NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Bedak yang Rontok dan Sidang Meja Hijau

Perjalanan pulang terasa berkali-kali lipat lebih melelahkan daripada saat Melan pertama kali diseret ke Negeri Binatang.

Meskipun ia duduk di atas kuda yang sama dengan Nolan, aura dingin yang dipancarkan pria itu benar-benar menguji mental.

Melan merasa seolah-olah punggungnya sedang bersandar pada bongkahan es abadi. Tidak ada obrolan manis sepanjang jalan.

Begitu gerbang istana Valerius terbuka lebar, pemandangan yang menyambutnya sukses membuat mood Melan yang sudah tiarap makin merosot ke dasar bumi.

Di sana, berdiri barisan dayang dan pengawal yang dipimpin oleh sesosok wanita dengan gaun merah mencolok yang sangat tidak pas untuk suasana penyambutan permaisuri yang baru selamat.

Fek Fe. Calon selir yang ambisinya lebih tinggi dari menara istana itu berdiri dengan senyum aneh yang dipaksakan. Padahal statusnya belum resmi jadi selir, tapi kelakuannya sudah seperti pemilik sertifikat istana.

"Selamat datang kembali, Permaisuri!" seru Fek Fe dengan suara yang melengking, dibuat-seolah peduli padahal matanya berkilat senang melihat penampilan Melan yang berantakan.

Melan turun dari kuda dengan bantuan para ksatria, kakinya terasa kaku. Ia menatap Fek Fe dengan muka dongkol yang tidak ditutup-tutupi.

"Gue baru pulang dari hutan, bukannya dapet karpet merah malah dapet wajah penuh dempul," batin Melan sewot.

Fek Fe mendekat, menutup mulutnya dengan kipas sutra sambil memindai penampilan Melan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Aduh, permaisuri... lihat dirimu. Badanmu jadi kurus kering begini, mukamu kusam sekali seperti tidak pernah menyentuh air mawar. Apa kawanannya Kibo tidak memberimu makan?"

Melan hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip seringai predator yang sedang lelah. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Fek Fe, membuat wanita itu refleks mundur sedikit.

"Iya memang kurusan, soalnya di sana saya sibuk kerja, bukan cuma sibuk dandan dan cari muka," sahut Melan santai.

Ia kemudian menunjuk ke arah bahu Fek Fe. "Eh, hati-hati dong kalau ngomong. Itu abu bedak anda sampai berjatuhan ke lantai pas anda mangap tadi. Sayang kan, bedak mahal kalau rontok cuma gara-gara mau nyinyir."

Melan terkekeh ringan saat melihat wajah Fek Fe berubah merah padam. Beberapa dayang di belakang mereka bahkan menunduk, mencoba menahan tawa yang nyaris meledak.

"Permaisuri! Huwaaaa! Anda selamat!"

Belum sempat Fek Fe membalas, sesosok kecil langsung menerjang Melan.

Lin datang sambil menangis sesenggukan, memeluk pinggang Melan seolah takut permaisurinya itu akan menghilang lagi.

"Lin, tenang... saya nggak mati, cuma main ke kebun binatang agak lama aja," ujar Melan sambil mengusap kepala dayang setianya itu.

Di sisi lain, Baron yang biasanya tenang kini terlihat seperti banteng yang siap menyeruduk.

Ia berdiri tepat di depan Kibo dengan tatapan membunuh. Otot lehernya sampai menegang.

Kibo, yang memang punya nyali cadangan, hanya bisa cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Sumpah, Baron, saya nggak ngapa-ngapain Permaisuri! Malah saya jagain biar nggak dimakan!" bela Kibo dengan suara cemprengnya.

Baron hanya mendengus keras, tangannya mengepal. "Kalau bukan karena instruksi Raja, kepalamu sudah kujadikan hiasan di gerbang luar, bocah."

Nolan melangkah melewati keributan itu tanpa berkata apa-apa. Ia hanya berhenti sejenak di samping Melan, memberikan instruksi singkat yang mutlak.

"Bersihkan dirimu. Setelah itu, datang ke aula utama. Saya tidak suka menunggu lama."

____________

Setelah mandi air hangat yang sangat mewah yang rasanya seperti surga setelah seminggu tidak keramas Melan mengenakan gaun sutra simpel berwarna krem.

