Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kertas Tak Bernyawa dan Ultimatum Resor
Duniaku seakan berhenti berputar. Udara pagi di pelataran Markas Bareskrim yang tadinya terasa sejuk, mendadak berubah menjadi kabut tebal yang mencekik paru-paruku.
Gugatan Pembatalan Perkawinan.
Rendra benar-benar tahu di mana letak urat nadiku dan menebasnya tanpa ragu. Pria aristokrat itu tersenyum layaknya predator yang baru saja mengunci rahangnya di leher mangsa. Tiga pengacara berjas mahal di belakangnya berdiri dengan postur angkuh, memegang map merah yang berisi ancaman kehancuranku.
Di dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh dari kami, kulihat bahu Sarah bergetar. Mantan sekretaris yang kupercaya selama bertahun-tahun itu menunduk dalam-dalam, memeluk sebuah koper yang kutahu persis apa isinya. Draf perjanjian "Nikah Kontrak Dua Miliar".
"Begitu ketukan palu hakim membatalkan pernikahan kalian karena unsur kontrak," suara beludru Rendra mengalun kejam, mengiris gendang telingaku, "kau akan melanggar Klausul Moral. Kau akan dipecat dengan tidak hormat, sahammu akan disita, dan pria miskin ini... akan kembali ke selokannya."
Ujung jari tanganku mendingin seketika. Seluruh keberanian yang tadi kukumpulkan untuk meruntuhkan Haris, kini terasa menguap. Jika Rendra membocorkan draf itu ke pengadilan dan media, bukan hanya perusahaanku yang hancur. Bumi—pria yang baru saja kurengkuh dalam pelukanku—akan dituduh sebagai penipu dan dipisahkan dariku selamanya.
Aku menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Mataku mulai memanas. Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, untuk melawan, namun suaraku tersangkut di tenggorokan.
Tiba-tiba, genggaman tangan Bumi di jemariku mengerat.
Bumi tidak melepaskan tanganku. Pria itu justru melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan Rendra. Postur tubuhnya yang tegap dan menjulang tinggi membuat ketiga pengacara Rendra secara refleks mundur setengah langkah.
Tidak ada kepanikan di wajah Bumi. Tidak ada urat leher yang menonjol karena amarah. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.
"Sebuah gugatan pembatalan perkawinan," gumam Bumi, suaranya rendah dan datar. Ia menoleh ke arah salah satu pengacara Rendra. "Anda pasti lulusan fakultas hukum terbaik di negeri ini, bukan? Tolong koreksi saya jika saya salah. Untuk membatalkan sebuah pernikahan yang sah secara agama dan tercatat di Kantor Urusan Agama, Anda membutuhkan bukti materiil yang mengikat kedua belah pihak."
Pengacara itu berdeham, mencoba mempertahankan wibawanya. "Klien kami memiliki saksi kunci dan dokumen fisik yang membuktikan bahwa pernikahan kalian didasarkan pada transaksi mut'ah, yang jelas melanggar undang-undang perkawinan."
Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Bumi. Tawa yang terdengar sangat dingin, membuat bulu kudukku meremang.
Bumi melepaskan tanganku sejenak, melangkah satu langkah lebih dekat hingga ia bisa menatap langsung ke dalam mata Rendra.
"Lalu silakan daftarkan gugatan itu hari ini juga, Rendra," tantang Bumi, menunjuk ke arah mobil tempat Sarah berada. "Cetak draf yang dibawa sekretaris pengkhianat itu menjadi seribu lembar. Sebarkan ke seluruh ruang sidang. Tapi biar kuberitahu satu rahasia kecil yang membuat semua uang yang kau bayarkan pada pengacaramu menjadi sia-sia."
Rendra mengerutkan kening. Senyum kemenangannya sedikit memudar. "Apa maksudmu, anak kampung?"
"Maksudku," Bumi mencondongkan tubuhnya sedikit, "kertas itu tidak bernyawa. Karena di atas kertas 'Kontrak Dua Miliar' itu, tidak pernah ada tanda tanganku."
Aku tersentak pelan. Mataku membelalak lebar. Otakku kembali memutar memori di malam saat kami bernegosiasi di apartemenku. Bumi menolak keras konsep nikah kontrak! Ia merobek draf yang kuberikan padanya saat itu. Ia hanya menerima uang dua miliar tersebut sebagai mahar dan pinjaman, dan menikahiku dengan janji yang murni di hadapan penghulu tanpa ada selembar pun perjanjian pisah harta atau batasan waktu yang mengikat secara hukum perdata!
