Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
This Night
Pandangan Emily masih kabur tatkala kelopak matanya perlahan terbuka. Langit-langit putih dengan lampu gantung modern menggantung di atasnya. Emily mengerjap beberapa kali, mencoba mengingat di mana dia berada. Yang terakhir ia ingat hanyalah kilatan cahaya, teriakan pilot, kemudian air laut yang dingin bagai menelan mereka hidup-hidup.
Kepalanya terasa berdenyut kala ia mencoba bangun. Rambutnya masih lembap, menempel di pelipis dan leher. Dengan tangan gemetar, ia meraba sekeliling, merasakan ranjang empuk, sprei hangat, aroma menenangkan pengharum ruangan. Ruangan itu tidak luas, tapi cukup mewah. Dinding berwarna krem dengan corak kayu, lemari built-in, dan satu jendela besar yang menampakkan langit malam yang dibasahi rinai hujan.
Emily menunduk. Selimut tebal menutupi tubuhnya, dan begitu ia angkat, jantungnya terasa melompat lantaran pakaiannya sudah berganti.
Sekilas panik terbersit di wajahnya. Ia menatap sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Sunyi, hanya bunyi hujan di luar. Ia segera ingin turun dari ranjang, namun baru sempat menggerakkan kaki, pintu kamar terbuka.
Raphael muncul di sana.
Rambut pria tersebut tidak lagi klimis, tak lagi tersisir licin seperti biasanya. Kini tampak jatuh berantakan di dahinya, sebagian masih lembap. Ia mengenakan kaus putih tipis dan celana panjang hitam biasa. Terlalu sederhana untuk seorang pria yang selalu tampil dengan segala pamor dan keangkuhannya. Tapi justru itu yang membuat Emily menatap sekilas lebih lama dari yang ia inginkan.
"Sudah bangun?" tanya Raphael, sedikit serak. "Ada yang terasa sakit di tubuhmu?"
Emily menegakkan punggungnya dengan waspada. Raphael berjalan mendekat kemudian duduk di tepi ranjang, tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat mereka merasakan hangat tubuh satu sama lain. Tak disangka-sangka tatapannya lembut, tidak mengintimidasi seperti biasanya.
"Aku..." Emily menelan ludah, membasahi tenggorokan. "Kepalaku sedikit pusing. Tapi... tidak ada yang sakit." Ia menatap wajah pria itu lebih lama, lantas menyadari ada luka kecil di pelipis Raphael. Luka itu masih merah, sedikit mengering.
Kilasan ingatan datang kembali. Air, api, teriakan, lalu pelukan erat Raphael sebelum semuanya gelap dan menghilang.
"Di mana kita?" tanya Emily akhirnya. "Sekarang jam berapa? Apa yang terjadi dengan pilot itu? Siapa yang—"
"Hey, hey," Raphael menyela, mengangkat tangannya. "Pelan-pelan, Miss Cooper. Tanyalah satu-satu, jangan panik."
Emily memejamkan mata sejenak, menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Raphael mencondongkan tubuh sedikit. "Keadaan sekarang sudah aman. Sekarang baru pukul tujuh malam," ujarnya. "Pilot itu, kondisinya cukup parah, tapi aku sudah menyuruh orang membawanya ke rumah sakit terdekat."
Emily menatapnya tak percaya. "Rumah sakit? Jadi kita—"
"Kita sekarang di rumah ibuku," potong Raphael. "Rumah lama, tak jauh dari lokasi jatuh. Aku tidak punya pilihan lain. Kau basah kuyup dan tidak sadarkan diri. Kalau aku biarkan lebih lama di luar, kau mungkin sudah—" Ia menghentikan kalimatnya, menarik napas, lalu menatap ke arah lain. "Ya, intinya kita aman sekarang."
Emily menunduk, menelan kegugupannya.
"Dan... soal pakaian ini?" tanyanya hati-hati. "Kau—"
Kontan, Raphael terkekeh pelan, seolah sudah menebak arah pikiran wanita tersebut. "Tidak, aku tidak melakukan apa pun padamu, Emily. Aku tidak mau mengambil resiko dengan mengganti pakaianmu dan mendapat caci maki sepanjang hari setelahnya." Ia menatapnya lurus. "Di rumah ini masih ada satu orang yang sudah bekerja lama untuk mengatur rumah dan mengaja, seorang ibu paruh baya. Dia yang menggantikan bajumu. Jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak tentangku."
Emily mendengkus kecil, sedikit lega tapi tetap tidak sepenuhnya tenang. Ia mengalihkan perhatian pada meja di samping tempat tidur. "Ponselku?"
Raphael menunjuk ke nakas. "Di situ. Tapi mati total. Sama sepertiku. Air laut, remember? Semua dokumen yang kau bawa juga hancur. Basah semua."
Mendengar itu, Emily langsung mengerutkan alis. Ia meraih tas kulit yang kini tampak lusuh dan robek di tepiannya. Berkas-berkas yang tadinya rapi kini hanya gumpalan kertas lembap. Ia menghela napas panjang, frustrasi. "Aku harus pulang sekarang. Aku harus mengabari Ceysa dan orang kantor," katanya cepat, mencoba bangkit dari ranjang.
Namun sebelum sempat berdiri, tangan Raphael terulur, menahan bahunya. "Tidak sekarang," ujarnya pelan. "Kau baru saja sadar. Tubuhmu masih lemah."
Emily menatapnya kesal. "Raphael, aku—"
"Sstt!" Raphael menatapnya dengan sedikit memerintah, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat Emily mendengarkannya. "Besok kita akan kembali, aku janji. Tapi malam ini, kau istirahatlah disini. Di luar masih hujan deras. Aku juga sudah menghubungi orang-orang satu jam lalu untuk memberitahu soal insiden kita. Jadi berhentilah khawatir."
Emily menatapnya lama, antara ingin marah dan tak berdaya. Namun nada suara Raphael kali ini berbeda, tidak lagi seperti pengacara yang selalu berusaha memenangkan setiap argumen, melainkan seperti seseorang sungguhan peduli.
Setelah menimbang sejenak ucapan pria itu, Emily akhirnya menyerah, kembali duduk di ranjang pun lantas bersandar penuh pada sandaran kepala. Kepatuhannya itu membuat Raphael tersenyum tipis, hampir tak kentara di sudut bibirnya.
"Kau hanya menanyakan soal pilot?" ujarnya pelan, nada suaranya kembali sedikit menggoda. "Tidak ingin tahu bagaimana keadaanku yang sudah repot-repot menolongmu?"
Mata sayu Emily menyipit tajam, ekspresinya dingin namun tak sepenuhnya bisa menyembunyikan kelelahan. "Aku bisa melihat kau baik-baik saja," balasnya datar. "Jadi kupikir tak perlu ditanyakan."
Emily terdiam sejenak. Sebenarnya kalimat itu masuk akal, tapi karena yang mengucapkannya adalah Raphael, ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Ketukan kecil di pintu memecah suasana di antara mereka. Raphael menoleh. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah sopan, membawa nampan.
“Maaf mengganggu, Tuan Besar. Makan malam sudah siap. Apakah Tuan ingin makan di ruang makan atau di kamar?"
Raphael menoleh pada Emily sejenak, lalu kembali menatap wanita itu. "Di kamar saja. Dia masih harus banyak istirahat."
Wanita itu mengangguk, lantas menaruh nampan di meja kecil di dekat ranjang. Aroma sup hangat dan roti panggang menyeruak di udara. Setelah wanita itu pergi, Raphael berdiri, mengambil piring, lalu menatap Emily sambil tersenyum miring.
"Seperti yang sudah ku katakan, kau masih lemah, Emily," ujar Raphael. "Baiknya aku menyuapimu makan."
Mendongak, Emily menatapnya seolah baru mendengar lelucon paling konyol malam itu. "Terima kasih, tapi aku masih punya tangan, Raphael. Aku tidak lumpuh."
Raphael terkekeh pelan, matanya memandangi wajah serius Emily dengan ekspresi menggoda. "Padahal aku berbaik hati meringankan pekerjaanmu."
"Kalau kau tidak keberatan," potong Emily dingin, "lebih baik keluar. Aku ingin makan tanpa tatapanmu yang melihatku buas seperti itu terus menerus."
Raphael mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah. "Baiklah, Nona Cooper. Aku akan membiarkanmu menikmati makan malammu sendiri." Ia berbalik perlahan menuju pintu, lalu menoleh sekilas dengan senyum menggoda. "Jangan tersedak tanpa aku di sini."
Emily hanya mendengus, menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Setelah ruangan kembali tenang, ia menarik napas panjang dan menatap hidangan di hadapannya. Meski awalnya tak berselera, satu sendok pertama membuat matanya sedikit melebar. Ternyata sup tersebut luar biasa lezat, lembut, dan menenangkan tenggorokannya yang masih kering. Tanpa sadar, ia mulai menikmati setiap suapan perlahan.
Seraya makan, pandangannya tertuju pada ponsel di atas nakas. Ia meraihnya dan mencoba menyalakannya, berharap ada keajaiban. Akan tetapi nihil, layar itu tetap saja gelap. Emily mengembuskan napas berat, rasa frustrasi merayap dalam dadanya. Semua data penting, dokumen, kontak lenyap. Ia menyandarkan tubuh, menatap kosong ke arah jendela yang buram oleh sisa hujan di luar.
Kilasan kejadian tadi sore kembali menghantam pikirannya, dimana suara baling-baling yang berderit masih terasa nyata di telinganya, guncangan keras, jeritan pilot, dan detik-detik sebelum mereka jatuh ke laut. Emily meremas selimutnya erat. Tubuhnya bergidik mengingat dinginnya air yang menelan mereka, dan betapa ia nyaris tenggelam sebelum tangan besar Raphael menariknya ke permukaan.
Ia tidak ingin mengakuinya, tapi tanpa pria itu, ia mungkin sudah tidak bernapas sekarang. Lidahnya kelu untuk mengucapkan terima kasih, gengsinya lebih kuat dari rasa syukurnya. Tapi di dalam hati, ia tahu ia berutang nyawa pada Raphael Walter.
Tepat ketika ia menaruh sendok terakhir, pintu kamar terbuka pelan. Ibu paruh baya tadi kembali masuk, "Sudah selesai, Nona?" tanyanya sopan.
Emily mengangguk, menyodorkan piring kosongnya. "Ya, terima kasih. Makanannya sangat enak."
Wanita paruh baya itu tersenyum kecil sambil menyerahkan piring makanan ke tangan Emily. "Syukurlah. Ini, silakan diminum air putihnya, dan tolong habiskan tablet ini juga supaya tubuhmu bisa pulih lebih cepat. Kau baru saja tidak sadarkan diri cukup lama, Nona."
Emily menerima segelas air dan pil kecil itu tanpa kecurigaan sedikit pun. "Terima kasih," ucapnya singkat, terdengar tulus kali ini.
Setelah wanita itu melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Emily menatap gelas di tangannya sebelum menyesap airnya perlahan lalu menelan obat tersebut. Ia sama sekali tidak tahu bahwa tablet itu bukanlah vitamin biasa untuk memulihkan daya tahan tubuhnya, melainkan sebuah pil penenang berdosis khusus yang sengaja disiapkan oleh Raphael. Pria itu sengaja memberikannya melalui perantara ibu paruh baya yang polos tersebut agar Emily tidak menaruh curiga dan bersedia meminumnya.
Raphael memang masih begitu terobsesi untuk menaklukkan keangkuhan Emily. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malam ini. Ia harus membuktikan kebenaran di balik kegagalannya waktu itu bersama Emily, apakah reaksi frustrasi yang ia alami kemarin terjadi karena kondisi fisiknya yang sedang menurun, ataukah karena benteng pertahanan Emily yang terlalu tebal sampai menolak gejolaknya. Dengan obat penenang yang akan mengikis perlahan kendali akal sehat Emily dan membuatnya separuh tidak berdaya, malam ini Raphael akan mendapatkan jawaban mutlak atas egonya.
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima