NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA

Di ruang meeting, kursi-kursi masih berantakan, sisa gelas kopi dan berkas proposal berserakan di meja. Para klien sudah meninggalkan ruangan dengan senyum puas. Lukas berdiri sambil melepas jasnya, menyampirkannya di bahu, lalu menatap Sean Affansyah-asisten sekaligus sahabatnya.

"Kerja bagus, Sean. Kalau kamu nggak cepat kasih solusi soal pengiriman itu, mungkin kontrak kita udah gagal," ucap Lukas sambil menepuk bahu pria itu.

Sean tersenyum lebar. "Ya, Bos. Tapi tetap aja, ide dasarnya dari Bos. Saya cuma bantu nyusun kata-kata biar nggak kaku di telinga orang Jepang."

Lukas tertawa kecil, lalu berjalan keluar ruangan. Di belakangnya, Ririn Tamara, sang sekretaris, membawa map tebal berisi dokumen hasil meeting. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Tatapan itu-hangat, penuh kekaguman, sekaligus... sesuatu yang lebih dalam dari sekadar profesionalitas.

"Pak Lukas," ucap Ririn pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang kerja utama. "Tadi waktu Bapak jelaskan soal sistem distribusi itu... keren banget. Kliennya sampai terdiam semua."

Lukas menoleh sebentar, menatapnya sekilas. "Itu hasil kerja tim, Rin. Jangan terlalu memuji saya!"

"Tapi tetap aja, Bapak itu punya aura yang bikin orang yakin sama keputusan Bapak," kata Ririn lagi, senyum tipis muncul di bibirnya.

Sean yang berjalan di belakang mereka menahan tawa kecil. Ia sudah tahu betul kalau Ririn memang menyimpan rasa pada bosnya sejak lama. Tapi ia juga tahu, Lukas terlalu fokus pada pekerjaan dan istrinya, Adelia, untuk menyadari hal-hal seperti itu.

Begitu sampai di depan pintu ruang kerjanya, Lukas menghela napas panjang. "Oke, saya mau istirahat sebentar. Kamu siapkan laporan tambahan buat rapat internal jam dua nanti, ya, Sean. Ririn, tolong pastikan semua dokumen sudah diarsip dengan benar!"

"Siap, Pak!" jawab keduanya hampir bersamaan.

Namun, sebelum Lukas sempat membuka pintu ruangannya, langkahnya terhenti. Matanya menyipit.

Di depan pintu kaca itu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah marun, potongan body fit yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambut panjang bergelombang jatuh indah ke bahu. Bibirnya dilapisi lipstik merah menyala, sama seperti dulu-gaya yang selalu membuat kepala para pria menoleh dua kali.

Wanita itu tersenyum menggoda. "Hai, Luk!"

Lukas membeku sejenak. "Intan?"

Intan Vadella.

Nama itu saja sudah cukup membuat satu bagian dari masa lalu Lukas bergetar. Mantan kekasihnya. Wanita yang dulu sempat menjadi bagian besar dari hidupnya, sebelum ia bertemu Adelia.

Sean dan Ririn saling berpandangan. Ririn menunduk, jelas merasa tak nyaman, sementara Sean diam-diam berusaha menahan ekspresi kagetnya.

Intan melangkah maju, suara hak sepatunya berdetak lembut di lantai marmer. "Udah lama ya kita gak ketemu, Luk. Aku kangen lihat kamu pakai jas kerja kayak gini. Masih segagah dulu."

Lukas tidak membalas senyumnya. Ia hanya menatap datar. "Ada urusan apa kamu ke sini, Intan? Setahu saya, kamu udah nggak ada hubungan lagi sama Vander Group."

Intan tersenyum, matanya berkilat. "Langsung to the point, ya. Nggak ada sapaan ramah dulu buat mantan kekasih kamu yang cantik ini nih?"

Lukas membuka pintu ruangannya, melangkah masuk, lalu menoleh ke arah Sean dan Ririn. "Tolong, jangan biarkan siapa pun masuk dulu!"

Ririn sempat ingin berkata sesuatu, tapi menahan diri. Intan menatapnya sekilas, matanya tajam-seolah ingin menegaskan siapa yang sebenarnya punya pengaruh pada Lukas dulu.

Pintu tertutup, meninggalkan keduanya berdua di dalam ruangan.

Lukas berjalan ke arah mejanya, menaruh jas, lalu bersandar di tepi meja kerja. "Aku tanya lagi, kamu ke sini mau apa?"

Intan melangkah mendekat. "Tenang aja, aku nggak bawa masalah kok. Aku cuma... kangen ngobrol sama kamu."

"Kangen ngobrol?" Lukas menatapnya datar. "Setelah

semua yang kamu lakukan waktu itu?"

Intan tertawa kecil. "Kamu masih dendam ya?

Padahal, dulu aku cuma... memilih realita. Kamu terlalu sibuk waktu itu, Luk. Dan aku butuh seseorang yang hadir, bukan cuma lewat telepon."

"Dan kamu milih ninggalin aku tanpa penjelasan," balas Lukas tajam.

Intan mendesah pelan. "Ya, dan kamu malah nikah cepat banget. Cuma butuh beberapa bulan buat gantiin aku sama perempuan lain. Cantik sih, istrimu. Aku lihat fotonya di media. Tapi jujur aja, dia nggak seanggun aku, kan?"

Lukas menatap tajam, rahangnya mengeras. "Jaga omongan kamu, Intan!"

Intan tersenyum, langkahnya makin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa jengkal. "Kenapa? Kamu takut aku ganggu rumah tanggamu? Aku cuma pengin ngobrol kok, nggak lebih."

"Tapi, kamu datang dengan pakaian kayak gitu ke kantor aku, nyatain 'kangen', dan nyindir istri aku. Itu bukan ngobrol, Intan!" kata Lukas, nadanya dingin. "Itu provokasi!"

Tatapan Intan sedikit berubah. Ia tersenyum samar, tapi matanya menyimpan rasa sakit yang tak ia tunjukkan. "Kamu selalu keras, Luk. Tapi, justru itu yang bikin aku nggak pernah bisa bener-bener lupa sama kamu."

Lukas diam. Ia tahu Intan sedang bermain emosi. Ia tahu perempuan itu berbahaya-bukan karena apa yang bisa ia lakukan, tapi karena ia tahu betul bagaimana cara menggoyahkan ketenangan Lukas.

Namun kali ini, Lukas bukan pria yang sama seperti dulu. Ia sudah beristri, sudah punya komitmen yang tak bisa diusik siapa pun.

"Kamu sudah dapat waktu kamu dulu, Intan," katanya datar. "Sekarang aku cuma minta kamu pergi!"

Intan tersenyum pahit, lalu mendekat satu langkah lagi. "Kalau suatu hari kamu sadar kalau dia nggak sekuat kelihatannya... kamu tahu ke mana harus datang."

Ia menatap Lukas sekali lagi-tajam, dalam, penuh maksud-lalu berbalik menuju pintu. Saat membukanya, pandangan mata Ririn yang menunduk membuatnya tersenyum sinis.

"Cantik juga sekretarismu, Luk. Selera kamu emang nggak berubah," katanya dengan nada setengah menggoda, setengah menohok.

Lukas tak menanggapi. Ia hanya berdiri diam di balik meja, menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh.

Begitu pintu tertutup kembali, Lukas menghela napas berat. Ia tahu, kedatangan Intan bukan kebetulan.

Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan... masa lalunya baru saja membuka pintu menuju masalah baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!