Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pagi itu cerah dengan sinar matahari yang lembut menyapa Jakarta. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, lalu lintas belum terlalu padat. Zayyan mengemudikan mobil sedan hitamnya dengan santai, satu tangannya di setir, tangan kanannya sesekali meraih tangan Alin yang duduk di sampingnya. Hari ini ia memutuskan untuk mengantar istrinya ke kantor sendiri, meski Alin sempat protes bahwa ia bisa naik taksi sendiri.
Alin terlihat cantik dan profesional pagi ini. Ia mengenakan kemeja silk putih yang rapi, rok pencil navy selutut yang membalut pinggulnya dengan sempurna, serta blazer senada. Rambutnya digelung rapi ke belakang dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajahnya. Parfumnya yang ringan dan feminin menyebar lembut di dalam mobil.
Zayyan menghentikan mobilnya tepat di depan lobi gedung kantor Alin yang sederhana, tidak semegah perusahaan Mahendra. Ia mematikan mesin sebentar, menikmati momen singkat bersama istrinya sebelum berpisah seharian.
Sebelum turun dari mobil, Alin memutar tubuhnya menghadap suami. Dengan penuh takzim dan kasih sayang, ia meraih tangan kiri Zayyan, menundukkan kepalanya, dan mencium punggung tangan pria itu lama. Bibirnya yang lembut dan hangat menempel penuh hormat di kulit suaminya.
Zayyan tersenyum lembut melihatnya, hatinya hangat. Tapi mata pria itu langsung berubah nakal ketika Alin hendak melepaskan tangan dan membuka pintu mobil. "Mana ciumnya?" tanya Zayyan dengan nada manja tapi penuh tuntutan, alisnya terangkat satu.
Alin merotasi bola matanya malas, bibirnya manyun kecil. "Baru juga diantar, sudah banyak maunya," gumamnya pelan, tapi wajahnya tetap memerah.
Meski mengeluh, Alin tetap memenuhi keinginan suaminya. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya, dan mendaratkan satu kecupan ringan di pipi Zayyan yang halus setelah bercukur pagi tadi.
Cup…
"Sudah kan?" kata Alin sambil tersenyum kecil dan hendak membuka pintu mobil.
Namun, Zayyan lebih cepat. Tangan besarnya langsung menarik lengan Alin dengan lembut tapi tegas, menarik tubuh istrinya kembali ke dalam pelukannya. Sebelum Alin sempat protes, bibir Zayyan sudah menangkap bibirnya dalam ciuman yang dalam dan penuh hasrat.
Ciuman itu bukan sekadar salam pagi biasa. Zayyan mencium Alin dengan rakus tapi lembut, lidahnya menyusup masuk, menari bersama lidah istrinya dalam irama yang sudah sangat familiar. Tangan kirinya menangkup pipi Alin, sementara tangan kanannya merayap ke pinggang istrinya, menariknya lebih dekat hingga sabuk pengaman Alin menegang.
Napas Alin tersengal saat ciuman itu berlangsung hampir satu menit penuh. Bibirnya terasa bengkak dan basah ketika Zayyan akhirnya melepaskan tautan mereka.
"Ini baru ciuman," ucap Zayyan dengan suara serak dan puas, ibu jarinya mengusap bibir bawah Alin yang sedikit luntur lipstiknya.
Alin mendelik tajam menatap suaminya, pipinya memerah hebat. Ia memukul dada bidang Zayyan dengan pelan tapi kesal.
"Dasar kang mesum! Ini depan kantor, Zayyan! Kalau ada rekan kerja yang lewat gimana?" omelnya sambil buru-buru mengambil tissue dari tas dan membersihkan bekas lipstik di bibir suaminya.
Zayyan hanya terkekeh dalam, suaranya berat dan sangat maskulin. Ia sama sekali tak merasa bersalah. Malah, ia menarik tangan Alin lagi dan mengecup punggung tangannya balik.
"Biarkan saja mereka iri. Punya suami yang masih gencar mesra sama istri setelah menikah," jawabnya santai, matanya penuh godaan.
Alin menghela napas panjang, tapi sudut bibirnya ikut tersenyum. Ia menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin manja dan mesum.
"Hati-hati nyetirnya ya, jangan ngebut-ngebut. Ingat, aku nunggu kamu pulang sore nanti," pesan Alin sebelum akhirnya benar-benar turun dari mobil.
Zayyan tersenyum lebar melihat istrinya yang berjalan menuju lobi dengan langkah anggun, meski pinggulnya masih sedikit kaku akibat aktivitas mereka semalam. Sebelum Alin menghilang di balik pintu kaca, Zayyan menurunkan kaca mobil dan berteriak kecil,
"Love you, sayang! Jangan capek kerja!"
Alin menoleh, wajahnya memerah malu karena beberapa karyawan yang sedang masuk kantor ikut menoleh. Ia melambai cepat lalu buru-buru masuk.
Zayyan terkekeh sendiri di dalam mobil. Ia menyalakan mesin lagi, tapi sebelum melaju, ia sempat menyentuh pipinya yang baru dicium Alin tadi. Senyumnya melebar.
"Satu minggu jadi istriku, tapi setiap hari rasanya seperti bulan madu," gumamnya pelan.
Sepanjang perjalanan menuju kantornya sendiri, Zayyan tak henti-hentinya tersenyum. Pikirannya melayang ke dua hari lagi saat mereka akan berangkat ke Italy. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan memanjakan Alin di sana, villa private, wine Toscana, pemandangan perbukitan, dan tentu saja malam-malam panjang tanpa gangguan.
Sementara itu, di dalam kantor, Alin duduk di meja kerjanya dengan pipi yang masih hangat. Rekan kerjanya yang duduk di sebelah langsung nyengir.
"Baru diantar pacarnya ya, Mbak? Senyum-senyum sendiri dari tadi. Bibirnya agak bengkak tuh," goda rekannya.
Alin langsung menutup mulutnya malu. "Ah, biasa aja..."
Tapi di dalam hati, ia bahagia. Meski Zayyan sering kali mesum dan manja berlebihan, ia tahu itu semua karena cinta yang besar. Dan ia tak sabar menunggu sore nanti, ketika suaminya akan menjemputnya lagi dengan segala godaan dan kemesraan yang tak pernah habis.
Honeymoon ke Italy tinggal dua hari lagi. Alin tersenyum sendiri membayangkan betapa indahnya dua minggu penuh hanya berdua dengan Zayyan di negeri yang romantis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zayyan masih tersenyum-senyum sendiri setelah melihat Alin menghilang di balik pintu masuk gedung kantor. Ia menyalakan mesin mobil, memutar lagu slow romantis favorit mereka, lalu melaju meninggalkan area perkantoran yang mulai ramai. Pikirannya melayang ke sore nanti, ia sudah merencanakan akan menjemput Alin lebih awal, mungkin mengajak istrinya makan siang di restoran Italia favorit sebagai pemanasan sebelum honeymoon sesungguhnya ke Tuscany dua hari lagi.
“Besok lusa kita sudah di Italy, sayang,” gumamnya pelan sambil tersenyum. Bayangan Alin mengenakan dress musim panas tipis di antara perkebunan anggur membuat dadanya hangat.
Perjalanan menuju kantor Zayyan yang berada di kawasan kota biasanya memakan waktu tiga puluh menit menit tergantung macet. Pagi ini cukup lancar. Zayyan menurunkan kaca mobil sedikit, membiarkan angin pagi masuk. Sesekali ia melirik ponsel yang tergeletak di dashboard, berharap Alin mengirim chat padanya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Zayyan melirik sekilas. Nomor asing. Tidak ada nama, hanya deretan angka dengan kode +62. Biasanya ia tidak mengangkat nomor tidak dikenal, tapi kali ini ada firasat aneh yang membuatnya mengangkat setelah dering ketiga.
“Halo?” sapanya dengan suara datar tapi sopan, sambil tetap fokus mengemudi.
Sesaat tidak ada suara di seberang. Hanya suara napas pelan yang terdengar. Zayyan mengerutkan kening.
“Halo? Siapa ini?” tanyanya lagi.
Baru pada detik kelima, sebuah suara wanita yang lembut namun dingin terdengar.
“Zayyan… lama sekali baru diangkat.”
Zayyan langsung mengerem pelan di lampu merah. Tubuhnya menegang. Suara itu… meski sudah lama tidak terdengar, ia masih mengenalinya dengan jelas.
“Lolly?” tanyanya, suaranya langsung berubah dingin.
Di seberang sana, Lolly tertawa kecil. Tawa yang dulu pernah Zayyan anggap manis, tapi kini terdengar sinis dan penuh dendam.
“Kamu masih ingat suaraku Zay,” katanya pelan.
Zayyan menarik napas dalam. Lampu hijau menyala, tapi ia tetap diam di tempat beberapa detik sebelum melaju pelan.
“Aku sudah bilang lewat chat. Jangan hubungi aku lagi. Aku sudah bahagia dengan istriku,” jawabnya tegas.
Lolly tertawa lagi, kali ini lebih panjang.
“Bahagia? Kamu yakin, Zayyan? Aku tahu kamu. Dulu kamu bilang aku adalah segalanya. Kamu melamarku dengan cincin berlian besar. Sekarang kamu bilang istri baru kamu yang biasa itu lebih penting?”
Zayyan merasa darahnya mendidih. “Alin bukan wanita biasa. Dia istriku. Dan aku mencintainya.”
“Kalau begitu kenapa kamu angkat telepon dari nomor asing ini?” tanya Lolly dengan nada menang. “Kamu tahu ini aku, tapi tetap angkat. Artinya… kamu masih penasaran sama aku, kan?”
Zayyan menggenggam setir lebih erat hingga buku jarinya memutih.
“Ini terakhir kalinya. Kalau kamu masih hubungi aku, aku akan ambil tindakan hukum. Jangan macam-macam, Lolly.”
Lolly diam sejenak. Suasana menjadi tegang. Lalu ia berbicara dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut, hampir merayu.“Aku merindukanmu, Zayyan. Aku tahu kamu berangkat ke Italy besok lusa. Aku cuma mau ketemu sebentar. Ngopi saja. Aku mau dengar langsung dari mulut kamu kenapa kamu memilih dia, bukan mengejar aku lagi”
Zayyan hendak menjawab dengan kasar, tapi Lolly sudah melanjutkan dengan nada yang membuat bulu kuduknya berdiri:
“Aku masih simpan semua foto kita. Kamu fotonya aku kirim ke istrimu?" ancam Lolly.
"Terserah" ucap Zayyan dan mematikan panggilannya. Dia yakin tidak pernah foto aneh-aneh dengan Lolly. Karena dulu dia sangat menjaga wanita itu.
pulang dari Italy sih Alin langsung hamil ini🤣🤣🤣🤣
bikin Loly jeoles liat kebahagiaan zay & Alin
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