NovelToon NovelToon
Akhir Kisah Cinta Tria

Akhir Kisah Cinta Tria

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:491.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: pecinta hijau

Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.

Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.

Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.

Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.

Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.

"Aku memilih dia." ucap Tria.

Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps27

Panasnya sinar matahari yang begitu terik di tambah lagi dengan bunyi klakson mobil dan motor yang saling bersahut-sahutan. Membuat siapa saja dalam posisi ini akan merasakan kegerahan yang tiada tara.

Seperti itulah yang dirasakan oleh gadis cantik yang memakai baju merah dengan celana jeans karet selutut berwarna biru tua itu. Ia berpanas-panasan karena terjebak macet di siang ini.

Tadi pagi, ia tidak sengaja bertemu dengan Bagas di supermarket. Saat ia menanyakan tentang kabar Rio, saat itulah ia tahu jika mamanya Rio masuk rumah sakit. Karena informasi yang di dapat dari Bagas kurang efisien, Nisa menghubungi nomor Rio untuk menanyakan letak rumah sakit tempat mamanya di rawat. Sebab itulah, ia mengalami keadaan yang seperti sekarang, berdesak-desakan dengan pengendara lain di bawah terik sinar matahari dan di tengah polusi udara, di jalan itu.

Setelah dua jam dalam kemacetan, akhirnya Nisa sampai juga di rumah sakit, tempat mamanya Rio, pria yang di cintai nya itu di rawat. Ia langsung menuju ke ruang informasi untuk menanyakan letak ruangan tante Mina.

”Permisi, Mba! Saya ingin menanyakan letak ruangan nyonya Mina di rawat. Nyonya Mina di rawat di ruangan mana ya, Mba?” tanyanya dengan sopan.

”Iya, Mba. Mohon di tunggu sebentar ya, Mba. Saya cek dulu.” jawab sang petugas ruang informasi dengan lembut pula.

”Iya, Mba.” ucap Nisa. Ia memperhatikan penjaga itu yang sedang membuka lembaran demi lembaran kertas-kertas yang ada di hadapannya. Beberapa menit kemudian.

”Atas nama nyonya Mina, yah?” ucap sang petugas, ia memastikan ulang jika nama yang di sebutkan adalah benar.

”Iya, Mba. Itu benar, atas nama nyonya Mina,” jawab Nisa.

”Nyonya Mina... berada di ruangan Melati kamar no.21, Mba. Dari sini, Mba jalan terus saja lalu belok kanan, di situ ruang melati nya berada. Mba tinggal mencari nomor kamarnya saja setelah sampai di ruangan tersebut.” ucap sang petugas tersebut memberi arahan.

"Oh iya, Mba. Terima kasih, atas informasinya ya, Mba. Saya permisi dulu.” sahut Nisa, sembari tersenyum.

”Iya, Mba. Sama-sama.” ucap sang petugas sembari tersenyum.

Nisa bergegas pergi ke ruang melati melewati lorong-lorong rumah sakit, sesuai dengan petunjuk dari sang petugas. Tepat di ujung lorong, Nisa melihat Rio yang baru keluar dari sebuah ruangan.

”Rio,” panggilnya, ia berjalan sedikit berlari menghampiri Rio.

Rio menoleh, saat mendengar namanya di panggil. Ia melihat Nisa yang sedang berlari kecil berjalan ke arahnya.

Nisa? Darimana dia tahu aku di sini? Siapa yang memberitahu nya? benaknya.

”Maaf, Rio, aku baru datang menjenguk mama mu. Aku turut bersedih dengan peristiwa yang menimpa keluarga mu. Gimana sekarang keadaan tante?” ucap Nisa. Kini ia berada di depan Rio.

”Mama ku belum sadarkan diri semenjak selesai operasi tadi ” jawab Rio datar.

”Kamu tahu dari mana aku di sini?” tanya Rio.

”Dari Bagas. Aku bertemu dengan nya di supermarket.” Nisa menjeda ucapannya. ”Kamu yang sabar ya, Rio. Semoga tante baik-baik saja dan semoga cepat sembuh.” ucapnya lagi.

”Iya, terima kasih,” sahut Rio. Ia nampak tidak bersemangat.

”Boleh, aku masuk ke dalam? Aku ingin melihat tante.” ucap Nisa bertanya.

Rio mengangguk, ia membuka pintu ruangan. ”Masuklah!” ucapnya.

Nisa masuk ke dalam. Rio menutup pintu dengan pelan. Ia duduk di kursi panjang, depan ruang rawat Mina.

Dalam ruangan Mina.

Nisa melangkah pelan mendekati ranjang Mina. Ia sangat sedih melihat tante Mina terbaring tidak berdaya di ranjang.

Ia juga melihat om Fadil yang sedang istirahat di sofa panjang. Nisa keluar dari kamar tersebut, ia tidak ingin mengganggu tidurnya Fadil, papa Rio.

Nisa melihat Rio yang duduk di bangku panjang dengan mata terpejam, kedua tangannya menopang dagunya. Nisa mendekati Rio.

”Boleh aku duduk di samping mu?” tanyanya dengan ragu-ragu.

Rio mengangguk tanpa melihat Nisa. Nisa duduk, ia menyandarkan punggung belakangnya ke dinding. Ia melihat Rio dari arah samping, Rio begitu tampak sedih, tidak bersemangat, dan penuh kecemasan.

”Kamu sudah makan?” tanyanya.

Rio menggeleng.

”Mau makan bersama ku? Kamu harus makan juga harus beristirahat. Lihatlah, kamu nampak berantakan sekali.” ucap Nisa.

”Aku gak selera makan sebelum memastikan mama ku baik-baik saja. Kamu pergilah makan sendirian saja.” sahut Rio.

”Tapi, Rio. Tubuhmu butuh asupan makanan. Tubuhmu juga butuh istirahat. Bagaimana kamu akan kuat dan semangat merawat mama mu nanti?”

”Aku ingin sendiri. Kamu pergilah, jangan ganggu aku! Terima kasih, karena sudah menyempatkan waktu menjenguk mama ku.”

”Rio! Mengapa kamu bersikap seperti ini padaku? Aku hanya khawatir padamu, biarkan aku di sini untuk menemani mu.”

”Apa kamu tidak dengar ucapan ku? Aku bilang pergi! Jangan mengganggu ku! Aku tidak ingin mengulang ucapan ku lagi.” ucap Rio dengan ketus.

Nisa terdiam, ia nampak kecewa. Ia berdiri. ”Maaf! Maaf, jika aku sudah mengganggu mu, aku permisi dulu.” ucapnya dengan sedih, matanya berkaca-kaca.

Rio terdiam, tidak menanggapi. Nisa melangkah pergi dari sana. Ia sangat kecewa dengan sikap dingin Rio padanya.

Rio, kamu benar-benar sudah berubah. benaknya.

”Aku tahu, kamu lagi bersedih sekarang. Tapi, haruskah kamu bersikap begitu padaku? Aku hanya khawatir padamu.” gumamnya.

....

Kediaman Burhan.

Tiin tiin tiin!! Bunyi suara klakson terdengar di telinga Tria, Yuli, Rahma, dan Karmila yang sedang bersantai di kamarnya, setelah usai makan siang.

Semenjak Tria dan Karmila beradu mulut, Tria sering menjaga jaga dari Karmila agar tidak punya kesempatan untuk duduk berdua dan berbicara.

Ia sangat malas untuk berbicara dengan Karmila, setiap bertemu, Karmila hanya membicarakan tentang pertunangan, pertunangan, dan pertunangan saja. Membuat Tria muak akan itu, jadinya ia sering mengurang dirinya di kamar setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah.

”Apa itu Risno?” gumam Tria. Ia keluar dari kamar dan pergi ke depan. Ia membuka pintu rumah dan melihat mobil Risno terparkir di depan pagar rumahnya.

Sementara Karmila, Yuli, dan Rahma mereka mengintip dari jendela kamarnya masing-masing untuk melihat siapa yang datang di siang hari ini di kediaman mereka.

Tria berjalan mendekati mobil Risno. Ia menyandarkan kedua tangan pada pintu mobil Risno kacanya di turunkan.

”Loh, kok kamu belum bersiap-siap? Kamu tidak jadi pergi?” tanya Risno.

”Tetap pergi dong! Maaf, aku sengaja belum bersiap. Aku menunggu kalian datang dulu baru aku bersiap-siap. Seandainya aku sudah bersiap, dan kalian tidak jadi datang, maka sia-sia saja aku bersiap. Karena kalian sudah datang, jadi aku pergi bersiap-siap dulu yah.” jawab Tria.

”Hum, cepatlah!” jawab Risno.

”Iya,” sahut Tria. Ia masuk kembali dalam rumahnya. Risno menunggu Tria di dalam mobil.

Beberapa menit kemudian, Tria keluar lagi. Tidak butuh waktu yang lama untuk Tria bersiap. Ia hanya mengganti pakaiannya dan memakai bedak seadanya saja, sedikit polesan lipstik dan sedikit parfum, Tria sudah nampak cantik.

”Sudah selesai?” tanya Risno.

”Iya,”

”Masuklah!”

Tria masuk ke dalam mobil. Ia duduk di depan bersama Risno. Sementara Nani dan Mini duduk di bangku belakang.

Tria pergi tanpa berpamitan lagi kepada Karmila. Ia selalu menurut dengan hal lain pada Karmila, tetapi, tidak untuk yang satu ini, tentang kebahagiaan hidupnya kelak. Ia tidak ingin main-main dalam hubungan asmara.

”Apa Bagas berbicara sesuatu padamu?” tanya Risno.

Namun, Tria tidak menjawab. Ia menoleh melihat Tria, wanita itu sedang memandang jalanan yang mereka lewati.

Apakah Tria sedang melamun? Apa yang sedang dia pikirkan? benaknya.

”Tria, apa kamu mendengar ku?” tanya Risno lagi.

Tria masih belum menanggapi. Risno menyentuh bahu Tria. ”Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya, saat Tria menoleh, melihatnya.

”Ah, oh. Tidak ada, tidak apa-apa. Ada apa, Ris?” sahut Tria.

”Kamu tidak mendengar pertanyaan ku tadi? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu?”

”Tidak ada Ris, maaf, jika aku tidak mendengar mu. Apa yang kamu tanyakan tadi?”

”Bukan apa-apa.” ucap Risno.

”Apa Nani dan Mini sudah lama tidur?” tanya Tria.

”Iya, kenapa? Kamu ingin tidur juga? Tidurlah, nanti aku akan bangunkan kalian setelah kita sampai di rumah sakit.” jawab Risno.

”Tidak,” sahut Tria. Ia menurunkan kaca jendela mobil, ia menumpukan sikunya pada pintu mobil menyangga kepalanya.

Ia kembali memandang jalanan, namun, sebenarnya, pikirannya sedang tertuju pada pembicaraan antara dia dan Karmila tentang perjodohan.

Sebenarnya kenapa mama begitu memaksaku untuk bertunangan dengan orang lain, yang tidak aku kenali? Apa segitu tidak menyukai ku, hingga ingin aku segera menikah dan keluar dari rumah ini? benaknya.

Risno memutar arah mobil dan memasuki halaman parkir rumah sakit. Bahkan di saat mobil sudah berhenti, Tria tidak menyadarinya.

”Tria, kita sudah sampai. Bangunkan Nani dan Mini.” ucap Risno.

Tria tidak merespon. Ia masih memandangi jalan di depan sana.

Apa yang sedang di pikirkan Tria? Hari ini ia banyak melamun. Apa ada yang tidak beres padanya? Apa dia terkena masalah? benak Risno.

”Tria, kamu melamun kan apa sih? Kita sudah sampai 10 menit yang lalu, apa kamu tidak menyadarinya?” ucap Risno lagi.

Tria masih terbengong. Risno kembali menyentuh bahu Tria, kali ini Tria terkejut.

”Eh, Ris, ada apa?” tanya Tria.

”Tidak ada. Justru aku yang harus bertanya, kamu kenapa, dari tadi melamun terus? Apa ada yang kamu pikirkan?”

”Oh, eh itu..tidak. Tidak ada yang aku pikirkan. Mengapa kamu menghentikan mobilnya? Apa kita sudah sampai?” tanya Tria. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.

”Iya kita sudah sampai, dari tadi malah. Aku juga sudah memberitahu mu, tapi sepertinya kamu tidak mendengar ku sama sekali. Apa yang sedang kamu pikirkan? Bicaralah, siapa tahu aku bisa membantu mu.”

”Tidak ada. Tidak penting juga, dan bukan apa-apa. Ayo kita turun, aku bangunin Nani dan Mini.” ucap Tria, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.

”Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan terus, Tria! Katakan padaku, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu ada masalah?” tanya Risno lagi, ia mendesak Tria agar wanita itu berkata jujur padanya.

”Aku gak apa-apa, Ris. Benar deh, aku gak apa-apa. Aku hanya memikirkan persiapan kita untuk kuliah saja, kok. Tidak ada yang lain.” jawab Tria berbohong.

Wanita ini berbohong lagi. Pasti ini ada sangkut pautnya dengan mama dan saudaranya. Jika untuk kuliah saja, tidak mungkin dia memikirkannya sampai tidak fokus begini. benak Risno.

”Aku tahu kamu berbohong, sudah lah. Percuma juga maksa kamu bicara, bangunkan Mini dan Nani. Aku turun duluan, aku tungguin kalian di depan pintu masuk.” sahut Risno kesal.

Tanpa menunggu jawaban Tria, ia turun dari mobil. Tria melihat raut wajah Risno nampak marah.

Maaf, Ris. Aku tidak bisa bercerita padamu. benaknya.

Ia turun dari mobil dan membuka pintu mobil belakang, ia membangunkan Nani dan Mini.

”Mini, Nani, ayok bangun! Kita sudah sampai di rumah sakit.” Tria membangunkan Nani dan Mini dengan menggoyangkan kedua bahu mereka.

Nani dan Mini terbangun.

”Tria, apa kita sudah sampai di rumah sakit?” tanya Mini.

”Iya, kita sudah sampai. Yuk turun! Risno sudah menunggu kita di depan pintu masuk sana.” sahut Tria.

Nani dan Mini menengok ke arah kanan mereka, mereka melihat Risno memang sedang menunggu mereka di depan pintu masuk. Nani dan Mini turun dari mobil.

Tria, Mini, dan Nani berjalan bersama menghampiri Risno.

”Maaf, Ris. Sudah membuatmu menunggu.” ucap Mini.

”Hum, tidak apa-apa. Ayok masuk!” sahutnya, tapi, wajahnya marah melihat Tria. Lalu, ia duluan melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Nani dan Mini sudah menyusulnya.

Tria menyadari tatapan marah Risno. Aku tahu kamu marah. Maaf, bukan aku menyembunyikan ini darimu, dari kalian. Tapi, aku tidak bisa memberitahu kalian tentang ini. benaknya.

1
Denni Siahaan
"semoga dapat ganjaran Karmila
Kadek Bella
lanjut thoor,nggak ada party nya
Aldin Andi
cerita yang bagus
Rosita Husin Zen
tria hamil apa lgi athor kasih tria hamil sepasang anak kembar alhamduliah banget biar tambah bahagia banget kehidupan rumah tangganya rio dan trià aaamiin
Rosita Husin Zen
tria laki laki masih babyàk banget yg lebih baik dari rio jdi jangan tàkut di tinggal sama di sàkiti sama rio aruh selagi kamu tria masih gadis bàik cantik
Rosita Husin Zen
thor knp ga mampus aja sih orang jahat dan licik seprti yuli dan mamanya
Rosita Husin Zen
cepat cepat kàsih tau thor yg jahatin tria kan kasohan banget tria thor
Rosita Husin Zen
cerita ini ga pakai sholat dan mengaji dan memakai jilbab/pakai baju syari yà thor
pecinta hijau: iya...
total 1 replies
Rosita Husin Zen
ini certa nya tetantang keserakahan licik saudra angkat yg tidak tau diri dan tidak punya malu dengan mengambil hak punya orang lain astagfirllohhalazim
Elmiah
senang aku liat rio sama tria nikah mantao
Elmiah
senang aku tapi air mata ku menetis bacanya ro mane kasih tahu juga dong
Elmiah
tria harus kuat
Elmiah
tria lemah takut jadi gak seru bacanya seandai nya tria kawin sama ismael rio nya lemah gak seru
🌻Ruby Kejora
Salam kenal kk. Sukses bwt kk 🌼🌼❤️
pecinta hijau: salam kenal juga.. aamiin...terima kasih
total 1 replies
Aldin Andi
diam diam cinta... langsung saja katakan kalau cinta...nanti xesel loh kalau Rio mencoba mencintai wanita lain.
Aldin Andi
wah...saingan cintax Rio..
Aldin Andi
benar sekali...rindu itu sangat menyiksa....
Aldin Andi
tenang. Mamanya Rio juga setuju kok
Aldin Andi
dekat dekat Tria hanya untuk seorang pria. Ada maunya saja.
Aldin Andi
kamu salah, seharusnya kamu berbagi suka duka dengan teman mu. apa artinya sahabat kalau kamu tidak berbagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!