"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Pak Soerya melangkah masuk dengan senyum yang tidak pernah pudar, seolah kegembiraan pagi ini terlalu besar untuk disembunyikan. Keranjang anyaman diletakkannya di atas meja dengan bunyi berdebuk pelan, disertai aroma rempah yang segera merebak ke seluruh ruangan.
"Rupanya Ayah mengganggu waktu kalian!" ucapnya, nada bicaranya bergelitik sindiran halus yang membuat Meysa ingin sekali membenamkan wajahnya ke bantal. "Ah, kalau begitu Ayah keluar lagi, deh. Ayah tunggu di luar. Rangga, kamu bantu beresin barang-barang Meysa. Setelah ini kita ke farmasi ambil obat istrimu."
Rangga mengangguk cepat. "Baik, Yah."
Meysa hanya bisa terdiam, pipinya merona. Ia tidak pernah menyangka, Ayah mertuanya akan bersikap seperti itu melihat mereka. Pak Soerya adalah lelaki tua yang hangat namun tegas, sosok yang selama ini ia hormati sebagaimana ia menghormati ayah kandungnya sendiri.
Pak Soerya menghilang di balik pintu dengan tawa kecil yang terdengar sampai ke ujung koridor.
Rangga tidak kehilangan momentum. Ia bergegas mengumpulkan barang-barang Meysa, baju ganti yang masih tergantung di belakang pintu, sandal yang tercecer di bawah brankar, semuanya ia masukkan ke dalam tas ransel dengan cepat.
Satu jam kemudian, mereka bertiga melangkah keluar dari rumah sakit. Sinar matahari pagi menyambut dengan hangat, seperti mengucapan selamat datang bagi mereka yang baru saja meninggalkan masa-masa gelap.
Perjalanan menuju apartemen ditempuh dalam keheningan yang tidak canggung. Pak Soerya duduk di kursi depan menemani sopir, sesekali menoleh ke belakang hanya untuk memastikan menantunya baik-baik saja. Rangga duduk di samping Meysa di jok belakang, tubuhnya sedikit menjauh meskipun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah istrinya.
Setibanya di apartemen, Pak Soerya turun lebih dulu. Dengan langkah lelaki yang terbiasa memimpin, ia membukakan pintu untuk Meysa, membantu menuntunnya masuk, lalu mempersilakan putranya membawa tas.
Pak Soerya mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya menari-nari di atas layar, menelepon sana-sini dengan nada bicara yang tegas.
"Maafkan Ayah." ucap Pak Soerya sambil menghela napas,"Ayah harus pindah ke luar negeri bulan depan. Pekerjaan tidak bisa ditunda, tapi Ayah sudah pastikan semuanya aman untuk kalian berdua."
"Ke luar negeri, Yah? Berapa lama disana?" selama ini Rangga tidak pernah ditinggal jauh oleh Ayahnya.
"Tergantung proyek." Pak Soerya menatap Rangga. "Kamu harus jaga Meysa baik-baik. Jangan sampai Ayah dengar kabar buruk tentang dia."
Rangga menunduk. "Iya, Yah."
Meysa tersenyum tipis melihat interaksi ayah dan anak itu. Hangat. Saling menjaga. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ia miliki secara utuh di keluarganya sendiri.
Tidak lama kemudian, setelah segala pesan dan wejangan disampaikan, Pak Soerya pamit. Masih ada banyak urusan yang menunggunya. Rangga mengantarkan ayahnya hingga ke lift.
Meysa berdiri di dekat jendela, membelakangi Rangga. Pemandangan kota terhampar luas di hadapannya, tapi ia tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya terlalu sibuk mengingat amplop putih itu, yang entah di mana keberadaannya...
**********
Hari berganti dalam diam yang panjang.
Perlahan Meysa mulai sembuh, rasa nyeri di perutnya mereda, dan jiwanya yang sempat tercabik-cabik mulai merangkak kembali ke permukaan. Meysa kembali melanjutkan kuliahnya dengan penampilan seratus persen berbeda dari sebelumnya.
Rangga melihat perubahan itu dari kejauhan. Pagi-pagi, ketika Meysa keluar kamar dengan pakaian rapi dan parfum samar yang menyeruak di udara, ia hanya bisa terdiam. Istrinya kini terlihat seperti perempuan diluar sana, dengan gaya modis.
"Cantik."
Kata itu kembali terucap dalam hatinya. Tetapi kali ini disertai rasa sakit yang menusuk, karena Meysa yang cantik itu tidak pernah lagi menatap matanya.
Hari-hari di kampus berubah menjadi panggung baru bagi Meysa.
Renal yang sebelumnya hanya diam-diam memperhatikan dari kejauhan, kini memilih untuk mendekati Meysa secara terang-terangan, ia tidak peduli pada sahabatnya..
Cinta membuat laki-laki berani mengambil risiko.
Pagi itu, udara di koridor kampus masih sejuk. Meysa baru saja turun dari mobil online yang mengantarkannya, tas selempang coklat melintang di dada, rambutnya yang bergelombang tergerai sempurna. Rok midi berwarna krem dan blouse putih polos membuatnya terlihat seperti bidadari yang tersesat di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang sibuk dengan dunianya masing-masing.
"Selamat pagi, Cha," sapa Renal sambil menodongkan sebuah botol minuman berisi jus stroberi berwarna merah muda, Wajahnya berseri, senyumnya tulus.
Meysa tersenyum tipis, menerima jus itu dengan tangan kanannya."Selamat pagi juga, wow jus. Terima kasih Mas Renal yang baik hati." puji Meysa, sembari mengedipkan satu matanya.
Tak jauh dari sana, Rangga berdiri dengan wajah berkerut, alisnya bertaut, dan rahangnya mengeras menahan sesuatu yang ingin ia lempar ke sembarang arah.
Tiba-tiba, dari balik keramaian, seorang perempuan melangkah dengan anggun. Gaun panjang bermotif bunga, rambut pirang yang disanggul rapi, dan senyum yang terlihat manis namun terasa dingin bagi siapa pun yang cukup peka untuk merasakannya.
Ia berjalan tepat ke arah Meysa, lalu tangannya merebut botol jus yang sedang Meysa pegang.
"Wah, stroberi. Kesukaan gue juga, nih," ucap Emily, seolah ia berhak mengambil apa pun yang ia inginkan. Ia lalu menyeruput jus itu dengan pelan, matanya menatap Meysa
Meysa membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau.
Emily mendekatkan wajahnya ke telinga Meysa,"Terus lanjutkan ya, Cantik," bisiknya, "Setelah ini ceraikan Rangga. Biarkan dia hidup bersamaku."
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih