NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Sangkar Emas di Uluwatu

​Angin laut yang membawa aroma garam dan kehangatan tropis langsung menerpa wajahku begitu pintu mobil Alphard hitam ini dibuka.

​Di hadapanku, berdiri megah Vila Nirwana, sebuah resor super eksklusif milik Wiratmadja Tech yang bertengger di atas tebing Uluwatu, Bali. Suara debur ombak yang menghantam karang di bawah sana terdengar seperti auman binatang buas yang menyambut kedatangan kami.

​Aku menelan ludah, meremas ujung sun-dress (gaun musim panas) berbahan sifon putih yang kukenakan. Sepanjang hidupku, aku selalu datang ke resor ini dengan setelan jas rapi, diiringi asisten, dan disambut sebagai seorang bos besar.

​Namun hari ini, aku datang dengan gaun tipis sebatas lutut, topi pantai, dan kacamata hitam. Aku tidak datang sebagai CEO. Aku datang sebagai target buruan yang sedang masuk ke dalam sangkar singa.

​"Tanganmu dingin sekali."

​Suara bariton itu menarikku dari lamunan. Bumi sudah berdiri di samping pintu mobil, mengulurkan tangan besarnya padaku.

​Pria itu... terlihat sangat berbeda. Zirah kemeja formal dan celana bahannya telah ditanggalkan, diganti dengan kemeja linen putih berlengan pendek yang tak dikancingkan di bagian atas, mengekspos sedikit dada bidangnya. Celana chinos warna khaki dan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya membuat suamiku tampak seperti model majalah yang sedang berlibur. Tidak ada jejak "staf IT rendahan" dalam posturnya. Ia memancarkan dominasi absolut.

​"Aku gugup," bisikku jujur, meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. "Garda tidak diizinkan masuk ke dalam area tebing. Kita benar-benar sendirian sekarang."

​Bumi menggenggam tanganku, menarikku keluar dari mobil. Begitu kakiku menjejak paving block pelataran lobi, Bumi memutar tubuhku pelan hingga aku berhadapan dengannya.

​Tangan kirinya yang sudah lepas dari perban, tiba-tiba melingkar di pinggangku. Bukan pelukan ringan, melainkan tarikan posesif yang merapatkan pinggul kami hingga tidak ada jarak tersisa.

​Aku terkesiap pelan. Mataku membelalak dari balik kacamata hitam. Hawa panas tubuhnya menembus kain sifon tipis gaunku.

​"B-Bumi?" cicitku, jantungku langsung melompat ke tenggorokan.

​Bumi menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telingaku hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya. "Mulai dari detik ini, pertunjukannya dimulai, Aruna," bisiknya serak. "Rendra dan kawan-kawannya sedang mengawasi kita dari balkon lobi atas. Tersenyumlah. Tatap aku seolah aku adalah pria yang paling kau inginkan di dunia ini."

​Aku menelan ludah. Tubuhku gemetar, bukan karena takut pada Rendra, melainkan karena efek dari jarak kami yang terlalu intim.

​Aku mendongak, menatap mata cokelatnya. Aku memaksakan sebuah senyuman. Aku mengangkat tanganku, meletakkannya di dada Bumi, merasakan detak jantungnya yang berdentum sama gilanya dengan jantungku.

​"Bagus," puji Bumi pelan. Ia menoleh sedikit ke arah petugas bellboy yang datang membawakan koper kami. "Mari kita sapa para penonton kita."

​Kami berjalan memasuki lobi utama berkonsep open-air (terbuka) yang langsung menghadap hamparan Samudra Hindia.

​Tepat di area lounge VIP, duduklah Rendra Daniswara, dikelilingi oleh empat orang anggota dewan komisaris tertua di perusahaan. Di atas meja mereka, terdapat botol champagne yang sudah terbuka. Mereka sedang menunggu kehancuranku.

​Bumi tidak melepaskan pinggangku. Ia justru semakin menempelkan tubuhku padanya saat kami melangkah mendekati meja mereka.

​"Ah, pengantin baru kita akhirnya tiba," sapa Rendra dengan nada mengejek. Ia berdiri, memegang gelas champagne. "Selamat datang di Bali, Aruna, Bumi. Kami mengira kalian akan melewatkan liburan ini karena... skandal hukum kemarin."

​Beberapa komisaris tertawa kecil. Tawa yang merendahkan.

​Aku mengatur napasku, bersiap mengeluarkan kalimat balasan paling berbisa yang kumiliki. Namun, sebelum aku sempat membuka mulut, Bumi sudah bertindak lebih dulu.

​Suamiku itu tiba-tiba menunduk, mendaratkan sebuah kecupan yang cukup panjang di pelipis kananku. Sentuhan bibirnya yang lembut dan hangat membuat seluruh argumenku menguap tak bersisa. Otak CEO-ku mendadak mengalami error sistem.

​"Kami tidak akan melewatkan bulan madu kami hanya karena gangguan kecil dari oknum yang tidak bertanggung jawab, Pak Rendra," jawab Bumi santai, tanpa melepaskan dekapannya di pinggangku. Ia membelai lengan atasku dengan ibu jarinya, sebuah gestur perlindungan yang sangat natural.

​Bumi menatap para komisaris itu dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya. "Lagi pula, istri saya bekerja terlalu keras selama ini. Ia butuh istirahat, dan saya bermaksud memberikannya tiga hari penuh kasih sayang tanpa interupsi soal saham atau urusan kantor. Bukankah begitu, Sayang?"

​Bumi menunduk menatapku. Tatapannya begitu memuja, begitu lembut, hingga selama satu detik yang mematikan, aku lupa bahwa ini hanyalah sandiwara.

​"I-iya, Sayang," balasku, memaksakan senyum malu-malu yang sejujurnya seratus persen asli karena wajahku benar-benar terasa terbakar. "Pemandangannya sangat indah."

​Rendra mengatupkan rahangnya. Kilat ketidakpuasan melintas di matanya saat ia gagal melihat kecanggungan yang ia harapkan dari kami. Pasangan nikah kontrak yang terpaksa tidak akan bisa saling menatap dengan penuh hasrat seperti itu.

​"Baguslah jika kalian menikmatinya," Rendra mengangkat gelasnya sedikit. "Manajer resor sudah menyiapkan kamar terbaik untuk kalian. Honeymoon Suite (Kamar Bulan Madu) nomor 01. Kami sangat menantikan kehadiran kalian di acara makan malam direksi nanti malam. Jangan sampai telat... atau terlihat kelelahan."

​Sindiran mesum itu membuatku muak, tapi Bumi hanya tersenyum sopan, mengangguk kecil, lalu membimbingku berlalu dari hadapan mereka.

​Sepanjang perjalanan mengikuti manajer resor menuju vila pribadi kami, Bumi terus menggenggam tanganku. Jemari kami bertaut erat. Jika ada staf resor atau tamu lain yang melihat, kami terlihat seperti sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan barang sedetik pun.

​Kami tiba di sebuah bangunan vila terpisah yang sangat tersembunyi, dikelilingi oleh taman tropis dan menghadap langsung ke tebing laut.

​Manajer resor membuka pintu kayu berukir itu, membungkuk sopan. "Selamat menikmati bulan madu Anda, Bapak Bumi, Ibu Aruna. Jika butuh sesuatu, butler pribadi Anda siap 24 jam."

​"Terima kasih," ucap Bumi.

​Pintu ditutup dari luar. Suara klik kuncinya terdengar nyaring.

​Kami akhirnya sendirian.

​Aku langsung membuang napas yang sedari tadi tertahan di paru-paruku, melepaskan tautan tangan kami, dan memijat pelipisku. Adrenalin dari sandiwara tadi membuat kepalaku pusing.

​"Itu tadi sangat melelahkan. Aku tidak tahu bagaimana kita bisa bertahan berakting seperti itu selama tiga hari," gumamku sambil berjalan masuk menelusuri lorong kecil vila menuju kamar utama. "Genggamanmu erat sekali, Bumi, sampai jariku nyaris mati rasa—"

​Kalimatku terputus. Langkahku membeku di ambang pintu kamar tidur utama.

​Mataku membelalak lebar melihat pemandangan di depanku.

​Ruangan itu sangat luas dan megah. Di tengahnya terdapat sebuah ranjang Super King Size beralas seprai putih bersih. Di atas seprai itu, bertabur ribuan kelopak bunga mawar merah yang disusun membentuk gambar sepasang angsa dan bentuk hati raksasa. Aroma wangi bunga kenanga dan mawar sangat menyengat, membangkitkan suasana erotis yang kental.

​Tapi bukan itu yang membuat kakiku lemas.

​Tepat di seberang ranjang, terdapat kamar mandi yang sangat luas dengan bathtub (bak mandi) pualam raksasa. Dan masalahnya adalah... dinding pemisah antara kamar tidur dan kamar mandi itu terbuat dari kaca transparan tanpa tirai. Sepenuhnya tembus pandang.

​Siapa pun yang berada di atas ranjang, bisa melihat dengan jelas segala aktivitas apa pun yang terjadi di dalam kamar mandi. Mulai dari shower hingga bathtub.

​"A-apa-apaan ini?" suaraku bergetar ngeri.

​Rendra benar-benar psikopat. Dia merancang kamar ini untuk menyiksa mental kami. Jika kami adalah pasangan kontrak yang tidak saling menyentuh, kami akan kesulitan luar biasa untuk sekadar mandi dan berganti pakaian di ruangan yang saling tembus pandang ini.

​"Aruna," panggil Bumi pelan dari arah belakangku.

​Aku berbalik dengan panik. "Bumi, kita tidak bisa tidur di sini! Kaca kamar mandinya transparan! Bagaimana caraku berganti pakaian? Bagaimana caramu mandi?! Kita harus memanggil manajer dan meminta—"

​Tiba-tiba, Bumi melangkah maju dengan gerakan yang sangat cepat dan terarah.

