Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jejak Darah di Taiga
Langkah kaki mereka membelah keheningan maut di bawah kanopi hutan taiga yang membeku. Udara dingin yang keluar dari napas Alana langsung menjelma menjadi kabut putih pekat. Di sampingnya, Xander bergerak layaknya hantu malam—cepat, tanpa suara, dan sepenuhnya waspada. Tangan kirinya menggenggam jemari Alana, sementara tangan kanannya mendekap senapan serbu taktis dengan kesiapan tempur penuh.
Jejak darah Dante yang berceceran di atas salju menuntun mereka mendaki sebuah bukit kecil yang dipenuhi batuan granit berlapis es. Di balik puncak bukit tersebut, samar-samar terlihat sebuah struktur bangunan kuno tersembunyi. Itu adalah pangkalan militer terbengkalai era Uni Soviet, setengah tertimbul di dalam tanah dan dikelilingi pagar kawat berduri yang telah berkarat.
Xander mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar seluruh pasukan berhenti.
"Alana, aktifkan pemindai termal pada kacamata belatormu," bisik Xander, suaranya nyaris menyatu dengan desau angin badai.
Alana menekan tombol kecil di pelipis kacamatanya. Seketika, pandangan dunianya yang kuning berubah menjadi spektrum warna biru digital. Di dalam siluet bangunan beton di depan mereka, muncul enam titik panas berwarna merah menyala yang menandakan suhu tubuh manusia. Lima titik berdiri mengelilingi satu titik yang terduduk lemah di sebuah kursi.
"Ada enam orang di dalam, Xander," bisik Alana, jantungnya berdegup kencang. "Satu orang diikat di kursi. Itu pasti Dante."
"Dua penjaga di pintu masuk barat, tiga di dalam ruang utama," tambah salah satu komando Pasukan Bayangan setelah mengonfirmasi lewat keker senapannya.
Xander menatap Alana, menyentuh lembut pipi istrinya yang mulai memerah akibat sengatan hawa es. "Tetap di belakangku. Jangan lepaskan pandanganmu dariku, apa pun yang terjadi."
"Aku bersamamu, Xander," jawab Alana tegap, tangannya bergerak menyentuh gagang pistol Sig Sauer di pinggangnya, memastikan senjata itu siap digunakan.
Xander memberi tanda kode tangan kepada dua komando elitenya untuk bergerak memutar lewat flang kiri, sementara ia dan dua prajurit lainnya maju menembus pintu pertahanan utama.
Pft! Pft!
Dua tembakan berperedam suara terdengar sangat lirih. Dua penjaga luar milik Volkov langsung ambruk ke atas salju tanpa sempat melepaskan satu pun tembakan peringatan. Darah segar mereka menyembur, menodai dinding es pangkalan tua tersebut.
Xander menendang pintu besi yang rapuh hingga hancur berantakan. Ia merangsek masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang remang-remang, diterangi oleh satu lampu bohlam kuning yang bergoyang liar.
Di tengah ruangan, Dante terikat rantai besi pada kursi karat. Wajahnya bersimbah darah, salah satu matanya bengkak parah, namun ketika melihat Xander menerobos masuk, sebuah seringai sarkas yang familier justru terkembang di bibirnya yang pecah.
"Tuan Besar..." batuk Dante, memuntahkan darah ke lantai beton. "Anda terlambat lima menit. Saya hampir mati bosan mendengarkan bahasa Rusia mereka yang buruk."
Tiga interogator Volkov di dalam ruangan tersentak kaget dan mencoba meraih senjata mereka. Namun, kecepatan Xander berada di level yang berbeda.
DOR! DOR! DOR!
Tiga tembakan presisi tanpa ampun langsung menembus dahi ketiga pria Rusia tersebut sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Tubuh mereka tumbang seketika seperti batang pohon yang tumbang. Ruangan itu seketika berbau mesiu dan anyir darah yang pekat.
Komando elite dengan sigap memotong rantai besi yang mengikat tubuh Dante. Pria perkasa itu langsung ambruk berlutut karena kedua kakinya telah dihantam dengan pipa besi, namun Xander dengan cepat menangkap bahu tangan kanannya tersebut.
"Kau aman, Dante. Kita kembali ke jet sekarang," ucap Xander tegas.
Dante mencengkeram erat lengan mantel Xander, matanya yang bengkak melebar penuh kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Tidak, Tuan... jangan kembali ke jet!" bisik Dante dengan suara serak menahan sakit yang luar biasa. "Penyergapan ini... ini bukan untuk membunuhku. Mereka sengaja menyiksaku agar suar daruratku terus menyala lebih lama. Volkov menggunakan frekuensi suar tersebut untuk melacak posisi pendaratan Aegis Two!"
Darah Alana seketika berdesir dingin mendengar ucapan Dante.
"Pasukan utama Volkov tidak ada di sini, Tuan," lanjut Dante, napasnya tersengal-sengal. "Mereka sedang bergerak menuju hanggar alam tempat jet kita bersandar. Mereka akan meledakkan satu-satunya jalan kita untuk keluar dari Siberia!"
(Bersambung...)