Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Di dalam ruangan Dr. Briella Zamora, sisa-sisa tawa Lexington masih menggantung di udara, namun suasana hangat itu terkikis habis saat Hadiyan melangkah masuk dengan tablet di tangannya.
"Lex," panggil Hadiyan ragu. Ia melirik Briella sejenak sebelum melanjutkan, "Ada email masuk dari departemen rektorat. Catalonia Vera West... dia resmi mengirimkan surat pengunduran dirinya satu jam yang lalu."
Lexington yang masih mendekap pinggang Briella tiba-tiba melepaskan pelukannya perlahan. Ia tertegun sejenak, lalu sebuah tawa pendek, hampir seperti dengusan kemenangan, keluar dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala, membayangkan wajah angkuh Late Vera yang akhirnya harus menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Briella, matanya yang masih basah karena haru kini menyipit penuh selidik. "Kenapa kau tertawa? Siapa Catalonia Vera West?"
Lexington tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju meja kerja Briella, mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan alat tes kehamilan yang tadi berserakan. "Bukan siapa-siapa, Honey. Hanya seorang asisten sementara di kampus. Dia tidak penting."
Namun, insting seorang wanita—terutama wanita yang baru saja mengetahui ada nyawa lain di dalam rahimnya—jauh lebih tajam dari pisau bedah mana pun. Briella melangkah mendekat, menghalangi gerakan tangan Lexington.
"Vera? Dia wanita?" tanya Briella, suaranya naik satu oktav. "Sejak kapan asistenmu jadi wanita, Lex? Bukankah selama ini hanya ada Jack dan Hadiyan? Kau tidak bercerita padaku?"
Lexington menghela napas, ia merasa terjebak dalam labirin yang ia buat sendiri. "Jack sedang mengambil cuti panjang untuk urusan keluarga di London. Dekan West menitipkan putrinya untuk membantuku selama Tiga minggu. Dan Dua Minggu Terakhir...Tapi seperti yang kau dengar, dia sudah mundur."
"Dua minggu?" Briella mengulang kata itu dengan nada yang bergetar. Efek hormon kehamilan mulai bekerja seperti gelombang tsunami yang menghantam pertahanannya. "Kau bekerja dengan wanita lain selama dua minggu, dan kau menyembunyikannya dariku? Kau bahkan punya nama panggilan untuknya? Late Vera?"
Air mata yang tadinya adalah air mata bahagia, kini berubah menjadi air mata kecemburuan yang panas. Dada Briella naik turun, napasnya mulai tersengal.
"Kau keterlaluan, Lexington! Kau tidak mencintaiku lagi? Kau menutupi hal sebesar ini dariku?" tangis Briella pecah. Ia memukul bahu Lexington dengan kepalan tangan kecilnya. "Apa dia cantik? Apa dia lebih pintar dariku sampai kau harus tertawa saat dia pergi? Apa kau merasa kehilangan?!"
Lexington tertegun melihat reaksi istrinya. Dalam hati, ia merasa ini sangat berlebihan. Ia hanya bekerja secara profesional, bahkan ia baru saja mengusir wanita itu demi membela nama Briella. Namun, ia lupa bahwa logika tidak berlaku bagi wanita hamil yang sedang cemburu buta.
"Honey, dengarkan aku. Aku tidak berselingkuh, demi Tuhan!" Lexington mencoba menangkap kedua tangan Briella. "Dia bahkan tidak bisa menyentuh ujung Kemeja ku. Aku hanya menganggapnya sebagai gangguan fungsional."
"Gangguan fungsional yang kau rahasiakan!" teriak Briella, ia mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. "Kau pasti menyukainya! Kau pasti membanding-bandingkan aku yang ceroboh ini dengan dia yang... yang 'asisten sementara' itu!"
Lexington yang mulai kewalahan secara tidak sengaja menghela napas panjang dan bergumam pelan, "Astaga, satu istri saja sudah membuatku..."
Deg.
Lexington membeku. Ia tahu dia baru saja melakukan kesalahan fatal dalam pemilihan kata.
Briella berhenti meronta. Ia menatap Lexington dengan tatapan yang sangat tajam, seolah-olah ia baru saja melihat suaminya berubah menjadi monster. "Apa maksudmu, Lex? 'Satu istri saja sudah membuatmu...' apa?"
"Bukan itu maksudku, Bri..."
"Jadi... kau ingin punya dua istri?!" Briella menjerit, tangisnya semakin menjadi-jadi. "Kau merasa aku beban? Kau merasa aku merepotkan sampai kau berpikir punya istri kedua akan lebih baik? Kau jahat, Lexington! Kau jahat!"
Di sudut ruangan, Hadiyan merasa jiwanya ingin melayang keluar dari tubuhnya. Ia tidak sanggup lagi menyaksikan drama rumah tangga sang profesor yang kini berubah menjadi pria yang tidak berdaya menghadapi hormon istrinya. Dengan gerakan sangat pelan, Hadiyan mundur teratur, membuka pintu ruangan, dan segera keluar.
Klik.
Hadiyan menutup pintu ruang praktik itu rapat-rapat. Ia berdiri bersandar di pintu, lalu tiba-tiba ia meledak dalam tawa yang tertahan. Ia tertawa hingga bahunya berguncang, menertawakan nasib bosnya yang genius di laboratorium namun bodoh di depan istri.
"Kenapa kau tertawa seperti orang gila, brengsek?" tanya Belle yang baru saja lewat membawa nampan medis.
Hadiyan menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Aku hanya sedang melihat bagaimana seorang profesor dikalahkan oleh satu pertanyaan tentang 'dua istri'. Nasibnya benar-benar di ujung tanduk."
Belle mencibir, menatap Hadiyan dengan pandangan menghina. "Dasar pria. Kalian semua sama saja. Senang melihat penderitaan orang lain."
"Oh, ayolah Belle. Aku tidak tertarik berbicara dengan bunglong sepertimu yang berubah warna setiap kali ada masalah," jawab Hadiyan ketus, mencoba kembali ke mode asisten profesionalnya meskipun sisa tawa masih ada.
Di dalam ruangan, suasana masih mencekam. Briella sudah duduk di sofa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sesenggukan. Lexington berlutut di depannya, merasa sangat bersalah.
"Sayang, demi Tuhan, bukan itu maksudku," bisik Lexington, suaranya sangat lembut. "Maksudku adalah... satu istri sepertimu saja sudah memenuhi seluruh hidupku. Aku tidak punya ruang, waktu, atau keinginan untuk wanita lain. Jangankan dua istri, membayangkan wanita lain di sekitarku saja sudah membuatku muak."
Briella masih terisak. "Lalu kenapa kau tertawa saat asisten itu mundur?"
"Aku tertawa karena dia sangat sombong, Bri. Dia bilang dalam tiga Minggu bisa membuatku jatuh cinta, tapi aku baru saja mengusirnya pagi ini karena dia berani menghinamu di depanku," Lexington menjelaskan dengan jujur. "Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kau kepikiran. Aku tahu kau sangat sensitif."
Briella menurunkan tangannya, menatap Lexington dengan mata sembab. "Kau mengusirnya... karena aku?"
"Tentu saja. Siapa pun yang berani merendahkanmu, tidak punya tempat di duniaku," Lexington meraih tangan Briella dan menciumnya berkali-kali. "Tanya Hadiyan jika kau tidak percaya. Dia saksinya bagaimana aku membuat wanita itu kehilangan harga dirinya sebelum dia mengirim surat pengunduran diri itu."
Briella mulai tenang. Ia menghapus air matanya, menatap suaminya dengan sisa-sia kecemburuan. "Benar?"
"Demi nyawa kita berdua, Honey. Aku hanya milikmu. Dan sekarang, ada si kecil ini juga," Lexington mengusap perut rata Briella. "Hanya kau. Selalu kau."
Briella akhirnya luluh. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lexington. "Maafkan aku, Lex. Aku tidak tahu kenapa aku jadi semudah ini menangis."
"Itu hormon, Sayang. Dan aku akan belajar untuk lebih sabar menghadapinya," jawab Lexington sambil tersenyum tipis.
Ia memeluk istrinya erat, bersyukur badai kecil ini telah berlalu, meskipun ia tahu, dengan kehamilan ini, hari-harinya ke depan akan penuh dengan kejutan yang lebih "ajaib" dari sekadar botol vitamin yang jatuh.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya