Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Mahardika
Ponsel di saku jas Erlangga bergetar. Sekali, dua kali, seolah menolak untuk membiarkannya tenggelam dalam keheningan danau lebih lama lagi. Erlangga masih membeku di balik kemudi, namun mesin mobil masih membisu. Di balik kaca depan, danau itu tetap tenang, memantulkan sisa-sisa cahaya bulan seolah tidak peduli pada badai yang baru saja meluluhlantakkan perasaannya.
Getaran itu terus berlanjut. Dengan gerakan kaku, Erlangga mengeluarkan ponselnya. Nama yang tertera di layar membuatnya menghela napas berat. Mama. Ia mematung sejenak sebelum akhirnya menggeser ikon hijau.
“Iya, Ma.”
“Langga, kamu di mana? Mama telepon dari tadi tidak diangkat-angkat,” suara wanita itu langsung menyambar, sarat akan kecemasan yang dibalut wibawa.
“Di luar.”
“Di luar mana? Acara Lea sudah selesai sejak tiga jam lalu. Mama tanya Rian, katanya kamu sudah pergi duluan tanpa pamit.”
Erlangga memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada headrest yang dingin. “Lagi nyetir tadi. Sebentar lagi sampai.”
“Cepatlah pulang. Papa menunggumu di ruang tengah. Ada hal penting yang harus dibicarakan,” ucap Mamanya, nadanya tidak lagi bertanya, melainkan memberi perintah halus yang tak bisa dibantah.
Telepon terputus. Erlangga menyalakan mesin, membiarkan lampu depan mobil membelah sunyi jalanan setapak menuju pusat kota. Rumah keluarga Mahardika berdiri megah di kawasan elit, sebuah monumen keberhasilan yang malam ini terasa lebih seperti penjara. Begitu ia melangkah masuk, ia disambut oleh keheningan yang teratur. Segalanya terlalu rapi, terlalu simetris, persis seperti hidup yang selama ini ia jalani di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya.
Di ruang tengah, dua sosok yang paling ia hormati sudah menunggu. Sang Papa duduk dengan kemeja rapi yang masih terkancing hingga leher, sementara Mamanya berdiri, wajahnya langsung berubah lega saat melihat putra tunggalnya muncul.
“Kamu akhirnya pulang juga,” ucap Mamanya, mendekat dan menyentuh lengan Erlangga dengan lembut. “Kamu dari mana, sayang? Bajumu sedikit kusut.”
Erlangga mengangguk pelan, melepas jas hitamnya yang kini terasa seperti beban tambahan. “Hanya mencari udara segar sebentar, Ma.”
“Udara segar atau melarikan diri?” Suara berat Papanya memotong pembicaraan. Pria itu tidak beranjak dari sofanya, tatapannya tajam seperti biasa. “Duduk, Erlangga. Kita perlu bicara.”
Erlangga menarik napas panjang dan duduk di sofa tunggal, berhadapan langsung dengan ayahnya. “Ada apa, Pa?”
“Bagaimana acara Lea tadi?” tanya Papanya, meski nadanya menunjukkan ia sudah tahu jawabannya. “Saya dengar dia mengumumkan pertunangannya. Kamu sudah tahu sebelumnya?”
Erlangga terdiam sejenak. “Baru tahu tadi malam, di tempat.”
Papanya mendengus kecil, sebuah suara yang penuh dengan penilaian. “Itulah masalahmu. Terlalu banyak menggunakan perasaan dalam hubungan personal hingga kamu buta pada fakta di lapangan. Kamu menghabiskan bertahun-tahun di sampingnya, tapi pada akhirnya, orang lain yang mengambil langkah.”
“Pa, jangan mulai,” sela Mama lembut, namun Papanya mengangkat tangan, menghentikan interupsi itu.
“Ini bukan soal perasaan, ini soal insting!” tegas Papanya. “Seorang CEO Mahardika Group tidak boleh terlihat goyah karena masalah sepele seperti ini. Kamu pergi dari acara itu sebelum selesai. Kamu tahu berapa banyak kolega kita yang bertanya-tanya melihatmu pergi dengan wajah seperti itu?”
“Aku hanya tidak ingin berada di sana lebih lama lagi, Pa. Itu tidak ada hubungannya dengan profesionalisme saya di kantor,” jawab Erlangga, suaranya tetap datar meski emosinya mulai merayap naik.
“Semua hal yang kamu lakukan memiliki hubungan dengan kantor!” sahut Papanya. “Di dunia ini, citra adalah segalanya. Jika kamu terlihat lemah karena seorang wanita, investor akan mulai mempertanyakan ketangguhanmu dalam memimpin aliansi kita.”
“Tapi aku manusia, Pa. Bukan sekadar aset perusahaan,” gumam Erlangga lirih, hampir tidak terdengar.
“Di posisi kita, batas antara manusia dan aset itu sangat tipis,” balas Papanya dingin. “Kamu memegang kendali atas ribuan perut orang. Kamu tidak punya kemewahan untuk patah hati di depan umum.”
Mama duduk di samping Erlangga, mencoba mencairkan ketegangan. “Langga, maksud Papa bukan ingin memarahi. Kami hanya ingin kamu mulai membuka mata. Hidup tidak berhenti pada satu pintu yang tertutup. Selama ini kamu menutup diri hanya karena satu orang, sekarang saatnya melihat dunia yang lebih luas.”
Erlangga menoleh ke Mamanya. “Lalu? Apa rencana Mama kali ini?”
“Kamu sudah berusia tiga puluh tahun, Langga,” ucap Mama dengan senyum manis yang penuh rencana. “Fokusmu pada perusahaan sudah luar biasa. Mahardika Group berada di puncaknya sekarang. Tapi, kamu butuh seseorang yang bisa berdiri tegak di sampingmu. Seseorang yang setara secara intelektual dan posisi sosial.”
Erlangga bersandar pada sofa, sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. “Katakan saja intinya, Ma. Siapa kandidatnya kali ini?”
“Mama sudah bicara dengan teman lama Mama, Nyonya Hendrawan. Kamu ingat putri mereka, Sarah? Dia baru saja menyelesaikan gelar masternya di London. Keluarganya memegang kendali atas industri logistik dan tekstil terbesar di wilayah ini.”
“Perjodohan?” tanya Erlangga singkat.
“Kami lebih suka menyebutnya perkenalan strategis,” timpal Papanya. “Keluarga Hendrawan adalah aliansi yang kita butuhkan untuk ekspansi ke pasar luar negeri tahun depan. Sarah adalah wanita yang cerdas, anggun, dan yang paling penting... dia mengerti bagaimana dunia kita bekerja. Dia tidak akan menuntut waktumu seperti wanita biasa.”
“Bagaimana kalau saya tidak tertarik?” Erlangga menatap Papanya menantang.
“Ketertarikan bisa dibangun, Erlangga,” jawab Papanya tanpa kompromi. “Logika harus selalu berada di depan emosi. Selama ini kamu sudah bebas menentukan pilihanmu sendiri, dan kita lihat hasilnya malam ini, kosong tidak ada hasil. Kamu membuang waktu bertahun-tahun untuk sesuatu yang tidak menguntungkan posisimu.”
Erlangga tertawa kecil. Pelan, pahit, dan sarat akan kepasrahan. Ia teringat kotak cincin di sakunya. Jika dunia yang ia bangun dengan perasaannya sendiri sudah hancur lebur malam ini, lantas apa bedanya jika ia membiarkan orang lain merancang masa depannya? Hatinya terasa kebas. Kapasitasnya untuk menolak seolah sudah habis terbakar bersama harapan yang ia buang di danau tadi.
“Apakah ini perintah?” tanya Erlangga pada akhirnya.
Mama menghela napas, suaranya melembut. “Ini permohonan seorang ibu, Langga. Mama ingin melihatmu bahagia, tapi Mama juga ingin kamu aman secara posisi. Bertemu dengan Sarah tidak akan membunuhmu.”
“Kapan?” tanya Erlangga tiba-tiba.
Mamanya tampak terkejut, matanya berbinar senang. “Kamu... kamu setuju, sayang? Kamu benar-benar mau bertemu Sarah?”
“Ketemu saja dulu,” sahut Erlangga tanpa minat. “Atur saja waktunya. Tapi aku tidak janji soal komitmen jangka panjang. Jika aku tidak merasa ada kecocokan, aku akan berhenti.”
“Itu sudah lebih dari cukup untuk awal,” ucap Mama dengan nada lega yang sangat kentara. “Mama akan segera hubungi Nyonya Hendrawan besok pagi. Mungkin akhir pekan ini kalian bisa makan malam bersama.”
Erlangga berdiri, tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi detail tentang bagaimana hidupnya akan diatur seperti papan catur. “Kalau tidak ada hal mendesak lainnya, aku mau istirahat duluan. Selamat malam pa, ma.”
