NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Perempuan yang Meninggalkan Semuanya

“…dia ibu kandung Anda.”

Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.

Arsen tidak bergerak.

Nadira juga ikut diam.

Sedangkan Nayla langsung menatap polisi itu bingung.

“Apa maksudnya ibu kandung?”

Karena selama ini…

Semua orang tahu ibu Arsen sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Dan Arsen sendiri terlihat seperti baru saja dihantam sesuatu.

Tatapannya kosong.

“Kamu salah orang.”

Suara Arsen dingin.

Namun polisi itu langsung menggeleng cepat.

“Dia tahu banyak hal tentang keluarga Wijaya.”

Tatapannya ragu.

“Dan dia ngotot mau ketemu sekarang.”

Deg.

Nadira langsung melihat perubahan kecil di wajah Arsen.

Rahangnya mengeras.

Tangannya mengepal.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia terlihat takut.

“Aku ikut.”

Nadira langsung berdiri.

Namun Arsen menggeleng.

“Nggak usah.”

“Aku tetap ikut.”

Tatapannya keras.

Dan lagi-lagi…

Arsen tidak punya tenaga buat membantah gadis itu.

Mereka dibawa ke ruangan pemeriksaan kecil di lantai dua.

Lampunya redup.

Udara dingin.

Dan saat pintu dibuka—

Seorang wanita duduk diam di kursi pojok ruangan.

Usianya sekitar akhir empat puluhan.

Cantik.

Elegan.

Namun wajahnya terlihat sangat lelah.

Dan ketika wanita itu mengangkat kepala—

Nadira langsung mengerti kenapa polisi percaya.

Karena wajahnya…

Sangat mirip Arsen.

Deg.

Tubuh Arsen langsung membeku total.

Wanita itu perlahan berdiri.

Matanya mulai merah.

“Arsen…”

Suara itu pelan.

Penuh rasa rindu yang aneh.

Namun Arsen justru mundur satu langkah.

Tatapannya berubah dingin.

“Siapa lo?”

Kalimat itu terdengar tajam sekali.

Seperti pisau.

Namun wanita itu tidak marah.

Ia malah terlihat makin sedih.

“Aku ibu kamu.”

Sunyi.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Karena suasana terasa terlalu berat.

“Ayah bilang ibu gue mati.”

Akhirnya Arsen bicara.

Wanita itu tersenyum kecil pahit.

“Itu lebih mudah dipercaya.”

Deg.

“Apa maksudnya?”

Wanita itu duduk perlahan lagi.

Tangannya gemetar kecil.

“Dulu…”

Tatapannya kosong.

“…aku pergi.”

“Kenapa?”

Suara Arsen langsung meninggi.

“KENAPA TINGGALIN GUE?!”

Nadira langsung menoleh.

Karena kemarahan di suara pria itu…

Bukan kemarahan biasa.

Melainkan luka bertahun-tahun.

“Aku nggak punya pilihan.”

Jawaban wanita itu langsung membuat Arsen tertawa kecil hambar.

“Lucu.”

Tatapannya dingin.

“Semua orang selalu bilang nggak punya pilihan.”

Ia mulai mundur pelan.

“Ayah gue bilang begitu.”

“Adrian bilang begitu.”

Tatapannya makin tajam.

“Sekarang lo juga.”

“Arsen—”

“Kalau emang ibu gue…”

Napasnya mulai berat.

“…harusnya lo nggak pergi.”

Deg.

Wanita itu langsung menangis diam-diam.

Namun Arsen sudah terlalu marah untuk peduli.

“Nggak ada satu hari pun aku nggak nyesel.”

Suara wanita itu pecah.

“Aku pergi buat nyelametin kamu.”

Arsen langsung membeku sedikit.

Dan Nadira sadar—

Kalimat itu terlalu familiar.

Karena semua orang di hidup mereka selalu menyakiti demi melindungi.

“Ayah kamu waktu itu udah masuk terlalu jauh.”

Wanita itu mulai bicara pelan.

“Bisnis kotor.”

“Orang-orang berbahaya.”

Tatapannya jatuh ke Arsen.

“Aku takut kamu ikut hancur.”

“Jadi lo ninggalin gue?”

“Aku dipaksa pergi.”

Deg.

Arsen langsung diam.

“Ayahmu bilang kalau aku tetap di sana…”

Air matanya jatuh perlahan.

“…kamu bakal dibunuh.”

Sunyi.

Nadira langsung merinding.

Karena semakin lama…

Semakin terlihat kalau hidup keluarga Wijaya memang penuh ancaman sejak awal.

“Aku nggak percaya.”

Namun suara Arsen mulai melemah sekarang.

Karena sebagian dirinya ingin percaya.

Meski ia benci itu.

Wanita itu perlahan mengambil sesuatu dari tasnya.

Sebuah kotak kecil tua.

“Ini milikmu.”

Arsen menerimanya pelan.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak itu.

Dan matanya langsung membesar.

Sebuah mobil-mobilan kecil.

Mainan masa kecilnya.

Yang selama ini ia pikir hilang.

“Aku simpan selama bertahun-tahun.”

Suara wanita itu lirih.

“Karena cuma itu yang aku punya dari kamu.”

Deg.

Sesuatu di dalam diri Arsen mulai runtuh perlahan.

“Aku tiap tahun datang lihat kamu dari jauh.”

Wanita itu tersenyum kecil sambil menangis.

“Kamu tumbuh tinggi.”

Tatapannya lembut.

“Mirip ayahmu.”

Arsen langsung tertawa kecil pahit.

“Aku nggak mau mirip dia.”

“Sayangnya…”

Wanita itu menghapus air matanya.

“…kamu juga punya hati kayak aku.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya…

Arsen tidak bisa membalas.

Nadira memperhatikan semuanya diam-diam.

Dan entah kenapa…

Dadanya terasa sesak.

Karena ia baru sadar satu hal.

Arsen selalu hidup sendirian.

Ayah dingin.

Ibu menghilang.

Keluarga penuh rahasia.

Tidak heran pria itu tumbuh sekeras itu.

“Aku telat ya.”

Wanita itu tertawa kecil sedih.

“Aku datang pas semuanya udah hancur.”

Arsen diam lama sekali.

Lalu akhirnya bertanya pelan,

“Kenapa sekarang?”

Tatapan wanita itu berubah serius.

“Karena ayahmu mati.”

Deg.

“Aku tahu setelah lihat berita.”

Napasnya berat.

“Dan aku tahu…”

Tatapannya jatuh ke Arsen.

“…sekarang kamu sendirian.”

Sunyi.

Kalimat sederhana itu justru terasa paling menyakitkan.

Karena memang benar.

Sekarang Arsen sendirian.

Atau setidaknya…

Ia selalu merasa begitu.

“Aku nggak butuh dikasihani.”

Suara Arsen kembali dingin.

Namun tidak sedingin tadi.

Wanita itu mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

Lalu perlahan berdiri.

“Aku cuma mau lihat kamu sekali lagi.”

Deg.

Dan Nadira langsung sadar—

Wanita itu siap pergi lagi.

“Tunggu.”

Arsen bicara cepat tanpa sadar.

Wanita itu langsung berhenti.

Tatapannya perlahan kembali ke putranya.

Dan untuk pertama kalinya…

Arsen terlihat bingung dengan perasaannya sendiri.

Marah.

Rindu.

Benci.

Semua bercampur jadi satu.

“Lo benar ibu gue?”

Wanita itu tersenyum kecil sambil menangis.

“Iya.”

“Bukti?”

Wanita itu tertawa kecil.

Lalu berkata pelan,

“Kamu punya bekas luka kecil di bahu kiri.”

Deg.

Tubuh Arsen langsung membeku.

“Itu karena waktu kecil kamu jatuh dari sepeda.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Dan kamu nangis tiga jam.”

Nadira langsung hampir tertawa kecil melihat ekspresi Arsen yang mendadak kacau.

Karena jelas—

Hal itu tidak mungkin diketahui orang asing.

“Nama aku Elena.”

Wanita itu akhirnya memperkenalkan diri.

Dan Nadira langsung melihat mata Arsen berubah sedikit.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia akhirnya tahu nama ibunya sendiri.

Tak lama kemudian—

Pintu ruangan terbuka lagi.

Seorang polisi masuk cepat.

“Maaf mengganggu.”

Tatapannya serius.

“Kami baru dapat kabar.”

Semua langsung menoleh.

“Ada masalah apa lagi?”

tanya Arsen lelah.

Polisi itu menelan ludah.

“Pak Surya kabur.”

Deg.

Ruangan langsung sunyi total.

“Apa?”

“Dalam perjalanan ke tahanan pusat…”

Tatapannya berubah tegang.

“…mobil pengawalan diserang.”

Darah Nadira langsung terasa dingin.

Karena itu berarti—

Mimpi buruk mereka belum selesai.

“Dia masih punya orang.”

gumam Damar yang baru masuk sambil meringis menahan sakit bahunya.

“Aku udah bilang.”

Tatapannya gelap.

“Orang kayak dia nggak gampang jatuh.”

Arsen langsung mengepalkan tangan.

Sedangkan Elena terlihat pucat.

“Kalian harus hati-hati.”

Tatapannya panik sekarang.

“Pak Surya nggak bakal diam.”

“Dia pasti nyari Raka dulu.”

Pak Rudi yang juga masuk ruangan bicara pelan.

Dan detik itu—

Semua langsung sadar bahaya sebenarnya.

Raka.

Target utama mereka masih Raka.

“Nadira mana Raka?”

Nayla tiba-tiba muncul panik di depan pintu.

Napasnya terengah.

Wajahnya pucat.

Deg.

Jantung Nadira langsung jatuh.

“Bukannya sama kamu?!”

“Nggak!”

Suasana langsung berubah kacau.

Mamannya ikut datang sambil menangis.

“Tadi dia masih di ruang tunggu!”

“Kemana dia?!”

Nadira langsung berlari keluar ruangan.

Dadanya berdebar kacau.

Lorong kantor polisi terasa panjang sekali.

“RAKA!”

Tak ada jawaban.

“Nggak mungkin…”

Tangannya mulai dingin.

Karena setelah semua yang terjadi—

Ia tidak sanggup kehilangan adiknya lagi.

Sampai akhirnya—

Salah satu polisi berlari mendekat.

“Di parkiran belakang!”

Semua langsung berlari ke sana.

Dan saat mereka tiba—

Nadira langsung membeku.

Karena Raka berdiri sendirian di tengah hujan.

Dengan wajah pucat.

Tatapan kosong.

Dan di depannya…

Seorang pria muda berdiri sambil tersenyum tipis.

Pria itu tampan.

Rapi.

Namun matanya dingin sekali.

Dan saat melihat Arsen—

Senyumnya melebar sedikit.

“Lama nggak ketemu.”

Deg.

Arsen langsung membeku.

Karena ia mengenali pria itu.

“Rey…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!