NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagap Budaya Alessa di Depan Kamar Mandi Otomatis

Sinar matahari pagi kian tinggi, menembus kaca antipeluru Paviliun Timur dan memantulkan kilau kemewahan di atas lantai granit kamar baru Alessa yang seluas lapangan sepak bola. Setelah kepergian Giovanni Alberto dari ruangan megah itu, keheningan kembali merayap kaku. Namun, bagi Alessa, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah urgensi biologis yang sangat manusiawi mendadak mengetuk sistem pencernaannya—efek samping dari sup ayam Prancis seharga lima juta rupiah kemarin siang berpadu dengan ketegangan saraf pasca-konfrontasi emosional dengan Rian.

​Alessa menatap nanar ke arah sebuah pintu geser raksasa dari kaca buram berbingkai titanium di sudut ruangan. Berdasarkan peta fungsional yang sempat dijelaskan Titi sebelum ditarik keluar oleh Bu Lastri, di balik pintu itulah terletak kamar mandi privatnya.

​Dengan sangat hati-hati, Alessa menggerakkan roda kursi rodanya menggunakan kedua belas jemari tangannya yang masih kasar. Punggungnya yang dijahit dengan metode mikro-bedah berdenyut linu tipis, sementara sepasang telapak kakinya yang dibungkus kaos kaki katun organik setebal dua sentimeter terasa kaku menggantung.

​Sreeet...

​Pintu kaca buram itu bergeser tanpa suara sedikit pun saat Alessa mendekat, mendeteksi sensor gerakan tubuhnya dari jarak dua meter. Ketika kursi rodanya melewati ambang pintu, Alessa seketika menghentikan gerakan tangannya. Matanya kembali melotot hingga batas maksimal, kelopak matanya kaku tak berkedip menyaksikan distorsi visual interior di depannya.

​Kamar mandi itu bukan sekadar tempat membersihkan diri; ia adalah sebuah laboratorium sanitasi futuristik kasta tertinggi yang dirancang oleh arsitek Swiss. Dindingnya dilapisi marmer hitam Nero Marquina dengan urat emas murni yang berpendar di bawah lampu LED tersembunyi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah bathtub pualam putih raksasa yang ukurannya menyerupai kolam lumba-lumba sirkus kustom. Di sudut lain, sebuah bilik pancuran air (shower) dengan tiga puluh lubang jet pijat pneumatik berdiri angkuh laksana ruang isolasi pesawat luar angkasa.

​Namun, pusat dari segala kegagapan budaya finansial yang dialami Alessa pagi ini adalah sebuah benda porselen putih yang bertengger di sudut kanan: sebuah kloset duduk otomatis generasi terbaru buatan Jepang dengan panel kontrol digital berlapis layar sentuh di sampingnya. Benda itu tidak memiliki tuas siraman manual, melainkan deretan tombol dengan simbol-simbol aneh yang lebih mirip panel kokpit pesawat jet tempur daripada alat pembuangan domestik.

​Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa rendah diri sebagai anak yatim piatu yang terbuang seketika kembali merayap masuk ke dalam dada Alessa. Di rumah petak kumuh Surabaya dulu, kamar mandinya hanyalah sebuah ruangan sempit berlantai semen lumutan dengan bak air dari ember cat bekas yang talinya rapuh. Untuk menyiram, dia harus menggunakan gayung plastik bolong yang warnanya sudah pudar. Silsilah kemiskinan struktural itu kini berbenturan secara frontal dengan teknologi sanitasi Il Miliardario yang terlalu sempurna untuk disentuh oleh manusia penuh lebam seperti dirinya.

​“Ibu... Ayah... Alessa bener-bener mau nangis,” ratap batin Alessa, rasa sesak yang masif membuat dadanya kembali terasa menarik jahitan di punggungnya. “Gis semprul dari Surabaya ini cuma mau buang air, tapi kenapa semesta malah ngasih ujian teknologi tingkat tinggi begini? Kalau salah pencet tombol, apa kloset ini bakal ngeluarin rudal kendali yang siap meledakkan sisa nyawa Alessa?”

​Amarah yang dingin terhadap takdir yang selalu mempermainkannya dalam situasi paling intim sekalipun berpadu dengan kepanikan psikologis yang mencekik. Namun, tepat ketika sekring mentalnya hampir putus akibat syok budaya akut, tameng sarkasme radikal di dalam otaknya langsung menyala di garda terdepan. Menertawakan penderitaan adalah satu-satunya instrumen kewarasan yang Alessa miliki untuk menolak tunduk pada intimidasi arsitektural ini.