Rendra membeku. Wajah pria ningrat itu berubah pias. Ia menoleh dengan panik ke arah pengacaranya, mencari pembenaran.
Pengacara itu tampak berkeringat dingin, berbisik panik di telinga Rendra. "Pak, jika pihak pria tidak pernah menandatangani kontrak pembatasan waktu tersebut, secara hukum agama dan negara, akad nikahnya adalah mutlak dan tak bersyarat. Draf itu hanya akan dianggap sebagai rencana sepihak yang tidak pernah dieksekusi."
Skakmat. Untuk kedua kalinya di hari yang sama.
Aku menatap punggung lebar Bumi dengan rasa kagum yang meluap-luap. Pria ini tidak hanya melindungiku dengan fisiknya; ia melindungiku dengan integritasnya. Karena ia memegang teguh ajaran agamanya untuk tidak mempermainkan pernikahan sejak awal, kini integritas itulah yang menjadi perisai tak tertembus bagi kami berdua.
Bumi mundur satu langkah, kembali berdiri di sisiku dan merengkuh pinggangku dengan posesif.
"Kalian kehabisan kartu, Rendra," ucap Bumi tajam. "Pulanglah. Sebelum aku melaporkan kalian atas tuduhan pencemaran nama baik dan percobaan perbuatan tidak menyenangkan."
Rahang Rendra mengeras hingga berbunyi gemeretak. Urat-urat di dahinya menonjol. Ia menatap Bumi dengan kebencian murni yang membara.
Namun, Rendra bukanlah pria yang mudah mengibarkan bendera putih. Ia merapikan jasnya, memaksakan sebuah senyum sinis yang miring.
"Kau mungkin lolos dari celah hukum, Bumi," desis Rendra, suaranya kini dipenuhi racun. "Tapi pengadilan opini publik tidak membutuhkan tanda tangan. Jika aku menyerahkan draf ini kepada media pers dan menaruh Sarah di depan kamera untuk menangis menceritakan 'kebenaran', saham Wiratmadja Tech akan anjlok lima puluh persen sebelum makan siang besok."
Rendra menatapku. "Dewan Komisaris tidak butuh putusan pengadilan untuk memecatmu, Aruna. Mereka hanya butuh skandal yang cukup besar. Dan narasi 'CEO yang membeli suami' adalah berita utama yang sangat seksi."
Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah. Rendra benar. Di dunia korporat, rumor sering kali lebih mematikan daripada fakta hukum.
"Tapi," Rendra mengangkat satu jarinya, mengubah nadanya menjadi sedikit diplomatis, "aku bisa menahan informasi ini. Dewan Komisaris masih memberimu satu kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa pernikahan kalian bukanlah sandiwara murahan."
"Apa maumu?" tanyaku dingin.
"Lusa," Rendra mengeluarkan sebuah amplop undangan berstempel lilin dari saku jasnya, menyodorkannya pada Garda yang segera mengambilnya dengan curiga, "ada Annual Business Retreat untuk jajaran komisaris eksekutif dan pemegang saham utama di resor pribadi perusahaan di Bali. Tiga hari dua malam."
Rendra menatap kami bergantian dengan sorot mata merendahkan.
"Datanglah ke sana. Tampil di hadapan kami semua. Buktikan bahwa kalian adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya di setiap detik selama tiga hari itu. Tidak ada pengawal. Tidak ada Garda yang menjaga pintu kalian. Kalian akan tidur di satu kamar, di satu ranjang, di bawah pengawasan puluhan mata. Jika kalian terlihat canggung sedikit saja... jika kami melihat celah bahwa kalian hanya bersandiwara..."
Rendra memajukan wajahnya. "...aku akan membocorkan draf itu ke media saat kita masih berada di Bali. Dan kau akan pulang ke Jakarta sebagai gembel."
Tanpa menunggu balasan dari kami, Rendra memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam mobil mewahnya. Ketiga pengacaranya menyusul. Deretan mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan debu yang mengepul di pelataran Markas Bareskrim.
Aku berdiri mematung. Udara kembali terasa berat.
Garda menyerahkan amplop itu padaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Tiga hari di Bali. Terkurung di sebuah resor yang dikuasai penuh oleh musuh-musuhku. Dipaksa untuk berakting mesra dua puluh empat jam penuh, tanpa boleh melakukan satu kesalahan pun.
"Kita tidak akan pergi ke sana," suara Bumi memecah lamunanku. Ia mengambil amplop itu dari tanganku, bersiap untuk merobeknya. "Itu jebakan. Mereka mengisolasimu dari perlindungan Garda. Rendra bisa melakukan apa saja padamu di pulau itu."
Aku menahan tangan Bumi dengan cepat. Aku menggeleng pelan, menatap matanya dalam-dalam.
"Kita harus pergi, Bumi," bisikku getir. "Ini bukan lagi soal mempertahankan saham. Rendra sudah terpojok karena kita menguras uangnya tadi malam. Jika kita menolak tantangan ini, dia tidak akan hanya menghancurkan reputasiku, dia akan mencari celah untuk menyentuh Ibumu dan Sifa."
Bumi terdiam. Ia menatap amplop di tangannya, lalu menatap wajahku. Ketegangan terpancar jelas di rahangnya. "Aruna... jika kita ke sana, kita harus berbagi ruang privat tanpa pengamanan apa pun. Mereka pasti akan menyadap kamar kita. Mereka akan mengawasi setiap gerak-gerik kita."
Aku menelan ludah. Wajahku memanas membayangkan instruksi dari Rendra.
Tidur di satu kamar. Di satu ranjang. Di bawah tatapan elang Rendra dan para komisaris. Tidak ada lagi sandiwara bertengkar. Kami harus meyakinkan mereka bahwa kami saling mencintai secara brutal, gila, dan nyata.
"Aku tahu," jawabku pelan, menundukkan pandangan. "Tapi apakah kamu... keberatan menemaniku ke dalam kandang singa sekali lagi?"
Bumi menghela napas panjang. Tangan besarnya terangkat, mengelus rambutku dengan gerakan yang begitu lembut hingga membuat lututku sedikit lemas.
"Aku akan mengikutimu ke ujung neraka sekalipun, Aruna," ucapnya, suaranya berat dan menggetarkan dada. "Tapi kali ini, kita tidak akan bertarung sendirian. Aku butuh akses internet super cepat begitu kita sampai di safe house. Ada beberapa senjata digital yang harus kusiapkan sebelum kita terbang ke Bali."
Aku mengangguk, merasa sebagian beban di pundakku terangkat berkat kehadirannya.
"Ayo pulang," ajakku, menautkan jemariku di sela-sela jemarinya. Kami berjalan menuju mobil SUV kami.
Di dalam mobil, selama perjalanan pulang menuju Kemang, keheningan menyelimuti kami. Garda menyetir di depan, sementara pembatas kaca kedap suara memisahkan kami di kursi penumpang belakang.
Aku menyandarkan kepalaku ke jendela, menatap jalanan kota Jakarta yang mulai padat. Pikiranku melayang ke Bali. Tiga hari yang akan menjadi ujian terberat bagi mental dan—aku harus mengakuinya—hormonku.
"Aruna," panggil Bumi pelan.
Aku menoleh. Bumi sedang menatapku. Garis rahangnya terlihat tegang, dan semburat merah tipis kembali menghiasi lehernya yang berotot. Pria itu tampak sedang bergulat dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya berani menyuarakan isi kepalanya.
"Jika kita benar-benar harus meyakinkan Rendra dan dewan direksi di resor nanti..." Bumi berdeham, mencoba mencari diksi yang paling sopan, "kamu tahu kan, kita harus terlihat sangat... natural?"
"Maksudmu?" tanyaku, jantungku mulai berdebar lebih cepat.
Mata Bumi yang gelap menatap lurus ke mataku. Ada sebuah letupan emosi yang ia tahan mati-matian di sana. Sesuatu yang maskulin, posesif, dan luar biasa intim.
"Maksudku," Bumi menelan ludah, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya di pipiku, "di Bali nanti... kita tidak bisa menggunakan batas bantal guling lagi."
Suhu di dalam mobil mendadak terasa seperti oven pembakar. Mataku membelalak, wajahku seketika berubah semerah kepiting rebus. Kalimat Bumi yang terdengar begitu lugas, berpadu dengan tatapan matanya yang sangat tajam, membuat kewarasanku nyaris putus seketika. Tidak ada batas bantal guling. Tiga malam di Bali. Di satu ranjang yang sama. Ya Tuhan, bagaimana kami bisa bertahan meyakinkan para musuh bahwa kami saling mencintai, jika untuk membayangkan tidur tanpa bantal pembatas saja jantungku sudah terasa ingin meledak dari rongga dadaku?
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