NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Keesokan paginya, Rani sudah duduk tenang di ruang tamu. Di sampingnya, seorang pria berjas hitam tampak sibuk menyusun beberapa berkas di atas meja.

Roy yang baru turun dari lantai dua dengan pakaian kerja lengkap langsung menghentikan langkahnya. Alisnya berkerut saat melihat pria asing itu.

"Apa maksudmu?"

Rani mengangkat wajahnya lalu tersenyum tipis. "Suamiku, bukankah kemarin kamu bilang akan memberikan rincian harta bersama?"

Tatapannya bergeser ke arah pria di sampingnya. "Kebetulan aku sudah siap. Ini pengacaraku."

"Rani." Nada suara Roy mulai meninggi.

"Mas." Rani menyandarkan punggungnya ke sofa. "Sudah kubilang, jangan terus berteriak. Rumah ini terlalu besar untuk dipenuhi suara yang tidak perlu."

Belum sempat Roy menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Sintia yang mendengar percakapan mereka segera menghampiri.

"Kak Rani melakukan apa lagi?"

"Orang luar tidak perlu ikut campur." Rani menjawab tanpa sedikit pun menoleh.

Ucapan itu membuat wajah Sintia seketika berubah. Sepertinya hasil provokasi yang ia lakukan tak sesuai dengan harapannya.

Roy mengembuskan napas panjang. Berbeda dengan biasanya, kali ini ia berusaha menahan emosinya.

"Ran, tidak perlu sejauh ini. Kita ini suami istri. Apa yang menjadi milikku juga menjadi milikmu."

Rani tersenyum semakin lebar. "Nah, kalau begitu kebetulan sekali."

Ia menoleh kepada Hendi. "Pak Hendi."

Pria itu mengangguk, lalu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa map.

"Berdasarkan data yang kami terima, total aset atas nama Bapak Roy saat ini meliputi rumah, kendaraan, tanah, rumah sakit, serta beberapa usaha di bidang pertokoan."

Hendi membalik halaman berikutnya sebelum melanjutkan.

"Apabila Bapak menyatakan seluruh harta tersebut juga merupakan milik Ibu Rani sebagai harta bersama, kami akan menyiapkan seluruh dokumen yang diperlukan agar nama Ibu Rani turut dicantumkan pada aset-aset tersebut."

"Apa?"

Seruan itu bukan berasal dari Roy. Melainkan dari Sintia.

Wajah wanita itu memerah. Tatapannya beralih cepat ke arah Roy seolah berharap pria itu segera membantah.

Rani justru terkekeh pelan. "Sintia."

Wanita itu menoleh dengan rahang mengeras.

"Kenapa kamu yang paling terkejut?" Rani menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Ini urusan suami istri."

Kalimat itu membuat dada Sintia naik turun menahan amarah, tapi ia mencoba menahannya agar tidak meledak dan membuat Roy berpikir aneh tentangnya.

Sementara Roy hanya memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap Rani.

"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?"

Rani tidak langsung menjawab. Ia hanya merapikan ujung berkas di atas meja, lalu menatap Roy dengan senyum tipis.

"Aku hanya sedang mengambil apa yang memang menjadi hakku."

Roy menatap Hendi beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Rani. Tatapannya datar, tetapi rahangnya mengeras.

"Jadi, kamu sengaja membawa pengacara ke rumah ini untuk mempermalukanku?"

Rani menggeleng pelan. "Kalau aku ingin mempermalukanmu, aku tidak akan membawanya ke rumah. Aku akan langsung mengajukan gugatan ke pengadilan."

Kalimat itu membuat suasana ruang tamu mendadak sunyi. Bahkan Hendi yang berdiri di samping Rani memilih tetap diam. Ia membiarkan kliennya mengambil alih pembicaraan.

Roy menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Kamu mengancamku?"

"Aku sedang mengingatkan." Rani membalas tanpa gentar. "Tadi Mas sendiri yang bilang, apa yang menjadi milik Mas juga menjadi milikku. Aku hanya ingin memastikan ucapan itu tidak berhenti sebagai ucapan."

Roy mengembuskan napas pelan. Tatapannya bergeser ke arah berkas yang berada di tangan Hendi.

"Ucapan suami pada istrinya berbeda dengan pencantuman nama di seluruh aset."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, untuk apa semua ini?"

"Karena aku tidak suka kesalahpahaman." Rani tersenyum tipis. "Kalau memang aset itu bukan milikku, katakan dari awal. Jadi aku tidak perlu lagi menganggap ucapan Mas sebagai sebuah janji."

Sorot mata Roy berubah tajam. Ia tidak menduga jika Rani benar-benar memberikan gebrakan baru padanya, ia masih berpikir jika wanita itu hanya bersandiwara agar ia lebih memperhatikannya. Tapi sekarang ia merasa jika Rani tidak bisa ia anggap sepele lagi.

Di sisi lain, Sintia yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya tidak mampu menahan diri. "Kak Rani, kenapa harus menghitung harta? Bukankah rumah tangga bukan soal uang?"

"Sintia."

Wanita itu sontak terdiam.

"Aku sedang berbicara dengan suamiku."

Nada suara Rani tetap tenang, tetapi cukup untuk membuat wajah Sintia memanas. "Kalau tidak salah, sejak tadi aku sudah bilang, orang luar tidak perlu ikut campur."

"Kakak—"

"Atau..." Rani memotong sebelum Sintia sempat melanjutkan. "Jangan-jangan ada alasan lain kenapa kamu terlihat lebih khawatir daripada suamiku?"

Wajah Sintia langsung memucat. Sementara Roy mengangkat satu tangan, menghentikan Sintia yang hendak membalas.

"Cukup." Pria itu menatap Rani beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Kamu mau rincian aset?"

"Iya."

"Akan aku berikan."

Belum sempat Rani berbicara, Roy melanjutkan kalimatnya.

"Tapi bukan hari ini."

"Kenapa?"

"Aku tidak pernah mengambil keputusan sebesar itu tanpa persiapan." Nada suaranya kembali dingin dan penuh wibawa. "Aku akan meminta tim legal rumah sakit dan kuasa hukumnya menyiapkan seluruh dokumen. Setelah itu kita duduk bersama."

Rani mengangguk pelan. "Baik."

Jawaban yang terlalu mudah itu justru membuat Roy mengernyit.

"Kamu tidak keberatan?"

"Aku hanya ingin kepastian." Rani berdiri dari duduknya. "Kalau Mas sudah berjanji menyiapkannya, aku akan menunggu. Tapi ingat aku tidak bisa menunggu lebih lama."

Ia memberi isyarat kepada Hendi untuk membereskan berkas-berkas di atas meja.

"Sementara itu..."

Tatapan Rani menajam. "Hari ini aku mulai mendidik anak-anakmu. Jadi selama aku menjalankan tugasku, Mas dan kamu, Sintia, jangan ikut campur."

Roy menyipitkan mata. "Kamu mau melakukan apa?"

Rani tersenyum tipis. "Tenang saja. Aku bukan orang yang menyelesaikan masalah dengan menyewa preman agar orang lain bertekuk lutut. Yang perlu kalian lakukan hanya satu, jangan ikut campur. Biarkan aku menjalankan tugasku sebagai ibu tiri sebagaimana mestinya."

Setelah mengatakan itu, Rani memberi isyarat kepada Hendi untuk mengikutinya. Ia mengantarkan pengacaranya hingga ke depan rumah, meninggalkan Roy dan Sintia yang masih berdiri mematung di ruang tamu.

Beberapa saat suasana berubah sunyi. Roy mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja dilewati Rani, seolah sulit menerima bahwa wanita yang selama ini selalu menuruti kemauannya kini berani membalikkan keadaan.

"Dia..." gumam Roy pelan. "Sebenarnya kenapa bisa berubah seperti itu?"

Sintia mengepalkan tangannya pelan. "Mas, Kak Rani sengaja melakukan semua ini. Dia tahu Mas tidak suka dipermalukan, makanya dia membawa pengacara ke rumah. Kalau Mas terus mengalah, lama-lama dia akan menguasai semuanya."

Roy menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya yang mulai terasa berat. Selama bertahun-tahun, ia selalu mampu membaca jalan pikiran Rani. Namun sekarang, setiap langkah wanita itu justru berada di luar dugaannya.

"Mas, Haikal sudah ada di rumah ini." Sintia memecah keheningan. "Kita masih bisa memanfaatkannya."

Roy menggeleng pelan. "Sintia, Rani hampir tidak pernah meninggalkan Haikal. Dia menjaganya dua puluh empat jam. Dan aku..."

Ucapan itu menggantung begitu saja.

Mata Sintia langsung menyipit. "Mas jangan bilang kalau Mas mulai luluh pada Haikal. Ingat, masih ada Aksan, Arlan, dan Arjun."

Roy terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Tapi... Haikal juga anakku, Sin. Aku..."

Kalimat itu kembali terputus.

Sintia memahami keraguan yang mulai muncul di hati Roy. Selama ini, pria itu memang dikenal dingin dan tegas. Namun, sekeras apa pun Roy menolak, Haikal tetap darah dagingnya sendiri. Dulu, ia berhasil memprovokasi Roy hingga membiarkan Rani memasukkan Haikal ke rumah sakit jiwa. Kini, setelah ayah dan anak itu kembali berada di bawah satu atap, rasa bersalah yang selama ini terkubur perlahan mulai muncul ke permukaan.

Sintia menggigit bibirnya pelan. Ia tidak boleh membiarkan hati Roy berubah.

"Mas..." panggilnya tiba-tiba.

Roy menoleh.

"Bagaimana kalau kita buat Kak Rani kehilangan statusnya sebagai seorang ibu?"

Kening Roy langsung berkerut.

"Maksudmu?"

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!