“Besok jangan telat ke kantor,” ucap Papanya saat Erlangga mulai melangkah pergi. “Ada rapat dewan direksi jam sembilan. Perwakilan dari perbankan akan hadir.”
“Kalo urusan pekerjaan aku tidak pernah telat, Pa,” jawab Erlangga tanpa menoleh.
Ia berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang mengiringi jenazah harapannya sendiri menuju liang lahat. Malam itu, Erlangga membuat keputusan paling besar dalam hidupnya justru saat ia merasa tidak lagi peduli pada apa pun. Ia membiarkan dirinya hanyut dalam arus yang diciptakan orang tuanya, hanya karena ia merasa terlalu lelah untuk berenang melawan arus sendirian lagi.
Keesokan paginya, Erlangga sudah berada di kantor sebelum karyawan pertama datang. Gedung Mahardika Group masih sunyi, namun ia sudah duduk di balik meja besarnya, menatap barisan angka di layar laptop yang tampak seperti semut hitam yang tak ada habisnya. Ia butuh kesibukan ini. Ia butuh kontrol, setidaknya pada angka-angka yang bisa ia atur, karena hidupnya sendiri kini terasa seperti skenario orang lain.
Ketukan pintu terdengar. Erlangga tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pelakunya.
“Masuk.”
Rian masuk dengan gaya santai yang selalu berhasil merusak suasana serius di ruangan itu. Ia membawa tablet dan segelas kopi hitam di tangan lainnya. “Wah... rekor baru. Jam enam pagi sudah di meja kerja. Lo benar-benar nggak butuh tidur atau emang naksir sama meja kantor ini?”
“Hm,” sahut Erlangga singkat.
Rian duduk di kursi di hadapan meja Erlangga tanpa diundang. Ia memperhatikan wajah Erlangga sejenak, lalu meletakkan kopinya. “Wajah lo makin horor aja, Bos. Lo beneran oke? Mata lo merah, muka lo lebih kaku dari biasanya. Kalau ada karyawan baru lihat, mereka pasti langsung minta resign karena takut.”
“Gue masih bisa kerja, Rian. Apa ada agenda mendesak pagi ini? Jangan buang waktu saya dengan bercanda.”
Rian terkekeh pelan. “Jawaban lo makin kaku saja. Oke, mari bicara kerjaan. Pagi ini rapat direksi jam sembilan. Siang ada makan siang dengan vendor infrastruktur. Dan besok malam...” Rian mengecek tabletnya. “Ada meeting santai sama klien baru dari Singapura. Mereka minta di sebuah café bar di area Jakarta Selatan, jam delapan malam. Katanya mau suasana yang lebih rileks untuk negosiasi awal.”
Erlangga mengangguk pelan. “Kirim detailnya ke email saya.”
“Masalahnya, gue nggak bisa nemenin,” lanjut Rian. “Gue harus ke Surabaya malam ini juga buat urus masalah di cabang. Ada sedikit audit yang nggak beres di sana dan mereka butuh orang pusat untuk tekan direktur cabangnya. Lo bisa handle klien Singapura sendirian?”
Erlangga menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Rian datar. “Gue sudah biasa sendiri, Rian. Lo tahu itu. Tanpa lo pun, kontrak tetap akan gue menangkan.”
Rian tersenyum tipis, ada sorot iba yang ia sembunyikan dengan baik di balik candaannya. “Iya, gue tahu. Lo memang selalu merasa bisa sendiri. Tapi ingat, Bos, lo itu manusia, bukan robot Mahardika.”
Rian bangkit dari duduknya, bersiap pergi untuk menyiapkan berkas rapat pagi. Namun, saat sampai di ambang pintu, langkahnya berhenti. Ia menoleh kembali ke arah Erlangga yang sudah kembali terpaku pada layar laptop, mengabaikan kopinya yang mulai dingin.
“Langga.”
“Apa lagi?”
“Hati-hati saja besok malam,” ucap Rian, nadanya tiba-tiba serius.
Erlangga akhirnya mendongak. “Maksud lo? Hati-hati soal apa? Negosiasinya?”
“Nggak tahu juga. Firasat gue bilang, besok malam mungkin nggak sesantai yang klien itu minta. Siapkan mental aja, siapa tahu ada sesuatu yang nggak masuk dalam jadwal lo yang muncul tiba-tiba,” Rian mengangkat bahu, lalu menutup pintu ruangan.
Erlangga terdiam. Sesuatu yang nggak masuk jadwal? Hidupnya sudah cukup banyak kejutan dalam dua puluh empat jam terakhir.