NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)

Satu bulan terakhir menjelang hari perkiraan lahir terasa berjalan sangat lambat, namun sekaligus mendebarkan bagi seluruh isi penthouse Sudirman. Adrian benar-benar memindahkan seluruh aktivitas kantornya ke dalam rumah tawang. Ia menolak meninggalkan Arini sendirian, bahkan untuk hitungan jam. Sifat protektif dan posesif sang CEO mencapai puncaknya hingga Yudha harus rela bolak-balik mengantarkan dokumen penting ke kediaman mereka setiap sore.

Malam itu, jarum jam baru saja melewati angka dua dini hari. Jakarta di luar jendela kaca besar tampak diselimuti kegelapan yang tenang. Di dalam kamar utama yang temaram, Arini mendadak terbangun dari tidurnya. Rasa mulas yang teramat sangat, jauh lebih pekat dan berirama daripada kontraksi palsu minggu lalu, tiba-tiba menghantam ulu hatinya.

"Akh... Mas..." Arini meremas seprai sutra abu-abu gelap mereka, napasnya seketika memburu.

Di sampingnya, Adrian yang selama berminggu-minggu tidur dengan mode siaga langsung membuka mata elangnya. Pria itu seketika menegakkan tubuhnya, menatap wajah Arini yang sudah dibanjiri peluh dingin dalam hitungan detik.

"Sayang? Ada apa? Mana yang sakit?" tanya Adrian berondong, kepanikan yang luar biasa untuk pertama kalinya meruntuhkan topeng ketenangan sang Es Kutub Utara.

Sebelum Arini sempat menjawab, ia merasakan ada cairan hangat yang mengalir deras membasahi kasur mereka. Air ketubannya telah pecah.

"Mas... air ketubanku pecah. Sakit sekali..." bisik Arini dengan suara bergetar, air mata menahan nyeri mulai lolos dari sudut matanya.

Melihat cairan itu, seorang Adrian Wijaya—pria yang sanggup menghadapi kerugian ratusan miliar di papan bursa tanpa berkedip—seketika kehilangan kendali logikanya. Tubuhnya sempat membeku sedetik sebelum ia bergerak dengan kecepatan penuh. Tanpa memedulikan pakaian tidurnya yang kusut, Adrian langsung menyurukkan lengan kekarnya ke bawah tubuh Arini, mengangkat tubuh bulat istrinya itu dengan sangat hati-hati namun penuh kepanikan ke dalam dekapannya.

"Bertahanlah, Baby. Mas ada di sini. Kita ke rumah sakit sekarang juga!" seru Adrian, suaranya terdengar serak dan bergetar hebat karena ketakutan yang amat dalam.

Adrian membawa Arini keluar kamar setengah berlari, sementara tangan kanannya menekan tombol panggil cepat pada gawainya. "Yudha! Siapkan mobil darurat di lobi bawah sekarang! Hubungi tim dokter spesialis kandungan keluarga untuk mengondisikan seluruh ruang operasi dan persalinan privat malam ini juga! Jangan terlambat satu detik pun atau aku akan meratakan rumah sakit itu!"

Tiga puluh menit kemudian, lorong paviliun privat Rumah Sakit Ibu dan Anak Wijaya yang biasanya sunyi mendadak riuh oleh derap langkah kaki yang terburu-buru. Arini sudah berada di atas ranjang dorong medis, dilarikan menuju ruang bersalin utama dengan infus yang sudah terpasang.

Adrian terus berlari di samping ranjang tersebut, sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari ramping Arini. Wajah tampannya pucat pasi, dipenuhi guratan cemas yang teramat pekat.

"Mas... jangan pergi... aku takut," isak Arini di sela-sela ringisan menahan kontraksi yang datang setiap tiga menit sekali.

"Mas tidak akan ke mana-mana, Sayang. Mas akan menemanimu di dalam," bisik Adrian rendah, menundukkan kepalanya untuk mendaratkan kecupan-kecupan cepat yang sarat akan rasa sayang dan ketakutan di kening serta punggung tangan Arini.

Begitu memasuki ruang bersalin, bau antiseptik yang khas menyengat indra penciuman. Tim dokter dan perawat senior langsung mengambil posisi siaga. Adrian terpaksa mengenakan pakaian steril hijau khusus ruang operasi, lalu mengambil posisi duduk tepat di sebelah kepala ranjang Arini. Ia menarik kepala istrinya untuk bersandar pada dada bidangnya, membiarkan Arini meremas kencang telapak tangannya hingga gelang berlian di tangan Arini bergesekan dengan kulitnya.

"Nyonya Muda, pembukaannya sudah lengkap. Saat kontraksi berikutnya datang, tolong mengejan dengan kuat ya," instruksi dokter kandungan senior dengan tenang.

"Akhhh! Mas, sakit sekali!" jerit Arini, seluruh tenaganya ia kerahkan. Cengkeraman tangannya pada lengan Adrian begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih dan meninggalkan bekas kemerahan di kulit suaminya, namun Adrian sama sekali tidak peduli. Pria itu justru semakin mendekap erat tubuh Arini, menenggelamkan wajahnya di rambut istrinya yang basah oleh keringat.

"Iya, Sayang. Mas tahu. Tarik napas perlahan... Kamu wanita paling kuat yang pernah Mas kenal, Baby. Lakukan demi anak kita," bisik Adrian seksi namun sarat akan emosi yang bergetar di dekat telinga Arini. Untuk pertama kalinya, air mata seorang Adrian Wijaya menetes perlahan, jatuh di pelipis istrinya saat melihat perjuangan bertaruh nyawa dari belahan jiwanya.

Perjuangan melelahkan yang menguras seluruh emosi dan tenaga itu berlangsung selama hampir satu jam di dalam ruangan tertutup tersebut.

Tepat pukul tiga lewat empat puluh lima pagi, sebuah suara tangisan bayi yang melengking nyaring dan begitu bersih mendadak pecah, menggema ke seluruh penjuru ruangan bersalin, mengalahkan suara gemuruh badai kekhawatiran yang sejak tadi mengunci batin mereka.

"Selamat, Pak Adrian, Nona Arini. Bayinya laki-laki, sangat sehat dan tampan," ucap sang dokter sembari mengangkat tubuh bayi mungil yang masih merah itu.

Mendengar tangisan pertama sang buah hati, Arini seketika melemas di atas bantal, napasnya tersengal-sengal namun senyuman paling bahagia terukir sempurna di bibir pucatnya. Di sampingnya, Adrian mematung menatap bayinya. Air matanya mengalir semakin deras, menghancurkan seluruh sisa-sisa keangkuhan es kutub utara yang dulu pernah ia banggakan di atas kertas kontrak palsu.

Adrian menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah lumatan dalam yang sangat lembut, penuh rasa syukur, dan cinta yang nyata yang kini telah mengunci takdir mereka selamanya. "Terima kasih banyak, Sayang... Terima kasih telah melahirkan masa depanku," bisik Adrian serak di depan bibir Arini, mendekap erat belahan jiwanya di bawah saksi lahirnya sang penerus dinasti Wijaya.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!