Sinta percaya bahwa rumah tangganya bersama Edi adalah tempat paling aman untuk pulang. Setelah bertahun-tahun menikah, ia rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan cinta yang ia anggap suci.
Namun, hidupnya runtuh dalam satu malam ketika ia mengetahui sebuah kenyataan pahit, suaminya sendiri berselingkuh dengan Mayang, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.
Di balik senyum manis dan perhatian Mayang selama ini, ternyata tersimpan pengkhianatan yang perlahan menghancurkan rumah tangga Sinta. Edi yang dulu begitu mencintainya kini berubah dingin, penuh dusta, dan diam-diam memilih wanita lain di belakangnya.
Sinta tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga kehilangan sahabat terbaik yang selama ini selalu ada di sisinya.
Terkadang..
Musuh paling kejam bukanlah orang asing
Melainkan orang yang pernah kita percaya sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang pertama
Pagi itu, langit diselimuti awan kelabu.
Sinta mengembuskan napas panjang sebelum menatap bayangan dirinya di cermin. Ia mengenakan gamis berwarna biru muda dengan hijab senada. Wajahnya tampak tenang, meski jauh di lubuk hati ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Hari ini...
Adalah sidang pertama gugatan perceraiannya dengan Edi.
Di ruang tamu, Fajar telah menunggu bersama Rahayu. Sebagai kakak kandung, Fajar ingin memastikan adiknya tidak menghadapi hari berat itu sendirian.
"Sudah siap?" tanya Fajar pelan.
Sinta mengangguk. "Insyaallah, Kak."
Rahayu menggenggam tangan adik iparnya dengan lembut.
"Apa pun hasilnya nanti, kami selalu ada untukmu," katanya sambil memandang wajah Sinta lekat-lekat, seolah ingin menyalurkan semangat kepada adik iparnya itu.
Sinta tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak."
Sebelum berangkat, Sinta memeluk Kayla yang sejak tadi enggan melepaskan pelukannya.
"Bunda lama enggak?" tanyanya polos.
Sinta membelai rambut Kayla dengan lembut.
"Bunda belum tahu, Sayang. Semoga saja Bunda enggak lama, ya. Kayla yang nurut sama Om Fajar dan Tante Ayu," kata Sinta sembari menasihati.
Kayla mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Siap, Bunda. Kayla pasti jadi anak yang baik."
Sinta tersenyum lembut, lalu mencium kedua pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda berangkat ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Beberapa saat kemudian, Sinta bersama kuasa hukumnya, Ardiansyah, berangkat menuju Pengadilan Agama dengan didampingi ayah dan ibunya.
*
*
Di tempat lain...
Edi duduk seorang diri di ruang tamu rumah yang masih ia tinggali. Di atas meja tergeletak surat panggilan sidang yang sejak semalam berkali-kali ia baca.
Tatapannya kosong memandang surat itu. Edi benar-benar tidak menyangka. Sinta yang begitu mencintainya selama ini benar-benar menggugat cerai dirinya.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu rumah diketuk dari luar.
Edi segera bangkit dengan tubuh lesu menghampiri pintu masuk. Begitu pintu terbuka, Tika dan ayah Edi sudah berdiri di sana.
"Ya Allah, Edi. Kenapa kamu jadi kurus begini sih?" seru Tika terkejut melihat putranya yang seolah menjadi zombie. Tubuhnya semakin kurus, janggut dan kumis mulai tumbuh, serta tubuhnya tampak lemas seperti tak memiliki tenaga.
Sedangkan ayah Edi memandang putranya dengan ekspresi datar.
"Cepat mandi sana dan ganti baju. Ini adalah hari sidang pertamamu," kata sang ayah dengan tegas.
Edi langsung menggeleng cepat.
"Tidak! Edi tidak akan datang ke sana. Edi belum rela berpisah dari Sinta!" teriaknya penuh penyesalan.
Plak!
Ayah Edi menampar putranya agar lekas sadar.
"Jangan jadi pria pengecut, Edi. Kau berani berbuat, maka kau juga harus berani menghadapi konsekuensinya."
"Bapak! Kenapa pukul Edi?!" kata Tika tak terima suaminya main tangan kepada putra mereka.
Ayah Edi kemudian beralih memandang sang istri.
"Dia itu laki-laki. Dia harus bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Dia sendiri yang dengan sadar bermain gila di belakang istrinya. Jadi saat sekarang Sinta menginginkan kebebasan, jangan lagi dipersulit."
Edi tertunduk. Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya memang benar adanya. Bukankah dulu dia sendiri yang menganggap berpisah dengan Sinta bukanlah masalah besar?
Sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Mereka semua langsung menoleh. Dari dalam mobil keluarlah Mayang dengan wajah berseri-seri, lalu melangkah menghampiri Edi dan keluarganya.
Mayang sedikit terkejut melihat penampilan Edi yang sekarang.
"Ya Allah, Mas Edi?" serunya, lalu refleks memegang perutnya.
Hilang sudah pria yang dulu ia anggap tampan, berpenampilan rapi, dan berkelas. Kini keadaan Edi hampir menyerupai gelandangan di pinggir jalan.
Pria yang selalu ia temui dengan pakaian rapi dan tubuh yang harum kini justru sebaliknya. Bahkan Mayang bisa mencium bau tak sedap dari tubuh Edi. Entah sudah berapa lama pria itu tidak mandi. Indra penciuman Mayang yang sensitif karena hamil muda otomatis membuatnya mual.
"Huek...!"
Mayang muntah-muntah di depan rumah yang masih ditempati Edi. Melihat Mayang muntah akibat mencium bau tak sedap dari tubuh Edi, Tika langsung menatapnya dengan sinis.
"Kenapa kamu? Jijik? Gini-gini dia pria yang kamu goda hingga menghasilkan perut buncitmu itu."
Mayang tergagap dengan perasaan tidak enak. Apalagi Tika mungkin sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya. Ia harus bisa mengambil hati wanita itu.
"Bukan begitu, Bu. Aku kan sedang hamil muda, jadi wajar kalau sedikit sensitif. Lagian di dalam perutku ini juga calon cucu Ibu."
Tika hendak kembali menjawab dengan kata-kata sarkastis, tetapi sudah lebih dulu dihentikan sang suami.
"Cukup! Edi, cepat berkemas. Dan kalian jangan terus berisik. Apa kalian tidak malu? Lihat itu, kalian sudah jadi bahan tontonan orang!" tegur ayah Edi dengan tegas.
Benar saja, banyak ibu-ibu yang tiba-tiba terlihat sibuk melakukan kegiatan di depan rumah masing-masing. Ada yang sedang menyapu, menyiram tanaman, bahkan ada yang membersihkan jendela. Entah memang benar sedang membersihkan halaman atau hanya ingin memuaskan rasa penasaran terhadap urusan orang lain.
*
*
*
Mobil Sinta lebih dulu sampai di halaman Pengadilan Agama. Mereka langsung memasuki gedung pengadilan tersebut. Rombongan Sinta hanya terdiri atas kuasa hukumnya serta kedua orang tuanya.
Tak berselang lama, Edi dan keluarganya juga terlihat memasuki gedung Pengadilan Agama. Edi tampak lesu dan tidak bersemangat, sedangkan di sampingnya, Mayang terlihat sebaliknya.
Sidang perceraian pun dimulai.
Sinta dimintai berbagai pertanyaan, begitu pula Edi.
Sinta tetap kukuh dengan keputusannya untuk bercerai, sedangkan Edi justru memohon agar rumah tangga mereka dipertahankan.
Setelah mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak, majelis hakim meminta mereka menjalani proses mediasi terlebih dahulu.
Sidang pun ditutup dan akan dilanjutkan pada waktu yang telah ditentukan.
Sinta dan keluarganya lebih dulu meninggalkan gedung Pengadilan Agama.
Edi menatap pilu kepergian Sinta.
Saat Sinta hampir mencapai pintu keluar pengadilan, Edi segera memanggilnya.
"Sinta!" seru Edi sambil melangkah mendekati mantan istrinya itu.
Ibu Dewi refleks menarik putrinya ke belakang tubuhnya agar pria itu tidak kembali mengelabui Sinta.
Sementara ayah Sinta memasang badan, menghalangi Edi agar tidak mendekat.
Edi pun menjadi canggung.
Mayang segera bergerak ingin menghampiri Edi. Ia takut pria itu kembali memohon kepada Sinta untuk rujuk.
Namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Tika.
"Mau ke mana kamu? Di sini saja. Itu bukan ranahmu. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Kamu ini bisanya hanya mengacau saja," kata Tika dengan nada sinis.
Sinta yang baik dan sangat sabar saja masih selalu salah di mata Tika.
Apalagi Mayang yang, menurut Tika, tidak memiliki kualitas apa pun sebagai seorang mEnantu.
Mungkin jika Mayang benar-benar menikah dengan Edi, akan ada cerita yang jauh lebih rumit di antara mereka.
Harus sampai tamat ya. sukses thor.💖💖💖💖💖