Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak
Rombongan Danu mendekat dan membaca daftar pasien yang ada disana. Rahmad dan tiga orang teman mereka langsung masuk, Danu dan Farid bertahan diruang tunggu. Danu membaca satu persatu, tak ada teman satu kampusnya disana, dan memang tak ada yang Danu kenal dekat, hanya ada satu nama Ridwan, yang rasanya Danu kenal.
“ Ridwan yang mana nih ?”.
“ Ketua Komisariat Tekhnik kaya’nya “.
“ Ridwan Hakim ?”.
“ Mungkin “.
“ Kita lihat yuk “.
Farid mengangguk dan langsung menuju ruangan Ridwan yang mungkin mereka kenal. Dan benar, begitu sampai diruangan terlihat Ridwan masih meringis menahan rasa sakit yang ada dibahu, tangan, pelipis, dan telinga kanannya.
“ Wan.. “.
Ridwan menoleh. “ Danu, Rid.. “.
“ Kena apa ?”.
“ Peluru karet “.
“ Masa Peluru karet bisa buat kamu begini “.
“ Ya ngga’ semualah, yang peluru karet yang jidat nih. Kalau yang ini bukan, ini kena timpa pagar “.
“ Timpa pagar ?”.
“ Sampe ke Kaki Dan “.
Danu perhatikan semua luka yang ada ditubuh Ridwan, luka-luka yang dialami Ridwan boleh juga dikatakan parah, lukanya cukup banyak, mulai dari kepala hingga kekaki.
“ Kesana bentar Dan “.
Danu menoleh ke Farid. “ Kemana ?”.
“ Kesana “.
Danu anggukkan kepala. Farid melihat teman-teman mereka yang lain. Dan ternyata Rahmad juga ada diruangan itu. Rahmad juga sedang berbincang dengan orang yang ia kenal, Farid hanya ikut-ikutan saja, Farid memang tak ada yang kenal satupun kecuali Ridwan yang cerita ama Danu, walau yang ada diruangan itu delapan orang.
“ Bang “.
Rahmad menoleh. “ Apa Dan ?”.
“ Aku pulang duluan Bang “.
“ Kenapa ?. istrimu manggil ?”.
Danu geleng kepala. “ Ada aja Abang ini “.
“ Siapa tahu kan ?”.
Danu hanya tertawa kecil dan memeluk bahu Rahmad yang ikut tertawa dan memencet hidung Danu lumayan kuat.
“ Aku balik Bang “.
“ Besok pagi ke Base Camp langsung “.
“ Jam berapa Bang “.
“ Kalau bisa subuh udah nyampe “.
“ Macam betul aja “.
Maghrib sudah lewat waktu Danu keluar dari kompleks Rumah Sakit. Hanya Danu yang pulang duluan, Rahmad dan Farid yang diajak hanya anggukkan kepala. Danu langsung kepinggir jalan dan stop sudaco menuju pulang kekostnya yang ada dijalan Air Bersih.
Danu melihat wajah Medan dengan hati yang lain juga. Sepanjang jalan semuanya tampak sepi, tidak seperti biasanya, yang menggunakan sepeda motor, enak aja tarik tiga tanpa helm, dimata Danu Medan udah persis kota koboy, tak ada aturan yang mengikat, polisi lalu lintas juga hampir tak terlihat, dan memang saat ini kita ngga’ perlu terkejut kalau melihat tank tempur dari Kodam berjalan pelan dijalan raya, patroli mana tahu ada yang membuat
keributan.
Tak ada Fahmi disana. Danu buka pintu, masuk dan hidupkan lampu. Danu menghidupkan TV, mana tau beritanya sudah masuk. Tapi tak ada, yang ada hanya berita Jakarta dan Kota lainnya yang juga masih dilanda keributan. Capek Danu beranjak kekamar tidur, mau istirahat.
Mata Danu menuju HP nya. Danu ambil dan lihat dilayar ada 6 panggilan tak terjawab. Danu membuka dan melihat. Danu langsung tepuk jidat, nomor yang menghubunginya adalah nomor rumah kost Juli, tunangannya.
Tanpa pikir panjang Danu langsung kembali kunci pintu dan menuju jalan raya. Pikiran Danu ada yang lain, Danu pasti kena semprot, Juli pasti marah, tadi jelas ia janji mau nyusul Juli ke Tembung, tapi Danu sama sekali lupa dengan janjinya, sama sekali tak ingat, Danu jadi merasa bersalah.
Kurang lebih setengah jam Danu sudah sampai di Jalan Pintu Air, Danu bergegas menuju rumah kost Juli. Danu ketuk pintu, tak lama pintu dibukakan oleh teman satu kost Juli, Risda.
Danu agak terkejut, senyum Danu sama sekali tidak dibalas Risda, Risda hanya tertunduk, malah begitu saja meninggalkan Danu. Danu masuk langsung keruang tengah, disana ada Risda, Hana, dan Lusi. Sama dengan Risda, Hana dan Lusi juga pasang muka tunduk dan malah tak mampu menatap muka Danu.
Dada Danu langsung gembung. Ada yang tak bisa Danu gambarkan dengan sikap teman-teman Juli. Danu duduk dikursi bergabung dengan mereka.
“ Kenapa sih ?”.
Lusi angkat muka. “ Abang ngga’ tahu ?”.
“ Kenapa ?”.
“ Juli.. “.
Dada Danu makin bergemuruh. Ada rasa takut yang langsung menyambar Danu, apalagi Lusi langsung terisak dan tak mampu meneruskan kata-kata yang akan disampaikannya.
“ Juli kenapa Lus ?”.
“ Lusi hubungi abang terus. Masuk tapi tak abang angkat “.
“ HP ketinggalan dirumah “.
“ Juli Bang.. “.
“ Juli kenapa ?”.
“ Juli Tertembak “.
“ Apa ?. Juli tertembak ?”.
Darah Danu langsung menuju ubun-ubun, pandangan Danu berubah sedikit kelam. Tapi Danu belum juga paham apa yang sebenarnya terjadi. Danu masih berusaha tenang.
“ Kena Dadanya Bang “.
“ Juli dimana sekarang, di Rumah Sakit mana sekarang Lus ?”.
“ Udah dibawa pulang Bang “.
“ Maksud Lusi ?”.
“ Jenajahnya udah dibawa pulang “.
Danu bak disambar petir. Perasaan Danu berkecamuk dan berbaur didadanya. Danu gigit bibir dan husap mukanya dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga dan buang nafas berat.
“ Kapan ?”.
“ Baru setengah jam Bang “.
Danu berdiri dan setengah berlari keluar rumah, dan ambil sudaco. Yang ada dalam pikiran Danu hanya setasiun Kereta Api. Ia harus menysul pulang. Dalam sudaco Danu serasa bagai orang sinting. Pikirannya mumet benar. Dijalan menuju Stasiun Danu turun, bayar ongkos dan tumpang beca.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya