidak ingin Bi Lastri salah faham, dan menceritakan hal yang tidak-tidak pada Sang Papa.
"Lihat, dan aku sempat bicara padanya." Jawab Bi Lastri.
"A-apa yang dia katakan?" tanya Laura.
"Dia menyuruhku menjagamu. Dia bilang Nona mengalami kecelakaan, ap itu benar?" tanya Bi Lastri.
"Ya. Kemarin saat aku pulang dari rumah Bibi, dijalan ada sebuah mobil memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Dan aku tidak bisa menghindari itu." Jawab Laura.
"Berhati-hatilah Nona. Kalau Tuan sampai tahu pasti dia sangat khawatir dan tidak mengizinkan Nona pakai motor lagi," ujar Laura.
"Aku mohon jangan bilang apapun sama Papaku ya Bi, aku tidak mau mereka khawatir," ucap Laura.
"Baiklah Non," ujar Bi Lastri.
"Oh ya Bi, apa pria itu masih ada diluar?" tanya Laura.
"Dia sudah pergi, dia bilang ada urusan. Apa dia kekasih Nona?" tanya Bi Lastri.
"Bu-bukan, dia cuma teman." Jawab Laura.
"Bibi kira dia pacar Nona. Soalnya sangat serasi, yang satu cantik yang satu lagi handsome," ujar Bi Lastri.
"Darimana Bibi tahu dia tampan? apa Bibi melihat wajahnya?" tanya Laura.
"Tentu saja. Bibi sempat mengira dia seorang Bule, ternyata dia mahir berbahasa Indonesia." Jawab Bi Lastri.
"Seperti apa rupanya?" tanya Laura.
Bi Lastri mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Laura.
"Apa maksud Nona? bukankah dia temanmu?" tanya.Bi Lastri.
"Dia memang temanku, tapi aku tidak pernah melihat wajahnya." Jawab Laura.
"Why?" tanya Bi Lastri.
"Dia bilang punya penyakit aneh. Jadi tidak bisa memperlihatkan wajahnya." Jawab Laura.
"Tapi sepertinya dia baik-baik saja, bahkan diwajahnya tidak memiliki jerawat satupun. Apa Nona baru mengenal pria itu?" tanya Bi Lastri.
"Ya. Tapi entah mengapa aku sangat nyaman dengannya, dan percaya padanya." Jawab Laura.
"Apa dia sangat tampan Bi?" sambung Laura.
"Very, very handsome. Berarti Bibi sangat beruntung karena bisa melihat wajah pria itu," ucap Bi Lastri terkekeh.
"Ya. Bahakan aku yang merupakan temannya belum sama sekali melihat wajahnya," ujar Laura terkekeh.
"Mungkin ada sesuatu sehingga dia belum mau muncul secara terbuka. Bersabarlah," ujar Bi Lastri.
"Ya maybe," jawab Laura.
"Baiklah, mari Bibi bantu bersih-bersih. Setelah itu Nona sarapan dan minum obat," ujar Bi Lastri.
Laura hanya mengangguk menjawab omongan Bi Lastri. Laura pun dibantu membersihkan diri dan berpakaian. Setelah itu Laura sarapan dan minum obat, kemudian kembali beristirahat.
*****
Jason mengendarai motor Laura menuju rumah Dr. Robert. Hari ini adalah jadwal Jason melakukan terapy selanjutnya. Banyak hal yang Jason tanyakan pada Dr. Robert tentang kemajuan pengobatannya, termasuk pertanyaan Jason tentang penyakitnya yang tidak bereaksi jika bersentuhan dengan Laura.
"Mungkin kalian memiliki golongan darah yang sama, bukankah anda memiliki golongan darah yang langka? atau bisa jadi dia belahan jiwa anda Mr. Jason," ujar Dr..Robert terkekeh.
"Saya juga berharap demikian Dr. Robert," ucap Jason.
"Apa anda menyukai gadis itu?" tanya Dr. Robert.
" Ya, saya menyukainya. Bahkan mungkin lebih dari itu." Jawab Jason.
"Lalu bagaimana dengan perjodohan anda?" tanya Dr. Robert.
"Entalah, aku sendiri tidak bisa keluar dari situasi rumit ini. Disatu sisi aku mencintai gadis itu, disatu sisi aku tidak bisa menentang keinginan Orang Tuaku. Menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?" tanya Jason.
"Menuruti kata hati memang tidak ada salahnya. Tapi kalau aku boleh menyarankan, lebih baik Mr. Jason menuruti saja apa yang sudah diatur oleh Orang Tua anda. Anda adalah laki-laki, jika hubungan itu gagal dan tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya anda bisa mengakhirinya kapan saja. Dan ada bisa kembali mengejar gadis impian anda, jadi anda tidak akan mengecewakan Orang tua anda dan juga bisa mengejar apa yang anda inginkan," ujar Dr. Robet.
Jason mencerna tiap kalimat tang Dr. Robert katakan. Dia memang tidak selalu beruntung dalam menghadapi urusan asmara, jadi dia perlu banyak belajar dengan orang yang lebih berpengalaman.
"Tapi kalau saran say tidak masuk akal di fikiran anda, jangan langsung anda telan bulat-bulat. Karena saya bukan pakar cinta, terlebih saya salah satu orang yang gagal dalam hal itu," sambung Dr. Robert terkekeh.
"Terima kasih Dr. Robert. Saya akan mencerna apa yang anda katakan dengan sebaik-baiknya. Karena walau bagaimanapun Orang Tua adalah prioritas saya," ujar Jason.
"Good Son," ucap Dr. Robert seraya menepuk pundak Jason.
"Baiklah, saya pulang dulu. Ada satu hal yang ingin saya selesaikan," ujar Jason.
Jason beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Dr. Robert. Dr Robert menyambut uluran tangan itu.
"Hati-hati dijalan Mr. Jason," ucap Dr. Robert.
Jason menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan kediaman Dr. Robert. Jason memacu motor dengan kecepatan sedang, ia ingin segera menemui Laura dan melihat keadaan gadis itu. Setelah sampai di Apartement, Jason langsung menuju Apartement milik Laura. Jason langsung menekan beberapa digit setelah mengingat sederet angka yang Laura beritahu saat mereka pulang kemarin. Jason memasuki Apartement itu dan langsung menuju kamar Laura.
Laura menoleh kearah pintu terbuka. Dia menatap kedatangan Jason dengan pandangan yang tidak bisa Jason artikan.
"Bagaimana keadaanmu hari ini? dan siapa dia?" tanya Jason.
"Aku lebih baik, Dia Grace anak BinLastri. Dia yang akan menemani aku untuk beberapa hari kedepan." Jawab Laura.
"Hi, i'm Grace," ujar Grace.
Grace mengulurkan tangannya namun sama sekali tidak Jason balas. Dia malah mengalihkan pandangannya pada Laura.
"Baguslah kalau sudah ada yang menemanimu. Aku pergi," ucap Jason.
Jason langsung meninggalkan kamar itu dan pergi menuju Apartementnya. Tinggalah Laura dan Grace yang terbengong melihat kepergian Jason yang tiba-tiba.
"Dia sangat sombong," ujar Grace.
"Ya kau benar. Dia itu manusia salju," ucap Laura.
" Apa dia kekasihmu?" tanya Grace.
"Tentu saja bukan. Apa orang ramah sepertiku akan cocok jika berdampingan dengan beruang kutub seperti dia?" ujar Laura.
"Tentu saja tidak. Aku lebih suka kakak menjalin hubungan dengan tukang kebun disebelah rumahku daripada manusia kaku itu." Jawab Grace.
Mendengar celotehan Grace, Laura tidak kuasa menahan tawanya. Laura dan Grace ngobrol banyak hal agar mereka tidak bosan. Hingga tidak terasa semua camilan habis mereka makan.
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