Menjadi artis terkenal tidak selalu membuat bahagia, Ivy Brown harus menyaksikan adiknya diperkosa dan dibunuh, dia melarikan diri dan mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur sedangkan kondisinya mengenaskan, ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Saat dia tersadar, Ivy tidak mengenali dirinya sendiri dan yang lebih membuatnya kaget,seorang pria tampan berada disisinya dan mengaku sebagai suaminya. Ivy mencoba bertahan di samping pria itu dan pada saat ingatannya kembali, sebuah konspirasi yang dia dapat.
Pengkhianatan, cinta, persahatan dan dendam menjadi satu saat dia tahu siapa dalang atas kematian dan orang yang memperkosa adiknya.
Akankah dia mampu bertahan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya? Sedangkan sebuah bukti dikirimkan untuknya yang membuktikan jika pria itu ikut terlibat atas pemerkosaan dan pembunuhan adiknya.
Bisakah dia membalas dendam? Sedangkan cinta mulai tumbuh di hatinya untuk pria yang telah terlibat menghabisi keluarganya.
Antara cinta dan dendam, yang mana harus dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. MFH: Apa kau sedang menipuku?
Ivy sedang duduk didekat kolam renang yang terdapat dibelakang rumah Henry. Dia berada disana karena bosan berada dikamar sepanjang hari dan lagi pula, Henry sedang pergi bekerja.
Dia meminta seorang perawat yang ditempatkan Henry disampingnya untuk membawanya melihat-lihat rumah Henry karena dia pikir, mungkin dia bisa mengingat sesuatu tapi bagaimanapun dia berusaha, dia tidak bisa mengingat apapun.
Saat tiba dibelakang rumah henry dimana terdapat sebuah kolam renang disana, Ivy meminta perawat itu meninggalkannya karena dia ingin menikmati waktunya sendiri.
Dia berada disana cukup lama untuk menikmati semilir angin yang berhembus dan menerpa wajahnya. Saat itu, seorang pelayan menghampirinya sambil membawa segelas teh hangat dan cemilan.
"Teh untukmu nona." ucap pelayan itu.
"Oh terima kasih."
Pelayan itu meletakkan teh dan cemilan yang dia bawa diatas meja dan setelah ini dia hendak berlalu pergi tapi Ivy menahannya.
"Hm, bisa temani aku sebentar?"
"Ya nona." jawab pelayan itu dengan ragu.
"Aku hanya ingin mengajakmu bicara saja, bolehkan?" tanya Ivy sambil memandangi pelayan itu.
"Tentu saja boleh nona." pelayan itu berdiri disamping Ivy.
Ivy tersenyum dan mengambil teh hangatnya, dia hanya ingin tahu apa saja yang dia lakukan sewaktu dia tinggal disana, mungkin jika ada sedikit informasi dia bisa mengingat sesuatu.
"Sudah berapa lama kau bekerja disini?" Ivy mulai bertanya.
"Sudah hampir tiga tahun nona."
Ivy mengangguk dan menyeruput teh hangatnya, jika begitu pelayan itu pasti tahu apa saja yang dia lakukan dirumah itu.
"Aku ingin tahu, apa saja yang aku lakukan sewaktu aku tinggal disini, bisa kau katakan padaku?"
Pelayan itu diam saja, jawaban apa yang harus dia berikan? Jika dia salah bicara, bisa-bisa dia dipecat apalagi majikannya sudah memberikan ancaman untuk semua pelayan yang ada disana.
"Kenapa kau diam saja?" Ivy mengangkat kepalanya dan memandangi pelayan itu.
"Maaf nona, saya takut salah bicara dan dipecat oleh tuan Jackson." ucap pelayan itu sambil menunduk.
Ivy tersenyum lembut dan mengusap tangan pelayan yang sedang berdiri disampingnya.
"Jangan khawatir, aku yang akan bertanggung jawab dan lagi pula, Henry tidak akan marah hanya kerena aku bertanya padamu apa saja yang aku lakukan selama tinggal disini sebelum aku hilang ingatan."
Pelayan itu tercengang, jadi Ivy Brown hilang ingatan? Apa karena hal ini Ivy Brown di isukan meninggal? Hal ini bisa saja terjadi dan mungkin isu kematian Ivy Brown disebar untuk menghindari sesuatu.
"Jadi bisakah kau beri tahu aku apa saja yang aku lakukan dirumah selama Henry pergi?" tanya Ivy lagi.
Pelayan itu agak ragu tapi ini pertanyaan dari idolanya dan dia sangat berharap, para media tahu jika Ivy Brown masih hidup supaya idolanya bisa kembali lagi kelayar kaca.
"Tiap hari nona Ivy bekerja." jawab pelayan itu.
"Oh ya, aku bekerja apa dan dimana?" Ivy tampak penasaran, mungkin dengan begitu dia bisa mengingat sesuatu.
Pelayan itu tampak ragu, semoga dia tidak dimarahi oleh bosnya.
"Nona Ivy adalah seorang artis terkenal, apa nona Ivy tidak ingat?"
"Hah?" Ivy sangat kaget mendengarnya, maksudnya?
"Nona Ivy sudah banyak memainkan film dan mendapat penghargaan, nama nona begitu bersinar dan aku adalah salah satu penggemar nona." jelas pelayan itu dengan penuh semangat.
Ivy tampak berpikir, jadi dia artis? Kenapa Henry tidak pernah mengatakan hal ini kepadanya? Dia mencoba mengingat-ingat tapi hanya sakit kepala yang dia dapat.
"Lalu, apa kau tahu kenapa aku mengalami kecelakaan?" Ivy menatap pelayan itu dengan penuh harap karena ini informasi yang bagus untuknya, dia harap setelah mengetahui apa yang terjadi dengannya sebelum mengalami kecelakaan dia bisa mendapatkan ingatannya kembali.
"Menurut berita sebelum anda mengalami kecelakaan, rumah anda dimasuki kawanan penjahat. Adik anda diperkosa dan dibunuh sedangkan anda melarikan diri dan mengalami kecelakaan." jelas pelayan itu.
"A..Apa?" Ivy sangat shock mendengarnya.
"Kau bilang apa?"
Pelayan itu langsung menutup mulutnya, Apa Ivy Brown tidak tahu akan hal ini? Apa tidak ada yang mengatakan hal ini kepada Ivy Brown? Atau jangan-jangan?
Keringat dingin mulai mengalir dari dahi pelayan itu karena sepertinya dia sudah salah bicara, jangan sampai majikannya tahu jika tidak habislah sudah!
"Jelaskan padaku, apa maksudmu rumahku dimasuki oleh penjahat? Apa aku tidak tinggal disini sebelumnya?"
"Ma...maaf nona Ivy, aku sudah salah bicara!" pelayan itu ketakutan dan segera pergi dari sana.
"Hei tunggu, jelaskan padaku!" pinta Ivy tapi pelayan itu sudah masuk kedalam.
Ivy tampak linglung dan mulai berpikir, rumahnya dimasuki penjahat? Adiknya diperkosa dan dibunuh?
Dia mencoba mengingatnya tapi lagi-lagi sakit kepala luar biasa yang dia dapat.
Apa? Apa sebenarnya yang disembuyikan darinya? Kenapa kedua orang tuanya tidak mengatakan hal ini kepadanya.
Yang membuatnya berpikir dengan keras adalah, apa maksudnya dengan rumahnya? Apa sewaktu kecelakaan dia tidak tinggal disini? Tapi Kenapa Henry berkata sebelum kecelakaan mereka bertengkar hebat? Apa sebenarnya yang terjadi dan siapa yang benar?
Ivy kembali berusaha mengingat, mencoba mendapati ingatannya yang hilang tapi tak ada satupun yang dia dapatkan.
