NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Kemenangan Kecil Pertama

Tangan kanannya masih gemetar, tapi bukan karena takut.

Adrenalin membanjiri pembuluh darahnya. Jari-jarinya meremas seprai katun putih di bawahnya secara kasar. Terasa halus. Tidak ada bau apak karpet basah. Tidak ada rasa karat darah yang memenuhi rongga mulut.

Ia melompat turun dari ranjang. Kakinya menjejak lantai kayu oak yang hangat. Cermin rias setinggi manusia di sudut ruangan memantulkan sosok gadis delapan belas tahun. Rambut hitamnya berkilau. Kulitnya pucat tapi utuh. Belum ada kantung mata hitam akibat stres dan obat penenang.

Pintu kamar terbuka pelan. Kepala Bi Inah melongok ke dalam. Perempuan paruh baya itu masih utuh, kerutan di wajahnya belum sedalam yang Shanaya ingat.

"Non? Udah bangun toh." Bi Inah masuk membawa setumpuk handuk bersih. "Ayo mandi. Nyonya Besar udah nunggu di meja makan dari tadi."

Napas Shanaya tertahan di tenggorokan. Bi Inah. Pelayan setia yang kelak mati kelaparan di jalanan, diusir paksa oleh lintah darat suruhan Alvian tiga tahun dari sekarang.

Ia menelan ludah keras. "Bi."

"Dalem, Non?"

"Hari ini tanggal berapa?"

"Dua belas Agustus dong, Non. Kan lusa acara pertunangannya." Bi Inah tersenyum lebar, menaruh handuk di kursi rias. "Jangan telat turun lho. Hari ini jadwal ukur gaun."

Tujuh tahun. Ia ditarik mundur tepat tiga hari sebelum kesalahan paling fatal dalam hidupnya dimulai.

"Aku mandi dulu," jawabnya pendek.

Di kamar mandi, Shanaya menyalakan keran wastafel putaran maksimal. Air sedingin es mengguyur kedua tangannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin berembun. Tatapannya jatuh pada bingkai foto kecil di rak kaca sebelah wastafel. Foto dirinya tersenyum lebar bersandar di bahu Alvian.

Tangan Shanaya bergerak menepis bingkai itu.

Prang. Kaca pelindungnya retak menghantam lantai marmer. Suara pecahan itu memicu sesuatu di dalam kepalanya. Sesuatu yang liar dan dingin.

Wanita naif pecinta keluarga itu sudah mati menelan racun di apartemen kumuh. Yang berdiri di sini sekarang adalah hantu yang kembali untuk menagih utang nyawa.

Ia keluar dari kamar mandi dengan langkah mantap. Tangannya menyambar buku catatan bersampul kulit hitam dan pena di meja belajar. Ujung pena menekan kertas putih.

Satu. Alvian Restu.

Dua. Anastasia Lim.

Ia akan membawa mereka naik setinggi mungkin, lalu memotong tali mereka di depan semua orang. Untuk itu, ia butuh panggung. Ia butuh arena yang tidak bisa dikendalikan oleh uang curian Alvian kelak.

Ia butuh Steven Aditya.

Pisau media paling tajam di negeri ini. Di kehidupan lalu, pria itu adalah algojonya. Kali ini, Shanaya akan memastikan dirinya punya nilai tawar yang membuat produser dingin itu berlutut menawarkan kerjasamanya.

Tiga puluh menit kemudian, Shanaya menuruni tangga menuju ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi menguar di udara.

Rini Kesuma duduk di ujung meja jati panjang. Sehat. Bernapas.

"Lama banget sih turunnya." Rini meletakkan cangkir kopinya. "Boutique Madame Siska sudah telepon. Alvian juga udah di jalan mau jemput kamu ke butik."

Shanaya menarik kursi. Ia duduk tepat di sebelah ibunya.

"Ma."

"Ya?" Rini mengulurkan tangan, merapikan kerah kemeja Shanaya yang sedikit berlipat.

Tenggorokan Shanaya terasa disayat pisau silet. Tangan hangat ini kelak akan mendingin di atas ranjang ICU, dibunuh oleh pria yang sedang dipujinya.

"Mama beneran percaya sama Alvian?"

Rini mengerutkan kening. "Kok nanya gitu? Ayahmu sendiri yang milih dia. Dia nggak pernah nuntut minta dibelikan mobil mewah macam anak orang lain. Kamu beruntung lho dapat calon suami yang tahu diri."

Tahu diri.

Shanaya mengambil garpu dan pisau perak. Ia mengiris sosis di piringnya. Suara decit logam bergesekan dengan porselen terdengar nyaring.

Dulu, ia selalu berusaha mengecilkan dirinya sendiri agar Alvian tidak merasa minder. Ia yang selalu menunggu, ia yang selalu menyesuaikan jadwal, ia yang menumpang mobil sedan butut pria itu kemana-mana.

Tidak lagi. Timeline ini harus diubah sekarang juga.

"Suruh Bi Inah telepon butiknya, Ma," ucap Shanaya tenang, memasukkan potongan sosis ke mulutnya. "Kosongkan jadwal mereka khusus buatku jam empat sore ini. Aku nggak mau ada tamu lain."

Rini terkesiap pelan. "Loh? Kok mendadak minta VVIP? Terus Alvian gimana? Dia udah hampir sampai gerbang depan."

"Bilang ke Alvian, dia nggak usah repot jemput." Shanaya menatap ibunya lurus. "Suruh Pak Tarjo siapkan mobil Porsche punyaku. Aku nyetir sendiri ke butik."

"Shanaya, kasihan Alvian. Dia pasti udah panas-panasan di jalan..."

"Kalau dia sudah sampai depan gerbang, biarkan dia tunggu di pos satpam sampai aku selesai sarapan." Shanaya meletakkan pisaunya. "Ini pestaku, Ma. Dia yang harus ikut jadwalku."

Rini terdiam. Wanita itu menatap putrinya dengan tatapan bingung. Ada otoritas absolut dalam nada bicara Shanaya yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tidak ada bantahan yang bisa keluar dari mulut Rini. Ia akhirnya hanya mengangguk pelan memanggil Bi Inah.

Shanaya mengunyah makanannya dalam diam. Kemenangan kecil pertama. Kepanikan pasti mulai merayapi kepala Alvian di luar sana. pria itu tidak pernah tahan kehilangan kendali, bahkan untuk hal sepele, sekecil apa pun itu.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!