Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Sean
Sean duduk termenung di teras. Dia menatap kosong ke arah langit-langit, pikirannya sedang berkecamuk tak keruan. Kata-kata Vera masih terngiang-ngiang di telinganya, berdengung seperti seekor lebah yang terperangkap di sana.
Sean tahu, penyelidikan kali ini akan jauh lebih sulit dari apa yang sebelumnya dia pikirkan. Kebenaran yang sudah mulai menyeruak ke permukaan makin memperkeruh situasi.
Semakin jauh Sean justru berpikir jika kemungkinan besar ada konspirasi jahat di belakang semua ini. Dia menduga kalau sebenarnya Alex tidak hilang saat melakukan pendakian, melainkan dia sengaja menghilang.
Tetapi, yang jadi pertanyaan adalah untuk apa dia melakukan itu? Kenapa dia harus menghilang dan membohongi semua orang? Apa jangan-jangan dia ....
“Ah, nggak mungkin. Mustahil dia melakukan itu. Dia sama sekali nggak punya alasan buat mengkhianati ayahnya, apalagi ayahnya begitu menyayangi anak lelaki semata wayangnya itu. Mustahil. Ya, itu nggak masuk akal,” gumam Sean berbicara pada dirinya sendiri.
“Apanya yang nggak masuk akal?” tanya Christaly yang keluar dari dalam rumah. Dia ikut duduk di kursi kayu tua yang ada di teras persis di sebelah Sean. “Kamu lagi mikirin apa sih?”
“Mikirin pekerjaanlah, memangnya apa lagi?” jawab Sean ketus. Dia agak kesal karena Christaly membuyarkan fokusnya menganalisis. “Kalau kamu nggak ada kerjaan, mending kamu pergi cari makan sana. Aku lapar.”
“Huh! Kenapa kita nggak makan saja di tempatnya langsung? Siapa tahu kan kita bisa dapat informasi dari mulut orang-orang yang bergunjing di sana,” jawab Christaly.
Sean menoleh ke arah Christaly lalu tersenyum sambil berkata, “Tumben kamu pintar, biasanya kamu bebal seperti batu.”
“Enak saja! Aku nggak sebebal itu, tahu!” protes Christaly sambil memonyongkan bibir. Kemudian dia melipat tangan di dada dan dengan serius melanjutkan kata-katanya, “Sean, aku rasa aku tahu kita harus mulai penyelidikan dari mana.”
“Benarkah?” sahut Sean sambil mengerutkan alis tak percaya.
Christaly mengangguk. “Ya. Pertama-tama kita harus cari tahu dulu siapa musuh atau saingan bisnis Tuan W, em, kamu tahu kan siapa yang aku maksud Tuan W?”
“Ya. Lanjutkan.”
“Setelah kita tahu siapa orangnya, baru kita cari tahu apa dia ada kaitannya dengan menghilangnya Alex atau tidak. Dan aku rasa aku tahu ke mana kita harus pergi sekarang.”
Dahi Sean berkerut semakin dalam. “Memangnya ke mana kita harus pergi?”
“Hem, ya. Karena aku yakin di sini nggak ada klub malam atau bar, jadi kita cari saja warung yang ramai dan biasa jadi tempat anak muda nongkrong. Setelah itu, serahkan semuanya padaku. Biar aku yang mengurusnya.” Christaly mengedipkan sebelah matanya, memberi isyarat yang langsung Sean mengerti maksudnya.
“Astaga, tapi, aku nggak tanggung jawab kalau kamu di bawa ke semak-semak, ya, bukan ke hotel.”
Sebelum pergi, Christaly dengan sengaja mengenakan pakaian yang memiliki belahan dada cukup rendah untuk memuluskan rencananya. Tidak lupa dia merias wajah, menata rambut sedemikian rupa dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, dari ujung atas hingga ujung kaki.
Sean sempat memprotes penampilan Christaly yang menurutnya terlalu berlebihan, akan tetapi, tentu saja gadis itu mengabaikannya karena memang tujuan utamanya adalah untuk menarik perhatian orang. Terutama kaum pria.
“Nggak usah cerewet deh, kamu, Sean. Mendingan kamu sisir rambutmu dulu biar rapi, nggak acak-acakan. Kamu juga harus memanfaatkan ketampananmu itu buat menarik perhatian para gadis. Kalau mereka sudah kelepek-kelepek, aku yakin mereka bakalan mau kamu suruh ngapain aja,” sembur Christaly saat Sean memprotes penampilanya
.
