NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Aksi Balas Dendam.

“Hmmm… wangi sop ayamnya enak sekali. Siapa yang masak?” tanya Liora sambil duduk di kursi makan.

“Siapa lagi kalau bukan aku, Sayang,” jawab John dengan nada bangga.

Liora tersenyum tipis lalu menoleh pada putranya. “Ibu boleh makan bersama kalian, kan?”

“Tentu saja boleh, Bu. Kita makan ramai-ramai saja,” jawab Dirgantara lembut.

Malam itu, suasana rumah terasa hangat. Mereka makan sambil mengobrol ringan, tawa kecil mengisi ruangan, seolah tak ada beban yang menggelayuti. Untuk sesaat, kehidupan mereka terasa tenang.

Sementara itu, di kediaman keluarga besar Anderlecht, Heron William Anderlecht memandang cucu perempuannya dengan mata penuh perhatian. “Viola, bagaimana dengan keputusanmu, Sayang?” tanya Heron dengan nada bijak.

Viola menegakkan punggungnya. “Viola ingin tinggal bersama keluarga Mas Javi, Kek. Aku ingin menetap di rumah Ibu Riana.”

Heron mengangguk pelan, seolah sudah menduga ke mana arah keputusan itu. “Baik. Kalau begitu, bersiaplah. Setelah ini, kamu akan kembali ke rumah suamimu.”

Setelah percakapan itu, Viola masuk ke kamar lamanya dan mulai menata pakaian. Ada sedikit keraguan di matanya, tetapi ia tetap melanjutkan. Sesekali ia menarik napas panjang, seolah meyakinkan diri bahwa ia mengambil keputusan yang benar.

Tak lama kemudian, Riana dan Bram, kedua mertuanya, datang menjemput.

“Sudah siap, Sayang?” tanya Riana lembut.

“Aku sudah siap, Bu,” jawab Viola sambil tersenyum tipis.

Bram menatap sahabat lamanya. “Heron, aku permisi pulang dulu.”

“Baik. Hati-hati di jalan. Semoga kalian tiba dengan selamat,” ucap Heron.

Setelah kepergian mereka, yang tersisa di rumah hanyalah Heron, Wilia, Victor, Albert, Sean, Viora, dan Robert. Sementara Viera, cucu lainnya, menetap di Amerika bersama suaminya, Mahadirka. Mereka memilih tinggal di mansion milik Viera karena suasananya yang nyaman dan jauh dari tekanan.

Walaupun para pelayan menangani sebagian besar pekerjaan rumah, Viera selalu mengambil alih tugas memasak. Sejak menjadi seorang istri, ia merasa ingin merawat suaminya dengan tangannya sendiri, bukan hanya dengan kekayaan atau fasilitas.

Suatu pagi, Viera sibuk memotong bahan masakan di dapur. Suasana dapur dipenuhi aroma sayuran segar ketika tiba-tiba Mahadirka datang dari belakang dan memeluknya. Sebuah kecupan singkat mendarat di lehernya.

“Mas… kamu ini nakal sekali,” keluh Viera setengah menggoda.

Mahadirka hanya tertawa kecil. “Kamu mau masak apa? Kenapa tidak biarkan kepala pelayan yang mengurus semua ini seperti dulu?”

Viera menoleh sebentar. “Karena aku ingin memasak untuk suamiku sendiri. Aku ini istri, Mas. Dan aku ingin memanjakanmu dengan caraku.”

Mahadirka tak bisa menahan senyum. “Kalau begitu, aku tidak akan melarang.”

Setelah masakan selesai, mereka makan bersama dengan sederhana namun penuh keintiman. Begitu selesai, keduanya kembali ke rutinitas masing-masing. Mahadirka bersiap berangkat ke kampus tempat ia mengajar, sementara Viera bersiap ke perusahaan yang ia pimpin.

“Mas, aku pergi dulu ke kantor,” ucap Viera sambil mengambil tasnya.

“Baik, Sayang. Mas juga mau ke kampus.”

Viera mendekat, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut. “Aku pergi dulu.”

Mahadirka sempat terdiam, wajahnya memerah sedikit. “Istriku sekarang mulai berani ya,” ucapnya sambil tertawa.

Di perusahaan besar milik Dirgantara William Anderlecht, pagi itu sedang berlangsung pertemuan penting bersama Mahendra Pratama.

“Halo, Pak Mahendra,” sapa Dirgantara sopan.

“Halo, Pak Dirgantara,” balas Mahendra sambil memperlihatkan senyum sinis yang sulit diterjemahkan.

Meeting berjalan cukup tegang, tetapi akhirnya selesai tanpa masalah berarti.

“Terima kasih atas waktu dan kerjasamanya,” ucap Dirgantara.

“Sama-sama,” balas Mahendra sambil bangkit dari kursinya.

Beberapa menit setelah Mahendra pergi, telepon di meja Dika asisten Dirgantara berdering keras.

Dika segera mengangkatnya. “Halo?”

Suara panik terdengar dari seberang. “Dika! Markas kita diserang! Ada penyusup—”

“Roy? Apa maksudmu? Roy?!”

Sambungan terputus. Dika membeku, wajahnya pucat pasi.

Dirgantara berdiri. “Ada apa? Kenapa wajahmu begitu pucat, Dika?”

“Pak… markas kita diserang. Menurut Roy… ada penyusup.”

“Apa?! Bagaimana bisa?!”

“Saya curiga ada pengkhianat di dalam markas, Pak…”

“Siapkan mobil. Kita berangkat sekarang.”

Sesampainya di markas, bau darah dan suara rintihan memenuhi udara. Dirgantara menatap sekeliling dengan mata melebar. Anak buahnya banyak yang terluka bahkan tewas.

Dan di tengah ruangan, seorang pria berdiri membelakanginya. Ketika pria itu berbalik, wajahnya terlihat jelas.

“Mahendra…?” Dirgantara tertegun. “Bagaimana bisa kau…?”

Mahendra tersenyum mengerikan. “Benar. Akulah orang yang menyusup ke markasmu. Dan tahukah kau apa alasannya? Ibumu telah membunuh kakakku, Dirangga Warinata. Sekarang, aku akan membuat hidup kalian hancur.”

“Apa maksudmu—”

Belum sempat Dirgantara menyelesaikan kalimatnya, Dika menusukkan jarum suntik ke lehernya. Cairan obat langsung masuk ke tubuhnya, membuat tubuhnya melemah dan akhirnya pingsan.

Pengkhianatan itu terlalu cepat untuk dihindari.

Dirgantara kemudian diseret ke ruangan rahasia milik Mahendra dan dirantai di ranjang besi.

Beberapa waktu kemudian, ia terbangun dengan kepala berat.

“A-Aku di mana…?”

Mahendra muncul dengan senyuman puas. “Kau sudah bangun, baby.”

“Apa yang kau lakukan padaku?! Lepaskan aku!”

“Aku ingin ibumu merasakan penderitaan. Dan itu dimulai dengan membuat anak kesayangannya menderita.”

Tubuh Dirgantara mulai panas. Obat itu bereaksi kuat. Ia menggeliat lemah.

Mahendra mendekat bersama Dika.

“Dika…” suara Dirgantara bergetar. “Kenapa kau mengkhianatiku…?”

Dika menunduk sedikit, tetapi tidak tampak menyesal. “Maafkan saya, Pak.”

Mereka mempermainkan Dirgantara yang tak berdaya.

Sementara itu, di kediaman keluarga Anderlecht, Liora gelisah. Ada firasat buruk dalam dirinya.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya John.

“Aku cemas… Dirgantara belum pulang. Ini tidak seperti biasanya.”

Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.

“Hei, Liora William Anderlecht. Jika kau ingin anakmu selamat, datanglah. Aku sedang menunggumu.”

Liora berdiri dengan tubuh menegang. Sorot matanya berubah tajam penuh amarah.

“Mahendra Warinata… jika dia menyentuh satu helai rambut anakku, aku akan memastikan dia menyesal hidup,” gumamnya.

John kaget melihat perubahan dari istrinya.

“Ada apa, Sayang?”

“Mahendra… menculik Dirgantara.”

“Apa?!”

“Dia adalah paman dari mendiang Adrian. Dan sekarang… dia ingin membalas dendam pada keluargaku.”

Liora mengepalkan tangan. Napasnya berat.

“Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

Namun tiba-tiba, seseorang masuk dengan wajah sangat tegang.

“Tunggu dulu, Ibu… putraku.." ucap Liora dengan wajah tegang.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!