​Alessa memajukan kursi rodanya hingga berhenti tepat di samping kloset futuristik tersebut. Begitu dia mendekat, penutup porselen kloset itu mendadak terbuka ke atas secara otomatis dengan bunyi desis hidrolik yang sangat halus, seolah-olah benda itu sedang memberikan penghormatan militer kepada seorang komandan perang.

​"Waduh..." celetuk Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, memecah kesunyian kamar mandi marmer tersebut. "Sopan banget ini barang. Belum juga pantat gue menyentuh permukaannya, dia sudah mangap duluan kayak buaya muara kelaparan di pelabuhan Surabaya. Apa di duniaku yang serba mewah ini, kloset duduk punya kemampuan indra keenam buat mendeteksi penderitaan lambung seorang mumi mesir?"

​Alessa mencondongkan tubuhnya yang kaku, memicingkan mata cokelatnya untuk membaca barisan tombol di panel kontrol digital samping kloset. Di sana tertera tulisan berbahasa Inggris dan Jepang dengan lampu indikator neon biru yang berkedip-kedip: Front Wash, Rear Wash, Deodorizer, Heated Seat, Water Pressure Control, Sonic Wave Flush, dan Tornado Air Dryer.

​"Gila..." Alessa mendengus parau, seulas senyuman kaku dan getir muncul di sudut bibirnya yang pecah. "Ini mau buang air atau mau meluncurkan satelit komunikasi internasional sih? Ada tombol Tornado Air Dryer segala. Apa fungsinya buat mengeringkan sisa-sisa harga diri gue yang hanyut di Terminal Pasar Turi semalam menggunakan angin topan kasta tinggi?"

​Dengan penuh kehati-hatian, Alessa memposisikan dirinya di atas kloset duduk tersebut, meringis kesakitan saat otot-otot di sekitar tulang belikatnya menegang menahan beban tubuh. Begitu kulit paha kurusnya bersentuhan dengan porselen, sebuah sensasi hangat yang sangat nyaman seketika menjalar. Fitur Heated Seat ternyata telah menyala secara otomatis, menyesuaikan suhu permukaan kloset dengan suhu tubuh ideal manusia.

​"Waduh, Mas Bos Giovanni..." gumam Alessa, matanya mengerjap tak percaya merasakan kehangatan buatan tersebut. "Silsilah kaku dan dingin lu bener-bener gak menular ke fasilitas sanitasi lu ya, Mas. Kloset ini hangatnya bener-bener kayak pelukan tulus dari seorang ibu, beda jauh sama hati lu yang mirip kanebo kering dijemur di atas genteng toko roti."

​Setelah menyelesaikan urusan biologisnya dengan penuh perjuangan psikologis, bencana gagap budaya yang sesungguhnya pun dimulai: prosedur pembersihan. Alessa menatap deretan tombol panel dengan kebingungan massal stadium akhir. Tangannya yang kasar gemetar di udara, ragu-ragu di antara tombol Front Wash atau Rear Wash.

​"Okelah, mari kita bertaruh memakai insting buronan sejati," desis Alessa datar penuh ironi. Dia menekan salah satu tombol yang memiliki simbol pancuran air kecil.

​Bzzzt...

​Sebuah pipa kecil berbahan titanium mendadak muncul dari balik lubang porselen, lalu menembakkan tekanan air hangat dengan presisi geometris yang sangat tinggi. Alessa tersentak, tubuhnya mendadak kaku laksana tersengat listrik tegangan rendah.

​"Heh! Heh! Ini tekanannya kok mirip jet sirkulasi air di tambak udang Surabaya sih?!" seru Alessa panik, tangannya bergerak liar menekan tombol sembarangan di panel kontrol untuk menghentikan pancuran gila tersebut.

​Bukannya berhenti, jari Alessa justru menekan tombol Sonic Wave Flush berbarengan dengan Tornado Air Dryer. Seketika itu juga, kamar mandi marmer itu dipenuhi oleh suara gemuruh frekuensi tinggi yang menyerupai suara turbin pesawat jet yang sedang lepas landas. Air di dalam kloset berputar membentuk pusaran tornado kecil dengan kecepatan kosmik, sementara semburan angin hangat bertekanan tinggi berembus kencang dari arah bawah, membuat gaun sutra putih gading Alessa berkibar-kibar layaknya bendera partai di tengah badai.