Entah mengapa dia jadi curiga, apa Henry menyembunyikan sesuatu darinya?
Ivy memejamkan matanya dan memegangi kepalanya yang berdenyut, entah kenapa kepalanya semakin terasa sakit sampai keringat dingin mengalir dari dahinya.
"Ugh, hei tolong aku." pintanya tapi tidak ada siapa-siapa disana karena pelayan tadi sudah masuk kedalam sedangkan perawat yang menjaganya sedang menyiapkan obat untuknya.
Kepalanya semakin terasa sakit dan Ivy berusaha menahannya. Dia hanya bisa memegangi kepalanya dan memejamkan matanya, dia berharap perawatnya segera menghampirinya tapi pada saat itu terdengar suara seorang gadis memanggil, "Kakak."
Ivy melihat datangnya suara dan melihat seorang gadis sedang melihatnya dan berjalan kearahnya.
"Kak Ivy." gadis itu memanggilnya demikian dan pada saat itu, Ivy merasa pernah dipanggil seperti itu oleh seseorang, tapi siapa?
"Kak Ivy, apa kau baik-baik saja?" gadis itu tampak khawatir melihat keadaannya.
"Ka..kau?" Ivy menunjuk kearah gadis itu dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Ivy kembali memegangi kepalanya dan pada saat itu, samar-samar wajah seorang gadis yang memanggilnya demikian berkelebat diingatannya.
Siapa? Siapa gadis itu? Kenapa dia tidak bisa begitu mengingat wajahnya? Ada hubungan apa dia dengan gadis yang baru saja dia ingat?
Ivy terus berusaha mengingat sedangkan wajahnya tampak pucat.
"Kak Henry!" gadis itu berteriak dan pada saat mendengar teriakan adiknya Henry segera keluar dari kamarnya, dia baru kembali dengan adiknya dan sedang mengganti bajunya.
Henry sangat kaget melihat Ivy tampak kesakitan sambil memegangi kepalanya sedangkan adiknya berdiri disamping Ivy dan perawat yang menjaga Ivy sedang memberikan obat untuknya.
"Ada apa dengannya?"
"Tidak tahu kak, begitu aku datang kak Ivy sudah seperti ini." jawab adiknya.
Tidak membuang waktu, Henry segera menggendong Ivy dan membawanya masuk kedalam.
"Henry." Ivy mencoba memanggilnya.
"Jangan bicara dulu, kau harus beristirahat!"
"Tidak, aku ingin tahu dan jawab pertanyaanku baik-baik!"
"Aku akan menjawabnya nanti!"
"Tidak! Kau bilang sebelum terjadi kecelakaan kita bertengkar tapi baru saja ada yang mengatakan padaku jika rumahku dimasuki penjahat dan aku melarikan diri, sebenarnya yang mana yang benar dan apa yang terjadi?"
Henry diam saja, dari mana ivy bisa tahu?
"Henry, apa kau sedang menipuku?"
"Tidak! Sudah aku katakan bukan kau sedang melarikan diri dari seseorang sebelum kecelakaan."
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ivy, jangan memaksakan dirimu untuk mendapatkan ingatanmu dalam waktu singkat! Percayalah, kau pasti akan mendapatkan kembali ingatanmu cepat atau lambat."
"Tapi Henry?"
"Percayalah padaku Ivy."
Ivy mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya keleher Henry.
"Maaf membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa."
Saat sudah berada didalam kamar, Henry membaringkan tubuh Ivy keatas ranjang dan mencium dahinya.
"Beristirahatlah dan jangan banyak berpikir, aku akan menjagamu." bisiknya.
Ivy mengangguk dan memejamkan matanya tapi didalam hatinya, penuh dengan tanda tanya dan yang membuatnya penasaran, siapa gadis yang baru saja ada di ingatannya?
Kl Bella cuma bilang dikenalkan dgn semua..... blm titik, Bella usah seneng duluan😄