​Sebelum aku sempat bereaksi, ia meraih pinggangku dengan satu tangan, menarik tubuhku ke arahnya, dan dengan gerakan yang tegas namun tetap lembut, ia mendorong punggungku hingga menabrak dinding kayu di dekat pintu masuk.

​Napas ku terhenti seketika.

​Bumi mengurungku dengan kedua lengannya yang menempel di dinding. Tubuhnya hanya berjarak satu milimeter dari tubuhku. Hawa panas dari dadanya terasa membakar kulitku. Aku menengadah, mataku membelalak menatap rahangnya yang tegas.

​Jantungku berdetak dengan kecepatan yang mematikan. Apakah... apakah hormon pria ini bereaksi terhadap suasana kamar ini? A-apa yang mau dia lakukan?!

​"Bu-Bumi..." cicitku, suaraku nyaris hilang. Tanganku secara refleks mencengkeram kemeja linennya.

​Wajah Bumi perlahan mendekat. Mata gelapnya menatap lurus ke arah bibirku. Napasnya yang hangat menerpa daguku. Aku memejamkan mata erat-erat, tidak tahu apakah aku harus menolak atau justru menyerah pada ciuman yang akan datang. Tubuhku bergetar hebat.

​Namun, tidak ada ciuman di bibirku.

​Bumi memiringkan wajahnya, membenamkan hidungnya di perpotongan leherku. Aku tersentak pelan. Tapi bukannya mencium leherku, Bumi justru mendekatkan bibirnya tepat di depan lubang telingaku.

​"Jangan menoleh. Jangan bereaksi berlebihan. Tersenyumlah dan balas pelukanku sekarang juga," bisiknya dengan nada yang sangat rendah, sangat rahasia, nyaris tak terdengar.

​Aku membuka mata. Keningku berkerut, kebingungan setengah mati.

​"A-apa?" balas bisikku, masih dalam posisi terkurung.

​"Di atas nakas sebelah kanan, di dalam mata patung kayu, ada lensa kamera tersembunyi," bisik Bumi lagi, suaranya sedingin es meski tubuhnya memelukku hangat. "Lalu di sudut langit-langit dekat pendingin ruangan, ada mikrofon penyadap. Ruangan ini tidak aman, Aruna. Rendra sedang menonton kita dari ruang kontrolnya."

​Darah di sekujur tubuhku seakan membeku, kemudian mendidih dalam waktu yang bersamaan.

​Kamera?! Rendra mengawasi kami di dalam kamar tidur?! Bajingan itu benar-benar ingin melihat bukti apakah kami akan melakukan kontak fisik laiknya suami istri atau hanya duduk terpisah dalam kecanggungan.

​"Apa yang harus kita lakukan?" bisikku panik, suaraku bergetar ketakutan. "Kita tidak mungkin bisa berpura-pura sampai sejauh itu, Bumi! Aku..."

​Bumi mengangkat wajahnya dari leherku. Ia menatap mataku dalam-dalam dari jarak beberapa sentimeter. Mata cokelatnya memancarkan sorot melindungi yang tak terbantahkan.

​Tangan kirinya perlahan terangkat, merapikan anak rambutku yang jatuh ke dahi, lalu membelai pipiku dengan ibu jarinya. Sebuah sentuhan yang terlihat sangat romantis di kamera, namun bagiku, itu adalah jangkar yang menahan kewarasanku agar tidak hancur.

​"Aku akan mematikan sistem kamera dan penyadap itu malam ini, aku sudah membawa alat pengacak sinyal (jammer) di koperku," balas Bumi pelan, matanya menyapu bibirku untuk memberikan ilusi pada kamera bahwa ia sedang merayuku. "Tapi alat itu butuh waktu tiga puluh menit untuk meretas gelombang CCTV mereka tanpa ketahuan."

​"Selama tiga puluh menit itu..." aku menelan ludah dengan susah payah. "A-apa yang harus kita lakukan?"

​Bumi menghela napas panjang. Semburat merah perlahan menjalar dari leher hingga ke telinganya. Walaupun otaknya adalah mesin pembunuh berdarah dingin, ia tetaplah pria canggung yang sedang berusaha keras mempertahankan batasan agamanya.

​"Selama tiga puluh menit ke depan..." Bumi menundukkan wajahnya lagi, hidungnya kini menyentuh hidungku dengan mesra, membuat napasku tertahan. "Kita harus meyakinkan penonton kita bahwa kita adalah pengantin baru yang sangat mabuk kepayang, Aruna. Maafkan aku jika sentuhanku... sedikit melewati batas."

Belum sempat aku memproses izin yang ia minta, lengan kokoh Bumi melingkari pinggangku, mengangkat tubuhku dengan mudah seolah aku tidak memiliki berat. Aku terkesiap kaget, refleks melingkarkan kedua lenganku di lehernya agar tidak jatuh. Dengan posisi masih menggendongku, Bumi berjalan melangkah maju menuju ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar merah itu. Jantungku berdetak brutal. Sandiwara ini sudah melampaui segala batas rasionalitas. Tiga puluh menit yang dijanjikan Bumi akan terasa seperti tiga dekade.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!