Lagi-lagi apa yang dikatakan Christaly adalah benar. Sean sempat terdiam sesaat setelah dia mendengar apa yang dikatakan Christaly, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dia tidak sampai memikirkan ide cerdas itu. Bahkan, terlintas di kepalanya pun tidak.
“Uh! Kenapa malah bengong? Cepat sana sisir rambutmu dan rapikan penampilanmu biar makin tampan,” sambung Christaly sambil mendorong Sean masuk ke kamarnya. “Kamu harus tampil sempurna biar langsung jadi idola para gadis dan janda muda.”
“Iya, iya. Uh! Awas sana, aku mau sekalian ganti baju.”
“Cepetan! Jangan lama-lama. Nanti kita pulangnya ke malaman.”
Sambil mengganti pakaian Sean terus berpikir apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya. Karena tidak biasanya dia seperti ini. Dia merasa ada sesuatu yang salah di sini, sesuatu yang sangat-sangat salah. Tapi apa itu, Sean juga tidak tahu.
Segala sesuatunya menjadi terasa berbeda setelah dia tahu kalau Alex hilang saat sedang mendaki gunung dan dia tidak hanya hilang seorang diri. Melainkan bersama keempat orang temannya.
Hanya ada satu orang yang selamat dalam insiden itu, dan dia mengalami amnesia sehingga tidak bisa ditanyai apa-apa. Hal ini benar-benar terasa mengganjal di hati Sean karena ada banyak sekali kejanggalan.
Membuat kepala Sean seolah-olah jadi sempit sehingga dia kesulitan untuk mengembangkan analisisnya dan kehilangan kemampuan untuk berimajinasi. Padahal, dalam sebuah penyelidikan selain ketajaman deduksi, ketajaman imajinasi juga sangat dibutuhkan.
“Sean, cepat sedikit, dong!” teriak Christaly sambil menggedor-gedor pintu tak sabaran. “Tadi kamu bilang kamu lapar, sekarang malah lelet. Huh!”
“Iya, iya. Ini sudah mau selesai, kok,” jawab Sean yang sedang menyisir rambutnya. “Yang tadi menyuruh aku agar berpenampilan setampan mungkin siapa, kamu, kan?” dia membalikan kata-kata Christaly untuk membela diri.
“Aku memang menyuruh kamu merapikan penampilan, tapi bukan lelet,” balas Christaly. “Cepat sedikit. Aku sudah kelaparan, tahu!”
Sean membuka pintu lalu keluar sambil mengoceh. Akan tetapi, Christaly tidak mendengarkan ocehannya karena dia begitu terhipnotis dengan penampilan Sean yang begitu memukau. Dia memakai kaos yang berukuran pas di badannya, sehingga otot-ototnya yang menonjol tampak begitu jelas.
Dadanya yang bidang, perutnya yang kotak, membuat pria tampan itu tampak begitu seksi dan gagah. Selama hampir lima detik lamanya Christaly diam menatap Sean yang berdiri di hadapannya. Dia benar-benar tak percaya kalau pria itu adalah pria yang bercinta dengannya di toilet kereta.
Seorang detektif tengil yang memiliki libido luar biasa dan selalu haus akan bercinta. Dilihat berapa kali pun, dari sudut mana pun, Sean memang tampan. Tidak ada sesuatu yang kurang sempurna dari wajah dan bentuk tubuhnya.
Jika ada standar ketampanan pria, maka, Sean sudah pasti masuk dalam standar tersebut dengan mudah. Kecuali fisik, satu-satunya kekurangan yang dimiliki pria itu hanya uang.
Ya, uang. Sayangnya dia tidak memiliki cukup banyak uang untuk hidup dalam kemewahan. Seandainya dia memiliki banyak uang, sudah pasti hidupnya akan menjadi jauh lebih sempurna lagi. Sebab dengan wajah yang tampan dan uang yang banyak itu dia bisa mengendalilkan dunia.
“Christaly?” Sean menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Christaly yang sedang bengong.
“Eh, kenapa?” Christaly tergagap.
“Astaga, malah bengong. Aku tahu aku ini memang tampan nggak ketolongan. Tapi, sekarang bukan waktunya kamu buat mengagumi ketampananku, tahu! Ayo kita pergi.”