Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap dingin ke arah laut. Di kepalanya, ia tidak sedang memikirkan strategi militer, melainkan sedang menghitung waktu. Tiga jam lagi Leo bangun. Satu jam lagi Alicia butuh laporan suhu air. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel satelit yang terus bergetar.
Pesan dari Alicia: "Dante! Kenapa kau tidak membalas? Aku baru sadar, dot perak Leo sedikit tergores. Aku ingin kau mencari pengrajin perak terbaik di Florence sekarang juga! Dan kenapa kau belum pulang? Kau kan tahu baumu adalah satu-satunya yang bisa membuatku tenang!"
Dante menatap pesan itu. Tangannya yang gemetar karena kelelahan otot nyaris menjatuhkan ponsel tersebut. Ia baru saja membunuh lima orang dalam kontak senjata jarak dekat sepuluh menit yang lalu, dan sekarang ia diminta memikirkan goresan mikroskopis di sebuah dot perak.
"Siapkan helikopter," suara Dante terdengar serak. "Aku harus pulang sebelum subuh."
"Tapi Bos, luka di bahu Anda perlu dijahit."
"Lakukan di helikopter," potong Dante tajam. "Jika aku terlambat, Nyonya akan menganggap aku lebih mementingkan perang daripada keluarga, dan aku tidak punya energi untuk menjelaskan perbedaan urgensinya malam ini."
Subuh menjelang. Dante melangkah masuk ke ruang tengah vila dengan tubuh yang terasa rontok. Ia bahkan belum sempat membersihkan sisa jelaga di tangannya yang sengaja ia sembunyikan di balik saku jas saat ia melihat sebuah peti kayu besar yang baru saja diturunkan dari helikopter logistik. Di sampingnya, Bambang berdiri dengan napas terengah-engah, wajahnya yang penuh bekas luka kini ditambah dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Ini barangnya, Bos," ucap Bambang pelan. "Kereta bayi Gold-Standard Tactical edisi terbatas. Emas 24 karat, suspensi magnetik cair, dan kain joknya dijahit dengan serat kevlar anti-peluru tingkat tiga."
Dante memeriksa roda kereta tersebut dengan teliti, berusaha mengabaikan denyut nyeri di bahunya yang baru saja dijahit tanpa bius. "Apakah ini benar-benar anti-guncangan? Alicia bilang jika Leo merasakan getaran lebih dari dua hertz, dia akan mogok makan."
"Sudah diuji, Bos. Saya mendorong kereta ini melewati medan latihan ranjau di pangkalan belakang. Sensor air di dalamnya tidak tumpah setetes pun," lapor Bambang dengan kebanggaan yang aneh.
Tepat saat itu, Alicia melangkah masuk dengan gaun rumah berbahan sutra warna sage green. Ia membawa botol susu yang dipasang pada pemanas portabel berlapis kristal.
"Dante! Kenapa kereta itu warnanya terlalu mencolok?!" Alicia merengek, matanya menyipit menatap kilauan emas tersebut. "Aku bilang emasnya harus rose gold, bukan emas kuning seperti piala sepak bola! Ini terlihat sangat... agresif. Bayiku butuh estetika yang lembut!"
Dante menarik napas panjang. Kepalanya berdenyut. "Alicia, ini satu-satunya di dunia yang memiliki spesifikasi perlindungan ledakan."
"Perlindungan ledakan tidak harus terlihat seperti tank berjalan, Dante!" Alicia menyilangkan tangan di depan dada, mengabaikan fakta bahwa kereta bayi di depannya bernilai lebih mahal daripada satu skuadron kendaraan taktis. "Aku ingin Leo merasa seperti sedang tidur di atas awan yang berkilau, bukan di dalam brankas bank sentral. Ganti warnanya menjadi rose gold atau aku akan mogok bicara sampai Leo masuk sekolah dasar!"
Dante menarik napas panjang. Kepalanya berdenyut. Selama empat puluh delapan jam terakhir, ia tidak tidur. Ia baru saja kembali dari operasi pembersihan di dermaga utara yang penuh lumuran darah, mengganti setelan jasnya di helikopter, dan langsung disambut oleh perdebatan tentang spektrum warna emas.
"Alicia," suara Dante terdengar lebih rendah dan dingin dari biasanya. "Dunia di luar sana sedang mencoba merobek klan kita menjadi serpihan. Aku baru saja memastikan jalur logistikmu aman dari sabotase, dan sekarang kau meributkan estetika kereta bayi?"