Ia sengaja tidak mau pakai yang ribet karena ia tahu, setelah ini ia akan menghadapi "sidang meja hijau" versi kerajaan.

Begitu ia melangkah masuk ke aula, Nolan sudah duduk di sana.

Ia tidak lagi memakai jubah kebesarannya, hanya kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka, namun tetap saja terlihat sangat mengintimidasi.

"Duduk," perintah Nolan dingin.

Melan duduk di kursi di hadapan Nolan, mencoba tetap terlihat tenang meski jantungnya kembali berdegup kencang.

"Sekarang, jelaskan yang sebenarnya," Nolan memulai, matanya mengunci mata Melan.

"Saya tidak percaya dengan alasan 'jalan-jalan' yang Anda ucapkan. Katakan sejujurnya, apa yang dilakukan kaum Manusia Binatang itu pada Anda?"

Melan menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Kibo dan jalur dagang barunya.

Kalau ia jujur diculik karena dituduh penyihir, Nolan pasti akan meratakan Negeri Binatang, dan semua kontrak yang ia dapatkan akan jadi sampah.

"Nggak ada yang mereka lakuin, Nolan. Beneran," ujar Melan mantap.

"Semuanya itu murni kemauan saya. Pas Kibo bilang mau pulang tengok kampung halaman, saya ngerasa bosan di istana. Jadi saya maksa dia bawa saya ikut."

"Maksa?" Nolan memajukan tubuhnya.

"Anda mempertaruhkan nyawa dan keamanan kerajaan hanya karena bosan?"

"Iya! Saya mau riset pasar!" sahut Melan spontan.

"Gimana saya mau bangun Mall kalau saya nggak tahu produk apa yang ada di negeri sebelah? Di sana ada sutra laba-laba, ada rempah-rempah langka, ada—"

"Cukup!" Nolan memukul meja dengan pelan tapi suaranya telak.

"Anda hampir memicu perang dunia, Melan! Baron hampir mengerahkan seluruh pasukan elit kita!"

"Tapi kan nggak jadi perang, kan?" Melan mencoba membela diri.

"Malah sekarang saya punya delapan saudagar besar yang siap pasok barang ke toko saya nanti. Ini diplomasi namanya, bukan sekadar jalan-jalan."

Nolan menatap Melan lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di wajah istrinya.

Namun, Melan sudah melatih wajah poker face-nya sejak zaman jadi kasir yang ketahuan selisih uang.

"Anda sangat keras kepala," bisik Nolan. "Anda tahu, saat saya melihat Anda tidak ada di kamar pagi itu... saya merasa... "

Kalimat Nolan menggantung. Ia membuang muka, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman istana.

"Merasa apa? Marah ya karena permaisurinya ilang?" tanya Melan sedikit menggoda, mencoba mencairkan suasana.

Nolan kembali menatapnya, kali ini tatapannya sedikit berbeda. Ada sedikit rasa lelah yang tersirat di sana.

"Saya merasa kehilangan sesuatu yang seharusnya ada di tempatnya. Jangan lakukan itu lagi. Jika Anda ingin pergi ke mana pun, Anda harus pergi bersama saya. Bukan dengan bocah binatang itu."

Melan tersenyum kecil. "Oke, oke. Lain kali kalau saya mau meeting sama juragan beruang, saya ajak Anda deh. Tapi jangan pasang muka serem ya, nanti mereka nggak mau kasih diskon."

Nolan hanya mendengus, namun sudut bibirnya seolah ingin berkedut naik.

"Kembali ke kamarmu dan istirahatlah. Dan soal Kibo... dia tetap dalam pengawasan Baron. Jika dia melakukan satu kesalahan lagi, saya tidak akan mendengarkan alasan Anda."

Melan bangkit dari kursinya, merasa satu beban berat sudah terangkat. "Siap, Bos! Eh, maksud saya, Yang Mulia!"

Saat berjalan keluar aula, Melan membatin dengan riang. Step satu, Selamat dari amukan Nolan, check. Step dua, Bikin Fek Fe makin panas, check. Step tiga, Siapin pembukaan minimarket pertama di Valerius!

Dunia ini mungkin aneh, suaminya mungkin sedingin es kutub, tapi bagi Melan, ini adalah peluang bisnis terbesar dalam dua kali masa hidupnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun termasuk selir bermuka bedak rontok menghalangi jalannya menuju kesuksesan.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!