​"Gila! Gila! Ini kloset mau ngajak gue perang atau gimana?!" Alessa berteriak panik, memegangi pinggiran marmer dinding dengan wajah yang memutih pucat. "Mbak Titi! Bu Lastri! Tolongin gue! Gue mau disedot sama pusaran tornado jepang kasta tinggi!"

​Tepat pada puncak kepanikan massal domestik Alessa di dalam kamar mandi tersebut, pintu kaca buram kembali bergeser terbuka secara otomatis. Sosok Giovanni Alberto berdiri tegak di ambang pintu, masih mengenakan setelan jas abu-abu arangnya yang sempurna tanpa kerutan sedikit pun. Sepasang matanya yang berwarna hitam kelam menatap lurus ke arah Alessa yang sedang berpegangan kaku di atas kloset yang masih mengeluarkan suara gemuruh angin topan.

​Aura intimidasi dan wewenang mutlak yang dipancarkan pria itu seketika menembus kabut kepanikan Alessa. Kehadiran Il Miliardario di tempat paling intim ini menciptakan sebuah distorsi atmosfer sensorik yang luar biasa pekat, mengalahkan wangi aromaterapi lavender yang keluar dari sistem Deodorizer kloset.

​Giovanni tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau marah. Dia melangkah masuk dengan ketenangan seorang kaisar tertinggi, mendekati panel kontrol digital tersebut dengan gerakan lambat yang penuh wibawa. Tangan kanannya yang halus terulur, menekan satu tombol merah kecil bersimbol tanda silang (Stop) yang sejak tadi luput dari pandangan mata panik Alessa.

​Klik.

​Seketika itu juga, gemuruh turbin jet berhenti. Pusaran air tornado lenyap, dan semburan angin topan yang mengibarkan gaun Alessa mati seketika, mengembalikan keheningan kaku di dalam kamar mandi marmer Nero Marquina tersebut.

​Giovanni menurunkan pandangan matanya, menatap Alessa yang masih mematung dengan napas memburu kasar di atas kloset duduk. "Apakah kapasitas intelektual sarkasmemu tidak sanggup membaca instruksi fungsional sebuah kloset elektronik, Gadis Sarkas?" tanya Giovanni datar, suaranya yang berat, rendah, dan dingin menggema pelan di antara dinding marmer.

​Alessa menarik napas panjang, mencoba memulihkan sisa-sisa harga dirinya yang baru saja diacak-acak oleh teknologi jepang. Tameng sarkasme radikalnya kembali terpasang secara paksa, membalas tatapan sedingin es sang miliarder dengan kilatan keberanian yang menolak mati.

​"Mas Bos Giovanni..." kata Alessa parau, sudut bibirnya memaksakan seulas senyuman ironis. "Lu kalau mau pasang perangkap pembersihan massal buat gue, bilang-bilang dong, Mas. Gak usah pakai kedok memindahkan gue ke kamar mandi otomatis yang luasnya setara lab penelitian nuklir begini. Kloset lu ini bener-bener kriminil, Mas Bos. Tekanan anginnya hampir saja membuat sisa jahitan di punggung gue lepas dan membuat jiwa miskin gue terbang menuju keabian finansial antar-galaksi."

​Giovanni tidak membalas ironi tersebut dengan kemarahan, namun kilatan kepuasan yang pekat kembali bergolak di balik manik mata hitamnya. "Fasilitas ini diberikan untuk menaikkan kasta fungsional hidupmu, Alessa. Di bawah perlindunganku, bahkan cara pembersihan dirimu pun harus menggunakan standar presisi tertinggi."

​Giovanni berbalik, melangkah keluar meninggalkan kamar mandi dengan keanggunan yang tak tersentuh. "Titi akan membantumu kembali ke ranjang. Bersiaplah, karena siang ini, tim desainer fasyun internasional akan datang untuk mengukur tubuh penuh lebammu."

​Alessa menatap punggung tegap Giovanni yang menghilang di balik pintu kaca buram. Sebuah tawa pendek yang sangat kering akhirnya lolos dari celah bibirnya. Gagap budaya pagi ini telah resmi mencatat kekalahan pertamanya di depan teknologi Il Miliardario, namun di dalam sangkar emas yang kaku dan penuh kalkulasi ini, Alessa menyadari bahwa permainan takdir barunya baru saja dimulai di babak yang paling tidak konvensional.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!