Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Etiket Ini Melelahkan
Sore yang hampir terlalu sunyi untuk sebuah mansion di tengah hutan pinus.
Noah duduk di dekat jendela kaca besar dengan gorden yang telah tersibak sempurna. Cahaya matahari senja jatuh samar di wajahnya yang tetap tenang tanpa emosi berarti.
Di pangkuannya, sebuah tablet terus menggulir notifikasi masuk beserta dokumen yang memerlukan persetujuannya.
Berita-berita semalam telah menghilang.
Skandal ciuman.
Cinta satu malam.
Dan rumor Lilly perempuan penggoda.
Semuanya lenyap tanpa jejak, tergantikan oleh headline baru.
Pertunangan Putra Mahkota.
Dukungan House d'Orvain.
Cinderella Modern Vardoria.
Lucunya, pusat dari seluruh berita itu kini tinggal di bawah atap yang sama dengannya.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Morgan memasuki ruangan luas itu lalu menundukkan kepala hormat.
"Yang Mulia Pangeran."
"Sudah ditemukan?" tanya Noah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Sampai saat ini belum."
Morgan mengangkat pandangannya sekilas ke arah Noah yang masih tampak tenang di tempatnya.
"Anehnya seluruh media mengaku menerima informasi dari sumber anonim. Semua alamat IP dan jalur penyebaran berita tersebar acak."
Jemari Noah mengetuk pelan permukaan tablet.
Tik.
Tik.
Senyum samar terangkat di sudut bibirnya.
Ia tahu satu hal yang pasti—
semua ini tidak mungkin dilakukan sendirian. Dan tentu bukan hanya ulah seorang pelayan istana rendahan.
Permainan media sebesar ini membutuhkan koneksi, uang, dan pengaruh yang cukup untuk menggiring opini publik Vardoria hanya dalam beberapa jam.
"Kami akan terus menyelidikinya."
"Tidak perlu."
Noah akhirnya mengangkat pandangannya pelan.
"Suatu hari nanti dia akan muncul sendiri."
Morgan terdiam sesaat sebelum akhirnya menundukkan kepala.
"Baik, Yang Mulia."
Suasana kembali sunyi beberapa detik. Namun Morgan tampak masih ragu untuk pergi.
"Ngomong-ngomong..." ucapnya hati-hati.
"Lady Lillyane telah menjalani pelatihan etiket hari ini."
Jemari Noah yang sejak tadi mengetuk tablet perlahan berhenti. Pandangan matanya lurus ke arah jendela.
"Bagaimana?"
"Madam Elish mendidiknya cukup keras hari ini."
Tatapan Noah perlahan menajam.
"Lalu?"
"Lady Lillyane beberapa kali terjatuh saat latihan postur dan berjalan."
Rahang Noah tampak mengeras samar. Tangannya yang bersandar di kursi perlahan bergerak menyentuh dagunya.
"Lanjutkan."
Morgan tampak bingung sesaat.
"Maksud Yang Mulia?"
"Lanjutkan pelatihannya."
Suasana kembali hening.
Namun entah mengapa, sejak semalam wajah Lilly terus terlintas di pikirannya.
Kosong.
Tenang.
Dan terlalu sulit dibaca.
"Aku akan melihatnya."
Noah bangkit dari duduknya. Tablet di tangannya diletakkan begitu saja di atas kasur sebelum ia melangkah keluar dari kamar.
Lorong mansion tampak sunyi dengan lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit.
Langkah Noah akhirnya berhenti di depan ruang pelatihan etiket. Sebenarnya tempat itu adalah ruang latihan balet.
Pintu ruangan terbuka sedikit.
Dari sana Noah dapat melihat bagaimana Madam Elish mendidik Lilly tanpa belas kasihan. Korset yang membelit pinggang gadis itu tampak begitu menyesakkan.
"Yang Mulia tidak masuk?" tanya Morgan pelan.
Namun Noah tetap memperhatikannya dalam diam.
"Calon Putri Mahkota harus selalu tersenyum hangat di depan publik."
Dari pantulan cermin besar di ruangan itu, Noah melihat keadaan Lilly dengan jelas.
Gaun latihannya telah kusut. Gelungan rambutnya mulai berantakan. Beberapa anak rambut mencuat keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh dan kelelahan.
"Senyumlah lebih anggun. Para bangsawan tidak membutuhkan wajah lelah Anda."
Untuk pertama kalinya, ada perasaan tak nyaman yang muncul dalam hati Noah saat melihat Lilly kembali terjatuh.
Namun ia tetap berdiri diam di tempatnya.
Madam Elish akhirnya berpamitan dan meninggalkan ruangan setelah pelatihan selesai.
Noah menunggu beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Lilly yang sejak tadi berdiri di depan cermin perlahan menoleh. Wajahnya tampak sembab.
Noah berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Peluh masih menetes di sisi wajah Lilly. Anak rambutnya berantakan. Gaun latihannya kusut di beberapa bagian.
Di tangannya masih terdapat sepasang heels serta tumpukan buku yang sebelumnya dipakai Madam Elish untuk latihan berjalan.
Mereka saling berpandangan cukup lama. Dan keheningan itu akhirnya pecah karena senyum Lilly.
"Apakah Anda puas, Yang Mulia?"
Nada suaranya terdengar datar.
Tanpa emosi.
Namun justru itu membuat dada Noah terasa sesak.
Apakah benar ia telah membawa gadis ini ke dalam kehancuran?
"Saya sudah belajar berjalan dan makan seperti bangsawan," lanjut Lilly pelan.
"Tapi tetap belum sesempurna harapan Anda."
Lilly tertawa kecil tanpa suara, pahit.
"Bibir saya rasanya hampir sobek karena harus tersenyum sepanjang hari."
Pandangannya terangkat lurus ke arah Noah.
"Tapi tenang saja."
Lilly kembali tersenyum—
Senyum yang sama sekali tidak terasa hangat.
"Saya akan terus belajar menjadi Putri Mahkota yang sempurna."
Noah tetap diam. Dan diamnya pria itu justru semakin memancing amarah Lilly.
"Meski harus kehilangan diri sendiri."
Setelah mengatakan itu, Lilly segera berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup pelan.
Menyisakan Noah seorang diri di tengah ruang latihan yang sunyi.
Pandangan Noah perlahan jatuh pada tumpukan buku yang tadi dibawa Lilly.
Lalu pada pantulan dirinya sendiri di cermin besar ruangan itu.
...----------------...
Malam harinya, suasana di lantai atas nyatanya jauh lebih sunyi dan dingin.
Lilly tengah duduk bersandar dengan kaki yang ia selonjorkan. Tampak memar di pergelangan kaki akibat heels yang ia pakai seharian. Lilly memijit pelan kakinya, berharap mampu memulihkan rasa pegal itu.
"Nona."
Ruth memanggil dari luar.
"Silakan masuk."
Gadis pelayan itu datang bersama nampan berisi cokelat panas. Uapnya masih mengepul dengan aroma kakao yang kental.
Ruth meletakkan nampan pada nakas sebelah Lillyane. Mata hazelnya menangkap sebuah karton pembungkus.
"Apa itu?"
"Salep untuk meredakan pegal. Biasanya para bangsawan memakai setelah lama berdansa atau berkuda."
"Aku tidak memintanya."
Ruth tampak diam sesaat,"Yang Mulia Pangeran yang meminta saya membawakan ini."
Untuk beberapa detik Lilly terdiam. Mata hazel itu tetap memandang pada salep tersebut.
"Jika anda berkenan, saya akan mengoleskannya."
Tak ada jawaban secara verbal. Lilly hanya menganggukkan kepala. Membiarkan Ruth memijat kakinya.
"Madam Elish memang terlalu keras hari ini."
"Aku baik-baik saja."
Ruth menghela nafasnya samar, "Semua pelayan yang dididiknya juga mengatakan hal sama."
Lilly tersenyum samar. "Berapa usiamu?"
"Aku masih delapan belas tahun."
"Cukup muda."
"Tapi pekerjaan ini, aku suka menjalaninya."
Dahi Lilly mengerut. "Kenapa?"
"Karena aku dapat belajar hal-hal yang kontras dengan cerita dongeng."
Lilly tersenyum samar— gadis ini ada benarnya.
"Lady, saya sudah selesai mengoleskannya."
Ruth menutup salep itu,"Saya akan keluar. Selamat beristirahat."
Lilly hanya tersenyum sebagai balasan.
Tangannya meraih secangkir cokelat panas yang kini uapnya kian menghilang.
Lilly menyesap cokelat panas itu perlahan.
Rasa manis dan hangatnya turun pelan di tenggorokan yang sejak tadi terasa sesak.
Pandangan matanya kembali jatuh pada salep kecil di atas nakas. Benda sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun entah mengapa—
dadanya justru terasa sedikit lebih hangat.
Sangat tipis.
Dan muncul dengan kurang ajarnya di tengah situasi seperti ini.
Noah tidak benar-benar tidak peduli padanya. Pikiran itu membuat Lilly terdiam cukup lama.
Ia mulai bingung memahami lelaki yang tadi hanya diam mendengar seluruh protes dan kemarahannya.
***