"Estetika adalah segalanya, Dante! Itu identitas!" Alicia membalas dengan nada yang lebih tinggi. "Kau pikir aku tidak stres? Aku harus memastikan Leo tumbuh dengan standar terbaik sementara tubuhku sendiri masih terasa seperti habis ditabrak truk! Dan kau... kau bahkan tidak bisa memberikan satu hal kecil yang aku minta!" Alicia membentak, tidak menyadari bercak darah yang mulai merembes di kemeja putih Dante bagian bahu.
"Hal kecil?" Dante melangkah maju, auranya mendadak terasa menyesakkan. "Bambang mempertaruhkan nyawanya mencari barang ini. Marcello tidak tidur demi memastikan tidak ada mikroba yang mendekatimu. Dan aku... aku lelah, Alicia. Aku lelah luar dalam."
Alicia tertegun. Ini pertama kalinya Dante mengakui kelelahannya dengan nada yang begitu menusuk. Biasanya, Dante akan membalas dengan kepatuhan kaku atau diam yang protektif. Namun kali ini, ada kilat kekecewaan yang dalam di mata suaminya.
"Jika kau lelah denganku, katakan saja!" Alicia berteriak, air mata mulai menggenang karena ledakan hormon dan ego yang terluka.
Dante tidak menjawab. Ia hanya menatap Alicia selama beberapa detik sebuah tatapan yang terasa seperti perpisahan sementara lalu berbalik tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Alicia yang berdiri terpaku di samping kereta bayi emas yang kini tampak begitu sunyi.
Malam itu, Dante tidak pulang. Esoknya, ia juga tidak muncul.
Alicia mulai kehilangan akal sehatnya. Ia mengirimkan tiga ratus pesan singkat yang isinya bervariasi dari ancaman perceraian hingga permintaan maaf yang putus asa. Namun, Dante hanya membalas dengan dua huruf yang menghancurkan hati Alicia "Ok." atau "Sedang sibuk."
Grup Chat: "The V-Queens
Alicia: Girls, ini gila. Dante tidak pulang. Dia hanya membalas 'Ok'. Dia menggunakan titik di akhir kalimat! Titik! Itu berarti dia sudah tidak peduli padaku! Apakah dia punya wanita lain di markas?!
*Donna Maria: Nyonya, tenang. Pria mafia kadang butuh waktu untuk 'membersihkan' pikiran. Tapi... membalas tanpa emoji memang tanda bahaya tingkat tinggi*.
*Sofia (Marseille): Alicia, aku baru saja mendeteksi jet pribadi Dante mendarat di sebuah pulau pribadi di lepas pantai Malta. Dan coba tebak siapa yang juga mendarat di sana satu jam kemudian? Helikopter dengan lambang klan Volkov*.
*Alicia: Volkov?! Katerina si tiang listrik itu*?!
Logika absurd Alicia mulai bekerja. Ia membayangkan Dante yang lelah dengan permintaannya, kini sedang duduk di bar mewah, menyesap wiski, sementara Katerina yang berperut rata dan mematikan sedang memberikan kenyamanan yang tidak bisa Alicia berikan saat ini.
Di vila, Bambang dan Marcello seperti berjalan di atas kulit telur. Atmosfer di ruangan itu begitu berat, seolah oksigen telah dihisap habis oleh amarah yang membara di balik keanggunan Alicia. Alicia memerintahkan Bambang untuk menggunakan satelit militer klan Vallo hanya untuk memantau suhu udara di tempat Dante berada.
"Marcello! Kenapa suhu di Malta sangat stabil? Itu pasti karena AC-nya diatur untuk suasana romantis!" teriak Alicia sambil menggendong Leo yang sedang rewel. Matanya berkilat, memindai layar tablet seolah suhu udara adalah bukti pengkhianatan yang nyata.
Marcello berdiri kaku dengan botol susu di saku jasnya. "Nyonya, suhu 24 derajat adalah standar pendingin ruangan di semua fasilitas Vallo. Tidak ada hubungannya dengan... suasana romantis."
"Kau membelanya?! Kau juga ingin pergi ke Malta?!" Alicia menunjuk ke arah pintu. Marcello hanya bisa menunduk pasrah. Ia merindukan hari-hari di mana ia hanya perlu menghadapi musuh dengan senapan mesin. Menghadapi Alicia yang sedang murka karena cemburu jauh lebih melelahkan daripada perang gerilya. Bagi Marcello, peluru kaliber 50 mm terasa lebih bersahabat daripada tatapan tajam Nyonya besar Vallo saat ini.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